Pedoman Katekese 2020 - Hidup dalam Terang Sabda

Header Ads

Banner Terang Sabda

Pedoman Katekese 2020

Pedoman Katekese 2020

Secara berkala, Gereja Katolik menerbitkan dokumen referensi yang memaparkan dasar-dasar teologis dan pastoral karya kateketik Gereja universal. Dokumen tersebut ditujukan kepada semua pihak yang terlibat dalam katekese, katekumenat, pembinaan iman dan evangelisasi, terutama para uskup, katekis pertama di keuskupannya. Dokumen pertama, "Pedoman Katekese Umum" (General Catechetical Directory) yang diterbitkan pada tanggal 18 Maret 1971, digantikan dengan "Petunjuk Umum Katekese" (General Directory for Catechesis) yang diterbitkan pada tanggal 15 Agustus 1997. Keduanya diterbitkan oleh Konggregasi untuk para klerus. Disetujui oleh Paus Fransiskus pada tanggal 23 Maret 2020, dokumen terbaru, yaitu "Pedoman Katekese" (Directory for Catechesis), diterbitkan pada tanggal 25 Juni 2020 oleh Dewan Kepausan untuk Promosi Evangelisasi Baru.

 

PEDOMAN KATEKESE

DEWAN KEPAUSAN
UNTUK PROMOSI
EVANGELISASI BARU

 

KATA PENGANTAR

Jalannya katekese dalam beberapa dekade terakhir ditandai oleh Seruan Apostolik Catechesi Tradendae. Teks ini tidak hanya merepresentasikan perjalanan yang dicapai sejak pembaruan oleh Konsili Vatikan II, tetapi juga merupakan sintesis dari kontribusi banyak uskup dari seluruh dunia yang berkumpul dalam Sinode tahun 1977. Menurut dokumen ini, katekese "memiliki tujuan ganda untuk mendewasakan iman awal dan mendidik murid Kristus yang sejati melalui pengetahuan yang lebih dalam dan lebih sistematis tentang pribadi dan pewartaan Tuhan kita Yesus Kristus."[1] Ini adalah tugas berat yang tidak memungkinkan adanya pemilah-milahan secara kaku antara berbagai tahap yang terjadi dalam proses katekese. Meskipun cukup menuntut, tujuan Katekese tidaklah berubah terutama dalam konteks budaya beberapa dekade terakhir. Sekali lagi dengan mengacu pada teks dari St. Yohanes Paulus II, Katekese bermaksud "untuk mengembangkan, dengan bantuan Allah, iman yang masih awal, untuk menghantarkannya menuju kepenuhan dan untuk memelihara setiap hari kehidupan kristiani umat beriman. Hal ini menyangkut masalah memberi pertumbuhan, dalam hal tingkat pengetahuan dan kehidupan, benih iman yang ditaburkan oleh Roh Kudus dalam pewartaan pertama dan diteruskan secara efektif melalui Pembaptisan."[2] Dengan demikian, Katekese tetap berakar pada tradisi kokoh yang menjadi ciri sejarah Kekristenan sejak awal keberadaannya. Dengan menyesuaikan diri seturut berbagai kelompok usia umat beriman, Katekese tetaplah merupakan aktivitas pembinaan khusus dari Gereja yang berusaha untuk membuat Injil Yesus Kristus selalu tetap aktual sehingga menjadi pendorong bagi kesaksian yang sesuai.

Pedoman Katekese ini terletak dalam kontinuitas dinamis dengan dua direktorium yang mendahuluinya. Pada tanggal 18 Maret 1971, St. Paulus VI menyetujui Pedoman Kateketik Umum yang disusun oleh Kongregasi untuk Klerus. Pedoman itu memungkinkan untuk pertama kalinya menyajikan secara sistematis pengajaran yang dihasilkan dari Konsili Vatikan Kedua (lih. CD 44). Tidak boleh dilupakan bahwa St Paulus VI menganggap semua ajaran konsili sebagai "katekismus agung zaman modern."[3] Bagaimanapun juga, Dekrit Christus Dominus memberikan pedoman yang terperinci dan jelas tentang katekese. Para Bapa Konsili menyatakan :

Hendaknya para Uskup menyajikan ajaran kristiani dengan cara yang menanggapi kebutuhan-kebutuhan zaman; artinya: menjawab kesulitan-kesulitan dan masalah-masalah yang sangat menekan dan menggelisahkan orang-orang. [...] Hendaklah mereka berusaha menyebar-luaskan ajaran kristiani dengan mengerahkan pelbagai upaya, yang tersedia pada zaman sekarang ini, yakni terutama kotbah dan pendidikan kateketis, yang memang selalu harus diutamakan [...]. Hendaknya para Uskup menjaga, supaya pendidikan kateketis, yang tujuannya ialah : supaya iman Umat diterangi melalui ajaran, dan menjadi hidup dan eksplisit serta aktif, diberikan dengan rajin dan seksama kepada anak-anak dan para remaja, kepada kaum muda maupun orang-orang dewasa; supaya dalam memberikan pendidikan itu tetap diindahkan tata-susunan yang baik dan metode yang cocok bukan hanya mengenai bahan yang diolah, melainkan juga berkenaan dengan sifat perangai, bakat-kemampuan dan umur serta situasi hidup para pendengar; supaya pendidikan itu mengacu kepada Kitab Suci, Tradisi, Liturgi, Ajaran resmi dan kehidupan Gereja. Selain itu hendaklah para Uskup mengusahakan, supaya para katekis disiapkan dengan baik untuk tugas mereka, sehingga mereka mengenal ajaran gereja dengan jelas, begitu pula secara teoritis maupun praktis mempelajari kaidah-kaidah psikologis dan mata-pelajaran pedagogi. Hendaklah mereka mengusahakan juga, supaya pendidikan para katekumen dewasa diadakan lagi atau disesuaikan dengan lebih baik. (CD 13-14)

Sebagaimana yang dapat dicatat, pengajaran ini memberikan kriteria normatif untuk pembaruan katekese yang terus-menerus, yang tidak mungkin menjadi kegiatan yang terputus dari konteks sejarah dan budaya di mana katekese itu dilaksanakan. Salah satu tanda nyata dan konsekuensi pertama dari hal ini adalah didirikannya, pada tanggal 7 Juni 1973, Dewan Internasional untuk Katekese, sebuah badan di mana para pakar dari seluruh dunia membantu Dikasteri yang berwenang untuk memperhatikan kebutuhan-kebutuhan dari berbagai Gereja, sehingga katekese semakin disesuaikan dengan struktur gerejawi, budaya dan sejarah.

Pada peringatan tiga puluh tahun Konsili, tanggal 11 Oktober 1992, St Yohanes Paulus II menerbitkan Katekismus Gereja Katolik. Menurutnya, "Katekismus ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan katekismus lokal [...], namun dimaksudkan untuk mendorong dan membantu dalam penyusunan katekismus lokal baru yang harus memperhitungkan beragam situasi dan budaya."[4] Dan kemudian, pada tanggal 15 Agustus 1997, Petunjuk Umum Katekese diterbitkan. Pekerjaan besar yang telah dilakukan sebagai kelanjutan dari penerbitan pedoman ini terlihat jelas. Dunia katekese yang luas dan beragam telah menerima dorongan positif lebih lanjut untuk menghidupkan studi-studi baru yang memungkinkan kita untuk lebih memahami kebutuhan katekese dalam hal pedagogi dan pembinaan, terutama dalam terang interpretasi baru tentang katekumenat. Banyak konferensi para Uskup, melalui berbagai badan pelayanan yang mulai muncul, telah menghidupkan program katekese baru untuk kelompok usia yang berbeda. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, dari orang muda hingga mereka yang telah berkeluarga, kita bisa menyaksikan adanya pembaruan katekese yang lebih luas.

Pada tanggal 23 Maret 2020, Paus Fransiskus menyetujui Pedoman Katekese yang baru, di mana kami mendapatkan kehormatan dan tanggung jawab untuk menyampaikannya kepada Gereja. Pedoman ini merupakan tahap baru dari dinamika pembaruan katekese. Bagaimanapun juga, studi kateketik dan upaya terus-menerus dari berbagai Konferensi para Uskup telah menghasilkan pencapaian-pencapaian yang sangat signifikan bagi kehidupan Gereja dan pendewasaan umat beriman. Hal-hal itu membutuhkan sistematisasi baru.

Tinjauan sejarah singkat menunjukkan bahwa setiap Pedoman diterbitkan sebagai tindak lanjut dari dokumen-dokumen penting tertentu dari Magisterium. Pedoman yang pertama memiliki pengajaran konsili sebagai titik acuannya; Pedoman yang kedua mengacu pada Katekismus Gereja Katolik; Pedoman yang terbaru terkait erat dengan Sinode para Uskup tentang Evangelisasi Baru untuk Penerusan Iman Kristen dan juga Seruan Apostolik Evangelii Gaudium dari Paus Fransiskus. Meskipun masing-masing ditandai dengan perubahan konteks historis dan aktualisasi ajaran Magisterium, ketiga teks Pedoman Katekese tersebut memuat persyaratan umum yang sama, yaitu tujuan dan misi katekese. Pedoman pertama dan kedua dipisahkan oleh rentang waktu 26 tahun; sedangkan Pedoman kedua dan yang terbaru berjarak 23 tahun. Dalam beberapa hal, kronologi ini menunjukkan kebutuhan untuk menghadapi dinamika sejarah. Tinjauan yang lebih seksama pada konteks budaya menyoroti masalah-masalah baru masa kini di mana Gereja dipanggil untuk menghadapinya. Ada dua hal yang menonjol. Yang pertama adalah fenomena budaya digital, yang membawa serta dengannya hal kedua, yaitu globalisasi budaya. Keduanya begitu saling terkait sehingga membentuk satu sama lain dan menghasilkan fenomena yang menonjolkan perubahan radikal dalam kehidupan masyarakat. Kebutuhan akan pembinaan yang memperhatikan setiap individu sering kali terabaikan ketika model pembinaan global diterapkan. Godaan untuk beradaptasi dengan bentuk-bentuk standardisasi internasional merupakan risiko yang tidak boleh dianggap remeh, terutama dalam konteks pembinaan untuk kehidupan beriman. Iman, pada dasarnya, diteruskan melalui perjumpaan interpersonal dan dipelihara melalui jalinan dalam komunitas. Kebutuhan untuk mengungkapkan iman melalui doa liturgis dan memberikan kesaksian melalui kekuatan cinta kasih, mewajibkan kita untuk melampaui fragmentasi dari berbagai inisiatif yang ada dan memulihkan kesatuan asli dari esensi kristiani. Hal ini menemukan fondasinya dalam Sabda Allah yang diwartakan dan diteruskan oleh Gereja dengan Tradisi yang hidup, yang tahu bagaimana menyambut dalam dirinya berbagai generasi umat beriman yang lama dan yang baru (bdk. Mat 13:52) yang tersebar di seluruh dunia.

Dalam beberapa dekade setelah Vatikan II, Gereja telah berulang kali memiliki kesempatan untuk merenungkan misi besar yang telah dipercayakan Kristus kepadanya. Dua dokumen secara khusus memberi perhatian pada perintah agung untuk mewartakan Injil ini. St. Paulus VI dengan Evangelii Nuntiandi dan Paus Fransiskus dengan Evangelii Gaudium menelusuri jalan yang menuntut komitmen setiap hari dari umat beriman untuk melakukan evangelisasi. "Gereja ada untuk mewartakan Injil,"[5] St. Paulus VI menyatakan dengan tegas; "Saya adalah perutusan,"[6] Paus Fransiskus mengulangi dengan kejelasan yang sama. Tidak ada alibi yang dapat mengalihkan perhatian dari tanggung jawab yang dimiliki oleh setiap orang beriman dan seluruh Gereja ini. Oleh karena itu, hubungan erat antara evangelisasi dan katekese menjadi ciri khas dari Pedoman terbaru. Pedoman ini bermaksud untuk menyajikan jalan di mana dapat dilihat kesatuan erat antara pewartaan kerygma dan pendewasaannya.

Kriteria yang memotivasi refleksi dan penyusunan Pedoman ini didasarkan pada kata-kata Paus Fransiskus berikut ini : "Dalam katekese juga, kita telah menemukan ada peran pokok pewartaan pertama atau kerygma, yang hendaknya menjadi pusat dari semua kegiatan evangelisasi dan seluruh upaya untuk pembaruan Gereja. [...] Pewartaan pertama ini disebut "pertama" bukan karena ada pada awal dan kemudian dapat dilupakan atau digantikan oleh hal-hal lain yang lebih penting. Pewartaan ini pertama dalam arti kualitatif karena merupakan pewartaan utama, yang harus kita dengar lagi dan lagi dengan berbagai cara, yang harus kita wartakan dengan satu atau lain cara melalui proses katekese, di setiap tingkat dan setiap saat. [...] Kita tidak seharusnya berpikir bahwa dalam katekese kerygma ditinggalkan demi pembinaan yang dianggap lebih “solid.” Tak ada yang lebih solid, mendalam, aman, dan bermakna dan penuh kebijaksanaan daripada pewartaan awal. Semua pembinaan Kristiani merupakan pendalaman kerygma, yang mendarah daging semakin mendalam dan terus-menerus menerangi karya katekese, sehingga memampukan kita memahami dengan lebih penuh makna setiap tema yang dikembangkan dalam katekese. Inilah pesan yang mampu menanggapi kerinduan pada Yang Tak Terbatas yang ada di dalam setiap hati manusia."[7]

Kenyataan bahwa kerygma mempunyai tempat yang utama, yang menuntun kami untuk mengusulkan katekese kerygmatis, sama sekali tidak mengurangi nilai mistagogi atau pun kesaksian tentang cinta kasih. Hanya pola pikir yang dangkallah yang akan mengarahkan orang untuk menganggap pewartaan pertama hanya sebagai argumen yang dirancang untuk meyakinkan lawan bicaranya. Mewartakan Injil berarti memberikan kesaksikan tentang suatu perjumpaan, di mana fokusnya adalah Yesus Kristus, Putra Allah, yang berinkarnasi dalam sejarah umat manusia untuk menggenapi pewahyuan kasih keselamatan dari Bapa. Atas dasar inti iman ini, lex credendi menyerahkan dirinya kepada lex orandi, dan bersama-sama mereka membentuk cara hidup orang beriman untuk menjadi saksi cinta yang membuat pewartaan menjadi dapat dipercaya. Pada kenyataannya, setiap orang merasa terlibat dalam proses realisasi diri yang mengarah pada pemberian jawaban akhir dan definitif atas pertanyaan tentang makna.

Oleh karena itu, ketiga bagian dari Pedoman Katekese ini menguraikan jalannya katekese di bawah keutamaan evangelisasi. Para uskup, yang merupakan penerima pertama dokumen ini, bersama-sama dengan Konferensi para Uskup, Komisi Katekese, dan banyak katekis, akan dapat memverifikasi perkembangan sistematis yang telah ditulis di dalamnya, sedemikian rupa sehingga menjadi lebih jelaslah tujuan katekese, yaitu perjumpaan hidup dengan Tuhan yang mengubah hidup. Proses katekese dijelaskan dengan penekanan pada tatanan eksistensial yang melibatkan berbagai kategori orang dalam lingkungan hidup mereka. Tema pembinaan katekis cukup mendapat perhatian, karena pemulihan kembali pelayanan mereka dalam komunitas Kristen tampaknya cukup mendesak. Bagaimanapun, hanyalah katekis yang menghidupi pelayanannya sebagai panggilan yang dapat berkontribusi pada keefektifan katekese. Akhirnya, justru karena katekese berlangsung dalam terang perjumpaan, katekese memiliki tanggung jawab besar untuk bekerja sama dalam inkulturasi iman. Proses ini memberi ruang bagi penciptaan bahasa baru dan metodologi baru yang, dalam pluralitas ekspresinya, semakin membuktikan kekayaan Gereja universal.

Dewan Kepausan untuk Promosi Evangelisasi Baru, yang sejak 16 Januari 2013 ditunjuk untuk bertanggung jawab atas katekese melalui publikasi motu proprio Fides per Doctrinam, menyadari bahwa Pedoman Katekese ini masih memerlukan perbaikan. Kami tidak bisa mengklaim kelengkapannya, karena pada dasarnya Pedoman ini dimaksudkan untuk Gereja-gereja partikular supaya mendorong mereka untuk menyusun Pedoman mereka sendiri dan untuk mendukung mereka dalam proses tersebut. Penyusunan Pedoman ini melibatkan sejumlah ahli, yang mengungkapkan universalitas Gereja. Selama berbagai fase penyusunannya, naskah Pedoman ini juga diserahkan untuk dinilai oleh beberapa uskup, imam dan katekis. Banyak pria dan wanita telah terlibat dalam pekerjaan ini, yang kami harap akan terbukti menjadi kontribusi yang berharga pada masa ini. Tanpa retorika apa pun, kami berterima kasih kepada mereka semua secara pribadi dan mengucapkan terima kasih atas pekerjaan besar yang telah dilakukan dengan penuh kompetensi, semangat, dan murah hati.

Secara kebetulan, persetujuan untuk Direktori ini terjadi pada peringatan liturgi St. Turibius dari Mogrovejo (1538-1606), seorang santo yang mungkin tidak terlalu dikenal tetapi memberikan dorongan kuat untuk evangelisasi dan katekese. Mengikuti jejak St. Ambrosius, pada mulanya St. Turibius adalah seorang awam dan ahli hukum terkemuka. Lahir di Mallorca dari keluarga bangsawan, ia mendapatkan pendidikan di universitas Valladolid dan Salamanca di mana ia menjadi profesor. Ketika menjadi ketua pengadilan Granada, ia ditahbiskan menjadi uskup dan dikirim oleh Paus Gregorius XIII ke Lima, Peru. Dia memahami pelayanan episkopalnya sebagai penginjil dan katekis. Menggemakan apa yang dikatakan Tertullianus, ia senang mengulangi : "Kristus adalah kebenaran, bukan kebiasaan." Dia mengulanginya terutama di hadapan para conquistador (: penakluk) yang menindas masyarakat Indian atas nama superioritas budaya, dan para imam yang tidak memiliki keberanian untuk membela kepentingan orang miskin. Sebagai misionaris yang tak kenal lelah, ia melakukan perjalanan ke seluruh wilayah Gerejanya, menemui terutama para penduduk asli untuk mewartakan Firman Allah kepada mereka dalam bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Selama dua puluh lima tahun pelayanannya sebagai Uskup, ia mengorganisir sinode keuskupan dan provinsi, dan bertindak sebagai katekis dengan menerbitkan Katekismus dalam bahasa Spanyol, Qu├ęchua, dan Aymara untuk penduduk asli Amerika Selatan. Karya evangelisasinya menghasilkan buah-buah yang tak terduga : ribuan penduduk asli menjadi percaya setelah bertemu Kristus dalam amal kasih Sang Uskup. Dialah yang menerimakan Sakramen Penguatan kepada dua orang kudus dari Gereja : St. Martin de Porres dan St. Rosa de Lima. Pada tahun 1983, St. Yohanes Paulus II mencanangkannya sebagai pelindung keuskupan-keuskupan Amerika Latin. Oleh karena itu, Pedoman Katekese yang baru juga ditempatkan di bawah perlindungan katekis agung ini.

Paus Fransiskus menuliskan : "Roh Kudus mencurahkan kekudusan di mana pun kepada umat Allah yang kudus dan setia. [...] Saya senang melihat kekudusan yang ada dalam kesabaran umat Allah: dalam diri orangtua yang membesarkan anak-anaknya dengan kasih sayang yang sangat besar, dalam diri laki-laki dan perempuan yang bekerja keras untuk menafkahi keluarga mereka, dalam diri mereka yang sakit, dalam diri kaum religius lanjut usia yang tetap tersenyum. Di dalam kegigihan perjuangan mereka untuk terus maju hari demi hari, saya melihat kekudusan dari Gereja yang militan. Sering kali hal tersebut merupakan kekudusan dari "pintu sebelah", mereka yang hidup dekat dengan kita. Mereka mencerminkan kehadiran Allah, atau dengan kata lain "tingkat menengah kekudusan". [...] Kita semua dipanggil untuk menjadi kudus dengan menghayati hidup kita dengan kasih dan masing-masing memberikan kesaksiannya sendiri dalam kegiatan setiap hari, di manapun kita berada. Apakah Anda seorang anggota hidup bakti? Jadilah kudus dengan menghayati persembahan diri Anda dengan sukacita. Apakah Anda menikah? Jadilah kudus dengan mengasihi dan memperhatikan suami atau istri Anda, sebagaimana Kristus lakukan kepada Gereja-Nya. Apakah Anda seorang pekerja? Jadilah kudus dengan melakukan pekerjaan Anda dengan kejujuran dan kemampuan untuk melayani sesama. Apakah Anda orangtua atau kakek-nenek? Jadilah kudus dengan mengajarkan dengan sabar anak atau cucu untuk mengikuti Yesus. Apakah Anda sedang memiliki kekuasaan? Jadilah kudus dengan berjuang demi kesejahteraan bersama dan melepaskan kepentingan pribadi."[8]

Kekudusan adalah kata penting yang dapat diucapkan dalam menyajikan Pedoman baru untuk katekese ini. Kekudusan adalah suatu cara hidup di mana para katekis juga dipanggil untuk menghidupinya dengan keteguhan dan kesetiaan. Dalam perjalanan yang penuh tuntutan ini, mereka tidak sendirian. Gereja, di seluruh dunia, dapat menghadirkan model-model katekis yang telah mencapai kekudusan dan bahkan kemartiran dengan menjalani pelayanan mereka setiap hari. Kesaksian mereka berbuah, dan karenanya masih mungkinlah untuk berpikir bahwa pada zaman kita sekarang ini, masing-masing dari kita juga dapat melanjutkan petualangan ini dan mengabdikan diri dengan penuh dedikasi dan ketakziman pada tugas yang melelahkan dan terkadang tanpa pamrih sebagai seorang katekis.

 

Dari Vatikan, 23 Maret 2020
Peringatan Liturgi St. Turibius dari Mogrovejo

+Salvatore Fisichella
Uskup Agung tit. Voghenza, Presiden

+Octavio Ruiz Arenas
Uskup Agung emeritus Villavicencio, Sekretaris

Catatan kaki :

  1. CT 19
  2. CT 20
  3. Paulus VI, Pidato kepada para peserta sidang umum Konferensi Waligereja Italia (23 Juni 1966).
  4. Yohanes Paulus II, Konstitusi Apostolik Fidei Depositum (11 Oktober 1992), IV.
  5. EN 14
  6. EG 273
  7. EG 164-165
  8. Fransiskus, Seruan Apostolik Gaudete et Exsultate (19 Maret 2018), 6-7, 14.

PENDAHULUAN

1. Katekese merupakan bagian yang penting dalam proses pembaharuan yang lebih luas di mana Gereja dipanggil untuk melaksanakannya dalam kesetiaan pada perintah agung yang diberikan oleh Yesus Kristus kepada kita untuk mewartakan Injil-Nya selalu dan di mana-mana (bdk. Mat 28:19). Dalam upaya evangelisasi, Katekese ambil bagian, sesuai dengan sifat dasarnya, untuk memastikan bahwa iman dapat didukung dengan pematangan terus menerus untuk mengungkapkan gaya hidup yang harus menjadi ciri keberadaan murid-murid Kristus. Inilah sebabnya mengapa Katekese berhubungan dengan liturgi dan cinta kasih untuk menunjukkan kesatuan hakiki dari hidup baru yang terlahir berkat Pembaptisan.

2. Dengan mempertimbangkan pembaruan ini, Paus Fransiskus, dalam Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, menunjukkan beberapa karakteristik khusus dari katekese yang menghubungkannya secara lebih langsung dengan pewartaan Injil di dunia saat ini.

Katekese kerygmatis,[9] yang masuk ke jantung iman dan merasakan hakikat warta kristiani, adalah katekese yang mewujudnyatakan tindakan Roh Kudus, yang mengkomunikasikan kasih keselamatan dari Allah dalam Yesus Kristus dan yang terus memberikan diri-Nya sendiri untuk kepenuhan hidup setiap orang. Berbagai rumusan yang berbeda dari kerygma, yang tentu terbuka untuk semakin diperdalam, merupakan pintu akses eksistensial pada misteri.

Katekese sebagai inisiasi mistagogis[10] memasukkan orang beriman ke dalam pengalaman hidup jemaat Kristen, tempat kehidupan iman yang sejati. Pengalaman pembinaan ini bersifat progresif dan dinamis, kaya akan tanda dan bahasa, yang berguna bagi integrasi semua dimensi pribadi manusia.

Semuanya ini mengacu langsung pada pemahaman intuitif, yang berakar kuat dalam refleksi kateketik dan dalam praktik pastoral gerejawi, yang bahkan menjadi semakin mendesak, bahwa katekese haruslah menimba inspirasi dari model katekumenal.

3. Dalam terang unsur-unsur ini yang menjadi ciri katekese dalam perspektif misioner, tujuan dari proses katekese juga ditafsirkan kembali. Pemahaman tentang dinamika pembinaan pribadi umat tersebut menuntut bahwa persekutuan erat dengan Kristus, yang telah ditunjukkan dalam Magisterium sebelumnya sebagai tujuan akhir dari karya katekese, tidak hanya dianggap sebagai suatu tujuan, tetapi juga dicapai melalui proses pendampingan.[11] Akhirnya, keseluruhan proses internalisasi Injil melibatkan keseluruhan diri manusia dalam pengalaman hidup pribadinya.

Hanya katekese yang berkomitmen untuk memastikan bahwa setiap orang mendewasakan tanggapan iman-nya sendiri, dapat mencapai tujuan tersebut di atas. Inilah sebabnya mengapa Pedoman ini mengingatkan betapa pentingnya bahwa katekese mendampingi pendewasaan cara hidup sebagai umat beriman dalam suatu dinamika transformasi, yang pada akhirnya merupakan suatu tindakan spiritual. Inilah bentuk asli dan yang diperlukan dari inkulturasi iman.

4. Sebagai hasil dari penafsiran ulang sifat dasar dan tujuan katekese, Pedoman ini menawarkan beberapa perspektif tertentu, yang merupakan buah dari permenungan yang dilakukan dalam konteks gerejawi beberapa dekade terakhir, dan hadir secara transversal dalam seluruh dokumen ini, bahkan hal itu juga membentuk kerangka utamanya.
Keyakinan teguh dalam Roh Kudus, yang hadir dan bertindak dalam Gereja, di dunia dan di dalam hati manusia, ditegaskan lagi. Hal ini membawa pada karya katekese suatu catatan sukacita, ketenangan dan tanggung jawab.
– Tindakan iman lahir dari kasih yang ingin semakin mengenal Tuhan Yesus, yang hidup di dalam Gereja, dan itulah sebabnya inisiasi umat beriman dalam kehidupan Kristen berarti memasukkan mereka dalam perjumpaan yang hidup dengan-Nya.
– Gereja, misteri persekutuan, dihidupi oleh Roh dan karenanya menjadi berbuah untuk menghasilkan kehidupan baru. Dengan pandangan iman ini, peran komunitas kristiani sebagai tempat alami bagi kelahiran dan pendewasaan kehidupan Kristen ditegaskan kembali.
– Proses evangelisasi, dan karena itu juga katekese sebagai bagian darinya, pertama-tama dan terutama merupakan tindakan spiritual. Hal ini menuntut bahwa para katekis menjadi haruslah sungguh-sungguh menjadi "pewarta Injil dalam Roh"[12] dan rekan kerja kerja setia para gembala.
– Peran fundamental dari orang-orang yang telah dibaptis diakui. Dalam martabat mereka sendiri sebagai anak-anak Allah, semua orang beriman adalah subyek aktif dari karya katekese, mereka bukan penerima pasif atau sasaran pelayanan dan, oleh karena itu, mereka dipanggil untuk menjadi murid misioner yang sejati.
– Menghidupi misteri iman dalam hubungannya dengan Tuhan memiliki implikasi bagi pewartaan Injil. Sejatinya, hal itu menuntut untuk melampaui setiap pertentangan antara isi dan metode, antara iman dan kehidupan.

5. Kriteria yang memandu penyusunan Pedoman Katekese ini terletak pada keinginan untuk memperdalam peran katekese dalam dinamika evangelisasi. Pembaharuan teologis selama paruh pertama abad ke-20 memunculkan kebutuhan akan pemahaman misioner dari katekese. Konsili Ekumenis Vatikan II dan Magisterium yang mengikutinya memahami dan menyusun ulang hubungan hakiki antara evangelisasi dan katekese, menyesuaikannya setiap kali dengan tuntutan perkembangan sejarah. Oleh karena itu, Gereja, yang "secara alami" bersifat "misioner" (AG 2), selalu membuka diri untuk menerapkan dengan penuh percaya diri tahap baru evangelisasi, sesuai dengan bimbingan Roh Kudus kepadanya.

Hal ini membutuhkan komitmen dan tanggung jawab untuk mengenali bahasa-bahasa baru yang dapat digunakan untuk mengkomunikasikan iman. Pada masa ketika bentuk-bentuk penyampaian iman sedang berubah, Gereja berkomitmen untuk menguraikan beberapa tanda-tanda zaman yang dengannya Tuhan menunjukkan jalan untuk ditempuh. Di antara berbagai tanda ini, kita mengenali : sentralitas umat beriman dan pengalaman hidupnya; peran penting relasi dan afeksi; ketertarikan pada apa yang benar-benar menawarkan makna; penemuan kembali apa yang disebut sebagai keindahan dan yang membangkitkan semangat. Dalam gerakan-gerakan ini dan gerakan-gerakan lain dari budaya masa kini, Gereja menangkap kesempatan untuk perjumpaan dan pewartaan tentang kebaruan dari iman. Inilah landasan dari transformasi misioner-nya, yang mendorong pertobatan pastoral.

6. Sama seperti Petunjuk Umum Katekese (1997) adalah kelanjutan dari Direktorium Kateketik Umum (1971), Pedoman Katekese ini juga berada dalam dinamika kontinuitas dan pengembangan yang sama dengan dokumen-dokumen yang mendahuluinya. Tidak dapat dilupakan bahwa selama dua dekade terakhir Gereja telah mengalami peristiwa-peristiwa penting yang, meskipun dengan tingkat kepentingan yang berbeda, telah menjadi saat-saat penting bagi perjalanan gerejawi, untuk pemahaman yang lebih mendalam tentang misteri iman dan evangelisasi.

Pertama-tama, perlulah mengingat masa kepausan dari St. Yohanes Paulus II yang, dengan Seruan Apostoliknya Catechesi Tradendae (1979), benar-benar memberikan dorongan inovatif untuk katekese. Paus Benediktus XVI berulang kali menegaskan pentingnya katekese dalam proses evangelisasi baru dan, dengan Surat Apostolik Fides per Doctrinam (2013), ia secara konkret menerapkan komitmen tersebut. Akhirnya, Paus Fransiskus, dengan Seruan Apostoliknya Evangelii Gaudium (2013), ingin menegaskan kembali hubungan yang tidak terpisahkan antara evangelisasi dan katekese dalam terang budaya perjumpaan.

Peristiwa-peristiwa besar lainnya telah menandai pembaruan katekese. Di antaranya, kita tidak dapat melupakan Yubileum Agung Tahun 2000, Tahun Iman (2012-2013), Yubileum Luar Biasa Kerahiman (2015-2016) dan Sinode para Uskup baru-baru ini tentang beberapa hal penting bagi kehidupan Gereja. Yang perlu disebutkan secara khusus adalah Sinode tentang Sabda Allah dalam Kehidupan dan Misi Gereja (2008); tentang Evangelisasi Baru untuk Penyampaian Iman Kristen (2012); tentang Panggilan dan Misi Keluarga dalam Gereja dan Dunia Kontemporer (2015); dan tentang Orang Muda, Iman dan Penegasan Panggilan (2018). Akhirnya, haruslah disebutkan juga penerbitan Kompendium Katekismus Gereja Katolik (2005), sarana sederhana dan langsung untuk pengetahuan iman.

7. Pedoman Katekese mengatur isinya dalam struktur dan sistematisasi yang baru. Tema-temanya tetaplah disusun dengan mempertimbangkan berbagai kepekaan gerejawi yang mendasar. Bagian pertama (Katekese dalam misi Gereja untuk evangelisasi) memberi pendasaran pada bagian-bagian selanjutnya. Wahyu Allah dan penyampaiannya dalam Gereja membuka refleksi tentang dinamika evangelisasi di dunia masa kini, dengan menerima tantangan pertobatan misioner yang mempengaruhi katekese (Bab I). Hal tersebut diuraikan dengan penjelasan tentang sifat, tujuan, tugas dan sumber-sumber katekese (Bab II). Katekis – yang identitas (Bab III) dan pembinaannya (Bab IV) dipaparkan di sini – membuat pelayanan katekese gerejawi menjadi terlihat dan operasional. Pada bagian pertama ini, sebagai tambahan atas pembaruan pertanyaan mendasar yang sudah disorot, ada baiknya disebutkanlah bab tentang pembinaan, yang menggabungkan berbagai perspektif penting yang berhubungan dengan pembaruan katekese.

8. Bagian kedua (Proses Katekese) berhubungan dengan dinamika katekese. Bagian ini pertama-tama memaparkan paradigma yang menjadi acuan, yaitu pedagogi Allah dalam sejarah keselamatan, yang dengan sendirinya mengilhami pedagogi Gereja dan katekese sebagai tindakan edukatif (Bab V). Dalam terang paradigma ini, kriteria teologis untuk pemakluman warta Injil disusun kembali dan semakin disesuaikan dengan kebutuhan budaya masa kini. Selain itu, Katekismus Gereja Katolik disajikan dalam pemaknaannya secara teologis-kateketis (Bab VI). Bab VII menyajikan beberapa pertanyaan tentang metode dalam katekese dengan membahas, antara lain, tema bahasa. Bagian kedua ini berakhir dengan pemaparan tentang katekese dengan berbagai kelompok peserta (Bab VIII).

Meskipun disadari adanya keragaman kondisi budaya di dunia dan karenanya perlulah penelitian di tingkat lokal, namun niat dari bagian ini adalah untuk menawarkan analisis karakteristik umum dari tema yang luas ini, dengan menindaklanjuti perhatian yang diberikan pada sinode tentang keluarga dan kaum muda. Akhirnya, Pedoman ini mengundang Gereja-gereja partikular untuk memperhatikan katekese dengan penyandang disabilitas, kaum migran dan emigran, serta narapidana.

9. Bagian ketiga (Katekese di Gereja-gereja Partikular) menunjukkan bagaimana pelayanan Sabda Allah terbentuk dalam kehidupan gerejawi yang nyata. Gereja-gereja partikular, dalam semua artikulasinya, melaksanakan tugas mewartakan Injil dalam berbagai konteks di mana mereka berakar (Bab IX). Pada bagian ini, kekhasan Gereja-gereja Timur, yang memiliki tradisi katekese mereka sendiri, diakui. Setiap komunitas Kristen diundang untuk menghadapi kompleksitas dunia kontemporer, di mana unsur-unsur yang sangat berbeda tercampur baur (Bab X). Konteks geografis yang beragam, skenario yang bersifat religius, tren budaya – meskipun mereka tidak secara langsung berkaitan dengan katekese gerejawi – membentuk fisiognomi batin orang-orang pada zaman sekarang ini ; Gereja menempatkan dirinya dalam pelayanan kepada mereka ini, dan karena itu tak terelakkanlah bahwa mereka menjadi objek penegasan yang terkait dengan prakarsa katekese. Perlu disebutkanlah di sini refleksi tentang budaya digital dan beberapa pertanyaan bioetika, yang menjadi perdebatan besar di zaman kita. Bab XI, dengan membahas kembali tindakan Gereja partikular, menunjukkan sifat dasar dan kriteria teologis dari inkulturasi iman, yang juga dinyatakan dalam penyusunan katekismus lokal. Pedoman Katekese ini diakhiri dengan pemaparan tentang organisasi-organisasi yang, pada tingkat yang beragam, melayani katekese (Bab XII).

10. Pedoman Katekese yang baru ini menawarkan prinsip-prinsip dasar teologis-pastoral dan beberapa pedoman umum yang relevan untuk praktik katekese di zaman kita. Sudah sewajarnyalah bahwa penerapan dan pedoman-pedoman operasionalnya menjadi tugas dari Gereja-gereja partikular, yang dipanggil untuk memberikan penjabaran dari prinsip-prinsip umum ini sehingga dapat disesuaikan dengan konteks gerejawi mereka sendiri. Oleh karena itu, Pedoman ini merupakan alat bantu untuk penyusunan pedoman nasional atau lokal, yang berasal dari otoritas yang berwenang dan mampu menerjemahkan petunjuk umum ini ke dalam bahasa masing-masing komunitas gerejawi. Dengan demikian Pedoman ini melayani para uskup, konferensi-konferensi episkopal, organisasi-organisasi pastoral dan akademik yang terlibat dalam katekese dan evangelisasi. Para Katekis pun akan dapat menemukan dukungan dan tantangan dalam pelayanan mereka sehari-hari bagi pendewasaan saudara-saudara mereka dalam iman.

Catatan kaki :

  1. Bdk. EG 164-165
  2. Bdk. EG 166
  3. Bdk. EG 169-173
  4. Bdk. EG 259-283

BAGIAN PERTAMA - KATEKESE DALAM MISI GEREJA UNTUK EVANGELISASI
    Bab I - Wahyu ilahi dan Peyampaiannya [11-54]
      1. Yesus Kristus, penyampai dan pewahyuan Bapa [11-16]
        Pewahyuan tentang rencana penyelenggaraan ilahi [11-14]

        11. Semua identitas Gereja, segala yang dilakukan Gereja, menemukan landasan utamanya dalam kenyataan bahwa Allah, dalam kebaikan dan kebijaksanaan-Nya, ingin mengungkapkan misteri kehendak-Nya dengan mengkomunikasikan diri-Nya kepada manusia. St. Paulus menggambarkan misteri ini dengan kata-kata berikut : Allah, di dalam Kristus, "telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih, Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya" (Ef 1: 4-5). Sejak awal penciptaan, Allah tidak henti-hentinya mengkomunikasikan rencana keselamatan ini kepada manusia dan untuk menunjukkan kepadanya tanda-tanda kasih-Nya; dan bahkan "meskipun manusia dapat melupakan atau menolak Allah, Ia tidak pernah berhenti memanggil setiap orang untuk mencari-Nya supaya ia dapat hidup dan menemukan kebahagiaan."[1]

        Catatan kaki :

        1. KGK 30
        Yesus mewartakan Injil keselamatan [15-16]

      2. Iman kepada Yesus Kristus: tanggapan terhadap Allah yang menyatakan diri-Nya [17-21]

      3. Penerusan Pewahyuan dalam iman Gereja [22-37]
        Pewahyuan dan evangelisasi [28-30]

        Proses evangelisasi [31-37]

      4. Evangelisasi di dunia masa kini [38-54]
        Tahap baru evangelisasi [38-41]

        Evangelisasi budaya dan inkulturasi iman [42-47]

        Katekese untuk melayani evangelisasi baru [48]

        Katekese dan "gerak keluar yang bersifat misioner" [49-50]

        Katekese dalam ungkapan kerahiman [51-52]

        Katekese sebagai "laboratorium" dialog [53-54]

    Bab II - Identitas Katekese [55-109]
      1. Sifat dasar katekese [55-65]
        Hubungan erat antara kerygma dan katekese [57-60]

        Katekumenat sebagai sumber inspirasi untuk katekese [61-65]

      2. Katekese dalam proses evangelisasi [66-74]
        Pewartaan pertama dan katekese [66-68]

        Katekese inisiasi Kristen [69-72]

        Katekese dan pembinaan berkelanjutkan dalam kehidupan kristiani [73-74]

      3. Tujuan katekese [75-78]
      4. Tugas katekese [79-89]
        Membawa pada pengetahuan iman [80]

        Memasukkan dalam perayaan Misteri iman [81-82]

        Membina kehidupan di dalam Kristus [83-85]

        Mengajar berdoa [86-87]

        Menghantarkan pada kehidupan berjemaat [88-89]

      5. Sumber katekese [90-109]
        Sabda Allah dalam Kitab Suci dan Tradisi Suci [91-92]

        Magisterium [93-94]

        Liturgi [95-98]

        Kesaksian orang-orang kudus dan para martir [99-100]

        Teologi [101]

        Budaya kristiani [102-105]

        Keindahan [106-109]

    Bab III - Katekis [110-129]
      1. Identitas dan panggilan katekis [110-113]

      2. Uskup sebagai katekis pertama [114]

      3. Peran Imam dalam katekese [115-116]

      4. Peran Diakon dalam katekese [117-118]

      5. Orang-orang yang mengabdikan diri dalam pelayanan katekese [119-120]

      6. Katekis awam [121-129]
        Orang tua, subyek aktif dalam katekese [124]
          Bapa dan ibu baptis, rekan kerja para orang tua [125]

        Pelayanan kakek-nenek dalam penerusan iman [126]

        Kontribusi besar perempuan terhadap katekese [127-129]

    Bab IV - Pembinaan Katekis [130-156]
      1. Sifat dasar dan tujuan pembinaan katekis [130-132]

      2. Komunitas kristiani sebagai tempat istimewa bagi pembinaan [133-134]

      3. Kriteria pembinaan [135]

      4. Dimensi pembinaan [136-150]
        Cara berada dan "pengetahuan bagaimana untuk hidup bersama": kedewasaan manusiawi-kristiani dan kesadaran misioner [139-142]

        Pengetahuan: pembinaan alkitabiah-teologis dan pemahaman akan manusia dan konteks sosialnya [143-147]

        Pengetahuan terapan: pembinaan pedagogis dan metodologis [148-150]

      5. Pembinaan kateketis bagi para kandidat untuk Tahbisan Suci [151-153]
      6. Pusat pembinaan [154-156]
        Pusat pembinaan dasar bagi para katekis [154]

        Pusat spesialisasi bagi penanggung jawab dan pemimpin katekese [155]

        Lembaga yang lebih tinggi untuk keahlian dalam bidang katekese [156]

BAGIAN KEDUA - PROSES KATEKESE
    Bab V - Pedagogi Iman [157-181]
      1. Pedagogi ilahi dalam sejarah keselamatan [157-163]

      2. Pedagogi iman dalam Gereja [164-178]
        Kriteria-kriteria untuk pewartaan pesan injili [167]
          Kriteria Trinitarian dan Kristologis [168-170]

          Kriteria sejarah keselamatan [171-173]

          Kriteria keutamaan rahmat dan keindahan [174-175]

          Kriteria eklesialitas [176]

          Kriteria kesatuan dan keutuhan iman [177-178]

      3. Pedagogi kateketik [179-181]
        Hubungan dengan sains tentang manusia [180-181]

    Bab VI - Katekismus Gereja Katolik [182-193]
      1. Katekismus Gereja Katolik [182-192]
        Catatan sejarah [182-183]

        Identitas, tujuan dan audiens Katekismus [184-186]

        Sumber dan struktur Katekismus [187-189]

        Makna teologis-kateketis dari Katekismus [190-192]

      2. Kompendium Katekismus Gereja Katolik [193]

    Bab VII - Metodologi dalam Katekese [194-223]
      1. Hubungan antara isi dan metode [194-196]
        Pluralitas metode [195-196]

      2. Pengalaman manusiawi [197-200]

      3. Memori [201-203]

      4. Bahasa [204-217]
        Bahasa naratif [207-208]

        Bahasa seni [209-212]

        Bahasa dan alat digital [213-217]

      5. Kelompok [218-220]

      6. Ruang [221-223]

    Bab VIII - Katekese dalam Kehidupan Manusia [224-282]
      1. Katekese dan keluarga [226-235]
        Bidang katekese keluarga [227-231]
          Katekese dalam keluarga [227-228]

          Katekese dengan keluarga [229-230]

          Katekese tentang keluarga [231]

        Pedoman pastoral [232]

        Skenario-skenario baru keluarga masa kini [233-235]

      2. Katekese dengan anak-anak dan remaja [236-243]
      3. Katekese yang sesuai dengan kenyataan kaum muda [244-256]
        Katekese dengan pra-remaja [246-247]

        Katekese dengan remaja [248-249]

        Katekese dengan kaum muda [250-256]

      4. Katekese dengan orang dewasa [257-265]

      5. Katekese dengan orang tua [266-268]

      6. Katekese dengan penyandang disabilitas [269-272]

      7. Katekese dengan para migran [273-276]

      8. Katekese dengan para emigran [277-278]
        Bantuan religius di negara-negara emigrasi [277]

        Katekese di negara-negara asal [278]

      9. Katekese dengan kaum terpinggirkan [279-282]
        Katekese di penjara [281-282]

BAGIAN KETIGA - KATEKESE DI GEREJA-GEREJA PARTIKULAR
    Bab IX - Jemaat Kristen sebagai Subyek Katekese [283-318]
      1. Gereja dan pelayanan Sabda Allah [283-289]

      2. Gereja-gereja Timur [290-292]

      3. Gereja-gereja partikular [293-297]

      4. Paroki [298-303]

      5. Asosiasi, gerakan, dan kelompok umat beriman [304-308]

      6. Sekolah Katolik [309-312]

      7. Pengajaran agama Katolik di sekolah [313-318]

    Bab X - Katekese di hadapan Skenario-skenario Budaya Kontemporer [319-393]
      1. Katekese dalam situasi pluralisme dan kompleksitas [319-342]
        Konteks perkotaan [326-328]

        Konteks pedesaan [329-330]

        Budaya lokal tradisional [331-335]

        Kesalehan populer [336-340]
          Tempat suci dan tempat ziarah [341-342]

      2. Katekese dalam konteks ekumenisme dan pluralisme agama [343-353]
        Katekese dalam konteks ekumenis [344-346]

        Katekese dalam hubungannya dengan Yudaisme [347-348]

        Katekese dalam konteks agama lain [349-351]

        Katekese dalam konteks gerakan-gerakan agama baru [352-353]

      3. Katekese dalam konteks sosial-budaya [354-393]
        Katekese dan mentalitas ilmiah [354-358]

        Katekese dan budaya digital [359-370]
          Karakteristik umum [359-361]

          Transformasi antropologis [362-364]

          Budaya digital sebagai fenomena religius [365-367]

          Budaya digital dan pertanyaan pendidikan [368-369]

          Pewartaan dan katekese di era digital [370-372]

        Katekese dan beberapa pertanyaan tentang bioetika [373-378]

        Katekese dan keutuhan pribadi manusia [379-380]

        Katekese dan keterlibatan untuk kelestarian lingkungan [381-384]

        Katekese dan keberpihakan pada orang miskin [385-388]

        Katekese dan keterlibatan sosial [389-391]

        Katekese dan lingkungan kerja [392-393]

    Bab XI - Katekese dalam Pelayanan untuk Inkulturasi Iman [394-408]
      1. Kodrat dan tujuan inkulturasi iman [394-400]

      2. Katekismus-katekismus lokal [401-408]
        Pedoman untuk mendapatkan persetujuan yang diperlukan dari Takhta Apostolik untuk Katekismus-katekismus dan tulisan-tulisan lain yang berhubungan dengan pengajaran yang bersifat kateketik [407-408]

    Bab XII - Organisasi-organisasi yang melayani Katekese [409-428]
      1. Tahta Suci [409-410]

      2. Sinode Para Uskup atau Konsili Hierarki Gereja Katolik Timur [411]

      3. Konferensi para Uskup [412-415]

      4. Keuskupan [416-425]
        Komisi kateketik di tingkat Keuskupan dan tugasnya [417]
          Analisis situasi [418-419]

          Koordinasi katekese [420-421]

          Program katekese di tingkat Keuskupan [422-423]

          Program praktis [424]

          Pembinaan katekis [425]

PENUTUP

426. Persekutuan dengan Yesus Kristus, yang telah wafat namun bangkit, hidup dan selalu hadir di tengah-tengah kita, adalah tujuan akhir dari semua tindakan gerejawi dan juga katekese. Pada kenyataannya, Gereja selalu meneruskan apa yang telah diterimanya sendiri : "Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, Ia telah dikuburkan, dan Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya." (1 Kor 15:3-5). Pengakuan iman pertama dalam Misteri Paskah ini adalah inti dari iman Gereja. Sebagaimana diingatkan oleh rasul Paulus, pada kenyataannya, "andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu." (1 Kor 15:14). Dari Paskah Kristus, kesaksian tertinggi Injil-Nya, muncullah harapan yang membawa kita melampaui cakrawala yang terlihat dari dunia fana untuk menggapai keabadian : "Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia" (1 Kor 15:19). Katekese, gema Paskah di hati manusia, terus-menerus mengundang kita untuk keluar dari diri kita sendiri untuk bertemu dengan Sang Hidup, Dia yang memberikan kehidupan dalam kepenuhan.

427. Yesus Kristus, Alfa dan Omega, adalah kunci untuk semua sejarah. Ia menemani setiap orang untuk mengungkapkan kasih Allah. Ia yang tersalib namun dibangkitkan berada di pusat waktu untuk menebus semua ciptaan dan manusia di dalamnya. Dari luka-luka Yesus yang tersalib, Roh Kudus tercurahkan bagi dunia dan lahirlah Gereja. Evangelisasi, didukung oleh Sang Parakletus ( : penolong/penghibur), bertujuan untuk membuat semua orang ambil bagian dalam misteri besar ini untuk hidup tanpa perbedaan. Katekese, momen penting dalam proses ini, mengarah pada perjumpaan yang penuh kesadaran dan lebih erat dengan Sang Penebus manusia. Pedoman Katekese berkontribusi pada misi besar ini. Pedoman ini dimaksudkan untuk mendorong dan mendukung mereka yang berkomitmen untuk menyampaikan iman, yang selalu merupakan karya Allah. Bisa bekerja sama dengan-Nya, sekaligus menghibur, meyakinkan dan meneguhkan harapan sesama, adalah alasan untuk sukacita yang besar, karena Tuhan dari semua ciptaan telah memilih makhluk-Nya sebagai rekan kerja.

428. Dalam perutusan yang penuh sukacita dari Gereja untuk mewartakan Injil, selalu bersinarlah Maria, Bunda Tuhan yang, sepenuhnya patuh pada tindakan Roh Kudus, tahu bagaimana mendengarkan dan menyambut Sabda Allah dalam dirinya, sehingga ia pun menjadi "perwujudan iman yang paling murni".[1] Dengan memastikan suasana rumah tangganya penuh kerendahan hati, kelembutan, kontemplasi dan kepedulian terhadap orang lain, Maria mendidik Yesus, Sabda yang menjadi manusia, melalui jalan keadilan dan ketaatan kepada kehendak Bapa. Pada gilirannya, Sang Bunda belajar untuk mematuhi Sang Putra, menjadi yang pertama dan paling sempurna dari murid-murid-Nya. Dituntun oleh Roh Kudus, pada pagi hari Pentakosta, dengan doanya, Sang Bunda Gereja telah memimpin awal evangelisasi, dan pada hari ini ia senantiasa mendoakan agar orang-orang pada zaman sekarang ini dapat berjumpa dengan Kristus dan, melalui iman mereka kepada-Nya, dapat diselamatkan dengan menerima secara penuh kehidupan anak-anak Allah. Santa Perawan Maria bersinar sebagai teladan dalam katekese, pengajar dalam evangelisasi dan model gerejawi untuk penyampaian iman.

 

Yang Mulia Paus Fransiskus, dalam Audiensi yang diberikan kepada Presiden yang bertanda tangan di bawah ini pada tanggal 23 Maret 2020, dalam Peringatan liturgi St. Turibius dari Mogrovejo, menyetujui Pedoman Katekese ini dan mengizinkan penerbitannya.

+Salvatore Fisichella
Uskup Agung tituler Voghenza, Presiden

+Octavio Ruiz Arenas
Uskup Agung emeritus Villavicencio, Sekretaris

Catatan kaki :

  1. KGK 149

INDEKS TEKS MAGISTERIUM
    Dewan Kepausan untuk Budaya
    1. La Via pulchritudinis, jalan evangelisasi dan dialog (2006).
    Dewan Kepausan untuk Budaya – Dewan Kepausan untuk dialog antar agama
    1. Yesus Kristus pembawa air hidup. Refleksi kristiani tentang "New Age" (2003) : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 2003.
    Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Agama
    1. Dialog dalam kebenaran dan amal. Orientasi Pastoral untuk Dialog Antaragama (19 Mei 2014): Toko Buku Penerbitan Vatikan, Kota Vatikan, 2014.
    Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Agama – Kongregasi untuk Evangelisasi bangsa-bangsa
    1. Dialog dan Pewartaan. Refleksi dan pedoman mengenai dialog antar agama dan pewartaan Injil. (19 Mei 1991) : AAS 84 (1992), 414-446.
    Dewan Kepausan "Keadilan dan Perdamaian"
    1. Kompendium Ajaran Sosial Gereja (2 April 2004) : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 2004.
    Dewan Kepausan untuk Pastoral Migran dan Pengungsi
    1. Erga Migran Caritas Christi (3 Mei 2004) : AAS 96 (2004), 762-822.
    2. Tempat Kudus, Memori, Kehadiran dan Nubuat Allah yang Hidup (8 Mei 1999) : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 1999.
    Dewan Kepausan untuk Promosi Evangelisasi Baru
    1. Antologi Evangelisasi Baru. Teks-teks dari magisterium pontifical dan konsiliar 1939-2012 : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatican, 2012.
    Dewan Kepausan untuk Promosi Persatuan Umat Kristiani
    1. Pedoman Penerapan Prinsip-prinsip dan Norma-norma Ekumenisme (25 Maret 1993) : AAS 85 (1993), 1039-1119.
    Katekismus Gereja Katolik (11 Oktober 1992) : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 1992.
    Kitab Hukum Kanonik (25 Januari 1983).
    Kitab Hukum Kanonik Gereja Timur (18 Oktober 1990).
    Komisi untuk Hubungan Agama dengan Yudaisme
    1. Pedoman dan saran untuk penerapan deklarasi konsili Nostra Aetate No. 4 (1 Desember 1974) : AAS 67 (1975), 73-79.
    2. "Karunia dan panggilan Allah tidak dapat dibatalkan" (Rom 11:29). Sebuah tinjauan teologis tentang hubungan antara Katolik dan Yahudi pada kesempatan peringatan 50 tahun Nostra Aetate No. 4 (10 Desember 2015), Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 2015.
    3. Catatan untuk presentasi yang benar tentang orang-orang Yahudi dan Yudaisme dalam khotbah dan katekese Gereja Katolik (24 Juni 1985).
    Kompendium Katekismus Gereja Katolik (28 Juni 2005) : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 2005.
    Konferensi Umum V para Uskup Amerika Latin dan Karibia
    1. Dokumen Aparecida (30 Mei 2007) : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 2012.
    Kongregasi untuk Ajaran Iman
    1. Instruksi Donum Veritatis (24 Mei 1990) : AAS 82 (1990), 1550-1570.
    2. Surat Iuvenescit Ecclesia (15 Mei 2016) : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 2016.
    Kongregasi untuk Gereja-gereja Timur
    1. Instruksi untuk penerapan prinsip-prinsip liturgis dari Kitab Hukum Kanonik untuk Gereja Timur (6 Januari 1996) : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 1996.
    Kongregasi untuk Ibadah Ilahi dan Disiplin Sakramen-sakramen
    1. Pedoman tentang kesalehan populer dan liturgi. Prinsip dan Orientasi (17 Desember 2001) : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 2002.
    Kongregasi untuk para Imam
    1. Pedoman Katekese Umum (11 April 1971) : AAS 64 (1972), 97-176.
    2. Petunjuk Umum Katekese (15 Agustus 1997) : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 1997.
    3. Pedoman untuk Pelayanan dan Kehidupan Para Imam (11 Februari 2013), Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 2013.
    4. Karunia panggilan imam. Ratio Fundamentalis Institutionis Sacerdotalis (8 Desember 2016) : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 2017.
    Kongregasi untuk Pendidikan Katolik
    1. Dimensi religius dari pendidikan di sekolah-sekolah Katolik. Beberapa unsur refleksi dan revisi (7 April 1988) : Typographie polyglotte vaticane, Kota Vatican, 1988.
    2. Mendidik menuju dialog antar budaya di sekolah-sekolah Katolik. Hidup Bersama untuk peradaban kasih (28 Oktober 2013) : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 2014.
    3. Sekolah Katolik di ambang milenium ketiga (28 Desember 1997) : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 1998.
    Kongregasi untuk Pendidikan Katolik – Kongregasi untuk para Imam
    1. Pedoman Pelayanan dan Kehidupan Diakon Permanen (22 Februari 1998) : AAS 90 (1998), 879-927.
    Kongregasi Suci untuk Konsili
    1. Dekrit Provido Sane (12 Januari 1935): AAS 27 (1935), 145-154.
    Konsili Ekumenis Vatikan II
    1. Konstitusi dogmatis tentang Gereja Lumen Gentium (21 November 1964) : AAS 57 (1965), 5-75.
    2. Konstitusi dogmatis tentang Wahyu Ilahi Dei Verbum (18 November 1965) : AAS 58 (1966), 817-836.
    3. Konstitusi pastoral tentang Gereja di dunia saat ini Gaudium et Spes (7 Desember 1965) : AAS 58 (1966), 1025-1120.
    4. Konstitusi tentang Liturgi Suci Sacrosanctum Concilium (4 Desember 1963) : AAS 56 (1964), 97-138.
    5. Dekrit tentang Pelayanan dan Kehidupan Imam Presbyterorum Ordinis (7 Desember 1965) : AAS 58 (1966), 991-1024.
    6. Dekrit tentang Pembinaan Imam Optatam Totius (28 Oktober 1965) : AAS 58 (1966), 713-727.
    7. Dekrit tentang Kerasulan Awam Apostolicam Actuositatem (18 November 1965) : AAS 58 (1966), 837-864.
    8. Dekrit tentang Kegiatan Misioner Gereja Ad Gentes (7 Desember 1965) : AAS 58 (1966), 947-990.
    9. Dekrit tentang Gereja-gereja Timur, Orientalium Ecclesiarum (21 November 1964) : AAS 57 (1965), 76-89.
    10. Dekrit tentang Ekumenisme Unitatis Redintegratio (21 November 1964) : AAS 57 (1965), 90-112.
    11. Dekrit tentang hubungan Gereja dengan Agama-agama Non-Kristen Nostra Aetate (28 Oktober 1965) : AAS 58 (1966), 740-744.
    12. Dekrit tentang tugas pastoral Uskup dalam Gereja Christus Dominus (28 Oktober 1965) : AAS 58 (1966), 673-701.
    13. Deklarasi tentang pendidikan Kristen Gravissimum Educationis (28 Oktober 1965) : AAS 58 (1966), 728-739.
    Ordo Initiationis Christianae Adultorum (Ritual Inisiasi Kristen untuk Orang Dewasa)
    Paus Benediktus XVI
    1. Pidato kepada para peserta Sidang paripurna Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial (28 Februari 2011) : AAS 103 (2011), 188-191.
    2. Pidato kepada para peserta Sidang paripurna Dewan Kepausan untuk Keluarga (5 April 2008) : AAS 100 (2008), 275-278.
    3. Pidato kepada para peserta Sidang paripurna Dewan Kepausan untuk Promosi Evangelisasi Baru (30 Mei 2011) : AAS 103 (2011), 400-402.
    4. Pidato kepada para peserta dalam pertemuan guru-guru agama Katolik (25 April 2009) : Ajaran Benediktus XVI, V/1 (2010), 660-663.
    5. Seruan Apostolik Pasca-Sinode Africae Munus (19 November 2011) : AAS 104 (2012), 239-314.
    6. Seruan Apostolik Pasca-Sinode Ecclesia in Medio Oriente (14 September 2012) : AAS 104 (2012): 751-796.
    7. Seruan Apostolik Pasca-Sinode Sacramentum Caritatis (22 Februari 2007): AAS 99 (2007), 105-180.
    8. Seruan Apostolik Pasca-Sinode Verbum Domini (30 September 2010) : AAS 102 (2010), 681-787.
    9. Surat Apostolik Fides per Doctrinam (16 Januari 2013) : AAS 105 (2013), 136-139.
    10. Surat Apostolik Porta Fidei (11 Oktober 2011) : AAS 103 (2011), 723-734.
    11. Ensiklik Ubicumque et Semper (21 September 2010) : AAS 102 (2010), 788-792.
    12. Ensiklik Caritas in Veritate (29 Juni 2009) : AAS 101 (2009), 641-709.
    13. Ensiklik Deus Caritas Est (25 Desember 2005): AAS 98 (2006), 217-252.
    14. Renungan dalam Pertemuan Umum pertama dalam Sinode Para Uskup (8 Oktober 2012) : AAS 104 (2012), 895-900.
    15. Pesan untuk Hari Komunikasi Sosial se-Dunia ke-56 (24 Januari 2013) : AAS 105 (2013), 181-185.
    16. Motu proprio untuk aprobasi dan publikasi Kompendium Katekismus Gereja Katolik (28 Juni 2005) :
    17. AAS 97 (2005), 801-802.
    18. Homili dalam misa penutupan Sidang Umum Biasa XIII Sinode Para Uskup (28 Oktober 2012) : AAS 104 (2012), 888-891.
    19. Homili dalam misa pembukaan Konferensi Umum V para Uskup Amerika Latin dan Karibia (13 Mei 2007) : AAS 99 (2007), 433-438.
    Paus Fransiskus
    1. Audiensi Umum (15 Januari 2014) : Ajaran Fransiskus, II/1 (2016), 45-47.
    2. Audiensi Umum (4 Maret 2015) : L'Osservatore Romano (5 Maret 2015), 8.
    3. Audiensi Umum (11 Maret 2015): L'Osservatore Romano (12 Maret 2015), 8.
    4. Bulla penetapan Yubileum Luar Biasa Kerahiman Ilahi, Misericordiae Vultus (11 April 2015) : AAS 107 (2015), 399-420.
    5. Pidato kepada para peserta Kongres Internasional tentang Pastoral Kota-kota Besar (27 November 2014) : Ajaran Fransiskus, II/2, 659-665.
    6. Pidato kepada para peserta Kongres VII tentang Pastoral Migran (21 November 2014) : Ajaran Fransiskus, II/2 (2016), 583-586.
    7. Pidato kepada para peserta pertemuan "Katekese Penyandang Disabilitas" (21 Oktober 2017) : AAS 109 (2017), 1206-1208.
    8. Pidato kepada para peserta pertemuan penyandang disabilitas (11 Juni 2016) : AAS 108 (2016), 735-737.
    9. Pidato kepada para peserta Sidang paripurna Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial (21 September 2013) : AAS 105 (2013), 894-896.
    10. Pidato kepada para peserta Sidang paripurna Dewan Kepausan untuk Promosi Evangelisasi Baru (14 Oktober 2013) : AAS 105 (2013), 965-967.
    11. Pidato kepada para peserta Sidang paripurna Dewan Kepausan untuk Promosi Evangelisasi Baru (29 Mei 2015): AAS 107 (2015), 542-544.
    12. Pidato kepada para peserta dalam pertemuan peringatan ke-25 tahun Katekismus Gereja Katolik (11 Oktober 2017) : AAS 109 (2017), 1192-1197.
    13. Pidato dalam Pertemuan Pastoral Keuskupan Roma (19 Juni 2017) : AAS 109 (2017), 729-737.
    14. Pidato pada Gerakan Pembaruan Karismatik (3 Juli 2015) : AAS 107 (2015), 637-642.
    15. Pidato untuk peringatan ke-50 tahun pembentukan Sinode Para Uskup. (17 Oktober 2015) : AAS 107 (2015), 1138-1144.
    16. Dokumen tentang Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Koeksistensi Umum [Ditandatangani bersama Ahmad Al-Tayyeb, Imam Besar Al-Azhar] (4 Februari 2019) : L'Osservatore Romano (4-5 Februari 2019), 6-7.
    17. Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (24 November 2013) : AAS 105 (2013), 1019-1137.
    18. Seruan Apostolik Gaudete et Exsultate (19 Maret 2018) : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 2018.
    19. Seruan Apostolik Pasca-Sinode Amoris Laetitia (19 Maret 2016) : AAS 108 (2016), 311-446.
    20. Seruan Apostolik Pasca-Sinode Christus Vivit (25 Maret 2019): Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 2019.
    21. Seruan Apostolik Pasca-Sinode Querida Amazonia (2 Februari 2020) : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 2020.
    22. Homili dalam Vespers pada Hari Raya pertobatan Santo Paulus, Rasul (25 Januari 2016) : AAS 108 (2016), 110-112.
    23. Homili dalam Misa untuk Yubileum Para Tahanan (6 November 2016) : AAS 108 (2016), 1340-1342.
    24. Homili dalam Misa untuk Hari Katekis pada Kesempatan Tahun Iman (29 September 2013) : AAS 105 (2013), 880-882.
    25. Surat Apostolik Admirabile Signum (1 Desember 2019) : L'Osservatore Romano (2-3 Desember 2019), 4-5.
    26. Surat Apostolik Aperuit Illis (30 September 2019) : L'Osservatore Romano (30 September-1 Oktober 2019), 10-11.
    27. Surat Apostolik De Concordia Inter Codices (31 Mei 2016) : AAS 108 (2016), 602-606.
    28. Surat Apostolik Misericordia et Misera (20 November 2016) : AAS 108 (2016), 1311-1327.
    29. Surat Apostolik Sanctuarium in Ecclesia (11 Februari 2017) : AAS 109 (2017), 335-338.
    30. Surat Apostolik Vos Estis Lux Mundi (7 Mei 2019).
    31. Surat Ensiklik Laudato Si' (24 Mei 2015) : AAS 107 (2015), 847-945.
    32. Surat Ensiklik Lumen Fidei (29 Juni 2013) : AAS 105 (2013), 555-596.
    33. Pesan untuk Festival III Ajaran Sosial Gereja (21 November 2013) : AAS 105 (2013), 1176-1178.
    34. Pesan untuk Hari Orang Miskin Sedunia (13 Juni 2017) : SAA 109 (2017), 768-773.
    35. Pesan untuk Hari Komuni Sosial Sedunia XLVIII (24 Januari 2014) : AAS 106 (2014), 113-116.
    Paus Leo XIII
    1. Surat Ensiklik Rerum Novarum (15 Mei 1891) : ASS 23 (1891), 641-670.
    Paus Paulus VI
    1. Pidato pada pembukaan Sesi ke-2 Konsili Ekumenis Vatikan II (29 September 1963) : AAS 55 (1963), 841-859.
    2. Pidato untuk beatifikasi Nunzio Sulprizio (1 Desember 1963) : AAS 56 (1964), 17-22.
    3. Seruan Apostolik Evangelii Nuntiandi (8 Desember 1975) : AAS 68 (1976), 5-76.
    4. Surat Apostolik Octogesima Adveniens (14 Mei 1971) : AAS 63 (1971), 401-441.
    5. Surat Ensiklik Ecclesiam Suam (6 Agustus 1964) : AAS 56 (1964), 609-659.
    6. Surat Ensiklik Populorum Progressio (26 Maret 1967) : AAS 59 (1967), 257-299.
    Paus Pius XI
    1. Surat Ensiklik Quadragesimo Anno (15 Mei 1931) : AAS 23 (1931), 177-228.
    Paus Yohanes XXIII
    1. Pidato Pembukaan Konsili Ekumenis Vatikan II (11 Oktober 1962) : AAS 54 (1962), 786-796.
    2. Surat Ensiklik Mater et Magistra (15 Mei 1961): AAS 53 (1961), 401-464.
    Paus Yohanes Paulus II
    1. Konstitusi Apostolik Fidei Depositum (11 Oktober 1992) : AAS 86 (1994), 113-118.
    2. Pidato kepada para peserta pertemuan "Tugas Imam dalam Katekese di Eropa" (8 Mei 2003) : Ajaran Yohanes Paulus II, XXVI / 1 (2005), 680-682.
    3. Pidato kepada Akademi Kepausan untuk Sains (13 November 2000) : AAS 93 (2001), 202-206.
    4. Pidato dalam Ibadat Penutupan Hari Pemuda Sedunia XV (19 Agustus 2000) : Ajaran Yohanes Paulus II, XXIII/2 (2002), 207-213.
    5. Seruan Apostolik Catechesi Tradendae (16 Oktober 1979) : AAS 71 (1979), 1277-1340.
    6. Seruan Apostolik Pasca-Sinode Christifideles Laici (30 Desember 1988) : AAS 81 (1989), 393-521.
    7. Seruan Apostolik Pasca-Sinode Ecclesia in Africa (14 September 1995) : AAS 88 (1996), 5-82.
    8. Seruan Apostolik Pasca-Sinode Ecclesia in America (22 Januari 1999) : AAS 91 (1999), 737-815.
    9. Seruan Apostolik Pasca-Sinode Ecclesia in Asia (6 November 1999) : AAS 92 (2000), 449-528.
    10. Seruan Apostolik Pasca-Sinode Ecclesia in Europa (28 Juni 2003) : AAS 95 (2003), 649-719.
    11. Seruan Apostolik Pasca-Sinode Ecclesia in Oceania (22 November 2001) : AAS 94 (2002), 361-428.
    12. Seruan Apostolik Pasca-Sinode Familiaris Consortio (22 November 1981) : AAS 73 (1981), 81-191.
    13. Seruan Apostolik Pasca-Sinode Pastores Gregis (16 Oktober 2003) : AAS 96 (2004), 825-924.
    14. Seruan Apostolik Pasca-Sinode Vita Consecrata (25 Maret 1996) : AAS 88 (1996), 377-486.
    15. Homili dalam Misa di tempat peziarahan Salib Suci (9 Juni 1979) : AAS 71 (1979), 864-869.
    16. Surat Apostolik Apostolos Suos (21 Mei 1998) : AAS 90 (1998), 641-658.
    17. Surat Apostolik Duodecimum Saeculum (4 Desember 1987) : AAS 80 (1988), 241-252.
    18. Surat Apostolik Laetamur Magnopere (15 Agustus 1997) : AAS 89 (1997), 819-821.
    19. Surat Apostolik Novo Millennio Ineunte (6 Januari 2001) : AAS 93 (2001), 266-309.
    20. Surat Apostolik Tertio Millennio Adveniente (10 November 1994) : AAS 87 (1995), 5-41.
    21. Surat Ensiklik Centesimus Annus (1 Mei 1991) : AAS 83 (1991), 793-867.
    22. Surat Ensiklik Fides and Ratio (14 September 1998) : AAS 91 (1999), 5-88.
    23. Surat Ensiklik Laborem Exercens (14 September 1981) : AAS 73 (1981), 577-647.
    24. Surat Ensiklik Redemptor Hominis (4 Maret 1979) : AAS 71 (1979), 257-324.
    25. Surat Ensiklik Redemptoris Missio (7 Desember 1990) : AAS 83 (1991), 249-340.
    26. Surat Ensiklik Sollicitudo Rei Socialis (30 Desember 1987) : AAS 80 (1988), 513-586.
    27. Surat Ensiklik Ut Unum Sint (25 Mei 1995) : AAS 87 (1995), 921-982.
    28. Pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia 1990 (8 Desember 1989) : AAS 82 (1990), 147-156.
    Sinode Para Uskup
    1. Sidang Umum Biasa XIII, Evangelisasi Baru untuk Penerusan Iman Kristen, Daftar Akhir Usulan-usulan (27 Oktober 2012) : Libreria Editrice Vaticana, Kota Vatikan, 2017, 649-688.
    2. Sidang Umum Biasa XV, Dokumen Akhir (27 Oktober 2018) : L'Osservatore Romano (29-30 Oktober 2018), 4-12.

DAFTAR SINGKATAN
Selain singkatan dari kitab-kitab Kitab Suci dan dokumen-dokumen Konsili Vatikan II yang disebutkan dalam teks Pedoman ini, juga terdapat singkatan-singkatan lain yang berkaitan dengan dokumen-dokumen yang paling banyak dikutip dalam catatan kaki. Untuk tampilan lengkap dari semua dokumen, lihat Indeks Teks Magisterium.
    Kitab Suci
    Am Amos
    Ams Amsal
    Bar Barukh
    Ef Efesus
    Flp Filipi
    Gal Galatia
    Hos Hosea
    Ibr Ibrani
    Keb Kebijaksanaan
    Kej Kejadian
    Kel Keluaran
    Kis Kisah Para Rasul
    Kol Kolose
    Lk Lukas
    Mrk Markus
    Mzm Mazmur
    Mt Matius
    Rm Roma
    So Sophonie
    Ul Ulangan
    Why Wahyu
    Yer Yeremia
    Yes Yesaya
    Yoh Yohanes
    Yos Yosua
    1 Kor 1 Korintus
    1 P 1 Petrus
    2 P 2 Petrus
    1 R 1 Raja-raja
    1 Tes 1 Tesalonika
    1 Tm 1 Timotius
    2 Tm 2 Timotius
    1 Yoh 1 Yohanes

    Dokumen-dokumen Konsili Vatikan II
    AA Apostolicam Actuositatem
    AG Ad gentes
    CD Christus Dominus
    DV Dei Verbum
    GE Gravissimum educationis
    GS Gaudium et Spes
    LG Lumen Gentium
    NA Nostra Aetate
    OE Orientalium Ecclesiarum
    OT Optatam Totius
    PO Presbyterorum Ordinis
    SC Sacrosanctum Concilium
    UR Unitatis Redintegratio

    Singkatan Lainnya
    AAS Acta Apostolicae Sedis
    AL Amoris Laetitia (Paus Fransikus)
    ASS Acta Sanctae Sedis
    Bdk. Bandingkan
    CCL Corpus Christianorum - Seri Latin
    ChV Christus Vivit (Paus Fransiskus)
    CT Catechesi Tradendae (Paus Yohanes Paulus II)
    EG Evangelii Gaudium (Paus Fransiskus)
    EN Evangelii Nuntiandi (Paus Paulus VI)
    Id. Idem
    Kan. Kanon
    Kk. Kanon-kanon
    KGK Katekismus Gereja Katolik
    KHK Kitab Hukum Kanonik
    KHKGT Kitab Hukum Kanonik Gereja Timur
    No. Nomor
    Nos. Nomor-nomor
    OICA Ordo Initiationis Christianae Adultorum (Ritual Inisiasi Kristen untuk Orang Dewasa)
    Op.cit. Opera citata
    PG Patrologia Graeca (JP Migne)
    PL Patrologia Latina (JP Migne)
    PUK Petunjuk Umum Katekese (terbitan tahun 1997)

 

Diterjemahkan dari Pedoman Katekese versi bahasa perancis, dalam perbandingan dengan versi bahasa inggris.
NB : penerjemahan masih dalam proses penyelesaian
.

#evangelisasi #katekese #pedoman_katekese