Header Ads

Refleksi tentang Trinitas

Pengalaman akan Allah,
Pewahyuan Allah dalam Yesus
dan Relevansinya bagi hidup di masa kini

Beberapa waktu lalu, ketika makan pagi, seorang teman bertanya : “Mengapa dalam Injil dikatakan bahwa Yesus berdoa pada Allah ? Padahal dalam ajaran Trinitas khan Yesus adalah Allah Putera. Apa Yesus tidak bicara dengan dirinya sendiri ?”

Saya menjawab pertanyaan itu dengan berpangkal pada sebutan TUHAN, ALLAH, dan TUHAN ALLAH yang ada dalam Kitab Suci dan kesimpangsiuran istilah dalam bahasa Indonesia. Sebenarnya saya enggan menjawab, pagi-pagi koq sudah diajak diskusi. Namun ketika mulai menjawab, saya sendiri tidak puas dengan jawaban yang saya berikan.

Ketika menghadiri misa requiem Rm. Tom Jacobs, SJ, saya teringat lagi pada pertanyaan teman tadi. Secercah jawaban muncul di benak saya, sebab saya jadi terkenang pada kuliah Kristologi – Trinitas tanggal 9 Februari 2006. Kuliah hari itu mengundang Tom Jacobs untuk berbicara tentang “Tantangan-relevansi refleksi kristologis bagi Gereja yang hidup dan iman kristiani yang hidup di zaman ini”. Buku acuan yang dirujuk adalah “Trinitas : Bapa, Firman dan Roh Kudus” dari Herbert Vorgrimler. Dalam forum diskusi maya dengan tema Trinitas ini, saya mencoba mengenangkan lagi 1 jam bersama Tom Jacobs itu.

Pengalaman ditanyai teman dan mengikuti kuliah Tom Jacobs saya sebutkan karena pengalaman-pengalaman itu menarik saya untuk selalu merefleksikan kembali iman saya akan Allah, suatu hal yang kadang diandaikan begitu saja adanya. Saya ditarik untuk meruntuhkan dan kemudian membangun kembali iman saya akan Allah. Bagi saya sendiri, proses ini tidaklah mudah dan seringkali tidak mengenakkan. Lebih enak dan mudah jika sekedar mengambil alih paham Allah dari orang lain. Untuk anak kecil, hal ini tidak jelek. Mereka mendengar itu dari orang tua mereka, para suster, guru TK, guru-guru sekolah minggu-PIA, dan mungkin juga dari frater dan romonya. Tapi lama-kelamaan pemahamannya mesti berkembang. Jika sekedar taken for granted, saya (kita) tidak tahu benar dengan apa yang dimaksudkan dengan pengalaman dan rumusan iman orang lain itu.[1] Jika demikian, tidak ada artinya saya (kita) bicara tentang Allah yang tidak saya (kita) kenal. Soalnya, Allah memang Allah, bukan obyek. Maka, pengenalan akan Allah tidak dengan sendirinya terang. Allah tidak bisa ditangkap, dirumuskan, dan dipikirkan secara pasti. Inilah ciri khas Allah.

Lalu, apa yang dimaksud dengan pengalaman akan Allah ?

Allah mengatasi segala-galanya. Maka, per se adalah salah mengatakan bahwa Allah adalah ini atau itu. Kalau saya ditanya : Allah itu apa / siapa tho ? Saya akan menjawab : SAYA TIDAK TAHU !!! Ini point yang sangat hakiki, yaitu bahwa Allah tidak bisa ditangkap/ dirumuskan/dimengerti. Ia adalah misteri. Maka, tak ada penjelasan terang benderang tentang Allah.

Ia adalah Nan Tak Bernama, Nan Tak Terucapkan. Yang disebut dalam Kitab Suci sebagai El atau YHWH Elohim hanyalah nama, tidak ada artinya apa-apa. Kata ‘Allah’ juga tidak punya arti. Demikian juga kata YHWH. Tidak ada ekseget yang benar-benar tahu dan bisa menjelaskan dengan terang benderang arti ahyeh asyer ahyeh, YHWH. Maka, kita tidak bicara TENTANG ALLAH, tetapi PENGALAMAN AKAN ALLAH. Teologi adalah Antropologi, demikian kata Karl Rahner. Kita bicara tentang manusia dalam relasinya dengan Allah.

Pengalaman akan Allah berawal dari pengalaman bahwa aku hidup tetapi aku tidak berkuasa atas hidup ini. Hidup ini anugerah, pemberian. Ini adalah kepercayaan dasariah (basic truth). Hidup itu pemberian dari siapa? Dari yang tidak dikenal dari dirinya : adanya yang mengadakan semuanya ini. Yang saya tangkap bukan Dia, tetapi diri saya dalam ketergantungan saya pada Dia. Inilah yang oleh Rama Mangun alm disebut sebagai pengalaman religius.[2]

Maka dari itu, orang beriman mengenal Allah sebagai dasar dan mengakuiNya sebagai pribadi. Ia bukan sekedar kekuatan, daya ataupun energi yang kabur. Namun ia adalah Sang Pribadi, sebab saya yang mengenalNya dan disapaNya adalah seorang pribadi. So, pengenalan akan Allah berarti menyembah penuh cinta, menyerahkan diri pada pemberi hidup kita, mengakui sumber hidup kita sebagai pribadi, bersyukur atas hidup kita.

Bersyukur atas hidup kita ini sulit : bagaimana mau bersyukur di tengah situasi hidup yang macam gini? BBM naik, harga makanan mahal, biaya hidup tak terjangkau, dll.? Pokok pengalaman akan Allah adalah syukur, mengamini hidup, bersyukur pada sang pemberi. Maka, mau bersyukur atau tidak, tergantung pada sikap kita.

Pengalaman akan Allah sungguh-sungguh subyektif, tidak obyektif. Karena jika obyektif, Allah menjadi obyek dan dengan demikian Ia bukan Allah lagi. Maka, pengalaman akan Allah tidaklah simple, dan juga jangan disederhanakan begitu saja. Tiap saat, kita harus bertanya pada diri kita sendiri : apa aku masih percaya pada Allah? Karena Allah tidak bisa ditangkap, maka yang selalu penting adalah sikap dan pilihan kita.

Segala-galanya dalam Allah dan Allah dalam segala-galanya. Allah dikonfirmasi dalam diri kita sendiri. Seperti kita tidak dapat menangkap sepenuhnya diri kita sendiri, demikian juga halnya dengan Allah. Yang pokok : Allah adalah dasar diri kita. Hal ini perlu disadari dalam setiap doa. Doa bukanlah hapalan namun masuk dalam diri sendiri, menyadari diri dan bersyukur atas penyelenggaraan Allah akan hidup ini.

Pewahyuan Allah dalam Yesus

Kalau berpangkal pada diri sendiri, Allah tetap tersembunyi. Hal ini tidak berubah dengan kedatangan Yesus. Allah tetap Allah, Allah tetap tidak bisa ditangkap, tak bisa dilihat. Yang kita lihat adalah orang dari Nazareth[3]. Seperti kalau kita melihat orang dari Pakem atau Gombong. Lalu, apa bedanya Yesus dengan kita-kita ini. Keunikan Yesus adalah Ia dengan seluruh kepribadianNya menyatakan Allah. Yesus dalam KS tidak pernah disebut Allah. Namun, seperti disebut dalam pembuka Injil Yohanes, ia disebut sebagai “Firman Allah”. Allah berfirman dalam Yesus. Maka kita perlu melihat pengalaman Yesus akan Allah.

Dalam memberi keterangan tentang Allah, Yesus mengatakan : Allah adalah Bapa-Ku. Apa yang dimaksud dengan Bapa? Pembicaraan Yesus itu berlatar belakang Perjanjian Lama, di mana Allah disebut sebagai Bapa. Bapa merupakan metafor/kiasan yang mengungkapkan bahwa Allah adalah pelindung, pencipta, dll. Bapa, bagi Yesus, mempunyai arti khusus karena keakraban Yesus denganNya sangatlah istimewa. Relasi anak-Bapa ini mengungkapkan relasi yang akrab dan bukannya teori maupun pemahaman.

Bagi Musa, Allah adalah yang mewahyukan diri sebagai “ahyeh asyer ahyeh”. Umumnya, ungkapan ini diartikan sebagai : aku yang senantiasa hadir padamu (shekinah), tapi tersembunyi. Pengalaman akan Allah berlaku untuk Musa atau pun Yesus, tetapi selalu bersifat pribadi. Inilah yang diungkapkan Yesus dalam kata-kata “hanya satu Bapamu”[4]. Ini mengungkapkan keyakinan monoteisme. Namun, Yesus juga membedakan “Bapa-ku” dan “Bapa-mu[5]. Ini adalah ungkapan subyektif : pengalamanku berbeda dengan pengalamanmu. Ungkapan ini menyatakan bahwa Yesus menghayati hubungan dengan Bapa secara amat istimewa.

Dalam diri Yesus, Allah menjadi lebih dekat dan menyapa sejarah manusia. Yesus mengungkapkan : “Aku dan Bapa adalah satu”[6]. Dalam ungkapan ini, dipakai kata en yang mengungkapkan bahwa Aku dan Bapa akrab, satu pekerjaan, bukannya satu kesatuan pribadi. Aku mengalami diriku di dalam Allah, Allah dalam aku. Dalam hal ini, kita bicara mengenai suatu relasi. Namun, relasi Yesus dan Bapa tidaklah eksklusif. Hal ini dikatakannya dalam ungkapan : “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita,…”[7].

Yesus mewartakan kerahiman Allah. Hal ini nampak dalam pokok pewartaan Yesus, yaitu Kerajaan Allah : kehadiran Allah yang merajai hidup manusia. Kerajaan Allah adalah puncak syalom, Allah sunguh mendekati kita. Kehadiran Allah itu menyelamatkan[8]. Hal ini menjadi nyata dalam peristiwa wafat dan kebangkitan Yesus. Kristus telah dibangkitkan, artinya kematianNya diterima Allah. Gambaran kebangkitan sebagai peristiwa relasional adalah demikian : dengan wafat, Yesus mengulurkan tangan kepada Bapa; dengan Kebangkitan, Bapa mengulurkan tangan kepada Yesus. Karena Kristus telah mengalami peristiwa tergelap hidup manusia, manusia diselamatkan. Inilah penebusan.

Pertemuan dengan Yesus di masa kini

Yesuslah yang memberi arti dan arah kepada hidup kita. Maka, amat perlu mengikuti Yesus dalam perjalananNya di tanah Galilea dan Yudea, bersama para rasul dan murid-murid lain. Bagaimana ambil bagian dalam Yesus Kristus? Lewat Kitab Suci !!! Kitab suci adalah kesaksian iman dari mereka “yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman”[9]. Kitab Suci, khususnya injil, menghubungkan kita dengan para rasul, pengarang dan juga jemaatnya. Bersama mereka, kita memandang Yesus. Melihat Yesus = melihat Bapa[10]. Injil dan Yesus adalah jawaban atas seluruh pertanyaan dalam hati kita.

Lalu, bagaimana dengan dogma-dogma Gereja? Begini, ketika Kitab Suci berpindah dari alam pikir Yahudi (yang dinamis-relasional) ke alam pikir Yunani (yang definitif-rasional), mulai muncul kebutuhan untuk mendefinisikan pengalaman iman jemaat perdana seturut situasi alam pikir Yunani. Hal itu tidak dengan mudah dilalui oleh Gereja. Perdebatan dan diskusi kadang disertai tindakan yang menimbulkan luka mendalam. Bagaimana pun, hasil-hasil konsili-konsili awal (kurang lebih sejak Konsili Nicea sampai Konsili Kalsedon) yang masih dipegang hingga kini, memberi arah ke mana kita harus merefleksikan iman kita. Pada akhirnya kita sendiri yang harus berefleksi. Kalau kita tidak berefleksi diri tentang iman kita sendiri, KS dan juga dogma Gereja tidak mempunyai arti apa-apa.

Sebagai penutup sharing dan refleksi ini, saya kutipkan kata-kata Karl Rahner dalam salah satu artikelnya yang membahas tentang Konsili Kalsedon : “berfikirlah dengan budi dan hati pada saat percaya sebelum menjadi pendirian rohanimu.”

Dimas Danang A.W.


[1] Catatanku : Mungkin ini yang coba dibidik dan digerayangi dalam arah pastoral Keuskupan Purwokerto tahun 2008/2009 yang mengangkat keprihatinan soal formalisme agama

[2] Dengan demikian, ateis sebenarnya sama bodohnya dengan Teis, demikian kata Tom Jacobs. Sama-sama tidak tahu dari siapa hidup ini. Hanya bedanya, Ateis tidak mau tanya lebih lanjut. Sedangkan Teis hanya tahu bahwa hidupnya itu diberi dan percaya bahwa pasti ada yang memberi.

[3] Lih 1Tim 2:5

[4] Mat 23:9

[5] Yoh 20:17

[6] Yoh 10:30

[7] Yoh 17:21a

[8] Tit 2:11

[9] Luk 1:2

[10] Yoh 14:9

No comments