Header Ads

Terang Sabda

Pedoman Katekese 2020

Pedoman Katekese 2020

Secara berkala, Gereja Katolik menerbitkan dokumen referensi yang memaparkan dasar-dasar teologis dan pastoral karya kateketik Gereja universal. Dokumen tersebut ditujukan kepada semua pihak yang terlibat dalam katekese, katekumenat, pembinaan iman dan evangelisasi, terutama para uskup, katekis pertama di keuskupannya. Dokumen pertama, "Pedoman Katekese Umum" (General Catechetical Directory) yang diterbitkan pada tanggal 18 Maret 1971, digantikan dengan "Petunjuk Umum Katekese" (General Directory for Catechesis) yang diterbitkan pada tanggal 15 Agustus 1997. Keduanya diterbitkan oleh Konggregasi untuk para klerus. Disetujui oleh Paus Fransiskus pada tanggal 23 Maret 2020, dokumen terbaru, yaitu "Pedoman Katekese" (Directory for Catechesis), diterbitkan pada tanggal 25 Juni 2020 oleh Dewan Kepausan untuk Promosi Evangelisasi Baru.

 

Daftar Isi

KATA PENGANTAR

PENDAHULUAN

BAGIAN PERTAMA - KATEKESE DALAM MISI GEREJA UNTUK EVANGELISASI

Bab I - Wahyu ilahi dan Peyampaiannya [11-54]
1. Yesus Kristus, penyampai dan pewahyuan Bapa [11-16]
Pewahyuan tentang rencana penyelenggaraan ilahi [11-14]
Yesus mewartakan ‘Injil keselamatan’ [15-16]
2. Iman kepada Yesus Kristus: tanggapan kepada Allah yang mewahyukan diri-Nya [17-21]
3. Penerusan Pewahyuan dalam iman Gereja [22-37]
Pewahyuan dan evangelisasi [28-30]
Proses evangelisasi [31-37]
4. Evangelisasi di dunia masa kini [38-54]
Tahap baru evangelisasi [38-41]
Evangelisasi budaya dan inkulturasi iman [42-47]
Katekese untuk melayani evangelisasi baru [48]
Katekese dan "gerak keluar yang bersifat misioner" [49-50]
Katekese dalam ungkapan kerahiman [51-52]
Katekese sebagai "laboratorium" dialog [53-54]
Bab II - Identitas Katekese [55-109]
1. Sifat dasar katekese [55-65]
Hubungan erat antara kerygma dan katekese [57-60]
Katekumenat sebagai sumber inspirasi untuk katekese [61-65]
2. Katekese dalam proses evangelisasi [66-74]
Pewartaan pertama dan katekese [66-68]
Katekese inisiasi Kristen [69-72]
Katekese dan pembinaan berkelanjutkan dalam kehidupan kristiani [73-74]
3. Tujuan katekese [75-78]
4. Tugas katekese [79-89]
Membawa pada pengetahuan iman [80]
Memasukkan dalam perayaan Misteri iman [81-82]
Membina kehidupan di dalam Kristus [83-85]
Mengajar berdoa [86-87]
Menghantarkan pada kehidupan berjemaat [88-89]
5. Sumber katekese [90-109]
Sabda Allah dalam Kitab Suci dan Tradisi Suci [91-92]
Magisterium [93-94]
Liturgi [95-98]
Kesaksian orang-orang kudus dan para martir [99-100]
Teologi [101]
Budaya kristiani [102-105]
Keindahan [106-109]
Bab III - Katekis [110-129]
1. Identitas dan panggilan katekis [110-113]
2. Uskup sebagai katekis pertama [114]
3. Peran Imam dalam katekese [115-116]
4. Peran Diakon dalam katekese [117-118]
5. Orang-orang yang mengabdikan diri dalam pelayanan katekese [119-120]
6. Katekis awam [121-129]
Orang tua, subyek aktif dalam katekese [124]
Bapa dan ibu baptis, rekan kerja para orang tua [125]
Pelayanan kakek-nenek dalam penerusan iman [126]
Kontribusi besar perempuan terhadap katekese [127-129]
Bab IV - Pembinaan Katekis [130-156]
1. Sifat dasar dan tujuan pembinaan katekis [130-132]
2. Komunitas kristiani sebagai tempat istimewa bagi pembinaan [133-134]
3. Kriteria pembinaan [135]
4. Dimensi pembinaan [136-150]
Cara berada dan "pengetahuan bagaimana untuk hidup bersama": kedewasaan manusiawi-kristiani dan kesadaran misioner [139-142]
Pengetahuan: pembinaan alkitabiah-teologis dan pemahaman akan manusia dan konteks sosialnya [143-147]
Pengetahuan terapan: pembinaan pedagogis dan metodologis [148-150]
5. Pembinaan kateketis bagi para kandidat untuk Tahbisan Suci [151-153]
6. Pusat pembinaan [154-156]
Pusat pembinaan dasar bagi para katekis [154]
Pusat spesialisasi bagi penanggung jawab dan pemimpin katekese [155]
Lembaga yang lebih tinggi untuk keahlian dalam bidang katekese [156]

BAGIAN KEDUA - PROSES KATEKESE

Bab V - Pedagogi Iman [157-181]
1. Pedagogi ilahi dalam sejarah keselamatan [157-163]
2. Pedagogi iman dalam Gereja [164-178]
Kriteria-kriteria untuk pewartaan pesan injili [167]
Kriteria Trinitarian dan Kristologis [168-170]
Kriteria sejarah keselamatan [171-173]
Kriteria keutamaan rahmat dan keindahan [174-175]
Kriteria eklesialitas [176]
Kriteria kesatuan dan keutuhan iman [177-178]
3. Pedagogi kateketik [179-181]
Hubungan dengan sains tentang manusia [180-181]
Bab VI - Katekismus Gereja Katolik [182-193]
1. Katekismus Gereja Katolik [182-192]
Catatan sejarah [182-183]
Identitas, tujuan dan audiens Katekismus [184-186]
Sumber dan struktur Katekismus [187-189]
Makna teologis-kateketis dari Katekismus [190-192]
2. Kompendium Katekismus Gereja Katolik [193]
Bab VII - Metodologi dalam Katekese [194-223]
1. Hubungan antara isi dan metode [194-196]
Pluralitas metode [195-196]
2. Pengalaman manusiawi [197-200]
3. Memori [201-203]
4. Bahasa [204-217]
Bahasa naratif [207-208]
Bahasa seni [209-212]
Bahasa dan alat digital [213-217]
5. Kelompok [218-220]
6. Ruang [221-223]
Bab VIII - Katekese dalam Kehidupan Manusia [224-282]
1. Katekese dan keluarga [226-235]
Bidang katekese keluarga [227-231]
Katekese dalam keluarga [227-228]
Katekese dengan keluarga [229-230]
Katekese tentang keluarga [231]
Pedoman pastoral [232]
Skenario-skenario baru keluarga masa kini [233-235]
2. Katekese dengan anak-anak dan remaja [236-243]
3. Katekese yang sesuai dengan kenyataan kaum muda [244-256]
Katekese dengan pra-remaja [246-247]
Katekese dengan remaja [248-249]
Katekese dengan kaum muda [250-256]
4. Katekese dengan orang dewasa [257-265]
5. Katekese dengan orang tua [266-268]
6. Katekese dengan penyandang disabilitas [269-272]
7. Katekese dengan para migran [273-276]
8. Katekese dengan para emigran [277-278]
Bantuan religius di negara-negara emigrasi [277]
Katekese di negara-negara asal [278]
9. Katekese dengan kaum terpinggirkan [279-282]
Katekese di penjara [281-282]

BAGIAN KETIGA - KATEKESE DI GEREJA-GEREJA PARTIKULAR

Bab IX - Jemaat Kristen sebagai Subyek Katekese [283-318]
1. Gereja dan pelayanan Sabda Allah [283-289]
2. Gereja-gereja Timur [290-292]
3. Gereja-gereja partikular [293-297]
4. Paroki [298-303]
5. Asosiasi, gerakan, dan kelompok umat beriman [304-308]
6. Sekolah Katolik [309-312]
7. Pengajaran agama Katolik di sekolah [313-318]
Bab X - Katekese di hadapan Skenario-skenario Budaya Kontemporer [319-393]
1. Katekese dalam situasi pluralisme dan kompleksitas [319-342]
Konteks perkotaan [326-328]
Konteks pedesaan [329-330]
Budaya lokal tradisional [331-335]
Kesalehan populer [336-340]
Tempat suci dan tempat ziarah [341-342]
2. Katekese dalam konteks ekumenisme dan pluralisme agama [343-353]
Katekese dalam konteks ekumenis [344-346]
Katekese dalam hubungannya dengan Yudaisme [347-348]
Katekese dalam konteks agama lain [349-351]
Katekese dalam konteks gerakan-gerakan agama baru [352-353]
3. Katekese dalam konteks sosial-budaya [354-393]
Katekese dan mentalitas ilmiah [354-358]
Katekese dan budaya digital [359-370]
Karakteristik umum [359-361]
Transformasi antropologis [362-364]
Budaya digital sebagai fenomena religius [365-367]
Budaya digital dan masalah pendidikan [368-369]
Pewartaan dan katekese di era digital [370-372]
Katekese dan beberapa pertanyaan tentang bioetika [373-378]
Katekese dan keutuhan pribadi manusia [379-380]
Katekese dan keterlibatan untuk kelestarian lingkungan [381-384]
Katekese dan keberpihakan pada orang miskin [385-388]
Katekese dan keterlibatan sosial [389-391]
Katekese dan lingkungan kerja [392-393]
Bab XI - Katekese dalam Pelayanan untuk Inkulturasi Iman [394-408]
1. Kodrat dan tujuan inkulturasi iman [394-400]
2. Katekismus-katekismus lokal [401-408]
Pedoman untuk mendapatkan persetujuan yang diperlukan dari Takhta Apostolik untuk Katekismus-katekismus dan tulisan-tulisan lain yang berhubungan dengan pengajaran yang bersifat kateketik [407-408]
Bab XII - Organisasi-organisasi yang melayani Katekese [409-428]
1. Tahta Suci [409-410]
2. Sinode Para Uskup atau Konsili Hierarki Gereja Katolik Timur [411]
3. Konferensi para Uskup [412-415]
4. Keuskupan [416-425]
Komisi kateketik di tingkat Keuskupan dan tugasnya [417]
Analisis situasi [418-419]
Koordinasi katekese [420-421]
Program katekese di tingkat Keuskupan [422-423]
Program praktis [424]
Pembinaan katekis [425]

PENUTUP

INDEKS TEKS MAGISTERIUM

DAFTAR SINGKATAN

PEDOMAN KATEKESE

DEWAN KEPAUSAN
UNTUK PROMOSI
EVANGELISASI BARU

 

KATA PENGANTAR


Jalannya katekese dalam beberapa dekade terakhir ditandai oleh Seruan Apostolik Catechesi Tradendae. Teks ini tidak hanya merepresentasikan perjalanan yang dicapai sejak pembaruan oleh Konsili Vatikan II, tetapi juga merupakan sintesis dari kontribusi banyak uskup dari seluruh dunia yang berkumpul dalam Sinode tahun 1977. Menurut dokumen ini, katekese “memiliki tujuan ganda untuk mendewasakan iman awal dan mendidik murid Kristus yang sejati melalui pengetahuan yang lebih dalam dan lebih sistematis tentang pribadi dan pewartaan Tuhan kita Yesus Kristus.”[1] Ini adalah tugas berat yang tidak memungkinkan adanya pemilah-milahan secara kaku antara berbagai tahap yang terjadi dalam proses katekese. Meskipun cukup menuntut, tujuan Katekese tidaklah berubah terutama dalam konteks budaya beberapa dekade terakhir. Sekali lagi dengan mengacu pada teks dari St. Yohanes Paulus II, Katekese bermaksud “untuk mengembangkan, dengan bantuan Allah, iman yang masih awal, untuk menghantarkannya menuju kepenuhan dan untuk memelihara setiap hari kehidupan kristiani umat beriman. Hal ini menyangkut masalah memberi pertumbuhan, dalam hal tingkat pengetahuan dan kehidupan, benih iman yang ditaburkan oleh Roh Kudus dalam pewartaan pertama dan diteruskan secara efektif melalui Pembaptisan.”[2] Dengan demikian, Katekese tetap berakar pada tradisi kokoh yang menjadi ciri sejarah Kekristenan sejak awal keberadaannya. Dengan menyesuaikan diri seturut berbagai kelompok usia umat beriman, Katekese tetaplah merupakan aktivitas pembinaan khusus dari Gereja yang berusaha untuk membuat Injil Yesus Kristus selalu tetap aktual sehingga menjadi pendorong bagi kesaksian yang sesuai.

Pedoman Katekese ini terletak dalam kontinuitas dinamis dengan dua direktorium yang mendahuluinya. Pada tanggal 18 Maret 1971, St. Paulus VI menyetujui Pedoman Kateketik Umum yang disusun oleh Kongregasi untuk Klerus. Pedoman itu memungkinkan untuk pertama kalinya menyajikan secara sistematis pengajaran yang dihasilkan dari Konsili Vatikan Kedua (lih. CD 44). Tidak boleh dilupakan bahwa St Paulus VI menganggap semua ajaran konsili sebagai “katekismus agung zaman modern.”[3] Bagaimanapun juga, Dekrit Christus Dominus memberikan pedoman yang terperinci dan jelas tentang katekese. Para Bapa Konsili menyatakan :

Hendaknya para Uskup menyajikan ajaran kristiani dengan cara yang menanggapi kebutuhan-kebutuhan zaman; artinya: menjawab kesulitan-kesulitan dan masalah-masalah yang sangat menekan dan menggelisahkan orang-orang. [...] Hendaklah mereka berusaha menyebar-luaskan ajaran kristiani dengan mengerahkan pelbagai upaya, yang tersedia pada zaman sekarang ini, yakni terutama kotbah dan pendidikan kateketis, yang memang selalu harus diutamakan [...]. Hendaknya para Uskup menjaga, supaya pendidikan kateketis, yang tujuannya ialah : supaya iman Umat diterangi melalui ajaran, dan menjadi hidup dan eksplisit serta aktif, diberikan dengan rajin dan seksama kepada anak-anak dan para remaja, kepada kaum muda maupun orang-orang dewasa; supaya dalam memberikan pendidikan itu tetap diindahkan tata-susunan yang baik dan metode yang cocok bukan hanya mengenai bahan yang diolah, melainkan juga berkenaan dengan sifat perangai, bakat-kemampuan dan umur serta situasi hidup para pendengar; supaya pendidikan itu mengacu kepada Kitab Suci, Tradisi, Liturgi, Ajaran resmi dan kehidupan Gereja. Selain itu hendaklah para Uskup mengusahakan, supaya para katekis disiapkan dengan baik untuk tugas mereka, sehingga mereka mengenal ajaran gereja dengan jelas, begitu pula secara teoritis maupun praktis mempelajari kaidah-kaidah psikologis dan mata-pelajaran pedagogi. Hendaklah mereka mengusahakan juga, supaya pendidikan para katekumen dewasa diadakan lagi atau disesuaikan dengan lebih baik. (CD 13-14)

Sebagaimana yang dapat dicatat, pengajaran ini memberikan kriteria normatif untuk pembaruan katekese yang terus-menerus, yang tidak mungkin menjadi kegiatan yang terputus dari konteks sejarah dan budaya di mana katekese itu dilaksanakan. Salah satu tanda nyata dan konsekuensi pertama dari hal ini adalah didirikannya, pada tanggal 7 Juni 1973, Dewan Internasional untuk Katekese, sebuah badan di mana para pakar dari seluruh dunia membantu Dikasteri yang berwenang untuk memperhatikan kebutuhan-kebutuhan dari berbagai Gereja, sehingga katekese semakin disesuaikan dengan struktur gerejawi, budaya dan sejarah.

Pada peringatan tiga puluh tahun Konsili, tanggal 11 Oktober 1992, St Yohanes Paulus II menerbitkan Katekismus Gereja Katolik. Menurutnya, "Katekismus ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan katekismus lokal [...], namun dimaksudkan untuk mendorong dan membantu dalam penyusunan katekismus lokal baru yang harus memperhitungkan beragam situasi dan budaya."[4] Dan kemudian, pada tanggal 15 Agustus 1997, Petunjuk Umum Katekese diterbitkan. Pekerjaan besar yang telah dilakukan sebagai kelanjutan dari penerbitan pedoman ini terlihat jelas. Dunia katekese yang luas dan beragam telah menerima dorongan positif lebih lanjut untuk menghidupkan studi-studi baru yang memungkinkan kita untuk lebih memahami kebutuhan katekese dalam hal pedagogi dan pembinaan, terutama dalam terang interpretasi baru tentang katekumenat. Banyak konferensi para Uskup, melalui berbagai badan pelayanan yang mulai muncul, telah menghidupkan program katekese baru untuk kelompok usia yang berbeda. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, dari orang muda hingga mereka yang telah berkeluarga, kita bisa menyaksikan adanya pembaruan katekese yang lebih luas.

Pada tanggal 23 Maret 2020, Paus Fransiskus menyetujui Pedoman Katekese yang baru, di mana kami mendapatkan kehormatan dan tanggung jawab untuk menyampaikannya kepada Gereja. Pedoman ini merupakan tahap baru dari dinamika pembaruan katekese. Bagaimanapun juga, studi kateketik dan upaya terus-menerus dari berbagai Konferensi para Uskup telah menghasilkan pencapaian-pencapaian yang sangat signifikan bagi kehidupan Gereja dan pendewasaan umat beriman. Hal-hal itu membutuhkan sistematisasi baru.

Tinjauan sejarah singkat menunjukkan bahwa setiap Pedoman diterbitkan sebagai tindak lanjut dari dokumen-dokumen penting tertentu dari Magisterium. Pedoman yang pertama memiliki pengajaran konsili sebagai titik acuannya; Pedoman yang kedua mengacu pada Katekismus Gereja Katolik; Pedoman yang terbaru terkait erat dengan Sinode para Uskup tentang Evangelisasi Baru untuk Penerusan Iman Kristen dan juga Seruan Apostolik Evangelii Gaudium dari Paus Fransiskus. Meskipun masing-masing ditandai dengan perubahan konteks historis dan aktualisasi ajaran Magisterium, ketiga teks Pedoman Katekese tersebut memuat persyaratan umum yang sama, yaitu tujuan dan misi katekese. Pedoman pertama dan kedua dipisahkan oleh rentang waktu 26 tahun; sedangkan Pedoman kedua dan yang terbaru berjarak 23 tahun. Dalam beberapa hal, kronologi ini menunjukkan kebutuhan untuk menghadapi dinamika sejarah. Tinjauan yang lebih seksama pada konteks budaya menyoroti masalah-masalah baru masa kini di mana Gereja dipanggil untuk menghadapinya. Ada dua hal yang menonjol. Yang pertama adalah fenomena budaya digital, yang membawa serta dengannya hal kedua, yaitu globalisasi budaya. Keduanya begitu saling terkait sehingga membentuk satu sama lain dan menghasilkan fenomena yang menonjolkan perubahan radikal dalam kehidupan masyarakat. Kebutuhan akan pembinaan yang memperhatikan setiap individu sering kali terabaikan ketika model pembinaan global diterapkan. Godaan untuk beradaptasi dengan bentuk-bentuk standardisasi internasional merupakan risiko yang tidak boleh dianggap remeh, terutama dalam konteks pembinaan untuk kehidupan beriman. Iman, pada dasarnya, diteruskan melalui perjumpaan interpersonal dan dipelihara melalui jalinan dalam komunitas. Kebutuhan untuk mengungkapkan iman melalui doa liturgis dan memberikan kesaksian melalui kekuatan cinta kasih, mewajibkan kita untuk melampaui fragmentasi dari berbagai inisiatif yang ada dan memulihkan kesatuan asli dari esensi kristiani. Hal ini menemukan fondasinya dalam Sabda Allah yang diwartakan dan diteruskan oleh Gereja dengan Tradisi yang hidup, yang tahu bagaimana menyambut dalam dirinya berbagai generasi umat beriman yang lama dan yang baru (bdk. Mat 13:52) yang tersebar di seluruh dunia.

Dalam beberapa dekade setelah Vatikan II, Gereja telah berulang kali memiliki kesempatan untuk merenungkan misi besar yang telah dipercayakan Kristus kepadanya. Dua dokumen secara khusus memberi perhatian pada perintah agung untuk mewartakan Injil ini. St. Paulus VI dengan Evangelii Nuntiandi dan Paus Fransiskus dengan Evangelii Gaudium menelusuri jalan yang menuntut komitmen setiap hari dari umat beriman untuk melakukan evangelisasi. “Gereja ada untuk mewartakan Injil,”[5] St. Paulus VI menyatakan dengan tegas; “Saya adalah perutusan,”[6] Paus Fransiskus mengulangi dengan kejelasan yang sama. Tidak ada alibi yang dapat mengalihkan perhatian dari tanggung jawab yang dimiliki oleh setiap orang beriman dan seluruh Gereja ini. Oleh karena itu, hubungan erat antara evangelisasi dan katekese menjadi ciri khas dari Pedoman terbaru. Pedoman ini bermaksud untuk menyajikan jalan di mana dapat dilihat kesatuan erat antara pewartaan kerygma dan pendewasaannya.

Kriteria yang memotivasi refleksi dan penyusunan Pedoman ini didasarkan pada kata-kata Paus Fransiskus berikut ini : “Dalam katekese juga, kita telah menemukan ada peran pokok pewartaan pertama atau kerygma, yang hendaknya menjadi pusat dari semua kegiatan evangelisasi dan seluruh upaya untuk pembaruan Gereja. [...] Pewartaan pertama ini disebut “pertama” bukan karena ada pada awal dan kemudian dapat dilupakan atau digantikan oleh hal-hal lain yang lebih penting. Pewartaan ini pertama dalam arti kualitatif karena merupakan pewartaan utama, yang harus kita dengar lagi dan lagi dengan berbagai cara, yang harus kita wartakan dengan satu atau lain cara melalui proses katekese, di setiap tingkat dan setiap saat. [...] Kita tidak seharusnya berpikir bahwa dalam katekese kerygma ditinggalkan demi pembinaan yang dianggap lebih “solid.” Tak ada yang lebih solid, mendalam, aman, dan bermakna dan penuh kebijaksanaan daripada pewartaan awal. Semua pembinaan Kristiani merupakan pendalaman kerygma, yang mendarah daging semakin mendalam dan terus-menerus menerangi karya katekese, sehingga memampukan kita memahami dengan lebih penuh makna setiap tema yang dikembangkan dalam katekese. Inilah pesan yang mampu menanggapi kerinduan pada Yang Tak Terbatas yang ada di dalam setiap hati manusia.”[7]

Kenyataan bahwa kerygma mempunyai tempat yang utama, yang menuntun kami untuk mengusulkan katekese kerygmatis, sama sekali tidak mengurangi nilai mistagogi atau pun kesaksian tentang cinta kasih. Hanya pola pikir yang dangkallah yang akan mengarahkan orang untuk menganggap pewartaan pertama hanya sebagai argumen yang dirancang untuk meyakinkan lawan bicaranya. Mewartakan Injil berarti memberikan kesaksikan tentang suatu perjumpaan, di mana fokusnya adalah Yesus Kristus, Putra Allah, yang berinkarnasi dalam sejarah umat manusia untuk menggenapi pewahyuan kasih keselamatan dari Bapa. Atas dasar inti iman ini, lex credendi menyerahkan dirinya kepada lex orandi, dan bersama-sama mereka membentuk cara hidup orang beriman untuk menjadi saksi cinta yang membuat pewartaan menjadi dapat dipercaya. Pada kenyataannya, setiap orang merasa terlibat dalam proses realisasi diri yang mengarah pada pemberian jawaban akhir dan definitif atas pertanyaan tentang makna.

Oleh karena itu, ketiga bagian dari Pedoman Katekese ini menguraikan jalannya katekese di bawah keutamaan evangelisasi. Para uskup, yang merupakan penerima pertama dokumen ini, bersama-sama dengan Konferensi para Uskup, Komisi Katekese, dan banyak katekis, akan dapat memverifikasi perkembangan sistematis yang telah ditulis di dalamnya, sedemikian rupa sehingga menjadi lebih jelaslah tujuan katekese, yaitu perjumpaan hidup dengan Tuhan yang mengubah hidup. Proses katekese dijelaskan dengan penekanan pada tatanan eksistensial yang melibatkan berbagai kategori orang dalam lingkungan hidup mereka. Tema pembinaan katekis cukup mendapat perhatian, karena pemulihan kembali pelayanan mereka dalam komunitas Kristen tampaknya cukup mendesak. Bagaimanapun, hanyalah katekis yang menghidupi pelayanannya sebagai panggilan yang dapat berkontribusi pada keefektifan katekese. Akhirnya, justru karena katekese berlangsung dalam terang perjumpaan, katekese memiliki tanggung jawab besar untuk bekerja sama dalam inkulturasi iman. Proses ini memberi ruang bagi penciptaan bahasa baru dan metodologi baru yang, dalam pluralitas ekspresinya, semakin membuktikan kekayaan Gereja universal.

Dewan Kepausan untuk Promosi Evangelisasi Baru, yang sejak 16 Januari 2013 ditunjuk untuk bertanggung jawab atas katekese melalui publikasi motu proprio Fides per Doctrinam, menyadari bahwa Pedoman Katekese ini masih memerlukan perbaikan. Kami tidak bisa mengklaim kelengkapannya, karena pada dasarnya Pedoman ini dimaksudkan untuk Gereja-gereja partikular supaya mendorong mereka untuk menyusun Pedoman mereka sendiri dan untuk mendukung mereka dalam proses tersebut. Penyusunan Pedoman ini melibatkan sejumlah ahli, yang mengungkapkan universalitas Gereja. Selama berbagai fase penyusunannya, naskah Pedoman ini juga diserahkan untuk dinilai oleh beberapa uskup, imam dan katekis. Banyak pria dan wanita telah terlibat dalam pekerjaan ini, yang kami harap akan terbukti menjadi kontribusi yang berharga pada masa ini. Tanpa retorika apa pun, kami berterima kasih kepada mereka semua secara pribadi dan mengucapkan terima kasih atas pekerjaan besar yang telah dilakukan dengan penuh kompetensi, semangat, dan murah hati.

Secara kebetulan, persetujuan untuk Direktori ini terjadi pada peringatan liturgi St. Turibius dari Mogrovejo (1538-1606), seorang santo yang mungkin tidak terlalu dikenal tetapi memberikan dorongan kuat untuk evangelisasi dan katekese. Mengikuti jejak St. Ambrosius, pada mulanya St. Turibius adalah seorang awam dan ahli hukum terkemuka. Lahir di Mallorca dari keluarga bangsawan, ia mendapatkan pendidikan di universitas Valladolid dan Salamanca di mana ia menjadi profesor. Ketika menjadi ketua pengadilan Granada, ia ditahbiskan menjadi uskup dan dikirim oleh Paus Gregorius XIII ke Lima, Peru. Dia memahami pelayanan episkopalnya sebagai penginjil dan katekis. Menggemakan apa yang dikatakan Tertullianus, ia senang mengulangi : “Kristus adalah kebenaran, bukan kebiasaan.” Dia mengulanginya terutama di hadapan para conquistador (: penakluk) yang menindas masyarakat Indian atas nama superioritas budaya, dan para imam yang tidak memiliki keberanian untuk membela kepentingan orang miskin. Sebagai misionaris yang tak kenal lelah, ia melakukan perjalanan ke seluruh wilayah Gerejanya, menemui terutama para penduduk asli untuk mewartakan Firman Allah kepada mereka dalam bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Selama dua puluh lima tahun pelayanannya sebagai Uskup, ia mengorganisir sinode keuskupan dan provinsi, dan bertindak sebagai katekis dengan menerbitkan Katekismus dalam bahasa Spanyol, Quéchua, dan Aymara untuk penduduk asli Amerika Selatan. Karya evangelisasinya menghasilkan buah-buah yang tak terduga : ribuan penduduk asli menjadi percaya setelah bertemu Kristus dalam amal kasih Sang Uskup. Dialah yang menerimakan Sakramen Penguatan kepada dua orang kudus dari Gereja : St. Martin de Porres dan St. Rosa de Lima. Pada tahun 1983, St. Yohanes Paulus II mencanangkannya sebagai pelindung keuskupan-keuskupan Amerika Latin. Oleh karena itu, Pedoman Katekese yang baru juga ditempatkan di bawah perlindungan katekis agung ini.

Paus Fransiskus menuliskan : “Roh Kudus mencurahkan kekudusan di mana pun kepada umat Allah yang kudus dan setia. [...] Saya senang melihat kekudusan yang ada dalam kesabaran umat Allah: dalam diri orangtua yang membesarkan anak-anaknya dengan kasih sayang yang sangat besar, dalam diri laki-laki dan perempuan yang bekerja keras untuk menafkahi keluarga mereka, dalam diri mereka yang sakit, dalam diri kaum religius lanjut usia yang tetap tersenyum. Di dalam kegigihan perjuangan mereka untuk terus maju hari demi hari, saya melihat kekudusan dari Gereja yang militan. Sering kali hal tersebut merupakan kekudusan dari “pintu sebelah”, mereka yang hidup dekat dengan kita. Mereka mencerminkan kehadiran Allah, atau dengan kata lain “tingkat menengah kekudusan”. [...] Kita semua dipanggil untuk menjadi kudus dengan menghayati hidup kita dengan kasih dan masing-masing memberikan kesaksiannya sendiri dalam kegiatan setiap hari, di manapun kita berada. Apakah Anda seorang anggota hidup bakti? Jadilah kudus dengan menghayati persembahan diri Anda dengan sukacita. Apakah Anda menikah? Jadilah kudus dengan mengasihi dan memperhatikan suami atau istri Anda, sebagaimana Kristus lakukan kepada Gereja-Nya. Apakah Anda seorang pekerja? Jadilah kudus dengan melakukan pekerjaan Anda dengan kejujuran dan kemampuan untuk melayani sesama. Apakah Anda orangtua atau kakek-nenek? Jadilah kudus dengan mengajarkan dengan sabar anak atau cucu untuk mengikuti Yesus. Apakah Anda sedang memiliki kekuasaan? Jadilah kudus dengan berjuang demi kesejahteraan bersama dan melepaskan kepentingan pribadi.”[8]

Kekudusan adalah kata penting yang dapat diucapkan dalam menyajikan Pedoman baru untuk katekese ini. Kekudusan adalah suatu cara hidup di mana para katekis juga dipanggil untuk menghidupinya dengan keteguhan dan kesetiaan. Dalam perjalanan yang penuh tuntutan ini, mereka tidak sendirian. Gereja, di seluruh dunia, dapat menghadirkan model-model katekis yang telah mencapai kekudusan dan bahkan kemartiran dengan menjalani pelayanan mereka setiap hari. Kesaksian mereka berbuah, dan karenanya masih mungkinlah untuk berpikir bahwa pada zaman kita sekarang ini, masing-masing dari kita juga dapat melanjutkan petualangan ini dan mengabdikan diri dengan penuh dedikasi dan ketakziman pada tugas yang melelahkan dan terkadang tanpa pamrih sebagai seorang katekis.

 

Dari Vatikan, 23 Maret 2020
Peringatan Liturgi St. Turibius dari Mogrovejo

+Salvatore Fisichella
Uskup Agung tit. Voghenza, Presiden

+Octavio Ruiz Arenas
Uskup Agung emeritus Villavicencio, Sekretaris


PENDAHULUAN

1. Katekese merupakan bagian yang penting dalam proses pembaharuan yang lebih luas di mana Gereja dipanggil untuk melaksanakannya dalam kesetiaan pada perintah agung yang diberikan oleh Yesus Kristus kepada kita untuk mewartakan Injil-Nya selalu dan di mana-mana (bdk. Mat 28:19). Dalam upaya evangelisasi, Katekese ambil bagian, sesuai dengan sifat dasarnya, untuk memastikan bahwa iman dapat didukung dengan pematangan terus menerus untuk mengungkapkan gaya hidup yang harus menjadi ciri keberadaan murid-murid Kristus. Inilah sebabnya mengapa Katekese berhubungan dengan liturgi dan cinta kasih untuk menunjukkan kesatuan hakiki dari hidup baru yang terlahir berkat Pembaptisan.

2. Dengan mempertimbangkan pembaruan ini, Paus Fransiskus, dalam Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, menunjukkan beberapa karakteristik khusus dari katekese yang menghubungkannya secara lebih langsung dengan pewartaan Injil di dunia saat ini.

Katekese kerygmatis,[9] yang masuk ke jantung iman dan merasakan hakikat warta kristiani, adalah katekese yang mewujudnyatakan tindakan Roh Kudus, yang mengkomunikasikan kasih keselamatan dari Allah dalam Yesus Kristus dan yang terus memberikan diri-Nya sendiri untuk kepenuhan hidup setiap orang. Berbagai rumusan yang berbeda dari kerygma, yang tentu terbuka untuk semakin diperdalam, merupakan pintu akses eksistensial pada misteri.

Katekese sebagai inisiasi mistagogis[10] memasukkan orang beriman ke dalam pengalaman hidup jemaat Kristen, tempat kehidupan iman yang sejati. Pengalaman pembinaan ini bersifat progresif dan dinamis, kaya akan tanda dan bahasa, yang berguna bagi integrasi semua dimensi pribadi manusia.

Semuanya ini mengacu langsung pada pemahaman intuitif, yang berakar kuat dalam refleksi kateketik dan dalam praktik pastoral gerejawi, yang bahkan menjadi semakin mendesak, bahwa katekese haruslah menimba inspirasi dari model katekumenal.

3. Dalam terang unsur-unsur ini yang menjadi ciri katekese dalam perspektif misioner, tujuan dari proses katekese juga ditafsirkan kembali. Pemahaman tentang dinamika pembinaan pribadi umat tersebut menuntut bahwa persekutuan erat dengan Kristus, yang telah ditunjukkan dalam Magisterium sebelumnya sebagai tujuan akhir dari karya katekese, tidak hanya dianggap sebagai suatu tujuan, tetapi juga dicapai melalui proses pendampingan.[11] Akhirnya, keseluruhan proses internalisasi Injil melibatkan keseluruhan diri manusia dalam pengalaman hidup pribadinya.

Hanya katekese yang berkomitmen untuk memastikan bahwa setiap orang mendewasakan tanggapan iman-nya sendiri, dapat mencapai tujuan tersebut di atas. Inilah sebabnya mengapa Pedoman ini mengingatkan betapa pentingnya bahwa katekese mendampingi pendewasaan cara hidup sebagai umat beriman dalam suatu dinamika transformasi, yang pada akhirnya merupakan suatu tindakan spiritual. Inilah bentuk asli dan yang diperlukan dari inkulturasi iman.

4. Sebagai hasil dari penafsiran ulang sifat dasar dan tujuan katekese, Pedoman ini menawarkan beberapa perspektif tertentu, yang merupakan buah dari permenungan yang dilakukan dalam konteks gerejawi beberapa dekade terakhir, dan hadir secara transversal dalam seluruh dokumen ini, bahkan hal itu juga membentuk kerangka utamanya.
Keyakinan teguh dalam Roh Kudus, yang hadir dan bertindak dalam Gereja, di dunia dan di dalam hati manusia, ditegaskan lagi. Hal ini membawa pada karya katekese suatu catatan sukacita, ketenangan dan tanggung jawab.
– Tindakan iman lahir dari kasih yang ingin semakin mengenal Tuhan Yesus, yang hidup di dalam Gereja, dan itulah sebabnya inisiasi umat beriman dalam kehidupan Kristen berarti memasukkan mereka dalam perjumpaan yang hidup dengan-Nya.
– Gereja, misteri persekutuan, dihidupi oleh Roh dan karenanya menjadi berbuah untuk menghasilkan kehidupan baru. Dengan pandangan iman ini, peran komunitas kristiani sebagai tempat alami bagi kelahiran dan pendewasaan kehidupan Kristen ditegaskan kembali.
– Proses evangelisasi, dan karena itu juga katekese sebagai bagian darinya, pertama-tama dan terutama merupakan tindakan spiritual. Hal ini menuntut bahwa para katekis menjadi haruslah sungguh-sungguh menjadi “pewarta Injil dalam Roh”[12] dan rekan kerja kerja setia para gembala.
– Peran fundamental dari orang-orang yang telah dibaptis diakui. Dalam martabat mereka sendiri sebagai anak-anak Allah, semua orang beriman adalah subyek aktif dari karya katekese, mereka bukan penerima pasif atau sasaran pelayanan dan, oleh karena itu, mereka dipanggil untuk menjadi murid misioner yang sejati.
– Menghidupi misteri iman dalam hubungannya dengan Tuhan memiliki implikasi bagi pewartaan Injil. Sejatinya, hal itu menuntut untuk melampaui setiap pertentangan antara isi dan metode, antara iman dan kehidupan.

5. Kriteria yang memandu penyusunan Pedoman Katekese ini terletak pada keinginan untuk memperdalam peran katekese dalam dinamika evangelisasi. Pembaharuan teologis selama paruh pertama abad ke-20 memunculkan kebutuhan akan pemahaman misioner dari katekese. Konsili Ekumenis Vatikan II dan Magisterium yang mengikutinya memahami dan menyusun ulang hubungan hakiki antara evangelisasi dan katekese, menyesuaikannya setiap kali dengan tuntutan perkembangan sejarah. Oleh karena itu, Gereja, yang “secara alami” bersifat “misioner” (AG 2), selalu membuka diri untuk menerapkan dengan penuh percaya diri tahap baru evangelisasi, sesuai dengan bimbingan Roh Kudus kepadanya.

Hal ini membutuhkan komitmen dan tanggung jawab untuk mengenali bahasa-bahasa baru yang dapat digunakan untuk mengkomunikasikan iman. Pada masa ketika bentuk-bentuk penyampaian iman sedang berubah, Gereja berkomitmen untuk menguraikan beberapa tanda-tanda zaman yang dengannya Tuhan menunjukkan jalan untuk ditempuh. Di antara berbagai tanda ini, kita mengenali : sentralitas umat beriman dan pengalaman hidupnya; peran penting relasi dan afeksi; ketertarikan pada apa yang benar-benar menawarkan makna; penemuan kembali apa yang disebut sebagai keindahan dan yang membangkitkan semangat. Dalam gerakan-gerakan ini dan gerakan-gerakan lain dari budaya masa kini, Gereja menangkap kesempatan untuk perjumpaan dan pewartaan tentang kebaruan dari iman. Inilah landasan dari transformasi misioner-nya, yang mendorong pertobatan pastoral.

6. Sama seperti Petunjuk Umum Katekese (1997) adalah kelanjutan dari Direktorium Kateketik Umum (1971), Pedoman Katekese ini juga berada dalam dinamika kontinuitas dan pengembangan yang sama dengan dokumen-dokumen yang mendahuluinya. Tidak dapat dilupakan bahwa selama dua dekade terakhir Gereja telah mengalami peristiwa-peristiwa penting yang, meskipun dengan tingkat kepentingan yang berbeda, telah menjadi saat-saat penting bagi perjalanan gerejawi, untuk pemahaman yang lebih mendalam tentang misteri iman dan evangelisasi.

Pertama-tama, perlulah mengingat masa kepausan dari St. Yohanes Paulus II yang, dengan Seruan Apostoliknya Catechesi Tradendae (1979), benar-benar memberikan dorongan inovatif untuk katekese. Paus Benediktus XVI berulang kali menegaskan pentingnya katekese dalam proses evangelisasi baru dan, dengan Surat Apostolik Fides per Doctrinam (2013), ia secara konkret menerapkan komitmen tersebut. Akhirnya, Paus Fransiskus, dengan Seruan Apostoliknya Evangelii Gaudium (2013), ingin menegaskan kembali hubungan yang tidak terpisahkan antara evangelisasi dan katekese dalam terang budaya perjumpaan.


Peristiwa-peristiwa besar lainnya telah menandai pembaruan katekese. Di antaranya, kita tidak dapat melupakan Yubileum Agung Tahun 2000, Tahun Iman (2012-2013), Yubileum Luar Biasa Kerahiman (2015-2016) dan Sinode para Uskup baru-baru ini tentang beberapa hal penting bagi kehidupan Gereja. Yang perlu disebutkan secara khusus adalah Sinode tentang Sabda Allah dalam Kehidupan dan Misi Gereja (2008); tentang Evangelisasi Baru untuk Penyampaian Iman Kristen (2012); tentang Panggilan dan Misi Keluarga dalam Gereja dan Dunia Kontemporer (2015); dan tentang Orang Muda, Iman dan Penegasan Panggilan (2018). Akhirnya, haruslah disebutkan juga penerbitan Kompendium Katekismus Gereja Katolik (2005), sarana sederhana dan langsung untuk pengetahuan iman.

7. Pedoman Katekese mengatur isinya dalam struktur dan sistematisasi yang baru. Tema-temanya tetaplah disusun dengan mempertimbangkan berbagai kepekaan gerejawi yang mendasar. Bagian pertama (Katekese dalam misi Gereja untuk evangelisasi) memberi pendasaran pada bagian-bagian selanjutnya. Wahyu Allah dan penyampaiannya dalam Gereja membuka refleksi tentang dinamika evangelisasi di dunia masa kini, dengan menerima tantangan pertobatan misioner yang mempengaruhi katekese (Bab I). Hal tersebut diuraikan dengan penjelasan tentang sifat, tujuan, tugas dan sumber-sumber katekese (Bab II). Katekis – yang identitas (Bab III) dan pembinaannya (Bab IV) dipaparkan di sini – membuat pelayanan katekese gerejawi menjadi terlihat dan operasional. Pada bagian pertama ini, sebagai tambahan atas pembaruan pertanyaan mendasar yang sudah disorot, ada baiknya disebutkanlah bab tentang pembinaan, yang menggabungkan berbagai perspektif penting yang berhubungan dengan pembaruan katekese.

8. Bagian kedua (Proses Katekese) berhubungan dengan dinamika katekese. Bagian ini pertama-tama memaparkan paradigma yang menjadi acuan, yaitu pedagogi Allah dalam sejarah keselamatan, yang dengan sendirinya mengilhami pedagogi Gereja dan katekese sebagai tindakan edukatif (Bab V). Dalam terang paradigma ini, kriteria teologis untuk pemakluman warta Injil disusun kembali dan semakin disesuaikan dengan kebutuhan budaya masa kini. Selain itu, Katekismus Gereja Katolik disajikan dalam pemaknaannya secara teologis-kateketis (Bab VI). Bab VII menyajikan beberapa pertanyaan tentang metode dalam katekese dengan membahas, antara lain, tema bahasa. Bagian kedua ini berakhir dengan pemaparan tentang katekese dengan berbagai kelompok peserta (Bab VIII).

Meskipun disadari adanya keragaman kondisi budaya di dunia dan karenanya perlulah penelitian di tingkat lokal, namun niat dari bagian ini adalah untuk menawarkan analisis karakteristik umum dari tema yang luas ini, dengan menindaklanjuti perhatian yang diberikan pada sinode tentang keluarga dan kaum muda. Akhirnya, Pedoman ini mengundang Gereja-gereja partikular untuk memperhatikan katekese dengan penyandang disabilitas, kaum migran dan emigran, serta narapidana.

9. Bagian ketiga (Katekese di Gereja-gereja Partikular) menunjukkan bagaimana pelayanan Sabda Allah terbentuk dalam kehidupan gerejawi yang nyata. Gereja-gereja partikular, dalam semua artikulasinya, melaksanakan tugas mewartakan Injil dalam berbagai konteks di mana mereka berakar (Bab IX). Pada bagian ini, kekhasan Gereja-gereja Timur, yang memiliki tradisi katekese mereka sendiri, diakui. Setiap komunitas Kristen diundang untuk menghadapi kompleksitas dunia kontemporer, di mana unsur-unsur yang sangat berbeda tercampur baur (Bab X). Konteks geografis yang beragam, skenario yang bersifat religius, tren budaya – meskipun mereka tidak secara langsung berkaitan dengan katekese gerejawi – membentuk fisiognomi batin orang-orang pada zaman sekarang ini ; Gereja menempatkan dirinya dalam pelayanan kepada mereka ini, dan karena itu tak terelakkanlah bahwa mereka menjadi objek penegasan yang terkait dengan prakarsa katekese. Perlu disebutkanlah di sini refleksi tentang budaya digital dan beberapa pertanyaan bioetika, yang menjadi perdebatan besar di zaman kita. Bab XI, dengan membahas kembali tindakan Gereja partikular, menunjukkan sifat dasar dan kriteria teologis dari inkulturasi iman, yang juga dinyatakan dalam penyusunan katekismus lokal. Pedoman Katekese ini diakhiri dengan pemaparan tentang organisasi-organisasi yang, pada tingkat yang beragam, melayani katekese (Bab XII).

10. Pedoman Katekese yang baru ini menawarkan prinsip-prinsip dasar teologis-pastoral dan beberapa pedoman umum yang relevan untuk praktik katekese di zaman kita. Sudah sewajarnyalah bahwa penerapan dan pedoman-pedoman operasionalnya menjadi tugas dari Gereja-gereja partikular, yang dipanggil untuk memberikan penjabaran dari prinsip-prinsip umum ini sehingga dapat disesuaikan dengan konteks gerejawi mereka sendiri. Oleh karena itu, Pedoman ini merupakan alat bantu untuk penyusunan pedoman nasional atau lokal, yang berasal dari otoritas yang berwenang dan mampu menerjemahkan petunjuk umum ini ke dalam bahasa masing-masing komunitas gerejawi. Dengan demikian Pedoman ini melayani para uskup, konferensi-konferensi episkopal, organisasi-organisasi pastoral dan akademik yang terlibat dalam katekese dan evangelisasi. Para Katekis pun akan dapat menemukan dukungan dan tantangan dalam pelayanan mereka sehari-hari bagi pendewasaan saudara-saudara mereka dalam iman.


BAGIAN PERTAMA
KATEKESE DALAM MISI GEREJA UNTUK EVANGELISASI


Bab I
Wahyu ilahi dan Peyampaiannya

1. Yesus Kristus, penyampai dan pewahyuan Bapa

Pewahyuan tentang rencana penyelenggaraan ilahi

11. Seluruh keberadaan Gereja, segala yang dilakukan Gereja, menemukan landasan utamanya dalam kenyataan bahwa Allah, dalam kebaikan dan kebijaksanaan-Nya, ingin mengungkapkan misteri kehendak-Nya dengan mengkomunikasikan diri-Nya kepada manusia. St. Paulus menggambarkan misteri ini dengan kata-kata berikut : Allah, di dalam Kristus, “telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih, Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya” (Ef 1: 4-5). Sejak awal penciptaan, Allah tidak henti-hentinya mengkomunikasikan rencana keselamatan ini kepada manusia dan menunjukkan kepadanya tanda-tanda kasih-Nya; dan bahkan “Biarpun manusia melupakan atau menolak Tuhan, namun Tuhan tidak berhenti memanggil kembali setiap manusia, supaya ia mencari-Nya serta hidup dan menemukan kebahagiaannya.”[13]

12. Allah mengungkapkan dan mewujudkan rencana-Nya dengan cara yang baru dan definitif dalam pribadi Sang Putra, yang diutus menjadi manusia seperti kita ; melalui-Nya, manusia “dalam Roh Kudus, dapat menghadap Bapa dan ikut serta dalam kodrat ilahi” (DV 2). Pewahyuan adalah prakarsa kasih Allah, dan terarahkan pada persekutuan: “Maka dengan wahyu itu Allah yang tidak kelihatan (lih. Kol 1:15; 1 Tim 1:17) dari kelimpahan cinta kasih-Nya menyapa manusia sebagai sahabat-sahabat-Nya (lih. Kel 33:11 ; Yoh 15:14-15), dan bergaul dengan mereka (lih. Bar 3:38), untuk mengundang mereka ke dalam persekutuan dengan diri-Nya dan menyambut mereka di dalamnya. Tata perwahyuan itu terlaksana melalui perbuatan dan perkataan yang amat erat terjalin, sehingga karya, yang dilaksanakan oleh Allah dalam sejarah keselamatan, memperlihatkan dan meneguhkan ajaran serta kenyataan-kenyataan yang diungkapkan dengan kata-kata, sedangkan kata-kata menyiarkan karya-karya dan menerangkan rahasia yang tercantum di dalamnya.” (DV 2)

Dengan hidup sebagai manusia di antara manusia, Yesus tidak hanya mengungkapkan rahasia-rahasia Allah, tetapi juga menggenapi karya keselamatan. “Oleh karena itu Dia barang siapa melihat Dia, melihat Bapa juga (lih. Yoh 14:9) dengan segenap kehadiran dan penampilan-Nya, dengan sabda maupun karya-Nya, dengan tanda-tanda serta mukjizat-mukjizatnya, namun terutama dengan wafat dan kebangkitan-Nya penuh kemuliaan dari maut, akhirnya dengan mengutus Roh Kebenaran, menyelesaikan wahyu dengan memenuhinya, dan meneguhkan dengan kesaksian ilahi, bahwa Allah menyertai kita, untuk membebaskan kita dari kegelapan dosa serta maut, dan untuk membangkitkan kita bagi hidup kekal.” (DV 4)

13. Allah telah mengungkapkan kasih-Nya, dan dari kedalaman rencana ilahi itu sendiri muncullah kebaruan pewartaan Kristiani, “bahwa kita dapat mengatakan kepada semua orang: ‘Allah telah memperkenalkan diri, dalam pribadi. Dan sekarang jalan kepada-Nya telah terbuka’.”[14] Justru karena membuka kehidupan baru – kehidupan yang tanpa dosa, kehidupan sebagai anak-anak-Nya, kehidupan dalam kelimpahan, kehidupan kekal –pewartaan ini sungguh indah: “Pengampunan dosa, keadilan, pengudusan, penebusan, pengangkatan sebagai anak-anak Allah, warisan dari surga, kekerabatan dengan Sang Putera Allah. Berita mana yang lebih indah dari ini? Allah di bumi dan manusia di surga!”.[15]

14. Pewartaan Kristiani mengkomunikasikan rencana ilahi ini, yaitu:
– Misteri cinta : manusia, yang dicintai oleh Allah, dipanggil untuk menanggapi-Nya, menjadi tanda cinta bagi saudara dan saudari mereka;
– Penyingkapan kebenaran hakiki tentang Allah sebagai Trinitas dan tentang panggilan manusia untuk hidup berbakti di dalam Kristus, sumber martabat-Nya;
– Tawaran keselamatan bagi semua orang, melalui Misteri Paskah Yesus Kristus, karunia rahmat dan belas kasihan Allah, yang menyiratkan pembebasan dari kejahatan, dosa dan kematian;
– Panggilan definitif untuk menyatukan kembali umat manusia yang tercerai-berai ke dalam Gereja, mewujudkan persekutuan dengan Allah dan persatuan persaudaraan di antara manusia yang ada di dunia ini dan pada masa kini, namun persatuan tersebut akan digenapi sepenuhnya pada akhir zaman.

Yesus mewartakan ‘Injil keselamatan’

15. Pada awal pelayanan-Nya, Yesus mewartakan kedatangan Kerajaan Allah, disertai dengan tanda-tanda; Ia “menyatakan bahwa Ia telah diutus untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin (bdk. Luk 4:18), menjelaskan dan kemudian menegaskan dengan hidupnya bahwa Kerajaan Allah diperuntukkan bagi semua orang”[16], dimulai dengan orang yang termiskin dan orang berdosa, dan memanggil pada pertobatan (bdk. Mrk 1:15). Ia memperkenalkan dan mewartakan Kerajaan Allah kepada setiap orang. Yesus Kristus, dengan hidupnya, adalah kepenuhan Wahyu: Ia adalah pernyataan sepenuhnya dari kerahiman ilahi dan, pada saat yang sama, dari panggilan untuk mencintai yang ada di dalam hati umat manusia. Ia “mewahyukan kepada kita, ‘bahwa Allah itu cinta kasih’ (1Yoh 4:8), sekaligus mengajarkan kepada kita, bahwa hukum asasi kesempurnaan manusiawi dan karena itu juga perombakan dunia ialah perintah baru cinta kasih” (GS 38). Dengan masuk ke dalam persekutuan dengan Dia dan mengikuti-Nya, kehidupan manusia dianugerahi kepenuhan dan kebenaran: “Barang siapa mengikuti Kristus, Manusia sempurna, juga akan menjadi manusia yang lebih utuh” (GS 41).

16. Tuhan, setelah kematian dan kebangkitan-Nya, memberikan Roh Kudus untuk menggenapi karya keselamatan dan mengutus para murid untuk melanjutkan misi-Nya di dunia. Mandat misioner dari ‘Dia yang telah Bangkit’ ini memunculkan kata kerja-kata kerja yang berhubungan dengan evangelisasi, yang terkait erat satu sama lain: “beritakanlah” (Mrk 16:15), “jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka […] ajarlah mereka ...” (Mat 28:19-20), “kamu akan menjadi saksi-Ku” (Kis 1:8), “perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (Luk 22:19), “supaya kamu saling mengasihi” (Yoh 15:12). Dengan cara demikian, terbentuklah ciri-ciri khas dari dinamika pewartaan, yang di dalamnya terdapat hubungan yang erat antara pengakuan akan tindakan Allah di dalam diri setiap manusia, keutamaan Roh Kudus dan keterbukaan universal kepada setiap orang. Karena itu, Evangelisasi adalah sebuah realitas dengan segala “kekayaannya, kompleksitasnya dan dinamismenya” [17], dan dalam perkembangannya mencakup berbagai kemungkinan: kesaksian dan pewartaan, sabda dan sakramen, perubahan batin dan transformasi sosial. Semua tindakan ini saling melengkapi dan saling memperkaya satu sama lain. Gereja senantiasa melaksanakan tugas ini dengan berbagai macam pengalaman pewartaan, yang terus-menerus dibangkitkan oleh Roh Kudus.

2. Iman kepada Yesus Kristus: tanggapan kepada Allah yang mewahyukan diri-Nya

17. Setiap orang, didorong oleh kegelisahan yang bersemayam di dalam hatinya, melalui pencarian yang tulus akan makna keberadaannya, mampu memahami dirinya sendiri sepenuhnya di dalam Kristus; dengan mengenal-Nya secara akrab, setiap orang merasakan dorongan untuk mengambil jalan kebenaran. Sabda Allah menyingkapkan kodrat relasional dari setiap orang dan panggilan baktinya untuk menyesuaikan diri dengan Kristus: “Tuhan, Engkau telah menjadikan kami sebagai kepunyaan-Mu, dan hati kami tak akan tenang sampai kami beristirahat di dalam Engkau.”[18] Ketika manusia dipersatukan dengan Allah, ia dipanggil untuk menanggapi dengan ketaatan iman dan untuk mematuhi dengan persetujuan penuh akal budi dan kehendak, dengan bebas menyambut “Injil kasih karunia Allah” (Kis 20:24). Dengan demikian, orang beriman “menemukan apa yang selama ini ia cari dan ia mendapatkannya dalam kelimpahan. Iman menanggapi ‘penantian’ ini, seringkali tanpa disadari dan selalu terbatas dalam pengetahuan akan kebenaran tentang Allah, tentang diri manusia sendiri dan tentang takdir yang menantinya.”[19]

18. Iman kristiani, yang pertama dan terutama, merupakan penerimaan kasih Allah yang diwahyukan dalam Yesus Kristus, kepatuhan yang tulus kepada pribadi-Nya dan keputusan bebas untuk mengikuti-Nya. Jawaban « ya » kepada Yesus Kristus ini mengandung dua dimensi : penyerahan diri penuh kepercayaan kepada Allah (fides qua) dan persetujuan penuh kasih kepada semua yang telah Dia wahyukan kepada kita (fides quae). Karena itulah “Santo Yohanes menegaskan pentingnya relasi personal dengan Yesus, bagi iman kita, dengan mempergunakan berbagai bentuk kata kerja ʺpercayaʺ. Selain ʺpercaya bahwaʺ apa yang dikatakan Yesus kepada kita adalah benar (Yoh 14:10; 20:31), Yohanes bicara juga tentang ʺmempercayaiʺ Yesus dan ʺpercaya akanʺ Yesus. Kita ʺmempercayaiʺ Yesus ketika kita menerima sabda-Nya, kesaksian-Nya, sebab Dia sungguh dapat dipercaya (Yoh 6:30). Kita ʺpercaya akanʺ Yesus ketika kita secara personal menerima Dia masuk ke dalam kehidupan kita dan kita melangkah menuju pada Dia, mengarahkan diri kepada-Nya dalam kasih dan mengikuti jejak-Nya (Yoh 2:11; 6:47; 12:44)”[20], dalam proses dinamis yang berlangsung seumur hidup. Oleh karena itu, tindakan ‘percaya’ melibatkan kepatuhan ganda: “kepada pribadi dan kepada kebenaran; kepada kebenaran, dengan kepercayaan kepada pribadi yang memberi kesaksian tentang kebenaran itu”[21] dan kepada pribadi tersebut karena dia sendiri adalah kebenaran yang dibuktikan. Ini adalah kepatuhan hati, pikiran dan tindakan.

19. Iman adalah karunia Allah dan kebajikan supranatural, yang dapat dilahirkan dalam hati sebagai buah dari kasih karunia dan sebagai tanggapan bebas terhadap Roh Kudus, yang membawa hati pada pertobatan dan mengubahnya untuk terarah kepada Allah, dengan memberinya “rasa manis dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran” (DV 5). Dibimbing oleh iman, manusia datang untuk merenungkan dan menghargai Allah sebagai kasih (bdk. 1 Yoh 4:7-16). Iman, sebagai penyambutan personal terhadap karunia Allah, tidak irrasional atau pun buta. “Baik terang akal budi maupun terang iman, keduanya berasal dari Allah, […] itulah sebabnya mereka tidak saling bertentangan.”[22] Pada kenyataannya, iman dan akal budi saling melengkapi : dengan akal budi, iman tidak akan jatuh pada fideisme atau fundamentalisme, dan “hanya iman-lah yang memungkinkan kita untuk masuk ke dalam misteri, di mana iman membuat kita memahaminya secara koheren”.[23]

20. Iman menyiratkan suatu transformasi eksistensial yang mendalam yang dilakukan oleh Roh, suatu metanoia yang “terwujud di semua tingkat keberadaan orang Kristen : dalam kehidupan batinnya di mana ia memuja dan menerima kehendak Allah; dalam keikutsertaannya dalam perutusan Gereja; dalam kehidupan pernikahan dan keluarganya; dalam kehidupan profesionalnya; dalam segala kegiatannya untuk memenuhi tanggung jawab ekonomi dan sosial.”[24] Orang-orang yang percaya, dengan menerima anugerah iman, “berubah menjadi ciptaan baru ; mereka menjadi manusia baru ; sebagai anak-anak Allah, mereka kini adalah para putera-puteri-Nya dalam Sang Putera.”[25]

21. Iman tentu saja merupakan tindakan pribadi, namun bukan sekedar pilihan individu dan pribadi; hal itu memiliki karakter relasional dan komunitas. Orang Kristen lahir dari rahim Gereja; Imannya adalah partisipasi dalam iman gerejawi yang selalu mendahuluinya. Bahkan, tindakan iman pribadinya merupakan tanggapan terhadap memori hidup tentang suatu peristiwa yang diteruskan Gereja kepadanya. Oleh karena itu, iman murid Kristus dinyalakan, dipertahankan dan diteruskan hanya dalam persekutuan iman gerejawi, di mana “Aku percaya” yang dimalkumkan dengan pembaptisan dikombinasikan dengan “Kami percaya” dari seluruh Gereja.[26] Oleh karena itu setiap orang percaya menyatukan dirinya dengan komunitas murid-murid dan menyesuaikan dirinya dengan iman Gereja. Bersama dengan Gereja yang merupakan Umat Allah dalam perjalanan sejarah dan sakramen keselamatan universal, orang beriman ambil bagian dalam perutusannya.

3. Penerusan Pewahyuan dalam iman Gereja

22.

23.

24.

25.

26.

27.

Pewahyuan dan evangelisasi

[28-30]

Proses evangelisasi

[31-37]

4. Evangelisasi di dunia masa kini

Tahap baru evangelisasi

[38-41]

Evangelisasi budaya dan inkulturasi iman

[42-47]

Katekese untuk melayani evangelisasi baru

[48]

Katekese dan "gerak keluar yang bersifat misioner"

[49-50]

Katekese dalam ungkapan kerahiman

[51-52]

Katekese sebagai "laboratorium" dialog

[53-54]

Bab II
Identitas Katekese

1. Sifat dasar katekese

55.

56.

Hubungan erat antara kerygma dan katekese

[57-60]

Katekumenat sebagai sumber inspirasi untuk katekese

[61-65]

2. Katekese dalam proses evangelisasi

Pewartaan pertama dan katekese

[66-68]

Katekese inisiasi Kristen

[69-72]

Katekese dan pembinaan berkelanjutkan dalam kehidupan kristiani

[73-74]

3. Tujuan katekese

[75-78]

4. Tugas katekese

79.

Membawa pada pengetahuan iman

80.

Memasukkan dalam perayaan Misteri iman

81.

82.

Membina kehidupan di dalam Kristus

[83-85]

Mengajar berdoa

[86-87]

Menghantarkan pada kehidupan berjemaat

[88-89]

5. Sumber katekese [90-109]

Sabda Allah dalam Kitab Suci dan Tradisi Suci [91-92]

Magisterium [93-94]

Liturgi [95-98]

Kesaksian orang-orang kudus dan para martir [99-100]

Teologi [101]

Budaya kristiani [102-105]

Keindahan [106-109]

Bab III
Katekis [110-129]

1. Identitas dan panggilan katekis [110-113]

2. Uskup sebagai katekis pertama [114]

3. Peran Imam dalam katekese [115-116]

4. Peran Diakon dalam katekese [117-118]

5. Orang-orang yang mengabdikan diri dalam pelayanan katekese [119-120]

6. Katekis awam [121-129]

Orang tua, subyek aktif dalam katekese [124]

Bapa dan ibu baptis, rekan kerja para orang tua [125]

Pelayanan kakek-nenek dalam penerusan iman [126]

Kontribusi besar perempuan terhadap katekese [127-129]

Bab IV
Pembinaan Katekis [130-156]

1. Sifat dasar dan tujuan pembinaan katekis [130-132]

2. Komunitas kristiani sebagai tempat istimewa bagi pembinaan [133-134]

3. Kriteria pembinaan [135]

4. Dimensi pembinaan [136-150]

Cara berada dan "pengetahuan bagaimana untuk hidup bersama": kedewasaan manusiawi-kristiani dan kesadaran misioner [139-142]

Pengetahuan: pembinaan alkitabiah-teologis dan pemahaman akan manusia dan konteks sosialnya [143-147]

Pengetahuan terapan: pembinaan pedagogis dan metodologis [148-150]

5. Pembinaan kateketis bagi para kandidat untuk Tahbisan Suci [151-153]

6. Pusat pembinaan [154-156]

Pusat pembinaan dasar bagi para katekis [154]

Pusat spesialisasi bagi penanggung jawab dan pemimpin katekese [155]

Lembaga yang lebih tinggi untuk keahlian dalam bidang katekese [156]


BAGIAN KEDUA
PROSES KATEKESE


Bab V
Pedagogi Iman

1. Pedagogi ilahi dalam sejarah keselamatan [157-163]

2. Pedagogi iman dalam Gereja [164-178]

Kriteria-kriteria untuk pewartaan pesan injili [167]

Kriteria Trinitarian dan Kristologis [168-170]

Kriteria sejarah keselamatan [171-173]

Kriteria keutamaan rahmat dan keindahan [174-175]

Kriteria eklesialitas [176]

Kriteria kesatuan dan keutuhan iman [177-178]

3. Pedagogi kateketik [179-181]

Hubungan dengan sains tentang manusia [180-181]


Bab VI
Katekismus Gereja Katolik [182-193]

1. Katekismus Gereja Katolik [182-192]

Catatan sejarah [182-183]

Identitas, tujuan dan audiens Katekismus [184-186]

Sumber dan struktur Katekismus [187-189]

Makna teologis-kateketis dari Katekismus [190-192]

2. Kompendium Katekismus Gereja Katolik [193]


Bab VII
Metodologi dalam Katekese [194-223]

1. Hubungan antara isi dan metode [194-196]

Pluralitas metode [195-196]

2. Pengalaman manusiawi [197-200]

3. Memori [201-203]

4. Bahasa [204-217]

Bahasa naratif [207-208]

Bahasa seni [209-212]

Bahasa dan alat digital [213-217]

5. Kelompok [218-220]

6. Ruang [221-223]


Bab VIII
Katekese dalam Kehidupan Manusia [224-282]

1. Katekese dan keluarga [226-235]

Bidang katekese keluarga [227-231]

Katekese dalam keluarga [227-228]

Katekese dengan keluarga [229-230]

Katekese tentang keluarga [231]

Pedoman pastoral [232]

Skenario-skenario baru keluarga masa kini [233-235]

2. Katekese dengan anak-anak dan remaja [236-243]

3. Katekese yang sesuai dengan kenyataan kaum muda [244-256]

Katekese dengan pra-remaja [246-247]

Katekese dengan remaja [248-249]

Katekese dengan kaum muda [250-256]

4. Katekese dengan orang dewasa [257-265]

5. Katekese dengan orang tua [266-268]

6. Katekese dengan penyandang disabilitas [269-272]

7. Katekese dengan para migran [273-276]

8. Katekese dengan para emigran [277-278]

Bantuan religius di negara-negara emigrasi [277]

Katekese di negara-negara asal [278]

9. Katekese dengan kaum terpinggirkan [279-282]

Katekese di penjara [281-282]


BAGIAN KETIGA
KATEKESE DI GEREJA-GEREJA PARTIKULAR


Bab IX
Jemaat Kristen sebagai Subyek Katekese [283-318]

1. Gereja dan pelayanan Sabda Allah [283-289]

2. Gereja-gereja Timur [290-292]

3. Gereja-gereja partikular [293-297]

4. Paroki [298-303]

5. Asosiasi, gerakan, dan kelompok umat beriman [304-308]

6. Sekolah Katolik [309-312]

7. Pengajaran agama Katolik di sekolah [313-318]

Bab X
Katekese di hadapan Skenario-skenario Budaya Kontemporer [319-393]

1. Katekese dalam situasi pluralisme dan kompleksitas [319-342]

Konteks perkotaan [326-328]

Konteks pedesaan [329-330]

Budaya lokal tradisional [331-335]

Kesalehan populer [336-340]

Tempat suci dan tempat ziarah [341-342]

2. Katekese dalam konteks ekumenisme dan pluralisme agama [343-353]

Katekese dalam konteks ekumenis [344-346]

Katekese dalam hubungannya dengan Yudaisme [347-348]

Katekese dalam konteks agama lain [349-351]

Katekese dalam konteks gerakan-gerakan agama baru [352-353]

3. Katekese dalam konteks sosial-budaya [354-393]

Katekese dan mentalitas ilmiah [354-358]

354. Kemajuan ilmu pengetahuan yang berkelanjutan, yang hasilnya digunakan secara luas dalam masyarakat, sangat menandai budaya kontemporer. Manusia, yang dijiwai dengan mentalitas ilmiah, bertanya-tanya bagaimana pengetahuan ilmiah dapat didamaikan dengan realitas iman. Maka muncullah pertanyaan tentang asal-usul dunia dan kehidupan, kemunculan manusia di atas bumi, sejarah masyarakat, hukum-hukum yang mengatur alam, karakter spiritual yang membuat kehidupan manusia unik di antara makhluk hidup-makhluk hidup lainnya, kemajuan manusia dan masa depan planet ini. Pertanyaan-pertanyaan ini, karena merupakan ungkapan dari pencarian makna, menyentuh pertanyaan tentang iman dan karena itu memanggil Gereja untuk menjawabnya. Ada berbagai dokumen magisterial yang berkaitan langsung dengan hubungan antara ilmu pengetahuan dan iman.[39]

355. Dengan sambil mengakui kecenderungan ideologis dari reduksionisme naturalistik dan scientisme,[40] yang sangat berbeda dari upaya ilmiah itu sendiri, dan dengan tetap menyadari masalah etika yang mungkin dihasilkan dari penerapan hasil ilmiah tertentu, penilaian Gereja pada budaya ilmiah adalah positif, karena menganggapnya sebagai kegiatan di mana manusia berpartisipasi dalam rencana penciptaan dari Allah dan dalam kemajuan seluruh keluarga manusia. Sementara di satu sisi “evangelisasi memperhatikan kemajuan-kemajuan ilmiah dan ingin menyinari mereka dengan cahaya iman dan hukum kodrat”,[41] di sisi lain memanglah benar bahwa “ketika kategori-kategori tertentu dari akal budi dan sains disambut dalam penyampaian warta, kategori-kategori tersebut kemudian menjadi instrumen evangelisasi”.[42]

Konflik nyata antara pengetahuan ilmiah dan ajaran-ajaran tertentu dari Gereja haruslah diklarifikasi dalam konteks eksegese alkitabiah dan refleksi teologis, dengan menafsirkan Wahyu; dengan menerapkan epistemologi ilmiah yang benar; dengan mengklarifikasi kesalahpahaman sejarah dan dengan menyoroti prasangka-prasangka dan ideologi-ideologi.

356. Teknologi, buah dari kecerdasan manusia, selalu mengiringi sejarah umat manusia. Potensinya harus diarahkan pada perbaikan kondisi kehidupan dan kemajuan keluarga manusia. Namun demikian, karena ia menyertai dan mempengaruhi cara hidup, teknologi ini membawa pengaruh pada visi tentang manusia.

Selain itu, beberapa penerapan penelitian teknologi dapat mengarah pada transformasi manusia menjadi sesuatu yang sungguh baru, kadang-kadang tanpa penilaian secara memadai atas konsekuensinya. Di antara banyak bidang penelitian, kecerdasan buatan dan ilmu saraf menimbulkan pertanyaan filosofis dan etis yang substansial. Kecerdasan buatan dapat membantu manusia, dan dalam beberapa kasus menggantikannya, tetapi ia tidak bisa mengambil keputusan sendiri secara mandiri. Terlebih lagi, ketika berbicara tentang ilmu saraf, pengetahuan yang lebih baik tentang tubuh manusia, kapasitas dan fungsi otaknya, meskipun ini adalah faktor positif, tidak akan pernah bisa sepenuhnya menjelaskan identitas pribadi, atau menghilangkan tanggung jawab manusia kepada Sang Pencipta.

Tujuan teknologi adalah untuk melayani manusia. Itulah sebabnya kita harus menghargai dimensi intrinsik manusiawi dari kemajuan, yaitu perbaikan kondisi kehidupan, pelayanan terhadap perkembangan masyarakat dan kemuliaan Allah yang dijunjung oleh teknologi ketika ia digunakan dengan bijak.[43] Pada saat yang sama, Gereja menerima tantangan-tantangan antropologis yang berasal dari kemajuan ilmu pengetahuan dan menjadikannya motif bagi penilaian dalam kearifan (discernment) yang mendalam.

357. Dalam pelaksanaan tugas katekesenya, seorang katekis harus memperhitungkan pengaruh yang ditimbulkan oleh mentalitas ilmiah terhadap orang-orang yang sering kali terbujuk oleh teori-teori tertentu yang disajikan secara dangkal, yang didukung oleh popularisasi ilmiah tertentu yang tidak terlalu akurat dan kadang-kadang juga diakibatkan oleh pelayanan pastoral yang tidak memadai. Oleh karena itu, Katekese harus mampu mengajukan pertanyaan dan memperkenalkan peserta pada tema-tema yang sangat relevan, seperti kompleksitas alam semesta, ciptaan sebagai tanda Sang Pencipta, asal mula dan akhir manusia dan kosmos. Di luar media penyederhanaan dalam penyampaian mediatik, perhatian juga harus diberikan pada pertanyaan-pertanyaan historis tertentu yang penting, yang masih memberikan pengaruh. Memberikan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan-pertanyaan semacam itu, atau setidaknya menunjukkan cara yang tepat untuk menemukan jawabannya, seringkali sangat penting untuk menjaga keterbukaan terhadap iman, terutama di kalangan remaja dan anak muda.

Inilah sebabnya mengapa kesaksian para ilmuwan Kristen harus dihargai, karena mereka menunjukkan, melalui koherensi kehidupan mereka, harmoni dan sintesis antara iman dan akal budi. Para Katekis harus mengetahui tentang dokumen-dokumen utama Magisterium yang berhubungan dengan hubungan antara iman dan akal budi, antara teologi dan ilmu pengetahuan. Penggunaan sumber daya dan bantuan lain untuk mendapatkan pembinaan yang memadai dalam hal ini juga harus disarankan.

358. Gereja terpanggil untuk menawarkan kontribusinya bagi evangelisasi kepada para ilmuwan, yang sering kali kaya akan kualitas yang dapat dihargai oleh para pelaku pastoral.

Para ilmuwan adalah saksi yang penuh gairah akan misteri; mencari kebenaran dengan tulus; secara alami cenderung ke arah kolaborasi, komunikasi dan dialog; memupuk kedalaman, ketelitian dan akurasi penalaran; mencintai kejujuran intelektual. Hal-hal adalah sikap batin yang mendorong pada perjumpaan dengan Firman Allah dan penerimaan iman. Pada dasarnya, itu semua terkait dengan upaya untuk memupuk inkulturasi iman yang sejati di dunia ilmiah. Orang-orang Kristen yang bekerja secara profesional di dunia sains memainkan peran yang sangat penting dalam hal ini. Gereja harus memberi pada mereka perhatian pastoral yang diperlukan untuk memastikan bahwa kesaksian mereka menjadi lebih efektif.

Katekese dan budaya digital [359-370]

Karakteristik umum [359-361]

359. Pengenalan dan penggunaan alat digital dalam skala besar telah membawa perubahan yang mendalam dan kompleks pada banyak tingkatan, di mana konsekuensi budaya, sosial dan psikologisnya belum sepenuhnya terlihat. Digital, yang tidak hanya berhubungan dengan keberadaan sarana teknologi, pada kenyataannya mencirikan dunia saat ini dan, dalam waktu yang singkat, pengaruhnya telah menjadi biasa dan terus menerus, sedemikian rupa sehingga dianggap alami.

Kita hidup “dalam budaya yang sangat terdigitalisasi, yang berdampak besar pada gagasan tentang ruang dan waktu, pada persepsi tentang diri sendiri, orang lain dan dunia, serta kemampuan kita untuk berkomunikasi, belajar, mendapatkan informasi dan berhubungan dengan orang lain.”[44] Oleh karena itu, digital tidak hanya menjadi bagian dari budaya yang ada, tetapi menegaskan dirinya sebagai budaya baru : mengubah bahasa, membentuk mentalitas dan merestrukturisasi hierarki nilai-nilai. Dan semua ini terjadi dalam skala global karena, dengan jarak geografis yang telah ditiadakan oleh kehadiran perangkat online yang meluas, semua orang di mana pun di planet ini menjadi terlibat.

360. Internet dan jejaring sosial menciptakan “kesempatan luar biasa untuk dialog, perjumpaan dan pertukaran antara orang-orang, dan memberikan akses menuju informasi dan pengetahuan. Selain itu, dunia digital merupakan salah satu tempat bagi keterlibatan sosial-politik dan kewarganegaraan aktif, dan dapat memfasilitasi sirkulasi informasi independen yang memberikan perlindungan efektif bagi mereka yang paling rentan dengan mengekspos pelanggaran atas hak-hak mereka. Di banyak negara, Internet dan Media sosial sekarang menjadi tempat penting untuk menjangkau kaum muda dan melibatkan mereka, terutama dalam inisiatif dan kegiatan pastoral.”[45] Di antara elemen-elemen positif lainnya dari teknologi digital adalah perluasan dan pengayaan kapasitas kognitif manusia.

Teknologi digital dapat membantu memori, misalnya melalui perangkat akuisisi, pengarsipan dan pemulihan data. Pengumpulan data digital dan perangkat pendukung pengambilan keputusan meningkatkan kapasitas untuk membuat pilihan dan memungkinkan pengumpulan lebih banyak informasi untuk mengevaluasi implikasinya di berbagai bidang. Dari sudut pandang yang berbeda, kita bisa berbicara secara positif tentang pemberdayaan digital.

361. Namun, harus diakui bahwa “dunia digital juga merupakan ruang di mana ada kesepian, manipulasi, eksploitasi dan kekerasan, bahkan hingga kasus ekstrim ‘Dark Web’. Media digital dapat mengakibatkan terjadinya risiko ketergantungan, isolasi dan kehilangan kontak secara bertahap dengan realitas konkret, sehingga menghambat perkembangan hubungan interpersonal yang otentik. Bentuk-bentuk kekerasan baru menyebar melalui Media sosial, misalnya cyberbullying. Internet juga merupakan saluran untuk penyebaran pornografi dan eksploitasi manusia dengan tujuan seksual atau melalui perjudian.”[46] Selain itu, kepentingan ekonomi yang beroperasi di dunia digital “mampu menjalankan bentuk kontrol yang halus dan invasif, menciptakan mekanisme untuk memanipulasi hati nurani dan proses demokrasi.”[47]

Harus diingat bahwa banyak platform sering kali mendorong “perjumpaan antara orang-orang yang berpikir dengan cara yang sama, mencegah mereka untuk menghadapi perbedaan. Lingkaran tertutup ini memfasilitasi penyebaran informasi palsu dan berita palsu, menimbulkan prasangka dan kebencian.”[48] Ruang digital dapat menciptakan visi realitas yang terdistorsi, hingga mengarah pada pengabaian kehidupan batin, hal ini nampak dalam hilangnya identitas dan akar pribadi, dalam sinisme sebagai respons terhadap kekosongan, dalam dehumanisasi progresif dan isolasi yang semakin besar ke dalam diri sendiri.

Transformasi antropologis [362-364]

362. Efek dari digitalisasi yang terus berkembang secara cepat dalam hal komunikasi dan masyarakat mengarah pada transformasi antropologis sejati. “Penduduk asli dunia digital” (digital natives), yang berarti orang yang lahir dan dibesarkan dengan teknologi digital dalam masyarakat multi-layar, melihat teknologi sebagai elemen alami dan tidak merasa tidak nyaman dalam menggunakan maupun berinteraksi dengannya. Sebaliknya, situasi saat ini mencakup juga kehadiran, terutama sebagai pendidik, guru, dan katekis, orang-orang yang bukan penduduk asli dunia digital dan yang disebut sebagai para “Imigran digital” (digital immigrants), yang tidak dilahirkan dalam dunia digital tetapi secara bertahap memasukinya. Perbedaan mendasar antara subyek-subyek ini terletak pada pendekatan mental yang berbeda yang mereka miliki terhadap teknologi baru dan penggunaannya. Ada juga perbedaan dalam gaya diskursif, di mana para penduduk asli dunia digital berwacana dengan lebih spontan, interaktif, dan partisipatif.

363. “Penduduk asli dunia digital” tampaknya lebih mengutamakan gambar daripada mendengarkan. Dari sudut pandang kognitif dan perilaku, dengan cara tertentu mereka dibentuk oleh konsumsi media yang menjadi sasaran mereka, yang sayangnya membatasi perkembangan kritis mereka sendiri. Konsumsi konten digital ini bukanlah hanya proses kuantitatif tetapi juga kualitatif, yang menghasilkan bahasa lain dan cara baru untuk mengelola pemikiran. Pelaksanaan beberapa tugas secara bersamaan (multi-tasking), hipertekstualitas, dan interaktivitas hanyalah beberapa karakteristik dari apa yang tampaknya menjadi bentuk baru dan belum pernah terjadi sebelumnya dari cara pemahaman dan komunikasi yang menjadi ciri generasi digital. Dengan demikian berkembanglah kapasitas yang lebih intuitif dan emosional daripada analitik.

Seni mendongeng (storytelling), yang menggunakan prinsip-prinsip retorika dan bahasanya sendiri yang diadopsi oleh bidang pemasaran (marketing), dianggap oleh kaum muda lebih menarik dan meyakinkan daripada bentuk-bentuk wacana tradisional. Bahasa yang paling berpengaruh pada generasi digital adalah bahasa naratif, bukan argumentatif.

364. Meskipun demikian, inovasi linguistik ini hanya menjadikan kita sebagai konsumen dan bukannya pengurai pesan: narasi kisah-kisah dan pemaparan permasalahan dengan jumlah karakter tulisan yang terbatas berisiko untuk mempolarisasi pertentangan atas tema-tema yang kompleks tanpa kesempatan untuk berargumentasi atau menyertakan solusi mediasi. Jika narasi menjadi satu-satunya alat komunikasi, ada risiko bahwa hanyalah opini subjektif dari realitas yang dapat berkembang. Subjektivisme ini berpotensi untuk menurunkan pertanyaan-pertanyaan politik dan etika ke ranah pribadi dan privat. Norma moral pun berisiko dianggap otoriter, sedangkan narasi menjadi kebenaran yang menghalangi pencarian kebenaran dan kebaikan. Selain itu, dunia naratif dikonfigurasikan sebagai pengalaman di mana segala sesuatu menjadi mungkin dan dapat diucapkan, dan bahwa kebenaran tidak memiliki substansi eksistensial.

Cakrawala ini menunjukkan bagaimana dunia digital dan perangkat-perangkatnya merupakan sarana ampuh untuk menemukan bentuk-bentuk penerusan iman secara baru dan belum pernah ada sebelumnya, namun juga benarlah bahwa tindakan gerejawi harus mengakui kemungkinan adanya ambiguitas bahasa yang menggugah namun tidak terlalu komunikatif dalam hal kebenaran.

Budaya digital sebagai fenomena religius [365-367]

365. Budaya digital juga menampilkan diri sebagai pembawa keyakinan yang memiliki karakteristik religius. Meluasnya konten-konten digital, penyebaran mesin-mesin yang berfungsi secara otomatis dengan algoritma dan perangkat lunak yang semakin canggih, mendorong kita untuk melihat seluruh alam semesta sebagai aliran data, untuk memahami kehidupan dan makhluk hidup tidak lebih dari algoritma biokimia, dan dalam versi yang lebih radikal, untuk percaya bahwa manusia memiliki panggilan kosmik untuk menciptakan sistem pemrosesan data yang mencakup segala hal.

366. Kita dihadapkan pada pendekatan baru dan menantang yang mengubah koordinat referensi dalam proses kepercayaan dan atribusi otoritas. Cara di mana mesin pencari (search engine), algoritma kecerdasan buatan (artificial intelligence), atau komputer diminta untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang menyangkut privasi mengungkapkan bahwa kita berhubungan dengan suatu perangkat dan responsnya dengan sikap fideistik. Kita pun sedang menciptakan sejenis agama semu universal yang melegitimasi sumber baru dari otoritas dan memiliki semua komponen ritus keagamaan: dari pengorbanan hingga ketakutan akan yang absolut, sampai pada ketundukan pada mesin penggerak baru yang tidak tergerak yang menerima cinta tetapi tidak membalasnya.

367. Komponen teknologi dan religiositas ini dapat memunculkan budaya global yang, terutama, membentuk cara berpikir dan berkeyakinan dari generasi muda mendatang. Mereka ini akan semakin larut dalam budaya digital dan akan menghasilkan karakteristik dan cara berpikir global berkat platform-platform besar yang memungkinkan interaksi online beserta kekuatan penyebaran kontennya secara instan.

Hal ini, selain merupakan tantangan, bisa juga menjadi peluang. Pengembangan bentuk-bentuk dan sarana-sarana yang mampu menguraikan data-data antropologis yang mendasari fenomena ini dan pengembangan metode-metode baru untuk evangelisasi memungkinkan untuk menawarkan pelayanan pastoral yang bersifat global seperti halnya budaya digital bersifat global.

Budaya digital dan pertanyaan pendidikan [368-369]

368. Perkembangan teknologi di bidang media digital menawarkan kemungkinan akses langsung ke semua jenis konten tanpa menghiraukan hierarki dalam hal kepentingan, dengan menciptakan budaya yang sering ditandai dengan kesegeraan, ke-instan-an, dan lemahnya ingatan, serta menyebabkan kurangnya perspektif dan pemahaman atas kerangka keseluruhan. Media, pada dasarnya, menyediakan versi-versi selektif dari dunia dan bukannya akses langsung ke sana, dengan menggabungkan berbagai bahasa yang berbeda dalam suatu pesan yang tersebar secara global dan seketika.

Generasi baru tidak selalu dibina dan diperlengkapi secara budaya untuk menghadapi tantangan-tantangan yang dihadirkan masyarakat digital. Oleh karena itu, sangatlah mendesak untuk memberikan edukasi media, karena yang dipertaruhkan adalah suatu bentuk buta huruf digital. Di tengah produksi digital yang tak berkesudahan, orang-orang buta huruf pada masa kini adalah mereka yang tidak tahu bagaimana memahami perbedaan kualitas dan kebenaran dari berbagai konten digital yang ada di hadapan mereka.

369. Menjadi semakin jelaslah bagaimana Jedia sosial, terutama yang bersifat digital, sebenarnya adalah agen utama sosialisasi, bahkan hampir sampai pada titik menggantikan yang kita kenal secara tradisional seperti keluarga, Gereja, sekolah. Tampaknya, intersubjektivitas semakin berkembang di Jejaring sosial dan justru semakin berkurang di ruang sosial tradisional.

Secara operasional, ada kemendesakan untuk mengevaluasi dan memahami keterbatasan pembelajaran implisit yang disediakan era digital setiap hari. Berbagai bentuk interaksi pribadi telah menjadi virtual, terutama pada generasi muda, sepenuhnya menggantikan kebutuhan untuk bentuk hubungan tradisional, dan hal itu menghalangi mereka “dari kontak langsung dengan rasa sakit, ketakutan dan kegembiraan orang lain dan kompleksitas pengalaman pribadi mereka.”[49]

Pewartaan dan katekese di era digital [370-372]

370. Gereja dipanggil untuk merenungkan cara-cara tertentu dari pencarian iman di antara kaum muda digital, dan karena itu Gereja harus menyelaraskan cara-caranya sendiri untuk mewartakan Injil agar sesuai dengan bahasa generasi baru, dengan mengundang mereka untuk menciptakan kebaruan dalam rasa memiliki komunitas (sense of community) yang mencakup – namun tidak terbatas pada – apa yang mereka alami secara online.

Sebuah era baru tampaknya sedang terbuka di mana katekese dapat menjadi perwakilan kepentingan jalan menuju iman yang semakin tidak standar dan semakin memperhatikan keunikan setiap orang.

Tantangan pastoralnya adalah untuk menemani orang muda dalam pencarian otonomi, yang mengacu pada penemuan kebebasan batin dan panggilan Allah, dan yang membedakannya dari grup sosial tempat dia berasal.

Tantangan lain tentu saja adalah untuk mengklarifikasi bahasa yang digunakan di Internet, yang seringkali terdengar seperti bahasa religius. Bayangkan saja, misalnya, panggilan Yesus untuk menjadi murid, sebuah istilah yang perlu dijelaskan agar tidak bingung dengan dinamika khas jejaring sosial. Pada kenyataannya, dinamika menjadi murid Yesus tidak sama dengan apa yang terjadi antara seorang influencer dan para pengikut (followers) virtualnya. Untuk menjadi murid, kita membutuhkan tokoh-tokoh berwibawa yang melalui pendampingan pribadi dapat menuntun individu-individu muda untuk menemukan kembali tujuan hidup pribadi mereka sendiri. Hal ini menuntut peralihan dari kesendirian, yang dipupuk oleh “suka” (likes), menuju pada pemenuhan cita-cita pribadi dan sosial yang akan diwujudkan dalam komunitas.

371. Dalam proses pewartaan Injil, pertanyaan sebenarnya bukanlah bagaimana menggunakan teknologi baru untuk menginjili, tetapi bagaimana menjadi kehadiran yang menginjili di benua digital. Katekese, yang tidak bisa begitu saja didigitalisasikan, tentu perlu memahami kekuatan media ini dan menggunakan semua potensi dan aspek positifnya, sambil tetap menyadari bahwa katekese tidak dapat dilakukan hanya dengan bantuan alat digital, tetapi dengan menawarkan ruang untuk pengalaman iman. Hanya dengan cara inilah virtualisasi katekese, yang berisiko melemahkan tindakan katekese dan membuatnya tidak signifikan, akan dihindari.

Generasi dewasa yang ingin meneruskan iman memiliki misi untuk membina pengalaman-pengalaman. Hanya katekese yang berangkat dari informasi keagamaan menuju pada pendampingan dan pengalaman akan Allah, mampu menawarkan makna. Penerusan iman didasarkan pada pengalaman otentik, yang tidak boleh disamakan dengan pembelajaran: pengalaman mengubah kehidupan dan menyediakan kunci untuk menafsirkannya, sedangkan pembelajaran hanya mereproduksi dengan cara yang identik.

Katekese dipanggil untuk menemukan sarana-sarana yang memadai untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan utama tentang makna kehidupan, korporealitas, afektivitas, identitas gender, keadilan dan perdamaian, yang pada era digital ditafsirkan secara berbeda-beda.

372. Katekese di era digital akan semakin terpersonalisasi, tetapi tidak pernah menjadi proses individual: haruslah ada perubahan dari dunia individualistis dan terisolasi Media sosial menjadi komunitas gerejawi, tempat di mana pengalaman akan Allah menciptakan persekutuan dan berbagi pengalaman hidup.

Kekuatan liturgi dalam mengkomunikasikan iman dan memperkenalkan orang pada pengalaman akan Allah tidak boleh diremehkan. Liturgi terdiri dari beragam kode komunikatif yang memanfaatkan interaksi indera (sinestesia) selain juga komunikasi verbal. Oleh karena itu, perlulah untuk menemukan kembali kapasitas liturgi, dan juga seni sakral (sacred art), untuk mengungkapkan misteri iman.

Tantangan evangelisasi meliputi juga tantangan inkulturasi di benua digital. Pentinglah untuk membantu umat beriman agar tidak bingung antara sarana dan tujuan, untuk mencerna bagaimana menjelajahi internet secara bijak, sedemikian rupa sehingga ia tumbuh menjadi subjek dan bukan sebagai objek, dan melampaui teknologi untuk menemukan kembali kemanusiaan yang diperbarui dalam hubungan dengan Kristus.

Katekese dan beberapa pertanyaan tentang bioetika [373-378]

Katekese dan keutuhan pribadi manusia [379-380]

Katekese dan keterlibatan untuk kelestarian lingkungan [381-384]

Katekese dan keberpihakan pada orang miskin [385-388]

Katekese dan keterlibatan sosial [389-391]

Katekese dan lingkungan kerja [392-393]

Bab XI
Katekese dalam Pelayanan untuk Inkulturasi Iman [394-408]

1. Kodrat dan tujuan inkulturasi iman [394-400]

2. Katekismus-katekismus lokal [401-408]

Pedoman untuk mendapatkan persetujuan yang diperlukan dari Takhta Apostolik untuk Katekismus-katekismus dan tulisan-tulisan lain yang berhubungan dengan pengajaran yang bersifat kateketik [407-408]

Bab XII
Organisasi-organisasi yang melayani Katekese [409-428]

1. Tahta Suci [409-410]

2. Sinode Para Uskup atau Konsili Hierarki Gereja Katolik Timur [411]

3. Konferensi para Uskup [412-415]

4. Keuskupan [416-425]

Komisi kateketik di tingkat Keuskupan dan tugasnya [417]

Analisis situasi [418-419]

Koordinasi katekese [420-421]

Program katekese di tingkat Keuskupan [422-423]

Program praktis [424]

Pembinaan katekis [425]


PENUTUP

426. Persekutuan dengan Yesus Kristus, yang telah wafat namun bangkit, hidup dan selalu hadir di tengah-tengah kita, adalah tujuan akhir dari semua tindakan gerejawi dan juga katekese. Pada kenyataannya, Gereja selalu meneruskan apa yang telah diterimanya sendiri : “Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, Ia telah dikuburkan, dan Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya.” (1 Kor 15:3-5). Pengakuan iman pertama dalam Misteri Paskah ini adalah inti dari iman Gereja. Sebagaimana diingatkan oleh rasul Paulus, pada kenyataannya, “andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” (1 Kor 15:14). Dari Paskah Kristus, kesaksian tertinggi Injil-Nya, muncullah harapan yang membawa kita melampaui cakrawala yang terlihat dari dunia fana untuk menggapai keabadian : “Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia” (1 Kor 15:19). Katekese, gema Paskah di hati manusia, terus-menerus mengundang kita untuk keluar dari diri kita sendiri untuk bertemu dengan Sang Hidup, Dia yang memberikan kehidupan dalam kepenuhan.

427. Yesus Kristus, Alfa dan Omega, adalah kunci untuk semua sejarah. Ia menemani setiap orang untuk mengungkapkan kasih Allah. Ia yang tersalib namun dibangkitkan berada di pusat waktu untuk menebus semua ciptaan dan manusia di dalamnya. Dari luka-luka Yesus yang tersalib, Roh Kudus tercurahkan bagi dunia dan lahirlah Gereja. Evangelisasi, didukung oleh Sang Parakletus ( : penolong/penghibur), bertujuan untuk membuat semua orang ambil bagian dalam misteri besar ini untuk hidup tanpa perbedaan. Katekese, momen penting dalam proses ini, mengarah pada perjumpaan yang penuh kesadaran dan lebih erat dengan Sang Penebus manusia. Pedoman Katekese berkontribusi pada misi besar ini. Pedoman ini dimaksudkan untuk mendorong dan mendukung mereka yang berkomitmen untuk menyampaikan iman, yang selalu merupakan karya Allah. Bisa bekerja sama dengan-Nya, sekaligus menghibur, meyakinkan dan meneguhkan harapan sesama, adalah alasan untuk sukacita yang besar, karena Tuhan dari semua ciptaan telah memilih makhluk-Nya sebagai rekan kerja.

428. Dalam perutusan yang penuh sukacita dari Gereja untuk mewartakan Injil, selalu bersinarlah Maria, Bunda Tuhan yang, sepenuhnya patuh pada tindakan Roh Kudus, tahu bagaimana mendengarkan dan menyambut Sabda Allah dalam dirinya, sehingga ia pun menjadi “perwujudan iman yang paling murni”.[1] Dengan memastikan suasana rumah tangganya penuh kerendahan hati, kelembutan, kontemplasi dan kepedulian terhadap orang lain, Maria mendidik Yesus, Sabda yang menjadi manusia, melalui jalan keadilan dan ketaatan kepada kehendak Bapa. Pada gilirannya, Sang Bunda belajar untuk mematuhi Sang Putra, menjadi yang pertama dan paling sempurna dari murid-murid-Nya. Dituntun oleh Roh Kudus, pada pagi hari Pentakosta, dengan doanya, Sang Bunda Gereja telah memimpin awal evangelisasi, dan pada hari ini ia senantiasa mendoakan agar orang-orang pada zaman sekarang ini dapat berjumpa dengan Kristus dan, melalui iman mereka kepada-Nya, dapat diselamatkan dengan menerima secara penuh kehidupan anak-anak Allah. Santa Perawan Maria bersinar sebagai teladan dalam katekese, pengajar dalam evangelisasi dan model gerejawi untuk penyampaian iman.

 

Yang Mulia Paus Fransiskus, dalam Audiensi yang diberikan kepada Presiden yang bertanda tangan di bawah ini pada tanggal 23 Maret 2020, dalam Peringatan liturgi St. Turibius dari Mogrovejo, menyetujui Pedoman Katekese ini dan mengizinkan penerbitannya.

+Salvatore Fisichella
Uskup Agung tituler Voghenza, Presiden

+Octavio Ruiz Arenas
Uskup Agung emeritus Villavicencio, Sekretaris


INDEKS TEKS MAGISTERIUM

Dewan Kepausan untuk Budaya
La Via pulchritudinis, jalan evangelisasi dan dialog (2006).
Dewan Kepausan untuk Budaya – Dewan Kepausan untuk dialog antar agama
Yesus Kristus pembawa air hidup. Refleksi kristiani tentang "New Age" (2003) : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 2003.
Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Agama
Dialog dalam kebenaran dan amal. Orientasi Pastoral untuk Dialog Antaragama (19 Mei 2014): Toko Buku Penerbitan Vatikan, Kota Vatikan, 2014.
Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Agama – Kongregasi untuk Evangelisasi bangsa-bangsa
Dialog dan Pewartaan. Refleksi dan pedoman mengenai dialog antar agama dan pewartaan Injil. (19 Mei 1991) : AAS 84 (1992), 414-446.
Dewan Kepausan "Keadilan dan Perdamaian"
Kompendium Ajaran Sosial Gereja (2 April 2004) : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 2004.
Dewan Kepausan untuk Pastoral Migran dan Pengungsi
Erga Migran Caritas Christi (3 Mei 2004) : AAS 96 (2004), 762-822.
Tempat Kudus, Memori, Kehadiran dan Nubuat Allah yang Hidup (8 Mei 1999) : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 1999.
Dewan Kepausan untuk Promosi Evangelisasi Baru
Antologi Evangelisasi Baru. Teks-teks dari magisterium pontifical dan konsiliar 1939-2012 : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatican, 2012.
Dewan Kepausan untuk Promosi Persatuan Umat Kristiani
Pedoman Penerapan Prinsip-prinsip dan Norma-norma Ekumenisme (25 Maret 1993) : AAS 85 (1993), 1039-1119.
Katekismus Gereja Katolik (11 Oktober 1992) : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 1992.
Kitab Hukum Kanonik (25 Januari 1983).
Kitab Hukum Kanonik Gereja Timur (18 Oktober 1990).
Komisi untuk Hubungan Agama dengan Yudaisme
Pedoman dan saran untuk penerapan deklarasi konsili Nostra Aetate No. 4 (1 Desember 1974) : AAS 67 (1975), 73-79.
“Karunia dan panggilan Allah tidak dapat dibatalkan” (Rom 11:29). Sebuah tinjauan teologis tentang hubungan antara Katolik dan Yahudi pada kesempatan peringatan 50 tahun Nostra Aetate No. 4 (10 Desember 2015), Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 2015.
Catatan untuk presentasi yang benar tentang orang-orang Yahudi dan Yudaisme dalam khotbah dan katekese Gereja Katolik (24 Juni 1985).
Kompendium Katekismus Gereja Katolik (28 Juni 2005) : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 2005.
Konferensi Umum V para Uskup Amerika Latin dan Karibia
Dokumen Aparecida (30 Mei 2007) : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 2012.
Kongregasi untuk Ajaran Iman
Instruksi Donum Veritatis (24 Mei 1990) : AAS 82 (1990), 1550-1570.
Surat Iuvenescit Ecclesia (15 Mei 2016) : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 2016.
Kongregasi untuk Gereja-gereja Timur
Instruksi untuk penerapan prinsip-prinsip liturgis dari Kitab Hukum Kanonik untuk Gereja Timur (6 Januari 1996) : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 1996.
Kongregasi untuk Ibadah Ilahi dan Disiplin Sakramen-sakramen
Pedoman tentang kesalehan populer dan liturgi. Prinsip dan Orientasi (17 Desember 2001) : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 2002.
Kongregasi untuk para Imam
Pedoman Katekese Umum (11 April 1971) : AAS 64 (1972), 97-176.
Petunjuk Umum Katekese (15 Agustus 1997) : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 1997.
Pedoman untuk Pelayanan dan Kehidupan Para Imam (11 Februari 2013), Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 2013.
Karunia panggilan imam. Ratio Fundamentalis Institutionis Sacerdotalis (8 Desember 2016) : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 2017.
Kongregasi untuk Pendidikan Katolik
Dimensi religius dari pendidikan di sekolah-sekolah Katolik. Beberapa unsur refleksi dan revisi (7 April 1988) : Typographie polyglotte vaticane, Kota Vatican, 1988.
Mendidik menuju dialog antar budaya di sekolah-sekolah Katolik. Hidup Bersama untuk peradaban kasih (28 Oktober 2013) : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 2014.
Sekolah Katolik di ambang milenium ketiga (28 Desember 1997) : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 1998.
Kongregasi untuk Pendidikan Katolik – Kongregasi untuk para Imam
Pedoman Pelayanan dan Kehidupan Diakon Permanen (22 Februari 1998) : AAS 90 (1998), 879-927.
Kongregasi Suci untuk Konsili
Dekrit Provido Sane (12 Januari 1935): AAS 27 (1935), 145-154.
Konsili Ekumenis Vatikan II
Konstitusi dogmatis tentang Gereja Lumen Gentium (21 November 1964) : AAS 57 (1965), 5-75.
Konstitusi dogmatis tentang Wahyu Ilahi Dei Verbum (18 November 1965) : AAS 58 (1966), 817-836.
Konstitusi pastoral tentang Gereja di dunia saat ini Gaudium et Spes (7 Desember 1965) : AAS 58 (1966), 1025-1120.
Konstitusi tentang Liturgi Suci Sacrosanctum Concilium (4 Desember 1963) : AAS 56 (1964), 97-138.
Dekrit tentang Pelayanan dan Kehidupan Imam Presbyterorum Ordinis (7 Desember 1965) : AAS 58 (1966), 991-1024.
Dekrit tentang Pembinaan Imam Optatam Totius (28 Oktober 1965) : AAS 58 (1966), 713-727.
Dekrit tentang Kerasulan Awam Apostolicam Actuositatem (18 November 1965) : AAS 58 (1966), 837-864.
Dekrit tentang Kegiatan Misioner Gereja Ad Gentes (7 Desember 1965) : AAS 58 (1966), 947-990.
Dekrit tentang Gereja-gereja Timur, Orientalium Ecclesiarum (21 November 1964) : AAS 57 (1965), 76-89.
Dekrit tentang Ekumenisme Unitatis Redintegratio (21 November 1964) : AAS 57 (1965), 90-112.
Dekrit tentang hubungan Gereja dengan Agama-agama Non-Kristen Nostra Aetate (28 Oktober 1965) : AAS 58 (1966), 740-744.
Dekrit tentang tugas pastoral Uskup dalam Gereja Christus Dominus (28 Oktober 1965) : AAS 58 (1966), 673-701.
Deklarasi tentang pendidikan Kristen Gravissimum Educationis (28 Oktober 1965) : AAS 58 (1966), 728-739.
Ordo Initiationis Christianae Adultorum (Ritual Inisiasi Kristen untuk Orang Dewasa)
Paus Benediktus XVI
Pidato kepada para peserta Sidang paripurna Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial (28 Februari 2011) : AAS 103 (2011), 188-191.
Pidato kepada para peserta Sidang paripurna Dewan Kepausan untuk Keluarga (5 April 2008) : AAS 100 (2008), 275-278.
Pidato kepada para peserta Sidang paripurna Dewan Kepausan untuk Promosi Evangelisasi Baru (30 Mei 2011) : AAS 103 (2011), 400-402.
Pidato kepada para peserta dalam pertemuan guru-guru agama Katolik (25 April 2009) : Ajaran Benediktus XVI, V/1 (2010), 660-663.
Seruan Apostolik Pasca-Sinode Africae Munus (19 November 2011) : AAS 104 (2012), 239-314.
Seruan Apostolik Pasca-Sinode Ecclesia in Medio Oriente (14 September 2012) : AAS 104 (2012): 751-796.
Seruan Apostolik Pasca-Sinode Sacramentum Caritatis (22 Februari 2007): AAS 99 (2007), 105-180.
Seruan Apostolik Pasca-Sinode Verbum Domini (30 September 2010) : AAS 102 (2010), 681-787.
Surat Apostolik Fides per Doctrinam (16 Januari 2013) : AAS 105 (2013), 136-139.
Surat Apostolik Porta Fidei (11 Oktober 2011) : AAS 103 (2011), 723-734.
Ensiklik Ubicumque et Semper (21 September 2010) : AAS 102 (2010), 788-792.
Ensiklik Caritas in Veritate (29 Juni 2009) : AAS 101 (2009), 641-709.
Ensiklik Deus Caritas Est (25 Desember 2005): AAS 98 (2006), 217-252.
Renungan dalam Pertemuan Umum pertama dalam Sinode Para Uskup (8 Oktober 2012) : AAS 104 (2012), 895-900.
Pesan untuk Hari Komunikasi Sosial se-Dunia ke-56 (24 Januari 2013) : AAS 105 (2013), 181-185.
Motu proprio untuk aprobasi dan publikasi Kompendium Katekismus Gereja Katolik (28 Juni 2005) :
AAS 97 (2005), 801-802.
Homili dalam misa penutupan Sidang Umum Biasa XIII Sinode Para Uskup (28 Oktober 2012) : AAS 104 (2012), 888-891.
Homili dalam misa pembukaan Konferensi Umum V para Uskup Amerika Latin dan Karibia (13 Mei 2007) : AAS 99 (2007), 433-438.
Paus Fransiskus
Audiensi Umum (15 Januari 2014) : Ajaran Fransiskus, II/1 (2016), 45-47.
Audiensi Umum (4 Maret 2015) : L'Osservatore Romano (5 Maret 2015), 8.
Audiensi Umum (11 Maret 2015): L'Osservatore Romano (12 Maret 2015), 8.
Bulla penetapan Yubileum Luar Biasa Kerahiman Ilahi, Misericordiae Vultus (11 April 2015) : AAS 107 (2015), 399-420.
Pidato kepada para peserta Kongres Internasional tentang Pastoral Kota-kota Besar (27 November 2014) : Ajaran Fransiskus, II/2, 659-665.
Pidato kepada para peserta Kongres VII tentang Pastoral Migran (21 November 2014) : Ajaran Fransiskus, II/2 (2016), 583-586.
Pidato kepada para peserta pertemuan "Katekese Penyandang Disabilitas" (21 Oktober 2017) : AAS 109 (2017), 1206-1208.
Pidato kepada para peserta pertemuan penyandang disabilitas (11 Juni 2016) : AAS 108 (2016), 735-737.
Pidato kepada para peserta Sidang paripurna Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial (21 September 2013) : AAS 105 (2013), 894-896.
Pidato kepada para peserta Sidang paripurna Dewan Kepausan untuk Promosi Evangelisasi Baru (14 Oktober 2013) : AAS 105 (2013), 965-967.
Pidato kepada para peserta Sidang paripurna Dewan Kepausan untuk Promosi Evangelisasi Baru (29 Mei 2015): AAS 107 (2015), 542-544.
Pidato kepada para peserta dalam pertemuan peringatan ke-25 tahun Katekismus Gereja Katolik (11 Oktober 2017) : AAS 109 (2017), 1192-1197.
Pidato dalam Pertemuan Pastoral Keuskupan Roma (19 Juni 2017) : AAS 109 (2017), 729-737.
Pidato pada Gerakan Pembaruan Karismatik (3 Juli 2015) : AAS 107 (2015), 637-642.
Pidato untuk peringatan ke-50 tahun pembentukan Sinode Para Uskup. (17 Oktober 2015) : AAS 107 (2015), 1138-1144.
Dokumen tentang Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Koeksistensi Umum [Ditandatangani bersama Ahmad Al-Tayyeb, Imam Besar Al-Azhar] (4 Februari 2019) : L'Osservatore Romano (4-5 Februari 2019), 6-7.
Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (24 November 2013) : AAS 105 (2013), 1019-1137.
Seruan Apostolik Gaudete et Exsultate (19 Maret 2018) : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 2018.
Seruan Apostolik Pasca-Sinode Amoris Laetitia (19 Maret 2016) : AAS 108 (2016), 311-446.
Seruan Apostolik Pasca-Sinode Christus Vivit (25 Maret 2019): Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 2019.
Seruan Apostolik Pasca-Sinode Querida Amazonia (2 Februari 2020) : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 2020.
Homili dalam Vespers pada Hari Raya pertobatan Santo Paulus, Rasul (25 Januari 2016) : AAS 108 (2016), 110-112.
Homili dalam Misa untuk Yubileum Para Tahanan (6 November 2016) : AAS 108 (2016), 1340-1342.
Homili dalam Misa untuk Hari Katekis pada Kesempatan Tahun Iman (29 September 2013) : AAS 105 (2013), 880-882.
Surat Apostolik Admirabile Signum (1 Desember 2019) : L'Osservatore Romano (2-3 Desember 2019), 4-5.
Surat Apostolik Aperuit Illis (30 September 2019) : L'Osservatore Romano (30 September-1 Oktober 2019), 10-11.
Surat Apostolik De Concordia Inter Codices (31 Mei 2016) : AAS 108 (2016), 602-606.
Surat Apostolik Misericordia et Misera (20 November 2016) : AAS 108 (2016), 1311-1327.
Surat Apostolik Sanctuarium in Ecclesia (11 Februari 2017) : AAS 109 (2017), 335-338.
Surat Apostolik Vos Estis Lux Mundi (7 Mei 2019).
Surat Ensiklik Laudato Si' (24 Mei 2015) : AAS 107 (2015), 847-945.
Surat Ensiklik Lumen Fidei (29 Juni 2013) : AAS 105 (2013), 555-596.
Pesan untuk Festival III Ajaran Sosial Gereja (21 November 2013) : AAS 105 (2013), 1176-1178.
Pesan untuk Hari Orang Miskin Sedunia (13 Juni 2017) : SAA 109 (2017), 768-773.
Pesan untuk Hari Komuni Sosial Sedunia XLVIII (24 Januari 2014) : AAS 106 (2014), 113-116.
Paus Leo XIII
Surat Ensiklik Rerum Novarum (15 Mei 1891) : ASS 23 (1891), 641-670.
Paus Paulus VI
Pidato pada pembukaan Sesi ke-2 Konsili Ekumenis Vatikan II (29 September 1963) : AAS 55 (1963), 841-859.
Pidato untuk beatifikasi Nunzio Sulprizio (1 Desember 1963) : AAS 56 (1964), 17-22.
Seruan Apostolik Evangelii Nuntiandi (8 Desember 1975) : AAS 68 (1976), 5-76.
Surat Apostolik Octogesima Adveniens (14 Mei 1971) : AAS 63 (1971), 401-441.
Surat Ensiklik Ecclesiam Suam (6 Agustus 1964) : AAS 56 (1964), 609-659.
Surat Ensiklik Populorum Progressio (26 Maret 1967) : AAS 59 (1967), 257-299.
Paus Pius XI
Surat Ensiklik Quadragesimo Anno (15 Mei 1931) : AAS 23 (1931), 177-228.
Paus Yohanes XXIII
Pidato Pembukaan Konsili Ekumenis Vatikan II (11 Oktober 1962) : AAS 54 (1962), 786-796.
Surat Ensiklik Mater et Magistra (15 Mei 1961): AAS 53 (1961), 401-464.
Paus Yohanes Paulus II
Konstitusi Apostolik Fidei Depositum (11 Oktober 1992) : AAS 86 (1994), 113-118.
Pidato kepada para peserta pertemuan "Tugas Imam dalam Katekese di Eropa" (8 Mei 2003) : Ajaran Yohanes Paulus II, XXVI / 1 (2005), 680-682.
Pidato kepada Akademi Kepausan untuk Sains (13 November 2000) : AAS 93 (2001), 202-206.
Pidato dalam Ibadat Penutupan Hari Pemuda Sedunia XV (19 Agustus 2000) : Ajaran Yohanes Paulus II, XXIII/2 (2002), 207-213.
Seruan Apostolik Catechesi Tradendae (16 Oktober 1979) : AAS 71 (1979), 1277-1340.
Seruan Apostolik Pasca-Sinode Christifideles Laici (30 Desember 1988) : AAS 81 (1989), 393-521.
Seruan Apostolik Pasca-Sinode Ecclesia in Africa (14 September 1995) : AAS 88 (1996), 5-82.
Seruan Apostolik Pasca-Sinode Ecclesia in America (22 Januari 1999) : AAS 91 (1999), 737-815.
Seruan Apostolik Pasca-Sinode Ecclesia in Asia (6 November 1999) : AAS 92 (2000), 449-528.
Seruan Apostolik Pasca-Sinode Ecclesia in Europa (28 Juni 2003) : AAS 95 (2003), 649-719.
Seruan Apostolik Pasca-Sinode Ecclesia in Oceania (22 November 2001) : AAS 94 (2002), 361-428.
Seruan Apostolik Pasca-Sinode Familiaris Consortio (22 November 1981) : AAS 73 (1981), 81-191.
Seruan Apostolik Pasca-Sinode Pastores Gregis (16 Oktober 2003) : AAS 96 (2004), 825-924.
Seruan Apostolik Pasca-Sinode Vita Consecrata (25 Maret 1996) : AAS 88 (1996), 377-486.
Homili dalam Misa di tempat peziarahan Salib Suci (9 Juni 1979) : AAS 71 (1979), 864-869.
Surat Apostolik Apostolos Suos (21 Mei 1998) : AAS 90 (1998), 641-658.
Surat Apostolik Duodecimum Saeculum (4 Desember 1987) : AAS 80 (1988), 241-252.
Surat Apostolik Laetamur Magnopere (15 Agustus 1997) : AAS 89 (1997), 819-821.
Surat Apostolik Novo Millennio Ineunte (6 Januari 2001) : AAS 93 (2001), 266-309.
Surat Apostolik Tertio Millennio Adveniente (10 November 1994) : AAS 87 (1995), 5-41.
Surat Ensiklik Centesimus Annus (1 Mei 1991) : AAS 83 (1991), 793-867.
Surat Ensiklik Fides and Ratio (14 September 1998) : AAS 91 (1999), 5-88.
Surat Ensiklik Laborem Exercens (14 September 1981) : AAS 73 (1981), 577-647.
Surat Ensiklik Redemptor Hominis (4 Maret 1979) : AAS 71 (1979), 257-324.
Surat Ensiklik Redemptoris Missio (7 Desember 1990) : AAS 83 (1991), 249-340.
Surat Ensiklik Sollicitudo Rei Socialis (30 Desember 1987) : AAS 80 (1988), 513-586.
Surat Ensiklik Ut Unum Sint (25 Mei 1995) : AAS 87 (1995), 921-982.
Pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia 1990 (8 Desember 1989) : AAS 82 (1990), 147-156.
Sinode Para Uskup
Sidang Umum Biasa XIII, Evangelisasi Baru untuk Penerusan Iman Kristen, Daftar Akhir Usulan-usulan (27 Oktober 2012) : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 2017, 649-688.
Sidang Umum Biasa XV, Dokumen Akhir (27 Oktober 2018) : L'Osservatore Romano (29-30 Oktober 2018), 4-12.

DAFTAR SINGKATAN

Selain singkatan dari kitab-kitab Kitab Suci dan dokumen-dokumen Konsili Vatikan II yang disebutkan dalam teks Pedoman ini, juga terdapat singkatan-singkatan lain yang berkaitan dengan dokumen-dokumen yang paling banyak dikutip dalam catatan kaki. Untuk tampilan lengkap dari semua dokumen, lihat Indeks Teks Magisterium.
Kitab Suci
Am Amos
Ams Amsal
Bar Barukh
Ef Efesus
Flp Filipi
Gal Galatia
Hos Hosea
Ibr Ibrani
Keb Kebijaksanaan
Kej Kejadian
Kel Keluaran
Kis Kisah Para Rasul
Kol Kolose
Lk Lukas
Mrk Markus
Mzm Mazmur
Mt Matius
Rm Roma
So Sophonie
Ul Ulangan
Why Wahyu
Yer Yeremia
Yes Yesaya
Yoh Yohanes
Yos Yosua
1 Kor 1 Korintus
1 P 1 Petrus
2 P 2 Petrus
1 R 1 Raja-raja
1 Tes 1 Tesalonika
1 Tm 1 Timotius
2 Tm 2 Timotius
1 Yoh 1 Yohanes

Dokumen-dokumen Konsili Vatikan II
AA Apostolicam Actuositatem
AG Ad gentes
CD Christus Dominus
DV Dei Verbum
GE Gravissimum educationis
GS Gaudium et Spes
LG Lumen Gentium
NA Nostra Aetate
OE Orientalium Ecclesiarum
OT Optatam Totius
PO Presbyterorum Ordinis
SC Sacrosanctum Concilium
UR Unitatis Redintegratio

Singkatan Lainnya
AAS Acta Apostolicae Sedis
AL Amoris Laetitia (Paus Fransikus)
ASS Acta Sanctae Sedis
Bdk. Bandingkan
CCL Corpus Christianorum - Seri Latin
ChV Christus Vivit (Paus Fransiskus)
CT Catechesi Tradendae (Paus Yohanes Paulus II)
EG Evangelii Gaudium (Paus Fransiskus)
EN Evangelii Nuntiandi (Paus Paulus VI)
Id. Idem
Kan. Kanon
Kk. Kanon-kanon
KGK Katekismus Gereja Katolik
KHK Kitab Hukum Kanonik
KHKGT Kitab Hukum Kanonik Gereja Timur
No. Nomor
Nos. Nomor-nomor
OICA Ordo Initiationis Christianae Adultorum (Ritual Inisiasi Kristen untuk Orang Dewasa)
Op.cit. Opera citata
PG Patrologia Graeca (JP Migne)
PL Patrologia Latina (JP Migne)
PUK Petunjuk Umum Katekese (terbitan tahun 1997)

Catatan kaki :

  1. CT 19.
  2. CT 20.
  3. Paulus VI, Pidato kepada para peserta sidang umum Konferensi Waligereja Italia (23 Juni 1966).
  4. Yohanes Paulus II, Konstitusi Apostolik Fidei Depositum (11 Oktober 1992), IV.
  5. EN 14
  6. EG 273
  7. EG 164-165
  8. Fransiskus, Seruan Apostolik Gaudete et Exsultate (19 Maret 2018), 6-7, 14.
  9. Bdk. EG 164-165.
  10. Bdk. EG 166.
  11. Bdk. EG 169-173.
  12. Bdk. EG 259-283.
  13. KGK 30.
  14. BENEDIKTUS XVI, Nasihat Apostolik Pasca-Sinode Verbum Domini (2010, 30 September), 92.
  15. Yohanes Krisostomus, In Mattheum, homilia 1.2 (PG 57:15).
  16. PUK 163.
  17. EN 17.
  18. AGUSTINUS DARI HIPPO, Pengakuan, 1, 1, 1 : CCL 27, 1 (PL 32, 661).
  19. PUK 55.
  20. FRANSISKUS, Surat ensiklik Lumen Fidei (29 Juni 2013), 18; Bdk. THOMAS AQUINAS, Summa Theologiae, IIa-IIae, q. 2, a. 2.
  21. KGK 177.
  22. YOHANES PAULUS II, Surat ensiklik Fides et Ratio (14 September 1998), 43.
  23. Ibid., 13.
  24. PUK 55.
  25. FRANSISKUS, Surat ensiklik Lumen Fidei (29 Juni 2013), 19.
  26. Bdk. KGK 166-167.
  27. Di antara semua dokumen tersebut, yang paling menonjol adalah ensiklik Fides et Ratio dari YOHANES PAULUS II, yang secara khusus didedikasikan untuk tema ini. Lihat juga beberapa bagian dari Dokumen Konsili Vatikan II: GS 5, 36, 57, 62 ; OT 13, 15 dan AA 7 ; dan beberapa nomor artikel dari KGK : 31-34, 39, 159, 2292-2296, 2417. Selain itu, Paus juga telah menyampaikan sejumlah pidato di Universitas, di hadapan para ilmuwan, dan para penggiat budaya.
  28. Scientisme mereduksi fenomena manusia yang kompleks menjadi komponen materialnya saja. Menurut pandangan ini, karena realitas spiritual, etika dan agama, tidak dapat dialami secara empiris, maka realitas tersebut tidaklah nyata dan terbatas pada imajinasi subjektif belaka. Bdk. YOHANES PAULUS II, surat ensiklik Fides et Ratio (14 September 1998), 88.
  29. EG 242.
  30. EG 132.
  31. Bdk. YOHANES PAULUS II, Pidato di Akademi Pontifikal Ilmu Pengetahuan (13 November 2000).
  32. ChV 86.
  33. ChV 87.
  34. ChV 88.
  35. ChV 89.
  36. ChV 89.
  37. Fransiskus, Ensiklik Laudato si' (24 Mei 2015), 47.

Catatan kaki Penutup:

  1. KGK 149

 

Diterjemahkan dari Pedoman Katekese versi bahasa perancis, dalam perbandingan dengan versi bahasa inggris.
NB : penerjemahan masih dalam proses penyelesaian
.

#evangelisasi #katekese #pedoman_katekese