Header Ads

Belajar Apologetika : Menjawab Pertanyaan-pertanyaan Tentang Kitab-kitab Deuterokanonika

Clip_2
1. Mengapa Gereja Katolik menambahkan tujuh kitab—1 and 2 Makabe, Sirakh, Keb. Salomo, Barukh, Tobit, dan Yudith—ke dalam Perjanjian Lama? Padahal Yohanes melarangnya: “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini” (Why 22:18-19).

Sungguh baik bila kita memulai perbedaan pendapat dengan persamaan pendapat. Maka sebelum anda menerangkan Kanon Perjanjian Lama dalam Gereja Katolik, sepakatilah bahwa tak seorang pun berhak untuk menambahkan atau mengurangi tulisan-tulisan dalam Alkitab. Berdasarkan persetujuan umum ini kita akan membangun argumentasi kita.

Mengutip Why 22:18 untuk melawan Gereja Katholik tidak ada gunanya. Karena satu hal, ayat berikutnya dapat digunakan oleh orang Katolik pada orang Protestan dengan pukulan balik yang sama kuatnya: “Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.” (Why 22:19).
Namun kedua ayat tersebut sebenarnya tidak bisa diterapkan dalam perdebatan ini. Yohanes hanya berbicara tentang Kitab Wahyu, bukan keseluruhan Alkitab. Tak satupun dari para rasul yang mengenal Alkitab seperti yang kita kenal sekarang. Karena tulisan-tulisan (kitab-kitab) yang termuat dalam Alkitab baru dikanonisasi beberapa abad setelah kematian Kristus. Bahkan ketika daftar tersebut ditetapkan pada tahun 382 M, tulisan-tulisan (kitab-kitab) belum terkumpulkan ke dalam sebuah buku hingga ditemukannya mesin cetak. Bahkan Alkitab edisi Guttenburg pun dipublikasikan lebih dari satu.

Di samping itu, kata Yunani untuk "kitab" lebih tepat diterjemahkan sebagai "gulungan." Nampaknya Kitab Wahyu dituliskan dalam sebuah gulungan. Sehingga yang dimaksudkan dalam Why 22:18-19 adalah Kitab Wahyu itu sendiri dan bukannya keseluruhan Alkitab.

2. Karena kepada orang-orang Yahudi “dipercayakan[lah] firman Allah” (Rom 3:2), bukankah seharusnya kita mempunyai kanon Perjanjian Lama yang sama dengan mereka?
Meskipun pertanyaan ini tidak bernada keberatan, paling tidak dibutuhkanlah sebuah jawaban mendetail.
Sabda Allah yang tertulis dipercayakan kepada orang-orang Yahudi, namun Allah tidak pernah memberikan kepada mereka sebuah daftar isi tulisan-tulisan yang diinspirasikan Roh Kudus. Karena alasan tersebut, ada banyak perbedaan pendapat tentang daftar resmi alkitab – terutama di antara orang Yahudi sendiri.

Penulisan dan pengumpulan tulisan-tulisan Perjanjian lama terjadi dalam rentang waktu seribu tahun, dan daftar kitab-kitab yang diinspirasikan Roh Kudus berkembang terus menerus saat Sabda Allah diwahyukan. Pertumbuhan secara bertahap ini menunjukkan bahwa orang Yahudi merasa tidak membutuhkan suatu kanon statis namun masih terbuka pada pewahyuan selanjutnya. Mereka membagi tulisan-tulisan suci mereka dalam tiga bagian: Kitab-kitab Hukum, Nabi-nabi, dan Tulisan-tulisan lainnya. Pada zaman Kristus, kitab-kitab hukum – dan kebanyakan kitab para nabi – sudah ditetapkan jumlahnya, namun Tulisan-tulisan lainnya belum ditetapkan dan masih terbuka.

Pada zaman Yesus, orang Samaria dan Kaum Saduki menerima Kitab-kitab Hukum namun menolak kitab para nabi dan tulisan-tulisan lainnya. Kaum Farisi menerima semuanya. Kelompok-kelompok Yahudi lainnya menggunakan versi Yunani (Septuaginta) yang memasukkan juga ketujuh kitab yang diperdebatkan, yang sekarang kita kenal sebagai kitab-kitab deuterokanonika. Beberapa kelompok Yahudi lainnya menggunakan versi kanon seperti yang ada dalam Septuaginta dan mencakup juga ketujuh kitab yang dipertanyakan itu dalam bahasa aslinya, Ibrani ataupun Aram.

Ketika orang-orang Kristen mengklaim bahwa mereka telah menulis kitab suci baru, orang-orang Yahudi dari mazhab rabinik di Javneh berkumpul sekitar tahun 80 M dan, selain hal-hal lainnya, mendiskusikan tentang daftar resmi Alkitab mereka. Mereka tidak memasukkan Perjanjian Baru maupun ketujuh Kitab (yang sekarang kita kenal sebagai deuterokanonika) dan juga beberapa bagian dari Kitab Daniel dan Esther. Namun keputusan ini masih belum ditetapkan dalam kanon kaum Farisi, karena tidak semua orang Yahudi setuju dengan atau bahkan tahu tentang keputusan di Javneh. Para Rabi masih terus melanjutkan perdebatan tersebut pada abad kedua dan ketiga. Bahkan saat ini, orang-orang Yahudi Etiopia menggunakan Perjanjian Lama yang sama dengan orang Katolik.

Kriteria yang dipergunakan untuk menentukan apakah suatu kitab termasuk dalam Kitab Suci atau tidak mencakup tiga hal:
  • Apakah isinya benar-benar mengungkapkan iman Gereja, dan tidak sekadar perasaan atau iman seseorang ?
  • Apakah kitab tersebut diterima sebagai Kitab Suci oleh seluruh Gereja ?
  • Apakah kitab tersebut dari awal diterima sebagai Kitab Suci oleh seluruh Gereja ?
Karena belum ada sesuatu pun yang pasti, maka tidak ada daftar resmi kitab Suci yang disepakati secara umum di antara orang-orang Yahudi pada zaman Kristus.

3. Namun ketujuh kitab deuterokanonika ditambahkan pada saat Konsili Trente (1546) untuk membenarkan doktrin-doktrin buatan Gereja Katholik.
Ini adalah dongeng isapan jempol yang selalu dikemukakan namun sederhana untuk menjawabnya. Dalam Konsili Roma pada tahun 382, Gereja menetapkan sebuah kanon yang terdiri dari 46 Kitab Perjanjian Lama and 27 kitab Perjanjian Baru. Ketetapan ini diratifikasi oleh konsili-konsili Hippo (393), Karthago (397, 419), Nicea II (787), Florence (1442), and Trente (1546).

Lebih lanjut, jika Gereja Katholik baru menambahkan kitab-kitab deuterokanonika pada tahun 1546, maka Martin Luther telah memukul jatuh kita: ia memasukkannya ke dalam terjemahan bahasa jermannya, dipublikasikan oleh Konsili Trente. Kitab-kitab itu juga ditemukan dalam King James Version edisi pertama (1611) dan dalam Alkitab cetak pertama, Alkitab Guttenberg (seabad sebelum Konsili Trente). Lagi pula, kitab-kitab ini juga dicantumkan dalam setiap edisi Alkitab sampai dengan akhirnya pada tahun 1825 The Edinburgh Committee of the British Foreign Bible Society menolak mencantumkannya lagi. Sampai saat itu, kitab-kitab tersebut dimasukkan paling tidak sebagai lampiran dalam Alkitab Protestant. Data historis ini menunjukkan bahwa Gereja Katolik tidak menambahkan kitab-kitab tersebut, justru gereja-gereja protestan yang menghilangkannya.

Luther punya kecenderungan untuk menggolong-golongkan Alkitab menurut pilihan dan kepentingannya sendiri. Dalam tulisan-tulisannya tentang Perjanjian Baru, ia mencatat bahwa Surat Ibrani, Yakobus, Yudas dan Kitab Wahyu kedudukannya lebih rendah dari kitab-kitab lainnya, dan mengikuti "Kitab-kitab Utama dan pasti dalam Perjanjian Baru."

Sikap yang sama ditunjukkan dalam perdebatannya tentang beberapa topik teologis, misal : purgatorium (api penyucian), doa dan perayaan ekaristi bagi orang mati, dan sola fidei – sola scriptura. Luther sadar bahwa tentang purgatorium (api penyucian), doa dan perayaan ekaristi bagi orang mati memang sudah dinyatakan dalam 2 Mak 12:43-45. Demikian juga beberapa kitab Deuterokanonika menekankan manfaat yang diperoleh melalui perbuatan-perbuatan baik (Tob.12:9; Sir. 3:30), padahal Marthin Luther sangat menekankan gagasan sola fide, yang berarti “hanya iman yang menjadi dasar keselamatan”. Karena tidak sesuai dengan pandangan teologisnya, Luther tidak memasukan kitab-kitab Deuterokanonika ke dalam daftar Kitab Suci dan memutuskan untuk mengambil alih kanon Yahudi.

Selain alasan-alasan itu, dasar yang memperkuat agumentasi Luther untuk mengeliminasi kitab-kitab Deuterokanonika adalah bahwa para penulis Perjanjian Baru tidak pernah mengutip dari ketujuh kitab Deuterokanonika. Maka tingkatan kitab-kitab Deuterokanonika berbeda dengan tulisan-tulisan lain dalam Alkitab.

4. Hmmm…, jika Perjanjian Baru tidak pernah mengutip ketujuh Kitab Deuterokanonika, bukankah hal itu mengindikasikan bahwa ketujuh kitab tersebut tidak dianggap sebagai tulisan-tulisan yang diinspirasikan oleh Roh Kudus?
Mengikuti argumentasi ini, kita harus mengeluarkan pula 8 kitab lain dari Perjanjian Lama –misal, Kidung Agung– yang  juga tidak dikutip dari Perjanjian Baru. Jika kita tidak mau melakukannya, kita harus sepakat bahwa tidak dikutip dalam Perjanjian Baru tidak serta merta menunjukkan bahwa suatu kitab tidak diinspirasikan oleh Roh Kudus dan tidak termasuk Kitab Suci.

Meskipun tidak ada kutipan secara langsung, Perjanjian Baru menunjuk dan mengutip secara  tidak langsung pada kitab-kitab deuterokanonika. Salah satu contoh kuat, cermatilah Ibr 11:35, “Ibu-ibu telah menerima kembali orang-orangnya yang telah mati, sebab dibangkitkan. Tetapi orang-orang lain membiarkan dirinya disiksa dan tidak mau menerima pembebasan, supaya mereka beroleh kebangkitan yang lebih baik.” Tak ada satupun referensi dalam Perjanjian Lama gereja-gereja Protestan bagi kisah ini. Kita harus masuk ke dalam Alkitab Gereja Katolik untuk membaca kisah ini, yaitu dalam 2 Makabe 7.

5. Namun Kitab Yudit menyebutkan bahwa Nebuchadnezzar adalah Raja Assyria, padahal sebenarnya ia adalah raja Babylonia lho. Jika mengandung kesalahan, kitab tersebut pastilah tidak termasuk tulisan yang diinspirasikan oleh Roh Kudus !!!
Dalam membaca Alkitab, haruslah kita memahami jenis sastrawi karya tersebut : apakah kitab itu merupakan laporan sejarah? Apokaliptik? Perumpamaan? Nasihat kebijaksanaan? Mengetahui hal ini berpengaruh pada bagaimana kitab tersebut seharusnya dibaca. Ketika Yesus mengatakan bahwa biji sesawi adalah biji yang terkecil (Mat 13:32), Ia bukannya mau memberikan suatu traktat dalam ilmu botany. Selain itu, ada beberapa biji yang lebih kecil dari pada biji sesawi. Ketika Yesus mengatakannya, para pendengarnya mengetahui bahwa Ia sedang menceritakan sebuah kisah perumpamaan, dan mereka tidak terlalu berpusing-pusing memikirkan apakah hal itu sungguh tepat sesuai dengan data historis ataupun ilmu pengetahuan.

Demikian pula halnya dengan Kitab Yudith. “Yudith” artinya “perempuan Yahudi”, yang menjadi personifikasi bangsa Israel, sedangkan "Nebuchadnezzar, Raja Assyria" mempersonifikasikan musuh-musuh bangsa. Orang-orang Yahudi pada zaman itu sungguh sadar bahwa Nebuchadnezzar bukanlah raja Assyria namun mereka juga sadar bahwa Babylonia dan Assyria adalah dua musuh besar bangsa Israel. Sehingga penyatuan kedua musuh itu dilakukan oleh penulis Kitab Yudit sebagai perumpamaan akan para musuh besar bangsa.

6. Nampaknya, ada beberapa bagian dari kitab-kita itu yang mengajarkan hal-hal tak bermoral lho !!!
Sebagian orang Protestan sampai sekarang berusaha mencari-cari penjelasan untuk membenarkan bahwa kitab-kitab deuterokanonika memang tidak layak masuk dalam daftar Kitab Suci. Salah satu argumennya ialah bahwa kitab-kitab itu mengajarkan praktik amoral, seperti berbohong, bunuh diri, dan pembunuhan, sehingga tidak layak dipandang sebagai sabda Allah. Pandangan ini biasanya dikenakan pada kitab Yudit yang menceritakan bagaimana Yudit menyalahgunakan kecantikannya untuk membunuh.

Seandainya benar bahwa kitab Yudit mengandung ajaran-ajaran moral yang keliru, hal ini perlu dicermati lebih lanjut. Ajaran moral yang terkandung dalam satu kitab tidak menjadi patokan apakah kitab tersebut termasuk dalam daftar Kitab Suci atau tidak. Sebab, jika hal ini memang diterapkan, bukan hanya kitab Yudit yang harus dikeluarkan dari daftar Kitab Suci. Kitab Kejadian mengisahkan bagaimana Abraham yang takut kehilangan nyawa, membiarkan istrinya diambil oleh orang lain. Dengan sengaja ia menyembunyikan kebenaran untuk kepentingan sendiri (Kej 12:10-20). Kitab Hakim-hakim mengisahkan bagaimana seorang perempuan bernama Yael memperdaya Sisera sampai akhirnya membunuhnya dengan cara yang kejam (Hak 4:1-24). Dalam 1Sam 15 Tuhan bahkan memerintahkan agar Israel menumpas habis seluruh bangsa Amalek. Ketika Saul ternyata membiarkan Agag, raja Amalek yang ditaklukkannya itu, tetap hidup, Samuel mempersalahkan Saul dan membunuh Agag dengan tangannya sendiri.

Jika ajaran moral dalam suatu kitab menjadi patokan penentuan Kitab Suci, kitab-kitab tersebut dan kitab-kitab lain yang mengandung ajaran moral yang keliru seharusnya juga harus dicabut dari daftar Kitab Suci.

7. So, terjemahan manakah yang digunakan oleh Jemaat Kristen perdana?
Jemaat Kristen perdana membaca terjemahan Yunani dari Perjanjian Lama, yaitu Septuaginta. Karena itu, sejarawan protestan J.N.D. Kelly menulis, “seharusnya dihormati bahwa Perjanjian Lama yang dianggap sebagai yang berwenang dalam Gereja lebih lengkap dan lebih komprehensif [dari Alkitab Protestan]… Perjanjian Lama tersebut meliputi, meskipun dengan berbagai macam tingkat pengakuan, kitab-kitab yang disebut sebagai apokrip atau deuterokanonika.” Para pengarang Perjanjian Baru banyak mengutip dengan bebas dari Septuaginta – bahkan lebih dari 300 kali.

8. Bukankah Hieronimus dan Augustinus berbeda pendapat tentang ketujuh kitab itu?
Ya. Beberapa Bapa Gereja mengutip kitab-kitab Deuterokanonika, sedangkan beberapa lainnya tidak. Maka memang sejak zaman para bapa Gereja sudah terjadi perbedaan pandangan mengenai kitab-kitab Deuterokanonika. Perbedaan pandangan antara Hieronimus dan Agustinus dapat menggambarkan hal ini.

Santo Hieronimus, yang terjemahannya dalam Bahasa Latin (Vulgata) menjadi terjemahan resmi Gereja Katolik, tidak ingin memasukkan kitab-kitab Deuterokanonika. Itu dapat dipahami karena Hieronimus tinggal di Palestina dan banyak berdiskusi dengan para ahli kitab Yahudi. Ia dipengaruhi oleh pandangan mereka dan tidak dapat mempergunakan kitab-kitab Deuterokanonika sebagai dasar untuk beragumentasi.
Sementara itu Agustinus yang hidup pada masa yang sama berpendapat berdasarkan tradisi, bahwa kitab-kitab itu harus dimasukkan ke dalam Vulgata. Setelah berbicara dengan Paus Damasus yang memberinya tugas dan menyadari argumentasi berdasarkan tradisi yang dikemukakan Agustinus, Hieronimus memutuskan untuk memasukkan kitab-kitab Deuterokanonika ke dalam terjemahannya. Baginya, hanya Gereja yang mempunyai otoritas yang sah untuk menentukan daftar resmi alkitab (kanon).

9. Apa pentingnya membaca dan mendalami Kitab-kitab Deuterokanonika?
Kitab-kitab itu  sangat  penting  untuk  memahami  awal Yudaisme dan Perjanjian  Baru. Ditulis  lebih  dekat  dengan  masa Yesus daripada  kitab-kitab  lain  yang  umum   diterima sebagai Perjanjian  Lama. Memuat banyak gagasan dan pengharapan yang diterima oleh Yesus. Itu sebabnya  kitab-kitab  ini  penting untuk dibaca, direnungkan dan didalami.

10. Kesimpulan : siapakah yang mempunyai otoritas yang bisa dipercaya untuk menentukan tulisan-tulisan manakah yang diinspirasikan oleh Roh Kudus dan tulisan-tulisan manakah yang tidak diinspirasikan oleh Roh Kudus?
Sekarang, kita harus memilih : mau percaya pada mazhab rabinik yang menolak Perjanjian Baru 60 tahun setelah Kristus mendirikan Gereja, ataukah mau percaya pada Gereja yang didirikan oleh Kristus? Jika kita mengaku diri sebagai Gereja, pengikut Kristus, tentu kita juga menerima daftar resmi Kitab Suci yang memang dipakai sejak zaman para rasul dan gereja perdana, yaitu Perjanjian Lama (yang mencakup juga di dalamnya tulisan-tulisan / kitab-kitab Deuterokanonika) dan Perjanjian Baru.

No comments