Header Ads

9. Kisah sungut-sungut, pemberontakan dan hukuman Tuhan


Pola kisah sungut-sungut dan pemberontakan bangsa Israel meliputi : (1) krisis yang dihadapi bangsa Israel; (2) tanggapan bangsa Israel pada krisis itu menantang validitas kepemimpinan Musa; (3) unsur pembalikan pembebasan, entah itu berupa keinginan bangsa itu untuk kembali ke Mesir ataupun berupa tuduhan terhadap Musa atau Musa dan Harun atas peran mereka dalam pembebasan; (4) tanggapan Musa (atau Musa dan Harun) dan tanggapan Allah[1]. Sesudah penetapan perjanjian Sinai, Allah menanggapi gerutuan dan keluhan bangsa Israel dengan menghukum mereka sebagai pemberontak. Krisis yang dihadapi bangsa Israel dalam pola kisah sungut-sungut tidak selalu berupa bahaya yang sedang dihadapi. Dalam kisah-kisah tertentu, krisis bisa berupa antisipasi pada krisis yang diperkirakan akan terjadi (misal, kisah para pengintai) maupun krisis yang terjadi karena hukuman Tuhan atas perilaku bangsa itu (misal, kisah ular tembaga). Pemberontakan-pemberontakan bangsa Israel juga dikaitkan dengan pola kisah sungut-sungut karena terjadi krisis otoritas dari bangsa itu pada kepemimpinan Musa dan kepemimpinan Tuhan (misal, kisah pemberontakan Korah, Dathan dan Abiram). Tema kisah sungut-sungut dan pemberontakan menampakkan karakter khas kepemimpinan Musa dan sekaligus menegakkan otoritas kepemimpinannya. Kisah pemberontakan Miryam dan Harun memberi nuansa tersendiri dalam menggambarkan karakter keutamaan Musa sebagai pemimpin bangsa.

9.1 Kisah sungut-sungut : Musa sebagai pengantara
Tema kisah sungut-sungut bangsa Israel didominasi oleh sumber tradisi J dan P[2]. Bagi J, ketokohan Musa merupakan hal yang sangat mendasar. Gaya kepemimpinan Musa mendominasi seluruh tema padang gurun dalam J. Sedangkan dalam P, hal itu tidak begitu jelas. Kepemimpinan Musa disandingkan dengan dengan Harun. Kepemimpinan mereka ada di balik dominasi Allah. Dalam P, bisa dikatakan bahwa Musa dan Harun sesungguhnya hanyalah karakter pendukung kisah tentang intervensi dan kepemimpinan Allah di padang gurun[3]. Kombinasi J dan P dalam teks yang diterima saat ini dengan demikian bisa dipandang sebagai dimensi ilahi dan manusiawi dari kepemimpinan bangsa Israel yang diemban dalam perutusan Musa. Dimensi ilahi nampak jelas dalam dominasi Allah. Sedangkan dimensi manusiawi nampak dalam penonjolan ketokohan Musa. Ketokohan Musa yang paling nampak dalam kisah-kisah gerutuan itu adalah segi yang menggambarkan Musa sebagai pengantara[4]. Meskipun terjadi beberapa pemberontakan dari bangsa Israel terhadap kepemimpinannya, namun Musa tetap membela bangsanya di hadapan rencana Tuhan yang mau menghukum mereka. Dalam proses itu, Musa mempertaruhkan kedudukan dan hidupnya sendiri di hadapan Allah[5].

Kisah para pengintai (Bil 13-14) menonjolkan kualitas kepemimpinan Musa sebagai pengantara. Musa mengutus seorang anggota dari masing-masing suku untuk memasuki tanah terjanji dan menentukan kubu pertahanan dan kualitas negeri itu (13:17-20)[6]. Para pengintai kembali dengan hasil positif tentang kualitas negeri itu (13:23). Hal ini ditegaskan dengan sebutan : negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya (bdk ay 27). Namun para pengintai juga melaporkan catatan negatif tentang kubu pertahanan negeri itu (ay 28). Kaleb berusaha menenteramkan hati bangsa itu bahwa kemenangan tetap ada dalam genggaman mereka. Namun para pengintai yang lain menekankan hal sebaliknya. Bab 14 menggambarkan tanggapan bangsa itu : “Segenap umat itu mengeluarkan suara nyaring dan bangsa itu menangis pada malam itu. Bersungut-sungutlah semua orang Israel kepada Musa dan Harun”. Pola tema sungut-sungut dalam kisah ini berbeda dengan kisah lain. Gerutuan itu tidak muncul sebagai tanggapan atas suatu krisis di padang gurun namun lebih sebagai antisipasi atas krisis yang belum dihadapi[7]. Ay 2 menempatkan tema dominan gerutuan. Kematian di Mesir maupun di padang gurun dirasa lebih baik dari pada kematian yang akan mereka hadapi ketika bertemu orang Kanaan. Orientasi anti-keluaran nampak jelas dalam adegan itu[8]. Ay 4 lalu menghubungkan tema ini secara eksplisit dengan kepemimpinan Musa : “Baiklah kita mengangkat seorang pemimpin, lalu pulang ke Mesir.” Bahkan bangsa itu memaklumkan ancaman untuk melempari batu mereka yang tidak setuju dengan pemberontakan itu.


Oposisi pada kepemimpinan Musa mencapai titik puncaknya. Pemberontakan itu hanya bisa diatasi dengan intervensi Tuhan sendiri[9]. Intervensi itu datang dalam penampakan ‘kemuliaan (k¹bœd) Tuhan’ di kemah pertemuan. Allah bermaksud untuk melenyapkan bangsa itu dan memulainya lagi secara baru dengan garis keturunan Musa. Musa menanggapi rencana Allah itu dengan mengantarai permohonan pengampunan bagi Israel. Dasar permohonan Musa adalah demi reputasi Tuhan di hadapan bangsa-bangsa lain, demi sifat dasar Allah, yaitu ‘kasih setia yang besar’ (Kügöºdel Has•Deºkä), dan juga demi sumpahNya pada saat peristiwa keluaran[10]. Tuhan pun mengubah rencanaNya. Para pemberontak tidak akan mati seketika itu juga, namun mereka kehilangan hak untuk mewarisi tanah terjanji.

Kepengantaraan Musa juga ditonjolkan dalam Bil 11:1-3 ketika bangsa itu mengeluh tentang hal yang buruk dalam mendengarkan Tuhan (Kümit•´öºnünîºm ra` Bü´oz•nê ´ädönäy). Karena keluhan itu, “Api Tuhan membakar mereka dan menghanguskan perkemahan”. Perikop ini nampaknya disusun untuk mengisahkan asal usul nama tempat, Tab•`ërâ, yang berasal dari kata b¹±ar (: membakar). Meskipun demikian, perikop ini juga menonjolkan ketokohan Musa[11]. Dalam ay 2, bangsa itu berseru (wayyic•`aq) pada Musa, dan Musa kemudian menyerukannya (wayyit•Pallël) pada Tuhan. Karena pembelaan Musa itu, krisis terhenti. Pola yang sama, dengan sedikit perluasan dan modifikasi, juga muncul dalam Bil 21:4-9 tentang hukuman Allah berupa ular tedung. Dalam kisah ini, tidak ada krisis yang menimbulkan gerutuan; namun justru gerutuanlah yang membuat Allah mengirimkan krisis itu sebagai hukuman[12]. Bangsa itu memohon pertolongan pada Musa yang kemudian mengantarai permohonan itu pada Allah.

9.2 Pemberontakan Korah, Dathan dan Abiram (Bil 16)
Bilangan 16 ini mengisahkan suatu krisis otoritas klasik. Ada dua kelompok pemberontak yang berbeda dengan alasan dan hukuman yang juga berbeda[13]. Kelompok pemberontak pertama adalah sekelompok orang Lewi yang dipimpin oleh Korah. Mereka menggugat otoritas para imam dan ingin menghapuskan pola hirarkis yang didasarkan pada kekudusan[14]. Karena Allah adalah pencipta imamat, maka meskipun ditujukan pada pimpinan institusi hirarkis, protes itu tertuju langsung pada Allah. Ini adalah perkara yang serius. Mereka menerima anugerah kudus namun mereka mengubahnya untuk melawan Tuhan[15]. Maka api suci menghanguskan mereka (Bil 16:35).

Kelompok pemberontak kedua dipimpin oleh Dathan dan Abiram. Mereka adalah kaum awam dari suku Ruben[16]. Ketika Musa mengundang untuk berdialog, Datan dan Abiram tidak mau datang. Mereka malah menuduh : “Belum cukupkah, bahwa engkau memimpin kami keluar dari suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya untuk membiarkan kami mati di padang gurun, sehingga masih juga engkau menjadikan dirimu tuan atas kami?” (Bil 16:12-13). Sebutan ‘negeri yang berlimpah susu dan madunya’ adalah rumusan klasik untuk menggambarkan tanah terjanji. Namun para pemberontak menggunakan sebutan itu dan menerapkannya bagi Mesir, negeri penindasan dan perbudakan, pembunuhan masal dan kerja paksa[17]. Itu merupakan penghujatan. Mesir bukanlah dan tidak pernah bisa menjadi ‘tanah terjanji’. Tuduhan-tuduhan selanjutnya menggugat otoritas kepemimpinan Musa dan juga menggugat karya pembebasan yang diembannya.

Kepemimpinan Musa berasal dari Allah sendiri. Maka, memberontak melawan Musa sama saja dengan memberontak melawan Allah[18]. Dalam kisah Korah, Dathan dan Abiram, hukuman bagi para pemberontak sekaligus juga menegakkan otoritas kepemimpinan Musa atas bangsa itu dan sekaligus juga institusi yang mendukungnya : “Dari hal inilah kamu akan tahu, bahwa aku diutus TUHAN untuk melakukan segala perbuatan ini, dan hal itu bukanlah dari hatiku sendiri : jika orang-orang ini nanti mati seperti matinya setiap manusia, dan mereka mengalami yang dialami setiap manusia, maka aku tidak diutus TUHAN … ” (Bil 16:31-32). Ketika hukuman bagi para pemberontak itu terlaksana, jelaslah bahwa posisi Musa di hadapan bangsa Israel disahkan[19].

[1] G.W. Coats, Moses: Heroic Man, Man of God, JSOT Supplement Series 57, Sheffield Academic Press, Sheffield 1988, 109
[2] G.W. Coats, Moses: Heroic Man, Man of God, 117
[3] G.W. Coats, Moses: Heroic Man, Man of God, 124
[4] James Muilenburg, ‘Intercession of the Covenant Mediator’, dalam Word and Meanings; Essays Presented to David Winton Thomas (Cambridge: Cambridge University Press, 1968), hal 159-83 seperti dikutip dalam G.W. Coats, Moses: Heroic Man, Man of God, 110
[5] G.W. Coats, Moses: Heroic Man, Man of God, 111
[6] G.W. Coats, Moses: Heroic Man, Man of God, 121
[7] G.W. Coats, Moses: Heroic Man, Man of God, 121
[8] Martin Noth, A History of Pentateuchal Traditions, Englewood Cliffs, Prentice-Hall 1972, 273
[9] G.W. Coats, Moses: Heroic Man, Man of God, 122
[10] G.W. Coats, Moses: Heroic Man, Man of God, 111
[11] G.W. Coats, Moses: Heroic Man, Man of God, 115
[12] G.W. Coats, Moses: Heroic Man, Man of God, 115-116
[13] L.A. Schökel – G. Gutiérrez, Moses : His Mission, Biblical Meditations (translated by Dinah Livingstone), St. Paul Publications, Middlegree 1990, 64
[14] L.A. Schökel – G. Gutiérrez, Moses : His Mission, Biblical Meditations, 64
[15] L.A. Schökel – G. Gutiérrez, Moses : His Mission, Biblical Meditations, 67
[16] L.A. Schökel – G. Gutiérrez, Moses : His Mission, Biblical Meditations, 64
[17] L.A. Schökel – G. Gutiérrez, Moses : His Mission, Biblical Meditations, 69
[18] G.W. Coats, Moses: Heroic Man, Man of God, 110
[19] G.W. Coats, Moses: Heroic Man, Man of God, 110

No comments