Header Ads

SUNAT, LAMBANG KESETIAAN

SUNAT : LAMBANG KESETIAAN

Sebuah Kajian Teks Kejadian 17

Oleh : Ag. Handi Setyanto

tabgani Di kampung saya, di daerah Kutoarjo, orang sering bertanya pada setiap anak laki-laki yang sudah mulai remaja: “Kowe uwis Islam apa durung?” (Kamu sudah Islam apa belum?). Kata Islam di sini sama artinya dengan sunat, supit, tetak atau khitan dan juga islaman. Dengan ini, dapat dikatakan bahwa sunat adalah wajib bagi umat Islam. Sebenarnya, tradisi ini sudah dikenal oleh bangsa Semit, Mesir Kuno, berbagai bangsa yang hidup di Amerika, Afrika, Australia, Melanisia dan Polenisia[1]. Mula-mula, sunat diadakan demi penerimaan orang ke dalam suatu suku atau keluarga.[2] Kalau di Jawa, tetakan saya kira lebih pada tradisi saja. Di dunia orang modern, sunat dilakukan demi alasan kesehatan yaitu jika orang tidak disunat, kulup terlalu sempit maka menjepit kepala penis sehingga menyumbat air kencing dan pada orang yang disunat, kotoran mudah dibersihkan dan bebas infeksi.[3] Bagi bangsa Israel, terlebih yang tertulis dalam Kitab Suci, sunat menjadi kewajiban yang harus dipenuhi. Bagi orang-orang modern, apakah sunat masih dimaknai sebagai lambang kesetiaan?

Tulisan ini bermaksud untuk memberi penjelasan mengenai sunat sebagai tanda perjanjian antara Allah dan Abraham dalam teks Kejadian 17,1-27 berdasar berbagai komentar teks yang telah saya baca. Seluruh bab 17 ini adalah karangan P (Prister). Perikop ini dikarang untuk mengesahkan sunat wajib bagi setiap jemaat Yahudi (kisah etiologi/cerita sebab). Karangan P yang sungguh khas ini dapat dikatakan sebagai versi lain dari Kej 15. Pengarang menyusunnya sebagai cerita pewahyuan (teophani) yang khas: a. Allah menampakkan diri-- identitas Allah yang baru (El Shaddai) (ayat 1), b. tiga ungkapan awal kata-kata perjanjian, yaitu “as for me”- dari pihak-Ku (ayat 4), “as for you”- dari pihakmu (ayat 9) serta “as for Sarai”-tentang Sarai (ayat 15), c. tanggapan Abram (ayat 7-8) dan d. laporan ketaatan Abraham (ay 23-27). Untuk mempermudah pemahaman, teks ini dibagi atas empat bagian: [4]

1. Kej 17,1-8 = Pernyataan Perjanjian

2. Kej 17,9-14 = Konsekuensi Perjanjian

3. Kej 17,5-22 = Perjanjian Allah Mengatasi Kemustahilan

4. Kej 17,23-27 = Ketaatan Abraham atas Perintah Allah

1. Kej 17,1-8 = Pernyataan Perjanjian

Umur Abram yang sembilan puluh sembilan tahun (ayat 1a) dimaksudkan untuk membuktikan bahwa perjanjian Allah kepada Sarai (Kej 17,21—“tahun yang akan datang”), Kej 18,14—“tahun depan” ditepati dengan pasti, sebab Abraham berumur seratus tahun ketika Ishak lahir (Kej 21,5)

Allah memperkenalkan Diri sebagai Allah yang Maha Kuasa (ay 1b). Bahasa Ibraninya “El Shaddai”, nama Tuhan yang sangat tua dan dipakai pada zaman bapa bangsa (28,2; 35,11; 43,14; 48,3; 49,25). Kata Maha Kuasa ini dirasa paling tepat untuk menterjemahkan kata El Shaddai walaupun diusulkan kata lain misalnya Allah (dari) gunung. Tetapi, yang terpenting adalah bahwa pengarang P membuat perbedaan antara Allah Yahwe dan Allah yang menyatakan diri kepada para raja/bapa leluhur, yakni El Shaddai. Yang baru dalam El Shaddai ialah bahwa Allah para raja dan bapa leluhur bukan hanya memberikan suatu perjanjian yang mengikat Allah sendiri (12,7; 15,1-6; 15,7-21) tetapi juga mengikat dan memberi konsekuensi bagi si penerima wahyu: “walk before me, berjalanlah di hadapanku” (King James Version), “berjalanlah di hadapanku dengan tak bercela.” “Berjalanlah” (dalam Ibrani mengandung arti refleksif) artinya jalankanlah hidupmu dengan sempurna di hadirat Allah.

“Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau” (ay 2) dapat berarti bahwa perjanjian bukan hanya pada pihak Allah. Ini lain dengan ungkapan “aku berjanji padamu.” Tetapi, perlu kita lihat bahwa tidak ada dialog verbal antara Allah dan Abram. Abram diam, narator mengkisahkan bahwa ia hanya merespon dengan bersujud tanpa kata-kata. Ceramah panjang dari Allah mendominasi teks ini. Dapat dikatakan bahwa teks ini berisi kuliah tentang teologi perjanjian dari kaum P mengenai makna perjanjian Allah bagi Israel.[5]

Aku akan mengadakan perjanjian. Kata mengadakan ini menurut Ibrani adalah memberikan. The verb in Heb. is literally “give, set.”[6] “Memberikan” di sini memuat keaktifan Allah, Ialah Allah yang berprakarsa, yang aktif, sementara Abram pasif. Jadi, perjanjian Allah tetap sepihak?

Janji (perjanjian) dari pihak Allah terdapat dalam ayat 2b-8. Abram mempunyai nama baru yakni Abraham.(ay 4).[7] Pengarang P menganggap Israel sebagai bapa himpunan sejumlah bangsa. Nama baru Abraham menjadikannya sebagai manusia baru, kejadian ciptaan yang baru (2 Kor 5,17).

Perjanjian itu kekal (ay 7). Perjanjian bukan untuk Abraham semata, tetapi untuk keturunannya. Janji Allah tak dapat dihapus dan ditiadakan oleh peristiwa apapun dalam sejarah, walau nantinya kaum Imam harus sekuat tenaga menyadarkan keputusasaan umat Israel saat berakhirnya kerajaan Daud dan pembuangan Babel (di sinilah kekekalan janji Allah dipertanyakan).

Sampai di sini, muncul soal. Nantinya, kerajaan Daud berakhir, tanah Kanaan diduduki musuh, jumlah besar bangsa-bangsa berkurang, apa yang diharapkan oleh umat Israel berdasar janji Allah, bagaimana pengarang P menjelaskan?

Kendati demikian, Allah tetap setia, namun dibutuhkan suatu tanda yang mengingatkan umat Israel akan Allah. Itulah sunat. Pengarang P mencoba menjelaskan kesetiaan lewat kisah sunat ini.

2. Kej 17, 9-14 = Konsekuensi Perjanjian

Kesetiaan Allah yang kekal menuntut kesetiaan umat-Nya (Abraham dan keturunannya). Dari pihak Abraham, Allah menuntut suatu kewajiban. Kalau Allah sudah berjanji, si penerima janji mendapat konsekuensinya Kesetiaan Abraham dan keturunannya diwujudkan dalam suatu tanda lahir yang meninggalkan bekas, yaitu sunat.

Yang disunat adalah Abraham, anak laki-laki , keturunan Abraham (lih. ayat 10b), anak yang berumur delapan hari (ayat 12), yang lahir di rumah Abraham, orang asing yang dibeli yang bukan keturunannya (lih. ayat 12), orang yang lahir di rumah dan dibeli dengan uang (ayat 13).

Saya tidak menemukan alasan mengapa yang disunat di kalangan umat Yahudi harus laki-laki dan bukan perempuan (klitoridektomi). Umur delapan hari lebih menekankan pada acara keagamaan Yahudi (inisiasi menjadi anggota jemaat), sementara ada beberapa bangsa yang menempatkan sunat atas motif perkawinan ( misalnya Sudan[8]). Yang lahir di rumahnya dan yang dibeli dengan uang mencirikan dua kelas hamba yang ada dalam rumah tangga dan ibadat keluarga di rumah (Ul 12,18; Kel 12,43-45; Im 22,10-12.)[9] Orang asing yang dibeli juga dapat diterima dan menjadi anggota jemaat Yahudi setelah disunat.

Yang menolak sunat harus diusir (lih. ayat 14) menegaskan sunat sebagai syarat mutlak. “…ia telah mengingkari perjanjianKu” (ayat 14) memperlihatkan adanya orang yang ingkar janji, maka kebebasan dan tanggung jawab manusia ditekankan di sini.

3. Kej 17,15-22 = Perjanjian Allah Mengatasi Kemustahilan

Tiba-tiba, cerita tentang sunat dan pelaksanaannya terputus di sini.[10] Diinterupsi! Kisah ini berisi tentang pemberitahuan kelahiran Ishak. Kelahirannya yang tak terduga memperlihatkan ke- El Shaddai-an.

Tentang Sarai, Allah mengatakan kepada Abraham sebuah nama yang baru yakni Sara.[11] Dengan demikian Sara pun akan mengalami hidup baru. Sara akan mempunyai anak walaupun sudah tua renta dan mandul. Sungguh-sungguh aneh dan tak masuk akal. Janji memberi anak kepada Abraham masih bisa dipahami, yakni ketika Abraham bisa mendapatkan anak dari Hagar (Kej 16). Tetapi janji kepada Sara, apakah dia mampu melahirkan?

Janji diulang kepada Sarai sebagaimana juga dikatakan kepada Abram. Rupanya kedudukan janji kepada Sarai tidak berada di bawah Abram. Janji itu itu betaraf sama. Sarai pun berpartisipasi dalam pejanjian. Hal yang mustahil diatasi oleh karena kemahakuasaan Allah. Sara akan terpilih menjadi ibu bangsa-bangsa dan para raja. (ayat 16 b).

Karena setia, Abraham menanggapi Sabda Allah dengan sujud menyembah (bdk. ayat 3). Dan tidak mengherankan jika Abraham tertawa. Tertawa sinis, senang atau apa? Bisa jadi tertawa mengejek yang menunjukkan ketidak percayaan, berapa lama lagi Allah menghiburnya dengan omongan? Bisa jadi tertawa heran terhadap janji yang tidak masuk akal.[12] Akan tetapi, tertawa di sini memperlihatkan permainan kata dalam anak yang akan lahir kelak: Ishak=tertawa, he laughs.

5. Kej 17,23-27 = Ketaatan Abraham atas Perintah Allah

Pengarang P rupanya senang menceritakan terlebih dahulu perintah Allah dengan seluk- beluknya, memberitakan lagi peristiwa yang serupa sampai pada macam-macam pelaksanaannya (lih Kej 6,8 dan 9, air bah). Inilah maksud teologi P, yaitu menyatakan kemahakuasaan Allah yang tidak pernah gagal.

Interupsi kisah yang saya sebut di atas tidak menimbulkan masalah besar. Malahan menambah informasi untuk kisah selanjutnya. Di sinilah, setelah semua Sabda Allah selesai dan Allah naik meninggalkan Abraham, Abraham mentaati perintah yang ada pada ayat 10-14. Pada ayat 23, tambahan “setiap laki-laki dari isi rumahmu”, dan ungkapan “pada hari itu juga” mau menunjukkan keataatan yang sempurna.

Keterangan yang dapat ditambahkan misalnya dalam ayat 24. Umur Abraham 99 tahun ini juga untuk membuktikan bahwa janji Allah, “tahun yang akan datang” (ayat 21) ditepati pada Kej 21,5, ketika Ishak lahir. Pada ayat 25, Ismael berumur 13 tahun, mengingat penyunatan di kalangan suku-suku Arab (Ismael) dilaksanakan pada usia remaja dan ini pun menjadi tradisi di sekitar kita (islaman).

Penutup

Allah menginginkan manusia untuk setia. Dengan kebebasannya, manusia melaksanakan perintah Allah. Kesetiaan manusia kepada Allah memerlukan tanda. Demikianlah sunat menjadi tanda kesetiaan bagi umat Israel ketika mereka kocar-kacir saat peristiwa pembuangan. Demi keanggotaan jemaat yang setia, para imam mengesahkan sunat sebagai penanda dalam suatu kisah Kesetiaan Abraham dalam bersunat.

Sunat merupakan tanda keanggotaan. Setiap anggota dituntut untuk setia. Sampai sekarang, orang masih memaknai sunat lebih dari sekedar alasan kesehatan. Bagi umat Kristiani, sunat bukanlah acara agama karena yang terpenting bukanlah tanda lahiriyah, melainkan mempercayakan diri kepada Kristus (bdk Fil 3:3). Di dalam pembabtisan, orang-orang Kristen sudah terinisiasi dan menjadi anak-anak Allah. Semoga orang yang disunat secara fisik mampu memahami makna kesetiaan kepada Allah, dengan demikian hatinya pun “disunat.”

DAFTAR PUSTAKA

  1. Blenkinsoop, Joseph. 1971. Pentateuch, Scripture Discussion Comentary . Sheed and Ward: London and Sydney.
  2. Bergant, Dianne dan Karris, Robert (Editors). 1988. The Collegeville Bible Comentary Volume I. The Liturgical Press: Minnesota.
  3. Douglas, J.D (Penyunting). 1982. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid II. Yayasan Komunikasi Bina Kasih: Jakarta.
  4. Esposito, John. L. 2001. Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern, Jilid 3. Misan.
  5. Keck, Leander. E (Editor). 1994. The New Interpreter’s Bible, Volume I. Abingdon Press: Nashvile.
  6. Lembaga Biblika Indonesia. 1975. Kitab Suci Perjanjian Lama I, dengan Pengantar dan Catatan. Arnoldus: Ende.
  7. Lemp, Walter. 1967. Tafsiran Kedjadian 3. Badan Penerbit Kristen: Jakarta.
  8. Speiser, E. A. 1964. Genesis A New Translation with Introduction and Comentary. Doubleday & Company, Inc: New Work.
  9. ________. Enskilopedi Nasional Indonesia, Jilid 8. 1990. Cipta Adi Pustaka: Jakarta.


[1] bdk _____ 1990. Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jilid 8. Jakarta. PT. Cipta Adi Pustaka. Hal 460.

[2] LBI. 1975. Kitab Suci Perjanjian Lama I , catatan. Ende. Arnoldus. Hal 49.

[3] Ibid. _____

[4] bdk. Lemp, Walter. 1967. Tafsiran Kedjadian 3. Jakarta. Badan Penerbit Kristen. Hal 173.

[5] Ibid. Hal 176.

[6] Speiser, E.A. 1964. Genesis, A New Translation with Introduction and Commentary. New York. Doubleday & Company, Inc. Hal 124.

[7] Abram=Bapa Agung, Abraham=Bapa banyak bangsa. Sebenarnya, penjelasan yang diberikan dalam Kej 17,4-5 itu untuk nama Abraham tidak dapat dipetahankan lagi. Kedua bentuk itu merupakan dua cara ucapan dari satu nama saja . Barangkali ucapan Abraham merupakan bentuk bahasa Aram dari Abram.

[8] Lih. Esposito, John. L (editor). 2001. Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern, Jilid 3. Misan. Hal 206.

[9] Lemp, Walter. Hal 180.

[10] Lih. Bergant, Dianne & Karris, Robert (editors). 1988.The Collegeville Bible Commentary. Minnesota. The Liturgical Press. Hal 57. Aslinya ayat 1-14 langsung dilanjutkan dengan ayat 23-27.

[11] Lih. LBI. 1975. Catatan hal 50

[12] Ibid.

No comments