Header Ads

Rabu, 31 Juli 2013


Peringatan Wajib St. Ignatius dari Loyola
“Roti itu satu; maka kita walaupun banyak, tetapi satu Tubuh. Maka dari itu, engkau diajarkan untuk menghargai kesatuan. Bukankah roti dibuat tidak dari satu butir gandum, melainkan banyak butir? Namun demikian, sebelum menjadi roti butir-butir ini saling terpisah, tetapi setelah kemudian menjadi satu dalam air setelah digiling…[dan menjadi roti]” --- St. Agustinus


Antifon Pembuka (Flp 2:10-11)
Dalam nama Yesus hendaknya setiap makhluk di surga, di bumi dan di bawah bumi bertekuk lutut. Dan demi kemuliaan Bapa hendaknya setiap lidah mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan.


Doa Pagi
Allah Bapa kami yang mahabaik, syukur atas sabda-Mu di mana kami boleh bertumbuh dalam iman. Lewat Sabda-Mu kami dapat menimba kekayaan rahmat-Mu. Bapa, biarlah Firman-Mu menjadi sumber perekat bagi semua orang yang tergabung dalam pewartaan Gereja, di mana kami juga boleh terlibat dalamnya. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Bacaan I
Bacaan dari Kitab Keluaran (34:29-45) 
"Melihat wajah Musa, orang-orang Israel takut mendekat."
 
Ketika Musa turun dari Gunung Sinai dengan membawa kedua loh hukum Allah, ia tidak tahu bahwa kulit wajahnya bercahaya kareana ia telah berbicara kepada Tuhan. Dan ketika Harun dan semua orang Israel melihat Musa, tampaklah kulit wajahnya bercahaya. Maka mereka takut mendapati dia. Tetapi Musa memanggil mereka. Lalu Harun dan para pemimpin jemaah datang kepadanya dan Musa berbicara kepada mereka. Sesudah itu mendekatlah semua orang Israel lalu disampaikannyalah kepada mereka segala perintah yang diucapkan Tuhan kepadanya di atas Gunung Sinai. Setelah Musa selesai berbicara dengan mereka, diselubunginyalah wajahnya. Tetapi apabila Musa masuk menghadap Tuhan untuk berbicara dengan Dia, ditanggalkannyalah selubung itu sampai ia keluar. Dan apabila keluar, ia menyampaikan kepada orang Israel apa yang diperintahkan kepadanya. Apabila orang Israel melihat bahwa kulit wajah Musa bercahaya, maka Musa menyelubungi wajahnya kembali sampai ia masuk menghadap untuk berbicara dengan Tuhan.
Demikianlah sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah.



Mazmur Tanggapan
Reff. Kuduslah Tuhan, Allah kita.
Ayat. (Mzm 99:5.6.7.9)
  1. Tinggikanlah Tuhan, Allah kita, dan sujudlah menyembah kepada tumpuan kaki-Nya! Kuduskanlah Ia!
  2. Musa dan Harun di antara imam-imam-Nya, dan Samuel di antara orang-orang yang menyerukan nama-Nya. Mereka berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawab mereka.
  3. Dalam tiang awan Ia berbicara kepada mereka; mereka telah berpegang pada peringatan-peringatan-Nya, dan pada ketetapan yang diberikan-Nya kepada mereka.
  4. Tinggikanlah Tuhan, Allah kita, dan sujudlah menyembah di hadapan gunung-Nya yang kudus! Sebab kuduslah Tuhan, Allah kita!
Bait Pengantar Injil do = g, 2/4, PS 952
Reff. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (1Yoh 2:5): Sempurnalah cinta Allah dalam hati orang yang mendengarkan sabda Kristus.


Bacaan Injil
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (13:44-46) 
"Ia menjual seluruh miliknya, lalu membeli ladang itu."
 
Sekali peristiwa Yesus mengajar orang banyak, "Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Karena sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya, lalu membeli ladang itu. Demikian pula hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

 
Renungan
Setiap orang yang mau berdagang harus punya modal. Dengam modal yang ada, dia dapat berdagang dan memperoleh keuntungan. Inilah dinamika kehidupan seorang pedagang. 

Lain halnya ketika kita mencari modal keselamatan di dalam Yesus Kristus. Dalam hal ini kita dapat belajar dari St. Ignasius dari Loyola. Seorang tentara yang gagah perkasa membela negaranya, Spanyol, ini akhirnya takluk kepada Kristus dan bala tentara keselamatan Kerajaan Allah. Peristiwa perang yang membuatnya cacat telah mengubah jalan hidupnya. Ketekunan membaca Kitab Suci sungguh menjadi modal keselamatan. Ia lantas memusatkan hidupnya untuk menjadi tentara Kristus. Selanjutnya ia mendirikan Serikat Yesus dan memiliki ketaatan kepada Paus. 

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita akan pentingnya modal keselamatan. Hal Kerajaan Surga seumpama harta terpendam dan mutiara yang indah. Seorang petani harta ini akan menjual seluruh miliknya untuk mendapatkan ladang itu. Seorang pedagang akan menjual semua kekayaannya untuk mendapatkan mutiara yang sangat indah. Itulah pengorbanan yang harus dilakukan. 

Kalau demi harta duniawi saja orang berani berkorban, apalagi untuk mendapatkan harta surgawi. Namun, kenyataannya justru banyak orang lupa akan hal ini. Banyak orang malah berlomba-lomba untuk mendapatkan harta duniawi dengan berbagai cara ketimbang mengejar harta surgawi. Modal dunia mereka dapatkan, tetapi modal keselamatan mereka abaikan. 

Bagi banyak orang, kekayaan yang melimpah itu jaminan hidup. Padahal, tidak demikian. Kekayaan yang hanya untuk memuliakan diri sendiri akan mengantar orang kepada kehancuran. St. Ignasius dari Loyola memberikan bukti bagi kita. Lewat hidup dan pelayanannya dia mampu mengantar banyak orang kepada keselamatan di dalam Kristus, Tuhan. Karena itu, hidup di dunia ini hanyalah sebuah persiapan untuk menggapai kepenuhan hidup bersama Kristus. 

Lewat perumpamaan hari ini kita juga diingatkan akan bagaimana peziarahan hidup di dunia ini mesti kita jalani. Tuhan memberikan cara, yaitu dengan menjual harta milik. Artinya, kita mesti sungguh-sungguh berserah kepada Tuhan dan tidak terikat kepada dunia. Dengan demikian, kita beroleh modal keselamatan.

No comments