Header Ads

Hari Minggu Paskah V/A

Kis 6:1-7

Mzm 33:1-2,4-5,18-19

1Ptr 2:4-9

Yoh 14:1-12

Sungguh indah-lah sabda Yesus “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup”. Sungguh menarik pula pergulatan Gereja perdana yang sedang bertumbuh dan mulai menyusun tata organisasional, salah satunya dengan mengangkat 7 diakon pertama. Dan sungguh meneguhkan-lah kata-kata St. Petrus : “Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri”. Namun di balik itu semua, tidak mudah bagi kita menangkap pesan yang mau diwartakan dalam rangkaian kutipan-kutipan Alkitab yang dibacakan pada hari Minggu Paskah V di tahun liturgi A ini. Semoga tulisan berikut ini membantu kita dalam membacanya. Untuk makin membantu pemahaman dan memperluas wawasan akan bacaan-bacaan tersebut, silahkan baca postingan-postingan terdahulu dengan tema diskusi Trinitas.

Tata pembahasan akan dimulai dengan Bacaan Injil, lalu Bacaan I, Mazmur tanggapan dan Bacaan II. Dalam tulisan ini, pembahasan Bacaan Injil cukup lengkap : kutipan teks, struktur, komentar untuk masing-masing ayat, refleksi, dan excursus. Bacaan I dan II diberi komentar dan point-point yang bisa direfleksikan, namun tidak selengkap pembahasan Bacaan Injil.

Memang, tulisan ini bukan ‘bahan jadi’ untuk permenungan, refleksi maupun kotbah. Dan memang, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk itu. Bahan-bahan ini masih sangat mentah dan mungkin ‘terlalu rumit’. Yang jelas, bahan-bahan ini dimaksudkan untuk memperluas wawasan kita dan mungkin memberi alternatif cara pandang lain dari pada yang selama ini kita terima dan pikirkan. Itulah kekayaan firman Allah yang tertuang dalam Alkitab. Sumber utama bagi komentar-komentar Alkitab dalam tulisan berikut ini adalah Word Biblical Commentary dan The New Interpreter’s Bibble.

Yoh 14:1-12

  • 1 "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. 2 Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. 3 Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. 4 Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ."
  • 5 Kata Tomas kepada-Nya: "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?"
  • 6 Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. 7 Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia."
  • 8 Kata Filipus kepada-Nya: "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami."
  • 9 Kata Yesus kepadanya: "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. 10 Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya. 11 Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. 12 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu.

I. Struktur

Fokus pembahasan minggu ini adalah Yoh 14:1-12. Perikop ini harus ditempatkan dalam tempatnya yang khas dalam keseluruhan Injil Yohanes. Yoh 14:1-12 ada dalam rangkaian pengajaran Yesus pada para murid di ruangan atas (Yoh 13:31-14:31) pada saat perjamuan terakhir mereka. Rangkaian pengajaran itu berbentuk semacam pidato perpisahan, yang dimulai dengan pengumuman akan pemuliaan Yesus dalam kematiannya (13:31–32) dan diakhiri dengan seruan supaya pergi dari ruangan atas (14:30–31). Struktur umum rangkaian Yoh 13:31-14:31 adalah :

  • 13:31–38 Introduksi
      • 31–33 Pemuliaan Yesus
      • 34–35 Perintah untuk mengasihi
      • 36–38 Nubuat akan pengkhianatan Petrus
  • 14:1–26 Isi Pidato
      • 1–3 Kepergian dan kembalinya Yesus
      • 4–6 Yesus, jalan kepada Allah
      • 7–11 Yesus, pewahyuan Allah
      • 12–14 Yesus, kekuatan perutusan para murid
      • 15–17 Datangnya Penolong (paraclete) yang lain
      • 18–20 kedatangan Yesus pada saat paskah
      • 21–24 Kedatangan Yesus bagi orang beriman
      • 25–26 Sang Penghibur (paraclete)
  • 14:27–31 Epilog : warisan perdamaian

Meskipun fokus pembahasan minggu ini adalah Yoh 14:1-12, namun ada baiknya jika kita terlebih dahulu melihat tempat perikop tersebut dalam keseluruhan bab 14. Ada kecenderungan umum untuk melihat bab 14 sebagai satu tema tertentu saja, yaitu kepergian dan kembalinya Yesus, yang dinyatakan untuk menafsirkan kembali harapan tradisional Gereja akan Parousia Yesus (: kedatangan Yesus yang kedua kalinya). Becker and Segovia memahami ay 4–17 dengan tema kepergian Yesus and ay 18–26 dengan tema kembalinya Yesus. Segovia membuat pembagian berikut :

  • 1–3, tema pidato;
  • 4–14, eksposisi tentang kepergian Yesus yang terdiri dari tiga lingkaran tema (ay 4–6, 7–9, 10–14). Masing-masing berisi :
        • (a) pernyataan Kristologis (ay 4, 7, 10)
        • (b) pernyataan yang berhubungan dengan iman para murid
        •      (ay 5, 8, 11)
        • (c) perluasan dari pernyataan Kristologis yang pertama (ay 6,
        •      9, 12–14)
  • 15–27, eksposisi tentang kembalinya Yesus yang mempunyai empat rangkap rangkaian tema dari tiga unsur
        • (a) definisi kasih bagi Yesus (ay 15, 21a, 23ab, 24)
        • (b) janji bagi mereka yang mengasihi Yesus (ay 16–17a,
        •      21be, 23cd, 25–26)
        • (c) pembedaan mereka dengan dunia (ay 17b–d, 18–20, 22,
        •      27ac)
  • 28–31, epilog.

II. Komentar Yoh 14:1-12

Sekarang kita masuk dalam fokus pembahasan, Yoh 14:1-12.

a. Kepergian dan kembalinya Yesus (14:1–3)

1 Seruan tentang iman, yang diungkapkan secara negatif kemudian positif, merupakan isi keseluruhan pidato ini. Kata “gelisah/terharu” yang bisa menjerat para murid adalah jenis situasi yang dialami Yesus ketika ia berada di dekat kuburan Lazarus (11:33), ketika hampir disalib (12:27), dan ketika ia mengungkapkan pengkhianatan Yudas (13:21). Kesusahan itu menjadi jerat bagi para murid karena mereka terpaku pada rasa kehilangan (karena kematian) Yesus. Situasi tersebut menjadi jelas jika perikop ini dilihat dalam hubungannya dengan paragraf sebelumnya : seandainya iman Petrus saja bisa runtuh sehingga ia mengkhianati sang guru, apa yang akan terjadi dengan murid-murid yang lain ? Di hadapan hasutan semacam itu, peringatan Yesus itu bisa menjadi seruan yang tepat, “Berhentilah membiarkan hatimu gelisah.”

Perintah selanjutnya “Percayalah kepada Allah” disampaikan dalam konteks keseluruhan situasi : dunia mungkin sudah menjadi gila, namun para murid harus tetap terus percaya pada Allah sebagai sang penguasa segala ciptaan.

“Percayalah juga kepadaku” mungkin malah lebih sulit dipahami : bagaimana mungkin para murid bisa mempercayai Yesus sebagai sang Mesias, Anak Allah dan Anak Manusia, justru ketika ia diseret ke pengadilan, dinyatakan bersalah oleh para penguasa, disalibkan, dan diolok-olok oleh orang-orang yang menontonnya ? Hanya iman yang nampak dalam diri Abraham —“sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya” (Rom 4:18)— yang bisa berlaku dalam situasi semacam itu. Itulah sebabnya para murid diminta “percayalah padaku juga”. Bagian selanjutnya dari pidato ini beralih pada panggilan untuk percaya.

2 Alasan utama bertahan dalam iman akan Yesus, tepatnya Ia yang tersalibkan, sekarang diberikan. Yesus menggambarkan suatu (kompleks) pe-rumah-an yang luas dengan banyak tempat tinggal. “Rumah” Bapa dengan banyak tempat tinggal ini lebih baik kita bayangkan sebagai representasi tempat tinggal Allah yang transenden, seperti yang digambarkan dalam gambaran “kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi” (Ibr 12:22). Simbol tersebut secara apokaliptik diuraikan dengan baik dalam penglihatan akan Kota Allah dalam Why 21:9–22:5.

Namun, ungkapan Rumah Bapa ini pertama-tama harus dibaca dalam konteks relasi Allah dan Yesus yang begitu dekat. Relasi yang digambarkan sebagai “tempat tinggal / rumah” tersebut berulang kali ditekankan dalam pembukaan Injil Yohanes (1:1, 18). Dalam Injil, lokasi seringkali menunjuk pada simbol relasi. Dalam relasi kedekatan Allah dengan Yesus inilah, ada “banyak tempat” bagi para murid.

3 Pembuka ayat ini sebenarnya tidak dalam arti “Dan ketika Aku pergi …” namun lebih bersifat kondisional : “dan bila Aku pergi …” (bdk. 8:16; 12:32; 12:47). “Aku akan datang lagi” mau mengungkapkan sesuatu yang terjadi di masa depan, seperti juga kata yang segera mengikutinya “Aku akan membawa kamu ke tempat-Ku”. Hal ini menegaskan orientasi eskatologis dari ayat-ayat ini. Sabda Yesus itu merupakan janji akan Parousia Yesus, meskipun dalam bahasa yang sederhana dan lebih homey dari pada gambaran peristiwa yang sama yang diungkapkan dalam Mrk 13:24–27 dan 1 Tes 4:15–18. Klausa yang mengikuti makin menegaskan hal ini : “supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada”. Dengan demikian gambaran tersebut melengkapi adegan perginya Tuhan dari dunia ini untuk mempersiapkan suatu tempat di rumah Bapa bagi para muridnya, dan kedatangannya kembali untuk membawa mereka pergi ke “rumah” itu sehingga mereka bisa selalu ada bersama denganNya.

Dengan demikian, ay 2–3 menggunakan gambaran tradisional akan surga sebagai rumah Allah untuk menggambarkan realitas baru, yaitu  wafat, kebangkitan dan pemuliaan Yesus demi manusia. Yesus menggunakan gambaran tradisional tersebut untuk merefleksikan perspektif eskatologisnya. Ungkapan tentang rumah ini memberi janji bahwa para murid bisa ambil bagian dalam relasi Yesus dengan Allah (bdk 13:8). Hal itu menjadi jelas dalam penutup ay 3 : “supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada”. Janji kedatangan zaman eskatologis yang ditandai persatuan penuh dengan Allah ini merupakan visi Yohanes tentang Kerajaan Allah.

b. Yesus, Jalan menuju Allah (14:4–6)

Perikop ini melanjutkan panggilan untuk percaya dalam ay 1 dan jaminan yang diberikan dalam ay 2-3 dengan meningkatkan pemahaman akan jalan menuju tempat tujuan Yesus “pergi” dan “kembali”. Ay 4 menekankannya dengan menempatkan istilah tersebut di akhir kalimat. Jika topik sebelumnya adalah tujuan kepergian Yesus, mulai ayat itu ditampilkan topik pembicaraan baru, yaitu jalan.

5 Thomas, murid yang setia namun kurang cerdas (bdk. 11:16), menyuarakan ketidak-mengertian para murid lainnya. Pertanyaannya menggema dalam pertanyaan Petrus dalam 13:36, dan mencerminkan ketidakmampuan sepenuhnya untuk memahami maksud ay 2–3. Nampaknya ia ingin secara persis mengetahui di manakah rumah Bapa berada dan ke manakah Yesus akan pergi untuk mempersiapkan suatu tempat bagi mereka.

6 Kekurangmengertian para murid memberi kesempatan pada Yesus untuk menjelaskan maksud perkataannya. Sabda itu umumnya dipahami setingkat dengan 3:16 sebagai sebuah pernyataan injil yang sangat terkenal. “Ayat ini merupakan ringkasan klasik doktrin keselamatan dalam Injil Yohanes yang sepenuhnya berdasarkan pada Yesus Kristus” (Schnackenburg, 3:65).

Meskipun disebutkan tiga istilah : Jalan, Kebenaran, dan Hidup, jelas bahwa penekanannya adalah istilah yang pertama. Sebab, pernyataan tersebut mau menjelaskan pernyataan dalam ay 4 (“Kamu tahu jalan ke situ”), dan juga ditutup dengan kesimpulan dari induk kalimatnya : “Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Hal ini bukan berarti bahwa istilah kedua dan ketiga dianggap tidak penting. Kedua istilah tersebut menerangkan bagaimana Yesus menjadi Jalan : ia adalah Jalan karena ia adalah kebenaran, yaitu sang pewahyuan Allah, dan juga karena Allah yang hidup tinggal di dalam dia (bdk. 1:4, 12–13; 5:26). Jika dihubungkan dengan ay 2–3, sabda itu menandakan bahwa Yesus memimpin para muridnya ke rumah Bapa, mewahyukan kebenaran tentang tujuan akhir keberadaan manusia dan bagaimana tujuan tersebut bisa dicapai, serta membuat pencapaian itu menjadi mungkin dengan mengaruniakan jalan masuk menuju kehidupan dalam rumah Bapa.

Anak kalimat kedua dalam ay 6 jauh melampaui tujuan eskatologis kehidupan manusia dalam rumah Bapa, yaitu “Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”. Ayat ini menunjukkan bahwa Yesus adalah jalan kepada Bapa, karenanya Ia jalan ke rumah Bapa. Ini juga berarti Yesus adalah jalan kepada Allah yang hadir di dunia ini.

De la Potterie menunjukkan bahwa ay 6 merupakan “engsel” dari perikop Yoh 14:1–11; sebab bila ay 1–6 mau melihat masa depan yang dibuka oleh Yesus, ay 6–11 melihat makna kehadirannya bagi iman kita. Yesus membawa orang yang percaya kepada Bapa karena ia adalah Jalan, Kebenaran, dan Kehidupan. Selain itu, sabda itu juga perlu ditempatkan dalam konteks keseluruhan Injil. Sang Inkarnasi “pergi” kepada Bapa lewat ketaatannya sehingga mempersembahkan diri dalam kematiannya. Melalui kebangkitannya, ia membawa kita kepada Bapa dan menjamin suatu tempat bagi orang kepunyaannya di dalam rumah Bapa. Dengan demikian, “Akulah jalan” menggambarkan Yesus dalam peran kepengantaraanNya antara Allah dan manusia; sebagai Kebenaran ia adalah pengantara pewahyuan Allah, dan sebagai Kehidupan ia adalah pengantara keselamatan, yaitu kehidupan di dalam Allah. Ketiga aspek itu terjalin menjadi satu dan tak terpisahkan.

Dengan demikian jelaslah bahwa ay 6 ini mengandung ajaran tentang Kristus sebagai Logos, Sabda Allah yang menjadi manusia. Maka, anak kalimat berikutnya dari ay 6 harus dihubungkan dengan Prolog Injil Yohanes, di mana Kristus adalah Kehidupan, Terang bagi manusia yang menerangi semua orang (1:4, 9). Peran itu dilaksanakannya sebelum, selama dan sesudah Inkarnasi.

c. Yesus, Pewahyuan Allah (14:7–11)

7 Karena Yesus sebagai Jalan adalah pengantara kebenaran Allah dan kehidupan yang dari Allah, mengenalnya berarti mengenal Bapa. Pernyataan itu tentu saja mengikuti ay 6a dan menjelaskan secara positif apa yang dinyatakan secara negatif dalam ay 6b. Frase “pasti kamu mengenal” lebih bersifat logika dari pada temporal, hal ini menjadi jelas dalam klausa berikutnya : “Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia!”

8Melihat Dia?” Filipus heran; bila Yesus mau menunjukkan Bapa kepada mereka, maka mereka akan sangsi sekaligus takut! “Melihat Allah” adalah kerinduan terdalam umat manusia dan semua agama. Kita ingat keinginan Musa di Gunung Sinai : “Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku”. Allah pun menjawab, “Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup”. Meski demikian Musa diperkenankan untukmelihat belakang-Ku, tetapi wajah-Ku tidak akan kelihatan” (Kel 33:18–23).

Filipus tidak memahami bahwa dalam diri Yesus, hadirlah kemuliaan, rahmat dan kebenaran Allah, yang tak seorang pun pernah atau mampu melihatnya, Anaklah yang menyatakannya (Yoh 1:18). Bagi orang yang penglihatan spiritualnya terang benderang, pewahyuan dalam diri Yesus sungguh “memadai”.

9 Sentilan Yesus pada Filipus mengantar pada puncak lain dari pewahyuan dirinya : “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa”. Pernyataan ini melengkapi ay 6b : itulah yang dicari semua manusia dalam agamanya masing-masing. Dan bagi yang percaya kepadaNya, hal itu terpenuhi dalam diri Yesus.

Pertanyaan yang diajukan Yesus pada Filipus, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku?”, menantang semua murid. Seperti dikatakan juga oleh Bultmann : “Maksud di balik pertanyaan sentilan ini adalah bahwa seluruh pengalaman relasi dengan Yesus kehilangan maknanya jika ia tidak dikenali sebagai pribadi yang menghadirkan Allah, dan bukannya menghadirkan dirinya sendiri; dan juga hal ini bermakna bahwa kemungkinan untuk melihat Allah melekat dalam perjumpaan dengan pribadi Yesus. Kalau demikian, apa lagi yang diperlukan?” (608–9).

10 Dasar bagi pernyataan dalam ay 10 sekarang diberitahukan. Di dalamnya tidak hanya dinyatakan bahwa Yesus telah diutus oleh Allah. Dalam definisi orang Yahudi, dikatakan : “Dia yang diutus berlaku sebagai dia yang mengutusnya”. Meskipun demikian, secara khas dinyatakan bahwa dia yang diutus dan mengutus itu adalah benar-benar Yesus dalam relasinya dengan Allah. Ini semua semata-mata karena pewahyuan Allah, yang telah dilakukan “berulang kali dan dengan banyak cara,” namun sekarang diberitahukan dalam kepenuhannya (bdk. Ibr 1:1). Penegasan ini tetap berlaku karena Yesus ada di dalam Bapa dan Bapa ada di dalam Yesus. Rumusan yang disebut sebagai reciprocal immanence ini adalah, seperti juga dikatakan oleh Schnackenburg, “suatu cara linguistik untuk menggambarkan … kesatuan penuh antara Yesus dan Bapa” (3:69).

Sebelumnya, hal ini sudah dinyatakan pada orang Yahudi yang menjadi lawan Yesus dalam debat soal pembenaran suatu pernyataan yang sangat berhubungan dengan ay 9, yaitu “Aku dan Bapa adalah satu” (10:30, 37–38). Realitas tersebut lebih besar dari pada yang bisa diungkapkan dalam bahasa manusia, namun perkara yang mau ditunjukkan sungguh jelas : dalam kedalaman keberadaan Allah, ada koinonia, suatu “persahabatan”, antara Bapa dan Anak yang melampaui segala perbandingan, suatu kesatuan yang dengannya sabda dan tindakan Anak menyatakan bahwa Bapa hadir dalam diriNya, dan sabda dan tindakan Bapa dinyatakan di dalam dirinya.

11 Jika pernyataan demikian melampaui pemahaman manusia dan dengan demikian sulit digapai dalam iman, maka diserukanlah “percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri,” yaitu tanda-tanda yang dibuat oleh Yesus. Injil Yohanes banyak membicarakan narasi tentang tanda-tanda yang dibuat olehNya dan penjelasan terperinci akan maknanya. Orang yang menangkap makna tindakan Yesus mengubah air menjadi anggur, mukjizat penyembuhan olehNya, penggandaan roti untuk memberi makan orang banyak di tempat yang jauh dari pemukiman, berjalan di atas air, dan bangkitnya Lazarus dari mati, akan merasakan kuasa penyelamatan Allah dalam tindakan dan sabda Yesus sebagai “perkataan hidup yang kekal” (6:68). Dalam sabda dan tindakan Yesus, tujuan eskatologis di dalam Allah dinyatakan dan sekaligus dipenuhi.

d. Yesus, Kekuatan Perutusan Para Murid (14:12–14)

12 Seruan akan iman kepada Yesus, yang menjadi inti pidatonya, dilanjutkan dalam bagian ini dan diberi dorongan yang mendebarkan hati.

Pertama, ay 12–14 menggunakan future tense; masa yang dilihat adalah masa yang mengikuti “pengangkatan” Yesus dalam takhta kemuliaan Allah, dan dengan demikian menunjuk pada masa Gereja setelah Paskah.

Kedua, bagian ini hanya terdiri dari satu kalimat dengan satu tema utama. Maknanya dari hal ini akan segera nampak.

Ketiga, “pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan,” dalam ay 12a dengan jelas menunjuk pada karya-karyanya, “tanda-tanda” yang dibuatnya yang sangat ditonjolkan dalam Yohanes 2-12. Lalu pernyataan tegas dibuat bahwa orang yang percaya pada Yesus akan mempunyai kekuatan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan seperti yang dilakukan oleh Yesus dalam pelayanannya di dunia. Lihat bahwa bentuk partisip oJ pisteuvwn, “barangsiapa percaya,” adalah umum, dan tidak terbatas pada kelompok para rasul saja. Namun lebih lanjut, orang yang percaya “akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu.” Refleksi ini akan menunjukkan bahwa “pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar” yang disebutkan di sini bukanlah mukjizat-mukjizat yang lebih heboh dari pada yang dilakukan oleh Yesus. Dan juga nampaknya pemikiran awal adalah keberhasilan yang lebih besar dari para murid dalam pergantian perutusan pewartaan pada Israel dan kemudian pada bangsa-bangsa.

Apakah titik pandangnya bukan membawa bagi jemaat realitas-realitas spiritual di mana pekerjaan-pekerjaan Yesus merupakan “tanda-tanda”? Semua pekerjaan Yesus penting bagi karya penyelamatan Allah di tengah umat manusia melalui sang penebus eskatologis. Realitas utama yang ditunjuk, dan yang membuat aneka ragamnya kesaksian tentang satu tema, adalah kehidupan abadi dalam Kerajaan Allah dengan Yesus sebagai pengantaranya. Hal ini ditegaskan dengan menghubungkan ay 12 dengan 5:20 dan penjelasan yang mengikutinya : “Bapa menunjukkan kepada Anak segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri”, dan “pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi dari pada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran.” Konteks tersebut menunjukkan bahwa “pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar” yang “ditunjukkan” Bapa kepada Anak, yang lebih besar dari pada pekerjaan-pekerjaan yang dilakukannya selama ini, merupakan perwujudan kebangkitan dan pengadilan, namun menekankan yang pertama (sebagaimana ditunjukkan oleh 5:24–26 dalam hubungannya dengan ay 17). Dengan demikian, “pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar” yang harus dilakukan oleh para murid setelah Paskah adalah perwujudan realitas-realitas yang ditunjukkan oleh pekerjaan-pekerjaan Yesus, anugerah berkat dan kekuatan Kerajaan Allah atas manusia yang dianugerahkan bagi dunia oleh kematian dan kebangkitan Yesus.

III. Refleksi

Ciri yang paling penting dari kesaksian tentang Yesus dalam perikop ini adalah penjelasan dimensi eskatologis dari pewahyuan Allah dalam Kristus yang menyelamatkan. Pewahyuan dalam Yoh 14 ini bagaikan napas surgawi di tengah kesesakan bagi :

  • - Para murid yang hatinya sedang hancur karena kemungkinan kematian sang Guru yang makin dekat dan penyingkapan kelemahan mereka sendiri,
  • - Gereja yang mengikuti Kristus yang tersalib dan mengalami permusuhan dunia yang tadinya terarah padanya,
  • - Orang Kristen di zaman kemudian yang bingung oleh sekularisme sehingga tidak melihat dasar bagi iman atau harapan.

Harapan akan masa depan, yang dibuka dalam ay 2-3, berupa berbagi relasi yang membahagiakan di rumah Bapa. Tiap pribadi orang beriman menemukan tujuan hidupnya dalam persatuan sempuna penebusan manusia dengan Anak Allah dan Bapanya. Namun perjalanan menuju masa depan harus melalui Jalan yang disebut sebagai kehidupan di rumah Bapa, perluasan kehidupan kemuliaan yang akan datang menurunkan dimensi keberadaan di dunia ini. Di sini perspektif ganda yang mengikat para murid murid di ruangan atas itu dan gereja setelah peristiwa paskah menjadi jelas. Apa yang bagi para murid adalah pewahyuan yang penuh teka-teki tentang persatuan kembali di masa dengan dengan Tuhan menjadi batu sendi relasi gereja dengan Tuhan yang hidup.

Paskah telah terjadi. Dengannya kehidupan di zaman yang akan datang sudah menjadi kehidupan dalam Gereja di masa kini. Realitas sekarang dan sifat yang sangat personal dari persahabatan dengan Kristus dalam Gereja dijelaskan dalam istilah perwujudan paskah di masa lalu dan pewahyuan Parousia yang mengantisipasi masa depan.

Tuhan yang bangkit menyingkapkan diri bagi semua orang yang mengasihinya dan melakukan firmannya (ay 21). Pada orang semacam ini, Bapa dan Anak akan datang dan mengantisipasi relasi di rumah Bapa yang sekarang hadir dalam diri orang beriman. Dalam perwujudan gambaran ini, aspek-aspek pribadi dan jemaat dalam kehidupan Kristiani secara sempurna terjalin selaras.

IV. Excursus : tempat Yoh 14:1-12 dalam dialog dengan agama-agama lain

Apakah hanya bagi orang Kristen? Apakah hanya lewat Kristus ? Itulah pertanyaan utama bagi kita yang hidup di tengah pluralitas religius : bagaimana tetap berpegang teguh pada iman tanpa membuat penjelasan yang menyinggung agama/orang yang beriman lain. Karena itu, pentinglah disadari konteks Yoh 14:1-12, terutama ay 6-7, yaitu pernyataan teologis jemaat dalam kurun waktu abad pertama masehi. Dengan demikian, konteks dasar tersebut jangan dicampur adukkan dengan konteks zaman sekarang.

Yoh 14:1-12 lebih tepat dipahami dengan istilah partikularitas daripada eksklusivisme. Dengan istilah partikularitas, atau secara umum disebut sebagai inklusivisme, mau diungkapkan abhwa pernyataan dalam 14:6-7 mengungkapkan kekhasan pengetahuan dan pengalaman akan Allah dari penulis Injil Yohanes dan anggota jemaatnya. 14:6-7 menjadi problematik bila digunakan untuk berbicara tentang bidang yang bukan menjadi visi teologisnya, misalnya dalam perdebatan klaim kebenaran agama-agama dunia.

Ayat-ayat Yoh 14:6-7 ini merupakan perayaan iman dan suatu kelompok jemaat beriman tertentu yang yakin akan kebenaran dan kehidupan yang diterimanya dalam inkarnasi sang sabda. Injil Yohanes terutama mau memperjelas dan merayakan apakah maknanya beriman pada Yesus (bdk 14:1, 10-11). Bagi orang kristen, Yoh 14:1-12 menegaskan pewahyuan khas Allah dalam inkarnasi sang sabda. Dengan demikian, Yoh 14:6 bisa dibaca sebagai inti pernyataan identitas Kristiani yang membedakannya dengan orang-orang yang beriman lain. Kesadaran akan kekhasan imannya sendiri akan mempersiapkan orang Kristen, dan juga semua agama, untuk berjumpa dan berdialog dalam kehidupannya sebagai manusia.

Kis 6:1-7

    • 1 Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari.
    • 2 Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: "Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja. 3 Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, 4 dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman."
    • 5 Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia. 6 Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itupun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka.
    • 7 Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.

Komentar

Dalam keseluruhan struktur Kisah Para Rasul, perikop ini berfungsi sebagai selingan yang menjadi transisi dari kisah sebelumnya menuju kisah selanjutnya. Lukas menggunakan episode ini untuk memperkenalkan unsur-unsur yang menjadi pemicu pergantian peristiwa yang menutup pewartaan di Yerusalem dan kemudian mulai dengan tahap pewartaan Gereja selanjutnya yang melampaui batas-batas wilayah Yerusalem.

Suatu perikop selingan juga menggarisbawahi pokok-pokok pembicaraan sebelumnya. Misalnya, perikop ini mengenal praktek sharing harta kekayaan yang khusus sehingga “tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka;” (3:34a), yang menunjukkan pada para pembaca cara hadirnya “kasih karunia yang melimpah-limpah” dalam jemaat (4:33b; bdk 2:47).

Tata cara baru diperkenalkan pada jemaat berkaitan dengan pesatnya pertumbuhan jemaat serta permasalahan supply and demand yang terjadi sebagai efek dari pertumbuhan itu. Suatu kelompok khusus – para janda di antara “kalangan orang-orang Yunani (the Helenist)” – terkena pengaruh yang kurang baik itu, dan kelalaian pelayanan atas mereka itu dicela oleh “kalangan orang-orang Ibrani (the Hebrews). Keadaan yang menimbulkan celaan itu tidak dinyatakan dalam Kis, dan maksud Lukas menampilkan kisah celaan dan solusinya ini nampaknya lebih terkait dengan soal praksis dan bukannya politis, yaitu bahwa ia mau lebih memperhatikan soal infrastruktur yang tidak efektif sehingga membuat tidak terpenuhinya kebutuhan kesejahteraan di antara jemaat.

Para rasul memahami asal muasal permasalahan tersebut dan mempunyai strategi pemecahan masalah yang efektif. Namun anehnya mereka menggunakan suasana konflik intern ini untuk mengingatkan seluruh jemaat bahwa panggilan mereka (para rasul) adalah untuk menjadi nabi seperti Yesus dan bukannya pelayan meja (6:2). Dengan demikian, permasalahan soal kesejahteraan para janda ini didefinisikan dengan dua cara : di satu sisi, anggota jemaat yang paling membutuhkan sudah dilalaikan; dan di sisi lain, para rasul menyadari bahwa mereka sendiri terlalu banyak menghabiskan waktu untuk permasalahan administratif dari pada dalam pelayanan sabda yang merupakan panggilan mereka (6:4; lih 1:8). Untuk memecahkan permasalahan ini, para rasul memanggil “semua murid” untuk memilih “tujuh orang dari antaramu” yang akan diberi tanggung jawab untuk tugas pelayanan itu (6:3). Ketujuh orang itu kemudian dihadapkan kepada rasul-rasul (6:6).

Kita coba melihat lebih dalam soal kriteria bagi tujuh orang pilihan itu. Kriteria yang ditetapkan adalah mereka terkenal baik, dan penuh Roh dan hikmat. Masing-masing atribut sangat diperlukan untuk ‘pelayanan meja’ dan juga menjadi pertanda kemampuan ketujuh orang itu dalam memimpin jemaaat. “Terkenal baik” menunjukkan reputasi yang baik berdasarkan “kesaksian” meyakinkan dari anggota jemaat lainnya; ini merupakan atribut penting dalam kepemimpinan jemaat (bdk Kis 15:14, 36). Kombinasi “penuh” dengan “Roh” menunjukkan bukti kematangan iman si calon (2:28) dan juga mengindikasikan kapasitasnya dalam tugas pewartaan. Karakteristik terakhir “bijaksana” mungkin menunjuk pada talena organisasional. Jika dihubungkan dengan “Roh” maka kombinasi ini menunjukkan otoritas spiritual.

Lukas menutup perikop ini dengan catatan optimistik : Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem pun makin bertambah banyak (6:7). Dengan demikian, pembaca diyakinkan bahwa permasalahan yang dihadapi itu sudah ditangani secara efektif sehingga pewartaan Yerusalem bisa meluas bahkan ke luar wilayah Yerusalem, seperti dikisahkan dalam perikop-perikop selanjutnya.

Dari penutup perikop itu perlu diperhatikan dua hal. Pertama, “firman Allah makin tersebar” merupakan personifikasi pewartaan injil para rasul dengan mengalihkan fokus pembaca dari kuasa dan otoritas mereka yang mewartakan (para rasul) menjadi kuasa dan otoritas yang diwartakan (sabda Allah). Dengan demikian, pembaca sudah disiapkan untuk lebih berfokus pada kemajuan pewartaan sabda Allah sampai ke ujung-ujung bumi, siapa pun yang mewartakannya.

Kedua, ayat itu juga menyatakan bahwa “sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya”. Berkaitan dengan keluhan sebelumnya dari para rasul berkaitan dengan institusi imamat di Yerusalem, frase ini awalnya mengejutkan pembaca karena sekaligus menegaskan pembalikan kepemimpinan religius di Israel. Namun penelitian lebih lanjut pada sejarah Israel menunjukkan suatu hal yang menggelitik dan bisa kita refleksikan lebih lanjut. Diperkirakan pada zaman itu ada 18.000 imam yang hidup di Yerusalem. Kebanyakan dari imam-imam itu hanya mempunyai tanggung jawab yang minim dalam pelayanan ibadat di Bait Allah dan minim mendapatkan sedikit penghormatan publik.  Sehingga, mereka pun hanya mendapatkan sedikit pendapatan saja. Ketertarikan kelompok semacam mereka ini pada gerakan Yesus menunjukkan bahwa pelayanan para rasul sungguh menyodok perasaan orang Yahudi tradisional. Dan kemungkinan juga, kalau boleh berpikiran nakal, mereka mau menjadi anggota jemaat karena akses yang lebih mudah pada bahan makanan. Hal ini juga mengindikasikan efek samping yang menguntungkan dari program kesejahteraan yang sekarang dijalankan oleh ketujuh diakon.

Point-point yang bisa direfleksikan

    • · “Timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani … karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari” (6:1)
    • · “Kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul” (6:2a)
    • · “Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja” (6:2b)
    • · “Pilihlah tujuh orang dari antaramu” (6:3)
    • · “Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak” (6:7)

Mzm 33:1-2,4-5,18-19

  • 1 Bersorak-sorailah, hai orang-orang benar, dalam TUHAN! Sebab memuji-muji itu layak bagi orang-orang jujur. 2 Bersyukurlah kepada TUHAN dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali!
  • 4 Sebab firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. 5 Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia TUHAN.
  • 18 Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya, 19 untuk melepaskan jiwa mereka dari pada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.

1Ptr 2:4-9

  • 4 Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah. 5 Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.
  • 6 Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: "Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan."
  • 7 Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: "Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan."
  • 8 Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Allah; dan untuk itu mereka juga telah disediakan. 9 Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.

Refleksi

Pernyataan tegas dalam 2:5, 9 bahwa dalam Kristus orang-orang Kristen mempunyai imamat rajani tidak secara langsung merupakan klaim tentang imamat atau tugas-tugas dalam kehidupan gereja (terlebih lagi jika klaim ‘rajani’ itu dihubungkan dengan realitas politis). Pernyataan itu bukan tentang bagaimana fungsi orang beriman dalam relasinya satu sama lain. Berdasarkan kitab keluaran, pernyataan tersebut adalah bahwa sebagaimana Allah memilih Harun sebagai imam bagi kemuliaan Allah, maka sekarang semua orang kristen juga dipanggil Allah. Panggilan itu adalah panggilan untuk mempersembahkan korban – namun dalam sudut pandang ini, yang dimaksud bukanlah korban di altar (baik korban binatang maupun ekaristi), tetapi korban ketaatan iman dan kehidupan penuh kasih yang sejalan dengannya.

Sebuah doa tradisional jemaat mengungkapkan motif ini : “Ya Allah, kami mempersembahkan diri kami dalam ketaatan pada-Mu, melalui persembahan sempurna putra-Mu, Yesus Kristus. Kami bersyukur pada-Mu karena Engkau telah memanggil kami ke dalam imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan-Mu sendiri. Dari-Mu sendiri, ya Allah, sang Pencipta, Penebus, dan Pengudus, segala berkat, hormat dan kemuliaan. Engkaulah sang penguasa hidup kami selama-lamanya. Amin.”

Dalam sejarah iman Kristiani, selalu terjadi ketegangan antara eklesiologi dan eskatologi – yaitu doktrin tentang Gereja dan doktrin tentang harapan akan kerajaan Allah di akhir zaman. Pertama, Petrus menggambarkan polaritas kehidupan kristiani berkaitan dengan eklesiologi dan eskatologi.

Di satu sisi, ada bahasa eklesiologis yang selalu diungkapkan dengan pembedaan ‘orang dalam’ (insider) dan ‘orang luar’ (outsider). Kami adalah bangsa terpilih, imamat rajani, umat kepunyaan Allah. Di luar kami, atau yang lain dari kami, hanya dipilih sebagai batu sandungan dan mereka pun terpisah dari Allah.

Di sisi lain, ada bahasa eskatologis, yaitu pembedaan tajam antara masa depan dan masa sekarang atau masa sekarang dengan kerajaan Allah yang sudah datang namun belum penuh. Bila kita ada dalam kegelapan, Allah memanggil kita menuju terang. Dst.

Dalam hal ini, pentinglah melihat kembali refleksi dalam bacaan Injil di atas. Dengan bahasa yang eklesiologis, kita merumuskan kekhasan identitas kita sebagai orang Kristen, pengikut Kristus. Sedangkan dalam bahasa yang eskatologis, tiap pribadi yang mempunyai identitas religius masing-masing saling berjumpa dalam kehidupan yang menantikan dan terarahkan pada Dia yang merajai alam semesta.

Dimas Danang A.W.

No comments