Header Ads

Minggu, 13 Oktober 2013


Hari Minggu Biasa XXVIII/C
   
Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. --- 1Tes 5:18
   
Antifon Pembuka (lih. Mzm 129[130]:3-4.1-2, Mode III)
Jika Engkau menghitung-hitung kesalahan, ya Tuhan, siapakah dapat bertahan? Tetapi syukurlah Engkau suka mengampuni.
    
 
Doa Pagi
Allah Bapa kami yang mahabaik, kebaikan-Mu tak ternilai oleh emas atau uang. Hanya mereka yang rendah hati yang Kauberi cinta kasih sepenuhnya. Bebaskanlah kami dari kesombongan dan ketinggian hati. Sentuhlah kami dengan tangan belas kasih-Mu. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dan Roh Kudus, kini, dan sepanjang segala masa. Amin.


Bacaan I
Bacaan dari Kitab Kedua Raja-Raja (2Raj 5:14-17)  
"Naaman kembali kepada Elisa, abdi Allah, dan memuji Tuhan."
   
Sekali peristiwa turunlah Naaman, panglima raja Aram, ke Sungai Yordan, lalu membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai itu, sesuai dengan perkataan Elisa, abdi Allah itu. Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak, dan ia menjadi tahir. Kemudian kembalilah ia dengan seluruh pasukannya kepada abdi Allah itu. Sesampai di sana majulah ia ke depan Elisa dan berkata, “Sekarang aku tahu bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Karena itu, terimalah kiranya suatu pemberian dari hambamu ini!” Tetapi Elisa menjawab, “Demi Tuhan yang hidup, yang aku layani, aku tidak akan menerima apa-apa.” Walaupun Naaman mendesaknya, Elisa tetap tidak mau menerima sesuatu. Akhirnya berkatalah Naaman, “Jikalau demikian, berikanlah kepada hambamu ini tanah sebanyak dapat diangkut oleh sepasang bagal, sebab hambamu ini tidak lagi akan mempersembahkan kurban bakaran atau kurban sembelihan kepada allah lain, kecuali kepada Tuhan.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.



Mazmur Tanggapan, do = c, 4/4, PS 807
Reff.: Segala ujung bumi melihat keselamatan yang datang dari Allah kita.
Ayat. (Mzm 98:1.2-3ab.3cd-4; R: 2b)
  1. Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan, sebab Ia telah melakukan karya-karya yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus.
  2. Tuhan telah memperkenalkan keselamatan yang datang daripada-Nya, Ia telah menyatakan keadilan-Nya di hadapan para bangsa. Ia ingat akan kasih setia-Nya terhadap kaum Israel.
  3. Segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang datang dari Allah kita. Bersorak-sorailah bagi Tuhan, hai seluruh bumi, bergembiralah dan bermazmurlah!
 
Bacaan II
Bacaan dari Surat kedua Rasul Paulus kepada Timotius (2Tim 2:8-13)     
"Jika kita bertekun, kita pun akan memerintah dengan Kristus."
   
Saudaraku terkasih, ingatlah akan ini: Yesus Kristus, keturunan Daud, yang telah bangkit dari antara orang mati, itulah yang kuberitakan dalam Injilku. Karena pewartaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi sabda Allah tidak terbelenggu. Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka pun memperoleh keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal. Benarlah sabda ini, “Jika kita mati dengan Kristus, kita pun akan hidup dengan Dia. Jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia. Jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita. Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.



Bait Pengantar Injil, do = es, 2/2, Kanon, PS 955
Reff.: Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (1Tes 5:18; 2/4): Bersyukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah bagimu dalam Kristus Yesus.


Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (Luk 17:11-19)
"Tidak adakah yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?"
 
Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem, Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Yesus lalu memandang mereka dan berkata, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara dalam perjalanan, mereka menjadi tahir. Seorang di antara mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu seorang Samaria. Lalu Yesus berkata, “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?” lalu Yesus berkata kepada orang itu, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!


 
Renungan
Seorang ibu telah memiliki tiga anak perempuan. Tetapi, keluarga besar yang mengutamakan kaum lelaki masih menuntut lahirnya anak laki-laki darinya. Hal ini mendorong ibu itu berdoa, mohon dikaruniai anak lelaki. Beberapa waktu kemudian lahirlah bayi laki-laki dari padanya.

Sebagai ungkapan syukur, sang ibu mendidik anaknya sebaik mungkin. Si kecil pun bertumbuh, kini ia menjadi seorang frater. “Agar nanti bisa berkarya untuk sesama, untuk dirinya sendiri dan menjadi alat pewarta cinta bagi Tuhan,” kata ibunya. Bagi ibu ini, bersyukur bukan sekadar ucapan terima kasih di bibir. Bersyukur melibatkan hati beriman, karena ia percaya bahwa anugerah yang diterima, bukan hasil usaha sendiri. 

Injil hari ini berbicara tentang sepuluh orang kusta yang disembuhkan Tuhan Yesus. Darinya, hanya seorang Samaria yang kembali untuk bersyukur dan memuliakan Allah. Sembilan orang kusta lain, tidak kembali. Kepada orang Samaria itu Tuhan memberkati, “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Luk 17:19). Sikap bersyukur ada gandengannya dengan iman. Semakin orang beriman mendalam, semakin orang mampu bersyukur. Orang beriman adalah orang yang melibatkan Tuhan dalam kehidupannya. Ia tidak sendiri, ada Tuhan yang hidup di hati. Kesatuan Tuhan Yesus itulah yang menjiwai tindakan dan berbuah keselamatan. 

Berkat keselamatan itu telah diberikan kepada si Samaria. Berkat itu tidak diberikan kepada sembilan orang lainnya, karena iman mereka hanya sampai di tingkat “kesembuhan”. Sesudah sembuh, hubungan dengan Tuhan selesai dan nanti minta-minta lagi kalau ada keperluan. Tingkatan ini tidak membawa orang kepada keselamatan. Hal ini menjadi kritik bagi kita yang sering hanya puas dengan pemberian-Nya. Maka, permohonan atas kesembuhan, rezeki, lapangan kerja, lulus ujian, mendapatkan pasangan hidup atau selamat dari bencana tetap boleh disampaikan pada Tuhan. Tetapi, jika permohonan itu dikabulkan, harus menjadi jalan untuk lebih beriman kepada Tuhan, seperti diteladankan orang Samaria. 

Sulitnya, orang modern sering menganggap semuanya terjadi atas usaha sendiri. Hari ini kita diajak tetap berusaha, sambil setia meminta pada Tuhan, lalu bersyukur dan beriman pada-Nya.

No comments