Header Ads

Terang Sabda

Penerbitan Pedoman Katekese Terbaru


Pada tanggal 25 Juni 2020, Dewan Kepausan untuk Promosi Evangelisasi Baru menerbitkan Pedoman Katekese yang baru. Teks referensi untuk orientasi kateketik Gereja universal ini menggantikan Petunjuk Umum Katekese terbitan tahun 1997, yang sebelumnya menggantikan Direktorium Kateketik Umum yang diterbitkan pada tahun 1971. Dokumen katekese terbaru ini telah disetujui oleh Paus Fransiskus pada tanggal 23 Maret 2020. Dalam sambutannya, Ketua Dewan Kepausan untuk Promosi Evangelisasi Baru, Mgr. Rino Fisichella, mengatakan bahwa “Pedoman Katekese yang baru ini memberikan prinsip-prinsip teologis-pastoral yang mendasar dan beberapa arahan umum yang berkaitan dengan karya katekese di zaman kita sekarang ini.”

Apa itu Pedoman Katekese?

Pedoman Katekese (Directory for Catechesis) adalah dokumen yang diberikan oleh Vatikan untuk Gereja Universal. Teks ini disusun oleh Dewan Kepausan untuk Promosi Evangelisasi Baru yang dibentuk oleh Paus Benediktus XVI pada tahun 2010.

Dokumen ini ditujukan bagi para uskup yang memiliki tugas pastoral, dan juga merupakan katekis  utama, di keuskupan mereka. Teks ini juga ditujukan kepada semua orang yang terlibat dalam katekese, katekumenat, dan evangelisasi.

Pedoman Katekese merupakan dokumen acuan yang memberikan prinsip-prinsip dasar teologis dan pastoral dari kegiatan kateketik. Meski demikian teks ini tidak memberikan arahan yang mendetil tentang pelaksanaan karya katekese, hal tersebut diserahkan kepada keputusan setiap Konferensi para Uskup.

Apakah hal baru yang ada dalam Pedoman Katekese 2020?

Hal baru yang ada dalam Pedoman ini pertama-tama adalah penerbitnya, yaitu Dewan Kepausan untuk Promosi Evangelisasi Baru. Pedoman-pedoman Umum untuk Katekese (General Directory for Catechesis) sebelumnya (teks tahun 1971 dan 1997) diterbitkan oleh Kongregasi untuk para Klerus. 

Penerbitan teks-teks tersebut merupakan tanggapan atas amanat Konsili Vatikan II untuk menyusun suatu "Pedoman Pengajaran Kateketik bagi umat kristiani" (Christus Dominus N° 44). Christus Dominus adalah teks Konsili Vatikan II yang berbicara tentang pelaksanaan tugas pastoral para Uskup. 

Pada tahun 2013, setelah Sinode para Uskup tentang Evangelisasi Baru, Paus Benediktus XVI mempercayakan tanggung jawab tentang Katekese kepada Dewan Kepausan untuk Promosi Evangelisasi Baru. Dengan demikian, hal ini menekankan bahwa katekese adalah bagian dari proses evangelisasi.

Sebagaimana dua Pedoman Umum Katekese sebelumnya, Pedoman Katekese terbitan 2020 ini sejalan dengan semangat Konsili Vatikan II. Pedoman Umum Katekese yang pertama diterbitkan pada tahun 1971 dengan mengacu pada pengajaran Konsili tersebut.

Pedoman Umum Katekese yang kedua diterbitkan pada tahun 1997 dengan mengacu terutama pada dokumen-dokumen yang diterbitkan oleh Paus Paulus VI, khususnya Evangelii Nuntiandi dan Ritual Inisiasi Kristen untuk Orang Dewasa (1972) dan Paus Yohanes Paulus II, Catechesis Tradendae (1979) dan Katekismus Gereja Katolik (1992).

Pedoman Katekese terbaru melanjutkan prinsip-prinsip yang ada dalam dokumen sebelumnya dan diperkaya oleh pengajaran Paus Benediktus XVI dan Paus Fransiskus. Isi Pedoman terbaru ini sangat diwarnai oleh dinamika perutusan dari Evangelii Gaudium (2013).

Apakah saja isi Pedoman Katekese yang baru ini ?

Dokumen katekese terbaru sepanjang 300 halaman ini terbagi dalam tiga bagian dan 12 bab. Hubungan erat antara evangelisasi dan katekese merupakan kekhususan Pedoman ini. Teks tersebut menekankan persatuan antara pewartaan yang pertama dan pertumbuhan iman, dalam terang budaya perjumpaan. Kekhususan ini menjadi penting dalam konteks yang kini sedang dihadapi Gereja : budaya digital dan globalisasi budaya. 

Bab pertama Pedoman ini menjabarkan tentang Wahyu Ilahi dengan mengacu pada pengajaran Konsili Vatikan II, sebagaimana diajarkan dalam Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi, Dei Verbum. Hal ini menjadi landasan teologis evangelisasi. Allah berkomunikasi dengan manusia dan ingin menjalin relasi dalam persekutuan dengan mereka. Sepanjang sejarah keselamatan, Ia menyingkapkan cinta-Nya yang tak terbatas kepada manusia sampai pengungkapan totalnya dalam diri Putra-Nya, Yesus Kristus.

Penegasan ini memberi orientasi pada pewartaan kristiani : tujuan katekese adalah untuk menjalin relasi dalam persekutuan dengan Yesus Kristus karena, sebagai mana dikatakan oleh Paus Benediktus, “menjadi orang Kristen, bukanlah hasil dari pilihan etis atau sebuah ide, tetapi karena adanya perjumpaan dengan suatu peristiwa, dengan seorang Pribadi, yang memberi kepada kehidupan sebuah cakrawala dan arah yang baru” (Deus Caritas Est N° 1).

Paus Benediktus XVI menunjukkan bahwa sumber pertobatan orang Kristen adalah seorang Pribadi, yaitu Yesus Kristus, dan sebuah peristiwa, yaitu Misteri Paskah : sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Inilah yang disebut Paus Fransiskus sebagai kerygma yang “lebih solid, lebih mendalam, lebih pasti, lebih konsisten dan lebih bijaksana” (Evangelii Gaudium N° 165). Paus Fransiskus menekankan sentralitas Misteri Paskah dalam katekese yang secara teratur mengingatkan kembali bahwa : “Yesus Kristus mencintaimu, dia memberikan hidup-Nya untuk menyelamatkanmu, dan sekarang Dia hidup di sisimu setiap hari untuk mencerahkanmu, untuk menguatkanmu, untuk membebaskanmu” (Evangelii Gaudium N° 164).

Supaya pewartaan semacam ini bergema dalam kehidupan manusia dan memanggil mereka pada pertobatan, Pedoman Katekese 2020 ini menyoroti model katekumenal. Katekese semacam ini menimba inspirasi dari katekumenat dengan memasukkan proses pertumbuhan iman umat lewat beberapa tahapan, yang berjalan seiring waktu, dalam pendampingan oleh komunitas Kristen yang membuat mereka semua menemukan harta karun iman dan kehidupan kristiani.

Pedoman terbaru ini memberi tempat yang penting kepada para katekis yang pelayanannya akan berbuah jika dia menanggapi panggilan untuk mewarta. Perhatian difokuskan pada kehidupan rohani dan pembinaan para katekis bukan untuk "melakukan katekese" tetapi untuk "menjadi katekis". Artinya, para katekis perlu dibina bukan sekedar dalam "ketrampilan berkatekese" tetapi juga "bagaimana hidup sebagai pewarta". Perlu dicatat bahwa beberapa isu dikhususkan soal peran penting perempuan dalam katekese, tanpa melupakan kehadiran pria.

Seperti dijabarkan dalam Pedoman Umum Katekese sebelumnya, dalam Pedoman terbaru pedagogi iman dalam Gereja didasarkan pada kriteria untuk pewartaan pesan Injil yang diilhami oleh pedagogi ilahi. Dua kriteria baru diperkenalkan, yaitu keutamaan rahmat - Allah lebih dulu mengasihi kita; Ia menyelamatkan kita dengan cuma-cuma, karena cinta-Nya - yang dikaitkan dengan kriteria keindahan.

Konteks budaya dan metode katekese diperbarui dengan bagian-bagian baru tentang ekologi,  bahasa naratif, budaya digital ataupun refleksi dalam kelompok.

Apa dampaknya bagi Gereja Katolik Indonesia ?

Pedoman Katekese yang terbaru ini bisa menjadi pendorong bagi Gereja Katolik Indonesia untuk melanjutkan refleksi tentang karya katekese dan proses katekumenat. Pedoman umum ini bisa memberi percikan kreativitas dan dinamika baru bagi para pelaku katekese, dan pada gilirannya akan mendorong umat beriman dalam suka cita untuk mewartakan injil.

#katekese #evangelisasi #pedoman_katekese
Sumber : 

No comments

Note: Only a member of this blog may post a comment.