Header Ads

1. Bersama Musa, Kita belajar menjalani panggilan dan perutusan kita



1.1 Usaha memahami teks Kitab Suci dalam konteks hidup zaman sekarang
Hidup manusia tidak dapat dipisahkan dari kata dan bahasa. Manusia mengungkapkan diri, berkomunikasi, mengerti dan memahami diri dan dunianya dengan, melalui dan dalam bahasa, baik verbal maupun non verbal. Seluruh misteri pewahyuan Allah kepada manusia disampaikan dan diterima manusia melalui kata dan bahasa[1]. Konsili Vatikan II dalam Dei Verbum artikel 11 mengatakan bahwa “yang diwahyukan oleh Allah dan yang termuat serta tersedia dalam Kitab Suci telah ditulis dengan ilham Roh Kudus.” Sebab, Gereja memandang Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru secara keseluruhan dikarang oleh Allah sendiri. Dalam mengarang Kitab-kitab Suci itu, Allah memilih orang-orang untuk menggunakan kecakapan dan kemampuannya dalam menuliskan kehendakNya. Karena itu, kata atau sabda yang termuat di dalamnya disebut suci, sabda Allah.

Kekuatan dinamis sabda Allah dalam Kitab Suci membawa umat pada pemahaman akan Yesus Kristus secara penuh. Hal ini ditegaskan Konsili Vatikan II dalam Dei Verbum artikel 25 : “Gereja menasihati seluruh umat Kristen dengan sangat, agar melalui pembacaan Kitab Suci orang sampai pada pengenalan akan Yesus Kristus secara penuh.” Begitu besarnya daya dan kekuatan sabda Allah, maka Gereja tak henti-hentinya menghimbau dan mengajak umat untuk rajin membaca Kitab Suci. Namun perlu juga disadari bahwa sebagai teks, teks Kitab Suci terikat pada situasi dan zaman tertentu. Maka, harus disadari kenyataan bahwa dalam peredaran zaman, kata-kata dan rumusan dapat memperoleh arti dan maksud yang lain. Dan harus disadari pula bahwa iman tidak hanya menyangkut kata atau rumus, melainkan fakta dan pengalaman[2]. Kitab Suci mengandung kekayaan iman yang bisa dipahami, digali dan dihidupi dalam konteks hidup zaman sekarang ini. Demikian juga dikatakan oleh Yesaya : “Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya” (Yes 40:8). Maka, yang perlu diusahakan adalah pemahaman akan teks Kitab Suci dalam konteks hidup zaman sekarang ini. Dalam usaha inilah, Seri tulisan ini disusun.



1.2 Musa : inspirasi dan pedoman hidup di zaman sekarang
Konferensi Wali Gereja Indonesia, dalam Nota Pastoralnya “Keadaban Publik : membangun habitus baru bangsa, sebuah tinjauan sosio-budaya” yang diterbitkan bulan November 2004, melihat bahwa masalah serius yang dihadapi masyarakat Indonesia adalah persoalan rusaknya keadaban public (public civility). Dengan istilah ini, mau diungkapkan bahwa masalah yang kita hadapi bukan hanya soal sekitar pribadi, sekitar bagaimana menjadi manusia yang berperilaku baik, tetapi lebih-lebih bagaimana dengan mengusahakan hal yang baik secara orang-perorangan, sekaligus juga diciptakan iklim, lingkungan dan suasana yang kondusif bagi kesejahteraan bersama. Dalam situasi dan kebutuhan masyarakat yang demikian, dibutuhkan pribadi kuat yang berani menghidupi budaya alternatif sehingga bisa memperbesar lingkaran pengaruhnya bagi yang lain. Pribadi kuat macam ini harus mempunyai jiwa kepemimpinan yang, sebagai orang beriman, dihidupi dalam relasi akrab dengan Tuhan. Hal inilah yang secara khas dihidupi oleh Musa, seorang tokoh Kitab Suci. Karena kekhasannya itulah, maka tokoh Musa menjadi tema bahasan dalam Seri tulisan ini.

Musa adalah tokoh sentral dalam pembentukan bangsa Israel dan juga Yahwisme. Ia memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir, berjalan menuju tanah terjanji dan mendidik bangsa itu menjadi umat Tuhan. Dalam menjalankan peran ini, Musaimages_006 mengalami pergulatan hidup yang dahsyat dengan dirinya sendiri, bangsanya dan dalam lingkup alam semesta. Sebagai pribadi, ia adalah pribadi yang gelisah yang tidak lepas dari keraguan, kekecewaan dan rasa takut meksipun memiliki kualitas-kualitas pribadi yang terasah dengan baik. Bersama bangsanya, ia bergulat dan berkonflik di tengah krisis kepercayaan dan otoritas. Aturan-aturan dan hukum-hukum yang dilekatkan pada Musa menampakkan pergumulannya untuk mengkonkritkan visi keluaran dan martabat bangsa Israel sebagai bangsa perjanjian dalam tata sosial – yuridis yang menghormati alam semesta. Dalam pergulatan-pergulatan yang sangat menonjol dalam Pentateukh itu, tampillah integritas pribadi dan kekhasan ketokohan Musa. Semua tindakan dan keputusannya mengalir dari mutu relasinya dengan Allah. Karena itu, ia disebut sebagai hamba Tuhan : hidup karena diselamatkan Tuhan (Kel 2:1-10), dipanggil dan diutus Tuhan (Kel 2:23-4:19), berbicara sebagai teman dengan Tuhan (Kel 33:11) dan mati sesusai dengan firman Tuhan (Ul 34:1). Proses menjalani panggilan dan perutusannya menjadikan Musa bagian tak terpisahkan dari bangsanya. Ia menjadi wakil Israel di hadapan Tuhan, satu-satunya pengantara. Ia juga disebut sebagai penulis dan pengajar aturan dan hukum Allah bagi bangsa Israel. Meski awalnya diterima dengan berat hati, namun makin lama Musa makin mengidentifikasikan diri dengan karya yang dipercayakan Tuhan kepadanya.

Tokoh Musa tidak hanya menjadi figur sentral dalam Pentateukh, namun juga dalam tulisan-tulisan dari zaman selanjutnya. Memang, di luar Pentateukh, Musa jarang sekali disebut lagi dalam Kitab Suci berbahasa Ibrani[3]. Bahkan dalam Haggadah Paskah, yaitu upacara Paskah Yahudi yang berbicara mengenai Mesir dan Keluaran, Musa hanya disebut satu kali. Namun, ternyata Musa tidak pernah ditinggalkan sama sekali. Sampai sekarang, di setiap Sinagoga, selalu disimpan Kitab Hukum, Pentateukh, yang disebut juga Kitab Musa. Padahal, tulisan-tulisan lain tidak diperlakukan demikian. Memang dalam Kitab hukum itu, tidak pernah disebutkan bahwa Musalah yang membuat aturan dan hukum tersebut. Musa hanya disebut sebagai yang menuliskannya bagi Israel atas perintah dan petunjuk Tuhan. Musa sebagai hamba Tuhan ‘hanya’ menjalankan segala yang diperintahkanNya. Subyek dari semua karya besar bagi bangsa Israel adalah Allah sendiri. Musa tersembunyi di belakang karya Allah[4].

Perjanjian Baru lebih dari 80 kali menyebut Musa. Jumlah itu menunjukkan betapa Musa menjadi pusat perhatian para penulis, khususnya sebagai tipe bagi Yesus[5]. Para Bapa Gereja juga banyak berbicara mengenai Musa. Yustinus Martir banyak mengutip dan bicara tentang Musa. Gregorius dari Nissa menulis buku De Vita Moysis yang bicara tentang kehidupan Musa. Bahkan dalam literatur teolog modern, Henry de Lubac dan Jean Danielou, Musa dibicarakan. Karya mereka Sources Chretiennes yang terbit pada tahun 1943 diawali dengan hidup Musa yang ditampilkan sebagai kesempurnaan Kristen. Philo, seorang Yahudi pendahulu Gregorius dari Nissa, menulis mengenai kehidupan Musa dengan mendasarkan diri pada semua tradisi. Bagi orang Yunani, ia menampilkan Musa sebagai filsuf terbesar yang hidup sebelum zaman Plato dan Homeros. Tradisi rabbinis, khususnya sesudah zaman Yesus, juga banyak bicara tentang Musa. Sedikit demi sedikit, Musa menjadi tokoh rabinisme yang tetap bertahan sesudah Kenisah hancur. Seluruh tradisi Yahudi modern hidup berdasarkan Musa. Ada banyak reinterpretasi secara midrash yang sangat bagus mengenai Musa[6].

I. Suharyo, dalam pengantar terjemahan Indonesia buku Kardinal Martini, Menghayati Misteri Paska : Melalui Musa menuju Yesus, yang diterbitkan Kanisius, mengatakan bahwa “perjuangan hidup Musa ini menerangkan pergulatan hidup kita sendiri.” Ditambahkan bahwa “melihat secara lebih mendalam pergulatan hidup Musa bisa memberikan pedoman bagi kita untuk menilai dan bersikap dalam keadaan-keadaan hidup kita sekarang ini.” Inilah yang mau dilihat secara mendalam dalam tulisan ini, yaitu bagaimana Musa menjalani panggilan dan perutusannya untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir, berjalan menuju tanah terjanji dan mendidik bangsa itu menjadi umat Tuhan. Hal ini bisa memberikan pada kita inspirasi dan pedoman dalam menghidupi kepemimpinan yang dibutuhkan zaman sekarang ini, khususnya dalam konteks Indonesia.

[1] E. Martasudjita, Pengantar Liturgi, Kanisius, Yogyakarta 1999, 177-178
[2] T. Jacobs, Imanuel : Perubahan dalam Perumusan Iman akan Yesus Kristus, Kanisius, Yogyakarta 2000, 30
[3] Kardinal C.M. Martini, Menghayati Misteri Paska : Melalui Musa Menuju Yesus (terj), Kanisius, Yogyakarta 1989, 96
[4] Kardinal C.M. Martini, Menghayati Misteri Paska, 97
[5] Kardinal C.M. Martini, Menghayati Misteri Paska, 9
[6] Kardinal C.M. Martini, Menghayati Misteri Paska, 10

No comments