Header Ads

Bab 6 - Injil “Sakramental” St. Yohanes

Injil menurut St. Yohanes, yang ditulis sekitar 65 tahun sesudah kehidupan Yesus di dunia ini, ditujukan bagi orang-orang beriman Kristiani yang sungguh mengenal Injil-injil Sinoptik. Dengan demikian, penulis injil mengandaikan adanya pengetahuan umum tentang Yesus, dan hanya memilih beberapa peristiwa khusus yang secara dramatis disusun untuk menyampaikan pada para pembaca wawasan yang lebih mendalam dan lebih jelas pada pribadi Yesus dan perutusannyta. Yoahnes juga menempatkan sebuah tekanan kuat pada peristi-peristiwa kehidupan Kristus yang menandakan kehidupan sakramental Gereja, karena ia menulis bagi pendengar Kristiani yang sudah bergantung pada pembaptisan bagi kehidupan mereka, dan Ekaristi bagi makanan kehidupan tersebut.

Misalnya, satu-satunya informasi dalam ketiga Injil Sinoptik tentang baptisan adalah satu ayat yang memerintahkannya (Mat 28:19), dan tentang Ekaristi adalah ayat-ayat tentang kisah penetapannya (Mrk 14:22dst). Dalam Injilnya, Yohanes memberikan pendasaran bagi penetapan ini. Meskipun tidak menyebutkan halnya secara langsung, namun Yohanes memberikan latar belakang dan makna yang kaya tentang baptisan (dalam pembicaraan tentang air hidup dan kelahiran kembali dalam bab 3, 4, 7, 13) dan Ekaristi (dalam pembicaraan tentang pokok anggur yang benar dalam bab 2 dan 15, dan dalam pembicaraan tentang roti hidup dalam bab 6). Yohanes juga menunjukkan sumber pokok bagi kedua sakramen ini dalam Yoh 19:34: “dan segera mengalir keluar darah dan air” lambung Yesus yang ditikam – darah dan air merupakan simbol dari kehidupan baru dalam Roh, yang diberikan melalui Ekaristi dan Baptis. Yohanes juga memberikan kepada kita informasi yang paling jelas tentang sakramen Rekonsiliasi atau pengampunan dosa dalam 20:22dst.

Rm. Raymond Brown, seorang ahli Kitab Suci yang tersohor, mengingatkan pada kita bahwa keseluruhan dasar teologis dari sistem sakramental ditemukan dalam tulisan-tulisan Yohanes : Firman telah menjadi manusia (1:14) untuk mengalahkan dunia (atau perbuatan) kedagingan kita yang karena dosa manusia menjadi berada dalam kuasa Setan (1Yoh 5:19). Yesus mengalahkan Setan (12:31; 16:33), namun perkembangan kemenangan ini dalam sejarah, penaklukan kembali dunia kedagingan kita bagi Kristus, adalah karya Gereja (17:15 dst; 1Toh 5:4). Dan dalam penaklukan kembali itu, dengan irony ilahi, dalam sakramen-sakramen itu, hal-hal biasa dari dunia ini, roti dan air dan anggur, menjadi sarana bagi kehidupan ilahi (4:14; 6:52).

clip_image001Dalam beberapa perikop, Yohanes mengembangkan beberapa gagasan sekaligus dan sehingga dalam satu perikop tersebut ada beberapa tema. Demikian juga, selalu terjadi permainan atas berbagai makna dari suatu kata yang digunakan oleh Yesus. Yohanes seringkali mengajak pembaca untuk melihat beberapa lapisan makna dalam kisah ataupun perumpamaan yang sama. Rm. Brown menerangkan bahwa hal itu terjadi karena adanya : (a) suatu makna harfiah secara historis, suatu makna yang berakar pada konteks historis pada zaman Yesus waktu itu. Pendengar yang mendengarkan Yesus dan memberikan kesaksian atas tindakan Yesus tersebut akan memahami kata-katanya berdasarkan latar belakang mereka sendiri; (b) suatu makna harfiah yang lebih penuh, yang dimaksudkan oleh pengarang, yang kemudian bisa dilihat oleh komunitas beriman Kristiani. Karena pewartaan Kristus disampaikan dan diajarkan pada zaman Gereja perdana, dan juga senantiasa didoakan dalam liturgi, implikasinya secara bertahap terbuka; dan orang-orang Kristiani pun akan memahami apa yang dimaksudkan oleh Yesus lebih dalam dari pada mereka yang pertama kali mendengarnya di Galilea dan Yerusalem.

Sering kali, hal itu merupakan sebuah pencarian tentang pengertian yang lebih mendalam akan perutusan Yesus, misalnya, soal apa yang dimaksudnya sebagai Bait Allah yang disebutNya akan diruntuhkan dan dibangun kembali dalam tiga hari adalah tubuhNya sendiri (Yoh 2:20).

Dalam kesempatan lain, hal itu merupakan sebuah pencarian untuk memahami ajarah Yesus tentang Gereja dan sakramen-sakramen. Suatu jemaat Kristiani yang telah menerima sakramen-sakramen ini akan melihat makna terdalam dari sabda Yesus soal “air yang menghidupkan” dan “roti kehidupan” (selebihnya, lihat bawah).

Yohanes hanya menyebutkan tujuh mukjizat yang dibuat Yesus dalam karya publiknya, yang disebutnya sebagai “tanda-tanda ajaib.” Bagi Yohanes, mukjizat merupakan sebuah tanda yang menunjukkan suatu hal tentang perutusan Kristus pada mereka yang melihatnya, dan bagi pembaca Kristiani selalu menunjukkan suatu hal yang lebih dalam lagi, yaitu Gereja yang melanjutkan perutusan Kristus. Dengan demikian, mukjizat air yang berubah menjadi anggur di Kana, penyembukan putra pegawai istana, penyembuhan orang sakit lumpuh di kolah Bezatha, penggandaan roti, berjalan di atas air danau Galilea, penyembuhan orang yang terlahir buta, dan dibangkitkannya Lazarus dari kematian, diikuti dengan pengajaran pendek maupun panjang yang menerangkan perutusan dan karya Yesus.

Paus Benediktus XVI mengajarkan pada kita tentang apa yang bisa dipercaya dari Injil Yohanes, bahkan dalam hal-hal yang secara historis benar adanya : “Jika ‘historis’ dipahami sebagai kisah-kisah tentang Yesus yang sampai pada kita sebagai suatu catatan tertulis agar diakui keasliannya ‘secara historis’, maka kisah-kisah dalam Injil Yohanes jelas tidak ‘historis’. Namun fakta bahwa kisah-kisah itu tidak menyatakan keakuratan literal macam ini tidak sama sekali menyatakan bahwa kisah-kisah hanyalah ‘puisi-puisi Yesus’ yang secara bertahap disusun menjadi satu oleh para murid Yohanes, dan menyatakan diri bertindak di bawah tuntutnan Parakleitos (: Roh Kudus). Injil macam apakah itu sungguh menyatakan bahwa injil tersebut telah memberikan dengan benar substansi kisah-kisah, tentang pengesahan diri Yesus dalam perdebatan besar di Yerusalem, sehingga para pembaca sungguh-sungguh menjumpai isi yang menentukan dari warta ini dan, di situlah, gambar Yesus yang asli.” (Jesus of Nazareth oleh Joseph Ratzinger/Paus Benediktus XVI, hal 229).

EKARISTI : pembicaraan tentang Roti Hidup (6:35-59): sebagai tanggapan atas permintaan orang banyak akan roti, Yesus mengajarkan tentang Roti Hidup dalam dua bagian. Dalam bagian pertama (ay 35-50), roti surgawi berari “ajaran Yesus (tema kebijaksanaan); dalam bagian kedua (ay 51-59) roti surgawi menunjuk pada “ekaristi” (tema sakramental). Rm. Lagrange meyakini bahwa bagian kedua tersebut tidak mampu dipahami dengan baik oleh para orang-orang Galilea yang mendengarkannya dan tak dipersiapkan bila hal itu secara historis disampaikan dalam kesempatan ini. Rm. Brown meyakini bahwa tema kebijaksanaan merupakan tema asli dalam peristiwa historisnya, namun untuk membawanya lebih dalam pada pada makna sakramental dari Roti surgawi (yang bisa dilihat hanya setelah penetapan Ekaristi), Yohanes mengkombinasikan bahan tentang roti surga dengan bahan Ekaristi dari Perjamuan Terakhir dan dengan demikian membentuk bagian kedua dari pidato tersebut sebagai kelanjutan dari pidato yang pertama. Hal ini memberikan alasan mengapa Yoahnes tidak mencantumkan kisah tentang penetapan Ekaristi ketika ia menulis tentang Perjamuan Terakhir; yaitu karena bahan-bahannya sudah dipindahkan ke bagian ini. Kedua tema itu, kebijaksanaan dan sakramental, saling melengkapi satu sama lain: sabda Kristus mewahyukan Ekaristi, dan Ekaristi meneguhkan kita agar menerima dan melaksanakan sabda Kristus tersebut!

Tidak seperti kebijaksanaan PL, ajaran Kristus selamanya senantiasa menghidupkan, karena menganugerahkan Roh yang membawa kehidupan (ay 64). Namun dalam maknanya yang lebih mendalam, pemberian diri dan, tentu saja, roti kehidupan adalah tubuhnya sendiri. Di sini, Yohanes memberi kisah yang berbeda tentang penetapan Ekaristi (ay 51) : “Roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” (“memberikan” artinya berpasrah sampai mati). Jika bagi St. Paulus Ekaristi mewartakan kematian Tuhan sampai ia datang kembali pada akhir zaman, dalam Yohanes Ekaristi adalah pewartaan bahwa inkarnasi merupakan keselamatan (“minumlah darahku” dalam ay 54dst sesungguhnya tema Perjamuan Terakhir). Teologi sakramental di sini sungguh amat dalam, yaitu, bahwa Ekaristi memberikan pada kita bagian dalam kehidupan yang dibagikan Bapa kepada Putera. (dalam ay 71 tentang Yudas yang menolak iman kepada Yesus, kita mempunyai unsur lain dari Perjamuan terakhir, karena dalam Lukas penyebutan tentang pengkhianatan Yudas terjadi segera setelah penetapan perjamuan Ekaristi).

PEMBAPTISAN: Perjamuan terakhir (13:1dst) : Dalam lingkaran bersar kehidupan Kristus (berasal dari Bapa dan kembali kepada Bapa), peristiwa pengangkatan tersebut terjadi sekarang ketika sang Putera mengambil rupa seorang hamba (ay 16). SaatNya (ay 1) telah dimulai. Perendahan diri Anak Allah jelas-jelas merupakan makna dari adegan pembasuhan kaki. Namun, dalam konteks jemaat Kristen perdana, terdapat juga motif pokok sakramental. Rm. Brown mengajarkan bahwa liturgi Syria, Armenia, dan Spanyol, dan juga beberapa Bapa Gereja, melihat makna pembaptisan dalam peristiwa pembasuhan kaki. Hal itu nampak dari ayat 3 yang memberi tekanan bahwa tindakan Yesus berikutnya mengalir dari kuasa yang diberikan oleh BapaNya. Hal ini mengingatkan kita pada perintah-Nya untuk membaptis dalam injil Matius (28:18dst). Jawaban Kristus bahwa Petrus baru akan mengerti makna “tindakan Yesus tersebut” kelak di kemudian hari (ay 7) nampaknya mau menunjukkan lebih dari sekedar pengajaran soal kerendahan hati, karena perikop-perikop yang sama dalam Yohanes menunjukkan bahwa pengajaran sepenuhnya tentang tindak tersebut tidak akan dimengerti maknanya sampai Yesus dimuliakan. Kerendahan hati bisa dipahami saat itu juga; sedangkan pembaptisan mengalir dari Kristus yang dimuliakan. Sedemikian pentingnya kisah pembasuhan kaki sehingga penghilangannya bisa menghalangi kita untuk menerima harta warisan abadi. (Kata “mengambil bagian” –ay 8– menunjuk pada suatu bagian atau kesatuan dalam kehidupan abadi.)

Karena begitu terkesan, maka Simon ingin agar ia dibasuh seluruhnya. Jawaban Yesus memberikan kunci pemahaman atas perikop ini : teks itu sebaiknya dibaca, “Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi..., karena ia sudah bersih seluruhnya.” Kata Yunani untuk “mandi” merupakan istilah umum dalam PB untuk menyebut soal baptisan. Ayat ini sulit dipahami jika tafsiran kita atas peristiwa pembasuhan kaki hanya mengandalkan makna perendahan diri. Namun jika menempatkan perikop ini dalam konteks katekese Kristiani dan pemahaman akan tindakan Yesus itu sebagai simbol pembaptisan, maka Yesus mengatakan bahwa barangsiapa sudah dibaptis tidak perlu dibaptis kembali (Hal ini dijelaskan berulang kali oleh para bapa gereja). Yesus memberkati para muridnya jika mereka memahami hal-hal ini dan melakukannya (ay 17). Pendapat Rm. Brown adalah bahwa jika kita ingin menemukan tempat bagi penetapan Ekaristi dalam Perjamuan Terakhir Yohanes, kita harus mencarinya di ayat-ayat sebelum ay 17; dan dengan demikian kekhasan “hal-hal ini” menunjuk pada dua hal, yaitu pembaptisan dan Ekaristi, dan menggemakan perintah Yesus dalam Injil Lukas, “Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Aku.” Pengkhianatan Yudas dalam ay 18dst menunjuk pada seseorang “yang makan rotiku” meksipun Yohanes belum menyebutkan bahwa roti sudah dimakan dalam perikop ini (alasan lain supaya menempatkan Ekaristi sebelum ay 17). Bila kita memang benar menemukan kisah Ekaristi yang hilang ini dalam bab 6, pengkhianatan Yudas dalam 6:71 sungguh berhubungan dengan konteks ini.

Demikian juga halnya dalam pembicaraan dengan Nikodemus (3:1dst), Yesus mengatakan, “Jika seorang tidak dilahirkan anothen” (Kata Yunani anothen mempunyai makna ganda : “dari atas” maupun “lagi”). Nikodemus, dengan berpikir dalam tataran manusiawi, memahaminya sebagai “lagi”, yang membawanya pada pemahaman akan ketidakmungkinannya. Dalam penjelasannya, Yesus kemudian berbicara tentang dilahirkan dari air dan roh. Nokodemus pasti sudah memahami hal ini, karena ia tahu bahwa Roh atau nafas yang diberikan oleh bertanggung jawab juga atas kelangsungan alam semesta, dan bahwa pada zaman mesianik Allah akan mengalirlah air bersih atas semua orang dan memberinya roh baru, yaitu kelahiran bentuk kehidupan baru. Aslinya, pembaca Kristiani memperluas pemahaman akan perikop ini dan melihatnya dalam terang pembaptisan dan Roh kusus.

Demikian juga, pembicaraan dengan perempuan Samaria mengikuti pola khas perintah dalam kesalahpahaman akan Yoahnes. Air “kehidupan” berarti air yang mengalir atau mata air, yang sungguh sangat berharga di Palestina selama masa/bulan-bulan tanpa hujan. Dalam kesusastraan, air khusus ini menjadi simbol dari kebijaksanaan dan ajaran ilahi. Perempuan samaria itu memahaminya hanya sebagai air alami biasa, namun Yesus menunjuk pada pewahyuan ilahinya, dan pada Roh Kudus yang akan dianugerahkan sebagai air hidup bagi mereka yang menerima pewahyuan itu. Jemaat kristiani pati akan memahaminya dalam konteks sakramental, yaitu air pembaptisan yang memasukannya ke dalam ajaran Yesus dan menganugerahkan Roh Kudus. Jawaban Yesus pada pertanyaan perempuan itu memberikan pada kita deskripsi yang sangat bagus mengenai pembaptisan : “Suatu mata air yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.”

Yesus sang Pokok Anggur yang benar: 15:1-8: Dalam PL, Israel sering digambarkan sebagai anggur pilihan Allah (atau kebun anggur) yang telah dipeliharaNya dengan perlindungan sempurna, namun hanya menghasilkan buah yang pahit (lih misalnya, Mzm 80). Sejak permulaan Injil Yohanes, Yesus dikisahkan telah menggantikan adat istiadat dan hari raya-hari raya Yahudi (HR penyucian Bait Allah, HR Tabernakel, dll). Sekarang ia menampilkan diriNya sendiri sebagai pokok anggur bagi Israel baru (Gereja, atau tubuh Kristus juga dimaksudkan di sini). Rm. Brown menunjukkan bahwa Yesus sebagai pokok anggur merupakan gema lain dari Yesus sebagai kebijaksanaan ilahi, karena kebijaksanaan juga sering dibandingkan dengan pohon anggur. Di atas semuanya itu, perumpamaan tentnag pokok anggur ini ditempatkan dengan latar belakang suatu perjamuan (Perjamuan Terakhir). Dan pada suatu waktu ketika para murid baru saja minum anggur yang telah menjadi darah dalam Ekaristi, “buah pohon anggur”. Yesus, yang dalam perjamuan kawin di Kana enggan memberikan berlimpahnya minuman anggur sampai saatnya datang, sekarang sungguh tampil sebagai pokok anggur yang benar; darahNya dalam rupa minuman anggur akan menjadi salah satu saluran utama untuk meneruskan kehidupan dari pokok anggur bagi ranting-rantingnya. Jika pembicaraan tentang roti kehidupan dalam bab6 memberikan pada kita sebuah komentar tentang dampak roti ekaristis yang menjadi tubuh Kristus, di sini kita mendapatkan sebuah komentar tentang dampak anggur yang menjadi darah Kristus.

Karena Yesus adalah pokok anggurnya, dan Gereja adalah juga pokok anggur, di situ dikandung maksud bahwa Yesus tak terpisahkan dari GerejaNya (TubuhNya), dan bahwa mereka yang memisahkan diri dari sang pokok anggur (Yesus) juga terpisahkan dari GerejaNya, demikian juga sebaliknya. Kata-kata “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” mempunyai makna ganda yang menunjuk baik pada tinggal di dalam Yesus sekaligus juga tinggal di dalam GerejaNya. Maka kemudian, tidak akan pernah bisa ada orang Kristen individual atau independen, namun semuanya harus menjadi anggota dari Tubuh MistikNya, Gereja. (Ada juga banyak teks lain dalam injil Yohanes yang bernada sakramental, dan penerapan inkarnasional.)

TANDA DI KANA: Karena kisah dalam Injil Yohanes tentang Pesta perjamuan di Kana ditulis dengan gaya realisme yang sungguh hidup, kita cenderung membacanya seolah-olah kisah itu hanyalah sekedar sebuah kisah historis belaka. Namun Yohanes mengisahkan kepada kita bahwa mukjizat di Kana itu merupakan “tanda” pertama yang diberikan oleh Yesus. Dengan demikian, cara yang tepat untuk melihat tanda tersebut adalah dengan mencari simbolisme yang tempat dari perikop tersebut. Tema yang dijabarkan dalam episode ini adalah agama dan ibadat. Yesus mengisi dan mengubah PL dan agama-agama lain di dunia dengan cara seperti bejana kososng yang diisi dengan air dan diubahnya menjadi berisikan minuman anggur yang terbaik. Yesus merupakan kabar gembira bagi semua agama sama seperti minuman anggur itu merupakan kabar baik bagi para tamu perjamuan pernikahan terebut yang sedang kehausan. (Konteks : tanda ini dibuat pada hari terakhir dari rangkaian tujuh hari, hal ini selaras dengan rangkaian 7 hari penciptaan dalam Kitab Kejadian).

Yesus menyebut Maria sebagai “perempuan” (terj. LAI : ibu), suatu istilah yang bukannya tidak biasa digunakan untuk menyebut seorang perempuan, namun tidak pernah digunakan oleh seorang yang bicara pada ibunya sendiri. (Yesus melakukannya lagi ketika berada di kayu salib; 19:25). Maka jelaslah bahwa Yohanes ingin agar kita bisa melihat suatu simbolisme tertentu dalam istilah itu. Simbolisme yang paling mungkin adalah bahwa Maria digambarkan sebagai Hawa, “perempuan” dalam Kej 2:23; 3:15; 3:20, dan bahwa ia mewakili semua manusia (lihat juga Why 12, yang ditulis oleh seorang murid Yohanes, di mana sebutan “perempuan” menunjuk pada Israel, bangsa yang melahirkan sang Mesias, dan juga menunjuk pada “perempuan” yang keturunannya akan menghancurkan kepala ular. Satu-satunya tokoh terkemuka yang padanya simbolisme ini bisa diterapkan adalah Maria, ibu Yesus). Juga, tidak seperti para penulis Injil lainnya, Yohanes tidak menggunakan nama pribadi Maria namun menyebutnya “ibu Yesus”, karena ia ingin agar kita melihat di dalam diri Maria suatu simbol umat Allah – ia yang melahirkan secara fisik sang Mesias mewakili bangsa Israel, umat pilihan Allah untuk membawa sang Kristus. Akhirnya, Yohanes menunjukkan abhwa ia ada bersama “para murid” Yesus – maka ia juga mewakili umat Allah yang baru yang dikumpulkan oleh Yesus dari antara para muridnya. Maka, ada tiga macam simbolisme tentang Maria : ia adalah Hawa, yang mewakili semua manusia; ia adalah Israel, umat Allah yang lama ; ia adalah Gereja, komunitas baru murid-murid Yesus. Ia adalah Hawa yang berbicara bagi semua manusia yang telah menjadi sadar akan kekosongan berbagai agama; ia adalah Israel dan sekaligus juga Gereja yang memberikan petunjuk : “Lakukanlah apa yang diperintahkanNya padamu.”

Perjamuan pernikahan menunjukkan perjanjian Allah dengan umatNya, sreingkali diungkapkan dalam istilah perkawinan antara Israel dan Tuannya (Hos 2; Yes 54:4; Yer 3:20). Sekarang minuman anggur sedang habis, sudah tiba waktunya bagi kedatangan Perjanjian baru, dan bagi perkawinan ini, minuman anggur terbaik akan diberikan dengan berlimpah-limpah.

Saatku : saatnya bagi Yesus untuk menyempurnakan karya keselamatan manusia ditetapkan oleh Allah sendiri dan tidak bisa diantisipasi. Maka kemudian semua agama akan digantikan oleh iman dan penyembahan pada Yesus. Peran Maria yang nyata dalam kepengantaraan muncul hanya ketika di kayu salib anaknya menghancurkan kepada ular.

Minuman anggur menggambarkan kebijaksanaan dan ajaran-ajaran Kristus (Amsal 9:1-6); para nabi telah menubuatkan berlimpahnya minuman anggur ketika sang Mesias datang (Amos 9:13dst), keberlimpahan itu sekarang (6x20 galon) menunjuk pada kedatangan zaman mesianik. Juga, karena Yohanes menempatkan peristiwa ini sebelum Paskah (2:13), orang-orang Kristen perdana akan melihat simbolisme ekaristi juga. “Mereka kehabisan anggur” merupakan sebuah komentar tentang kemandulan Yudaisme, dan Yesus pun menggantikan pengudusan orang Yahudi dengan suatu hal yang jauh lebih baik. (Tema tentang Maria dan Ekaristi muncul secara bersama-sama di kayu salib.)

No comments