Header Ads

Seputar Harvard Square


Salib di Tengah Arus Zaman
Siang tadi saya mengikuti jalan salib yang disponsori oleh Harvard Square Clergy Association, sebuah komunitas para imam dan pendeta Kristen/Katolik di seputar Cambridge, Boston. Jalan salib ekumenis ini akan menghampiri Gereja2 di seputar Cambridge sebagai tempat perhentiannya. Ada 12 perhentian.
Inilah kesempatan langka karena saya bisa belajar dari spiritualitas banyak Gereja yang juga percaya pada Yesus Kristus sebagai Sang Mesias. Meski hari ini suhu boston sekitar minus 4 celcius, saya dan seorang teman, imam diosesan dari Mexico, datang ke perhentian pertama pkl. 12.oo siang.
Ternyata, peserta jalan salib hanya ada 12 orang: 4 orang students dari Weston, 6 imam dari 5 Gereja (Luteran, Baptist, Katolik dan Methodis, serta Christ Scientist).


Perhentian 1: Union Baptist Church“Mari kita belajar mengikuti Kristus di tengah zaman ini” kata pemimpin Gereja Baptis. Kami berjalan menuju perhentian ke 2 yang berjarak sekitar 400 M. Seorang imam Gereja Baptis membawa salib besar dipundaknya.
Di tengah kota Boston, banyak orang menatap kami semua,entah apa yang mereka pikirkan. Orang lalu lalang, makan, bercanda dan sibuk dengan dirinya, sejenak menatap kami, lalu pergi dan meneruskan aktivitas sendiri.
Saya bermenung “inilah realitas kita, hidup di tengah dunia modern.” Salib yang kami bawa seakan-akan menantang semua orang yang menatapnya, “lihat kami menawarkan satu nilai: derita dan perjuangan menuju kebangkitan!” dan, keyakinan yang kami bawa harus berhadapan dengan nilai-nilai lain yang lebih dipuja orang: materialism dan hedonism.


Perhentian 2: Black Pastor’s Council ServiceStasi ini adalah Gereja untuk orang kulit hitam. Saat kami datang mereka sedang dalam ibadat Jumat Agung. Kami diundang mendengarkan homily. Dalam Gereja ada sekitar 100 jemaat sedang khusuk mendengarkan kotbah dari 4 pendeta tentang, “Cross…relevant or rhetoric”.
Apa yang khas dari Gereja ini? Berpusat pada Kitab Suci. Umat dan pendeta sangat fasih membedah sabda Allah. Terlihat banyak umat mencatat kotbah yang mengena di hati mereka. Banyak orang bersahut-sahutan, “Amen, Great, Cool, Yeah,..Yes..Praise The Lord”, di sela-sela kotbah.
Inilah bedanya dengan orang Katolik, yang terlihat lebih khusuk diam saat mendengarkan kotbah, dan lebih bersifat pasif dalam ibadah jika dibanding komunitas Black church ini.


Perhentian 3: Kantor Polisi Pusat CambridgeBapak kepala Polisi Cambridge berkenan menemui kami. Salah satu wakilnya membacakan renungan dari Injil Markus, tentang penangkapan Yesus oleh prajurit Bait Allah.
Apa makna kisah Markus ini bagi seorang Polisi? Sang polisi berkisah, “ Kami bertugas menjaga keamanan warga, termasuk bagi anda yang mengekpresikan iman di tengah public Square” Kata-katanya memang benar, karena kami dikawal 4 polisi dan dibantu dalam kelancaran ibadat.
Kapan ya, polisi Indonesia punya citra yang positif, Sungguh-sungguh mengayomi warganya dan tidak membuat orang antipati untuk berurusan dengan mereka?



Perhentian 4: City Hall (Kantor Wali Kota Cambridge)
Ibu Wali kota Cambridge berkenan menemui kami. Inilah pertama kali kota Cambridge dipimpin oleh seorang wali kota perempuan berkulit hitam, Mayor Simmons. Ibu wali kota membacakan kisah Pilatus yang mencuci tangannya (Markus 15).
Dia bermenung, “Salah satu tugas saya adalah menjaga kehidupan warga kota, membuat kebijakan yang adil dan bermanfaat bagi semua orang”.
Di sini saya berdoa bagi para pemimpin di Indonesia yang suka mencuci tangannya atas penderitaan sesama. Tapi dengan bangga mengeruk harta orang lain yang bukan miliknya lewat korupsi, serta membuat kebijakan yang hanya menguntungkan kaum tertentu saja.


Perhentian 5: Old Cambridge Baptist ChurchPastor Ralph Hergert memimpin renungan tentang Petrus yang mengkianati Yesus (Markus 14). Ralph mengajak kami bermenung soal integritas diri. Betapa banyak orang yang berkhianat pada dirinya sendiri. Kasus Gubernur New York salah satu contoh paling jelas. Dia adalah orang paling dipercaya integritasnya, dinilai bersih dan berkepribadian baik. Namun dia hancur karena berkianat pada kepercayaan public, dia terlibat dalam kasus pelacuran tingkat tinggi.
Dan bagi kita sendiri, berapa kali kita berkianat pada diri sendiri? Betapa jauhnya sering kali omongan dengan perbuatan kita?


Perhentian 6: St. Paul’s Catholic ChurchRomo Congdon, diosesan Boston, berefleksi tentang “Pakaian Yesus ditanggalkan”. Beliau mengajak kami berdoa, “Tuhan ajari kami untuk tidak mempermalukan Engkau dengan mengingkari janji setia kami dalam pelayanan. Bantulah kami untuk menjaga tubuh ini dari pencemaran, hawa nafsu dan kedosaan. Semoga tubuh kami menjadi tempat kudus bagiMu”
Persoalan seksualitas menjadi kasus yang amat sensitive di Boston sejak tahun 2002 lalu. Kini umat dan para imamnya sedang dalam proses penyembuhan dan recovery. Terlalu mahal biaya yang harus dikeluarkan untuk kasus-kasus yang telah terjadi: Gereja dijual, Imam dibunuh di penjara, Keuskupan yang hampir bangkrut karena uang habis untuk membayar korban, dan juga kredibilitas Gereja Katolik yang menurun di mata umat.
Saya berdoa semoga hal ini tidak terjadi di Indonesia, khususnya di keuskupan Purwokerto tercinta.


Perhentian 7: University Lutheran ChurchPastor Don Larson mengajak kami bernyanyi “Sengsaramu O Yesus” dan bermenung “Simon Kirene yang menolong Yesus”.
Jalan salib di tengah kota Cambridge ini adalah sebuah tindakan nyata untuk bersaksi. Kita adalah simon-simon yang juga memanggul salib dan menawarkan pada orang untuk turut memanggul salib guna menggapai keselamatan. Namun tidak semua orang mau! Mereka punya cara sendiri untuk mendapat keselamatan. Semoga kita tidak penah lelah dalam memanggul salib, walau banyak orang menolak dan enggan membantu kita memanggul salib Kristus.


Perhentian 8: First Parish Church“Mereka membuang undi untuk jubah Yesus”. Mengapa para prajurit itu memperebutkan jubah Yesus? Mereka ingin mendapat berkah kalau bisa memakainya. Kepribadian kita lebih sering dinilai dari “BRAND” yang kita pakai: Polo, Adidas, Nike, dsb. Padahal brand itu hanyalah soal luaran dan tidak mencerminkan kedalaman.
So, apa maknanya kalau kita memakai jubah Yesus? Hidup kita dituntut selaras dan bersumber dari Yesus sendiri, bukan hanya soal kulit dan mereknya saja.


Perhentian 9: Holworthy Gate, HarvardIni adalah pintu gerbang Harvard University. Kami berdoa dipimpin oleh Rev. Dudley Rose, seorang imam yang bekerja di Harvard Divinity School.
“Apakah kebenaran itu? tanya Pilatus” (Yohanes 18). Pertanyaan ini patut diajukan pula bagi para mahasiswa di Boston. Kota ini terkenal sebagai pusat study terbaik USA : Harvard University, MIT (Massachusetts Institute of technology), Boston College dan Boston University. Kebenaran apa yang dipegang oleh para alumni dan mahasiswa sekolah ini?
Saya pun bertanya pula pada diri sendiri, “Apa yang nanti bisa saya sumbangkan untuk Gereja Indonesia dari hasil studi saya di sini?” ini pula pertanyaan yang patut kita jawab dalam diri kita masing2.


Perhentian 10: Harvard Epworth United Methodist Church“Dosa asal orang Amerika adalah RASISME”, kata Ibu pendeta Scott Campbell. Persoalan ini pula yang sekarang dijadikan bahan perbincangan calon presiden berkulit hitam, Barak Obama. Negara ini mengkalim pusat kebebasan dan demokrasi, tapi bagaimanapun juga pesoalan diskriminasi tetap ada.
Di Negara kita Indonesia, masalahnya hampir sama. Kita juga sering kali rasis! Orang jawa merasa diri lebih pandai dan maju dari suku lain, etnis tertentu merasa superior, atau orang dari kelompok tertentu merasa diri lebih berkuasa dan berhak karena mayoritas dan punya anggota lebih banyak.
Apa yang bisa kita buat untuk mempersempit jurang rasisme ini?


Perhentian 11: First Church of Christ, Scientist
Inilah Gereja yang didirikan oleh Marry baker Eddy tahun 1879 di Boston. Komunitas ini percaya akan Yesus sang penyembuh ulung dan menolak penggunaan sarana medis kedokteran untuk menyembuhkan orang yang sakit. Mereka percaya bahwa lewat KItab suci, Yesus akan menyembuhkan.
Pengkotbah Margit Hammerstrom dari Gereja ini mengajak kami bermenung soal makna kebangkitan. Apa artinya bangkit bersama Kristus?


Perhentian 12: Old Burying Ground, Episcopalian churchPerhentian terakhir ini ada di sebuah makam bagi para pejuang kemerdekaan Amerika.
Kematian bukanlah akhir segalanya, namun awal dari sebuah kehidupan baru. Seperti biji tumbuhan harus ditanam di tanah agar ia dapat tumbuh, demikian pula kita, mati terhadap diri sendiri agar bisa berbuah banyak bagi orang lain.
Mati bagi diri sendiri berarti membuat hidup ini tidak melulu berfokus pada diriku, atau berpusat pada egoku, tapi mengarahkan hidup bagi orang lain di sekitarku.
Ketika kita bisa mengalihkan pusat hidup dari keAKUan menjadi keBERSAMAan, berarti kita mulai mati dalam diri sendiri dan bangkit bersama Kristus.

Cambridge, March 21, 2008

Galih Arga
Weston Jesuit School of Theology
School of Theology and Ministry
Boston College

1 comment

bagyopurwo@yahoo.com said...

Terima kasih untuk tambahan wawasannya.