Header Ads

Hari Minggu Paskah VI/A

“Berharap ketika tidak mampu lagi berharap”

    1. Kis 8:5-8, 14-17
    2. Mzm 66:1-3a,4-5,6-7a,16,20
    3. 1Ptr 3:15-18
    4. Yoh 14:15-21

Overview

Konon kabarnya, Injil Yohanes yang dikutip sebagai bacaan Injil Hari Minggu Paskah VI/A ditulis pada saat jemaat kristen sedang mengalami penganiayaan dari penguasa waktu itu. Karena imannya, jemaat dikejar-kejar dan dianiaya. Tidak ada kepastian apa yang terjadi di hari esok. Jemaat pun hidup seakan tanpa harapan. Dalam situasi semacam itu, Injil Yohanes (dan juga tulisan-tulisan suci lainnya) tampil mewartakan cahaya harapan sejati.

Terbang melintasi batasan ruang dan waktu, di masa sekarang ini, situasi zaman yang mengungkungi dan mengangkangi membuat kita seakan tidak mampu lagi berharap. Bagaimana orang beriman mau berharap kalau ia dianiaya oleh zaman karena imannya? Dalam hal ini, yang dimaksud orang beriman bukan sekedar orang Kristen, atau agama-agama tertentu lainnya. Tapi kita perluas, orang beriman adalah orang yang memperjuangkan kebenaran dan keadilan bagi banyak orang. Dalam bahasa kami, orang yang memperjuangkan tegaknya Kerajaan Allah. Zaman sekarang ini justru cenderung ‘menganiaya dan mengejar-ngejar’ orang yang memperjuangkan kebenaran dan keadilan bagi banyak orang. Bagaimana bisa berharap kalau terus menerus semacam ini? Lebih dalam lagi, bagaimana mau berharap kalau tidak mampu lagi berharap? Padahal, harapan adalah salah satu keutamaan yang mendayai hidup. Seperti juga selalu didengung-dengungkan oleh para aktivis World Social Forum (WSF) dalam mengkritisi arus globalisasi yang seakan makin tak terkendali di zaman sekarang ini : another world is possible !

Bagi kami, warga Gereja Katolik, bacaan-bacaan kitab suci pada hari Minggu Paskah VI/A menawarkan ‘harapan ketika kita tidak mampu lagi berharap’. Kita menjadi mampu berharap karena janji Tuhan : datangnya Sang Penghibur (paracleitos). Dasar janji itu adalah kasih Allah pada manusia yang tanpa syarat, dan juga kasih manusia pada Allah sebagai tanggapan atas kasihNya. Orang yang bisa menerima hadirnya sang penghibur hanyalah orang yang menyadari jati diri atau asal-usul dirinya sebagai ciptaan Allah. Orang yang demikian menjadi peka akan kehadiran Allah. Para murid Kristus sekaligus juga diutus untuk menyadarkan orang lain akan kesejatian diri tersebut. Sehingga, semua orang mampu menangkap kehadiranNya. Dengan demikian, para murid diajak untuk “menolong dunia yang kehilangan jati dirinya”. Bagaimana caranya ? Cara yang ditawarkan Bacaan Injil hari minggu Paskah VI/A (Yoh 14:15-21) adalah dengan menolong orang-orang untuk dapat kembali mengasihi Allah dan menerima kehadiran Roh Penolong yang membantu mereka untuk mengenali kembali Sang Penciptanya.[1] Bacaan I (Kis 8:5-8, 14-17) menyajikan contoh konkret bagaimana hal itu dilaksanakan dalam hidup jemaat perdana. Pewartaan Filipus di daerah Samaria membongkar sekat-sekat yang memisahkan Yahudi – Samaria. Hal ini menjadi ajakan bagi kita untuk membangun hidup berjemaat yang menampakkan jadi diri manusia. Inilah cara para murid Kristus mempertanggung-jawabkan pengharapan yang ada dalam diri mereka, seperti yang diungkapkan dalam Bacaan II (1Ptr 3:15-18).

Bacaan dan Komentar

Kasih, Sang Penghibur dan Dunia

Yoh 14:15-21

 

15 "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. 16 Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, 17 yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. 18 Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. 19 Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamupun akan hidup. 20 Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. 21 Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya."

Fokus pembahasan minggu ini adalah Yoh 14:15-21. Perikop ini harus ditempatkan dalam tempatnya yang khas dalam keseluruhan Injil Yohanes, khususnya rangkaian Yoh 13:31-14:31. Yohanes 14: 15-21 bernuansakan perjamuan terakhir. Dalam nuansa perpisahan yang semacam itu, triade Yesus dalam Yohanes 14: 15-21 hendaknya dapat dipahami secara lebih mendalam. Struktur umum rangkaian Yoh 13:31-14:31 adalah :

13:31–38 Introduksi

      31–33 Pemuliaan Yesus

      34–35 Perintah untuk mengasihi

      36–38 Nubuat akan pengkhianatan Petrus

14:1–26 Isi Pidato

      1–3    Kepergian dan kembalinya Yesus

      4–6    Yesus, jalan kepada Allah

      7–11  Yesus, pewahyuan Allah

     12–14 Yesus, kekuatan perutusan para murid

     15–17 Datangnya Penolong (paraclete) yang lain

     18–20 kedatangan Yesus pada saat paskah

     21–24 Kedatangan Yesus bagi orang beriman

     25–26 Sang Penghibur (paraclete)

14:27–31 Epilog : warisan perdamaian

Meskipun fokus pembahasan minggu ini adalah Yoh 14:15-21, namun ada baiknya jika kita terlebih dahulu melihat tempat perikop tersebut dalam keseluruhan bab 14. Ada kecenderungan umum untuk melihat bab 14 sebagai satu tema tertentu saja, yaitu kepergian dan kembalinya Yesus, yang dinyatakan untuk menafsirkan kembali harapan tradisional Gereja akan Parousia Yesus kedatangan Yesus yang kedua kalinya). Becker and Segovia memahami ay 4–17 dengan tema kepergian Yesus and ay 18–26 dengan tema kembalinya Yesus. Segovia membuat pembagian berikut:

1–3, tema pidato;

4–14, eksposisi tentang kepergian Yesus yang terdiri dari tiga lingkaran tema (ay 4–6, 7–9, 10–14). Masing-masing berisi :

      (a) pernyataan Kristologis (ay 4, 7, 10)

      (b) pernyataan yang berhubungan dengan iman para murid

           (ay 5, 8, 11)

      (c) perluasan dari pernyataan Kristologis yang pertama (ay 6,

           9, 12–14)

15–27, eksposisi tentang kembalinya Yesus yang mempunyai empat rangkap rangkaian tema dari tiga unsur

      (a) definisi kasih bagi Yesus (ay 15, 21a, 23ab, 24)

      (b) janji bagi mereka yang mengasihi Yesus (ay 16–17a,

           21be, 23cd, 25–26)

      (c) pembedaan mereka dengan dunia (ay 17b–d, 18–20, 22,

           27ac)

28–31, epilog.

II. Komentar Yoh 14:15-21

Pertama: Kasih

Awal dan akhir dari perikop Minggu Paskah VI ini berbicara mengenai kasih dan perintah. Disebutkan secara jelas dalam ayat 15: “ Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu”. Kata-kata tersebut dinyatakan lagi dalam akhir perikop (ayat 21) dengan cara yang berkebalikan: “Barangsiapa memegang perintahKu dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapaku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadaNya”.

Ayat 15 dan ayat 21 mau menunjukkan mengenai totalitas ketaatan akan sabda-sabda Yesus. Sebelum masuk lebih mendalam lagi mengenai maksud totalitas kepatuhan akan sabda Yesus, baiklah kita mengerti lebih dahulu maksud pernyataan dari ayat 15 dan 21. Pernyataan tersebut janganlah dimengerti sebagai suatu pernyataan bersyarat sehingga menjadi : “Jika kamu hendak mengasihi Aku maka kamu mesti menaati segala perintahku.” Jika pernyataan tersebut dipandang sebagai pernyataan bersyarat, maka seolah-olah kecintaan kita kepada Yesus harus dibuktikan terlebih dahulu dengan cara melakukan segala perintahNya. Pernyataan bersyarat tersebut memang mempunyai maknanya sendiri tetapi bukan itu yang menjadi maksud dari ayat 15 dan 21.

Kedua ayat yang membuka dan menutup perikop Minggu Paskah ke Vi ini hendak menggambarkan kalimat yang saling terkait satu sama lain (parallel clauses). Ayat tersebut hendak mengatakan bahwa mengasihi Yesus berarti mengenal perintah-perintahNya dan melaksanakannya. Atau bisa juga sebaliknya, mengenal sabda Yesus berarti mengasihi Yesus sendiri. Jadi, mengasihi Yesus merupakan suatu jaminan bahwa seorang murid akan menaati perintah-perintahNya. Begitu pula sebaliknya, seperti yang diungkapkan dalam ayat 21, dengan mengenal perintah Yesus berarti seorang murid mengasihi Yesus sendiri.

Mengasihi dalam arti ini mendapat latar belakang dari suasana Perjanjian Lama di mana umat Israel selalu dipilih, dikasihi, dilindungi, diantar dan dipedulikan oleh Allah dalam perjalanan sejarah mereka. Kasih itu timbul karena kasih Allah terlebih dahulu yang mengajak umat Israel untuk tetap setia memegang sabdaNya dan selalu berpaling padaNya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa kasih menjadi dasar atas hubungan manusia dengan Allah.

Mengasihi Yesus berarti menaati perintah-perintahNya. Yang dimaksud dari kata-kata perintah-perintahNya adalah suatu daya kekuatan dari kedekatan relasi para murid dengan Yesus yang menggerakkan mereka untuk mengenal dan menjalankan sabda-sabda Yesus sendiri. Perintah Yesus itu dikenali oleh para murid karena relasi mereka yang mendalam dengan Yesus sendiri. Oleh karena itu, kedekatan hubungan antara para murid dan Yesus membuka secara jelas maksud dari sabda-sabda Yesus sehingga para murid dapat menaati sabda-sabdaNya yang sekaligus mengasihi Yesus dengan amat tulus.

Kedua: Sang Penghibur

“Aku akan minta kepada Bapa, dan ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab Dunia tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam dalam kamu. Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu” (Yoh 14: 16-18).

Kata-kata tersebut menyatakan dengan jelas bahwa Yesus akan memberikan Penolong supaya menyertai murid-murid. Penolong dalam bahasa Yunani disebut juga “parakleitos” yakni dia yang selalu siap datang ketika dibutuhkan, yang akan menuntun atau yang akan memberikan uluran tangan kepada yang membutuhkan. Roh Penolong inilah yang akan memberikan pegangan kepada para murid sehingga para murid tidak akan mendapat celaka. Pegangan yang benar berarti Roh Kebenaran yang dapat dipercayai oleh para murid sehingga para murid tidak akan merasa galau ketika Yesus mulai meninggalkan mereka.

Roh Kebenaran atau Roh Penolong itu dimaksudkan oleh Yesus dalam rangka menolong para murid guna menemani mereka ketika Yesus tidak lagi bersama mereka secara fisik. Roh Penolong itu dijanjikan oleh Yesus karena kasihNya yang begitu besar kepada para muridNya. Yesus tidak akan meninggalkan para muridNya tanpa bantuan. Ia akan meminta kepada Bapa-Nya seorang Penolong yang lain yang akan menyertai mereka selama-lamanya (ayat 15-17). Dialah Roh Kebenaran, yang oleh Yesus sendiri juga disebut sebagai sang Penghibur. Ketika Ia pergi kepada Bapa, akan datang sang Penghibur bagi murid-muridNya. Sekali lagi, janji tentang Sang penghibur adalah janji penyertaan Yesus kepada para murid. Ia tidak akan meninggalkan para muridNya seperti yatim piatu yang ditinggal ayah-bundanya (ayat 18-21).

Ketiga: Dunia

“Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab Dunia tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam dalam kamu” Ditegaskan dalam ayat itu bahwa para muridlah yang akan mengenal Dia sedangkan Dunia tidak akan mengenal Dia. Para murid mengenal Dia karena Roh Yesus sendiri yang menyertai mereka dalam pengenalan akan Bapa.

Pertama-tama hendak diutarakan bahwa menjadi murid berarti dapat mengenal Bapa karena Roh Kebenaran atau Roh Penolong yang membantu dalam pengenalan tersebut. Mengapa dunia tidak akan mengenal Bapa ? Kita perlu memahami konsep dunia dalam tulisan Yohanes. Dalam tulisan Yohanes, terminologi dunia menunjuk pada suatu tempat yang sudah dikuasi oleh kegelapan. Suatu tempat yang sudah dikuasai oleh kegelapan itu berarti suatu tempat yang tidak terdapat lagi Roh Kebenaran di dalamnya sehingga pengenalan akan Bapa pun menjadi sesuatu yang amat mustahil. Karena itulah dalam Yoh 14: 17 dikatakan bahwa dunia tidak bisa menerima Roh Kebenaran. Dunia yang seperti itu tidak memiliki lagi kepekaan akan kehadiran Allah. Bahkan lebih buruk dari itu, dunia tidak lagi mengenal asal-usul dirinya sendiri yang sudah diciptakan oleh Bapa. Inilah saat-saat di mana dunia kehilangan jati dirinya sebagai ciptaan Allah.

Hal itu menjadi tanda pendorong bagi para murid agar selalu mengingat asal-usul diri mereka sendiri yang berasal dari Cinta Allah. Namun, bukan hanya berhenti akan penyadaran akan asal-usulnya saja tetapi para murid harus bergerak maju lagi yaitu menyadarkan dunia akan kesejatian dirinya. Hal itu yang menjadi makna perutusan para murid setelah ditinggalkan oleh Yesus secara fisik lewat peristiwa Paskah. Oleh karena itu, perutusan besar itulah yang harus diemban oleh para murid dalam perjalanan mereka bersama Roh Penolong.

Dalam cara berpikir Yohanes yang demikian maka dapat dikatakan bahwa para murid yang telah dianugerahi Roh Penolong itu menjalani tugas perutusan selanjutnya dari Yesus untuk menolong dunia yang mulai kehilangan kesejatiannya. Menolong dunia dapat diartikan dengan menolong orang-orang untuk dapat mengasihi Yesus kembali dan menerima kehadiran Roh Penolong yang membantu mereka untuk mengenali kembali Sang Penciptanya.

III. Aplikasi Triade Yoh 14: 15-21

Yohanes 14: 15-21 benar-benar menyadarkan para murid akan tugas perutusan yang cukup besar dalam perjalanan kerasulan mereka setelah peristiwa Paskah. Lalu bagaimana dengan kita yang hidup di zaman ini? Yohanes 14: 15-21 dengan Triadenya mengajak kita semua untuk menyadari kembali akan makna mengasihi, makna kehadiran Tuhan dan makna hidup hidup di tengah dunia.

Mengasihi Tuhan berarti mengenal perintah-perintah Tuhan atau sabda Tuhan sendiri. Mengenal perintah itu sendiri sudah mengandung arti melaksanakan perintah-perintah itu dalam kehidupan sehari-hari. Secara singkat dapat dirumuskan bahwa sejauh mana kita mengenal perintah Tuhan itu berarti sejauh mana kita mengasihi Tuhan itu sendiri.

Bila kita tetap setia mengikuti pola Yohanes dalam triadenya ini maka berbicara mengenai kasih Yesus yang kita usahakan dalam diri kita berarti membiarkan Roh Penolong untuk masuk dalam relung hati kita. Roh Penolong inilah yang kemudian akan membukakan mata kita guna mengenal Bapa. Namun tidak hanya sampai di situ saja, kita yang menikmati hadirnya Roh Penolong bearti memperoleh tugas perutusan seperti layaknya para murid. Tugas perutusan itu ialah membantu dunia (baca: orang-orang) agar dapat mengasihi Yesus sehingga Roh Penolong atau Roh Kebenaran hadir dalam diri mereka dan akhirnya dunia pun mengenal Bapa. Pengenalan diri kita kepada Bapa tidak hanya berhenti dalam diri kita tetapi berlanjut kepada dunia sekitar kita agar mereka pun mengenal Bapa yang telah menciptakan mereka. Inilah makna perutusan yang diungkapkan oleh Yohanes dalam triadenya melalui perikop Yohanes 14: 15-21: “Kasih, Roh Penolong dan Dunia”

Pewartaan di Samaria

Kis 8:5-8, 14-17

 

5 Dan Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ. 6 Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu. 7 Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh dan orang timpang yang disembuhkan. 8 Maka sangatlah besar sukacita dalam kota itu.

14 Ketika rasul-rasul di Yerusalem mendengar, bahwa tanah Samaria telah menerima firmanAllah, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke situ. 15 Setibanya di situ kedua rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus. 16 Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorangpun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. 17 Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus.

Konteks Pewartaan di Samaria dalam Kisah Para Rasul

Pada abad-abad awal Masehi, ada semacam perasaan antipati yang amat mendalam di antara orang-orang Yahudi Samaria dan orang-orang Yahudi Yudea. Orang-orang Samaria dikenal secara luas oleh tradisi Yahudi sebagai suku yang tidak murni, mempunyai tradisi religius yang tidak murni lagi, dan melakukan politik yang curang terkait dengan penjaga tradisi Romawi di daerah Pelestina. Meskipun mereka memuja Tuhan Allah yang sama (YHWH) dan mengikuti versi torah yang sama, orang-orang Samaria diasingkan dari induk keluarga mereka yaitu Israel. Maka, Bait Allah tempat mereka mempersembahkan korban pun berada di gunung yang berbeda. Mereka juga mempunyai perbedaan dalam hal tempat-tempat suci lainnya. Sebagian besar rasa perasaan religius orang Samaria didominasi pengharapan akan Mesias, yaitu seorang yang akan memenuhi nubuat seperti yang tertulis dalam Ul 18:15, “Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan.”

Yesus dalam Injil Sinoptik diceritakan berusaha menghindari perjalanan yang melewati daerah Samaria, walaupun menurut Lukas, Yesus menegur para murid karena mengatakan bahwa Dirinya seperti Elia dan akan memanggil api dari surga untuk membersihkan orang-orang Samaria yang berdosa (lih Luk 9: 51-56). Bagaimanapun juga, cerita dari misi Yesus di Samaria ditemukan dalam Yoh 4:1-24. Hal itu menjadi persiapan bagi pembaca untuk mengikuti pewartaan Filipus di Samaria seperti yang diungkapan dalam bacaan I Minggu Paskah VI ini.

Ayat 5-8

Cerita dari awal perikop ini dimulai dengan karakteristik Lukas yang menggunakan frase Yunani yang mengindikasikan suatu arah baru dalam penceritaan. Awal bacaan ini secara langsung sudah menunjukkan kesimpulan dari perikop itu keseluruhan : “Dan Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ”. Kemudian orang-orang di daerah itu mendengarkan Filipus dengan baik. Mereka juga menerima pewartaan Filipus dan melihat segala sesuatu yang dilakukan Filipus (mengusir roh, menyembuhkan orang lumpuh, dsb). Misi pertama yang dilakukan oleh Filipus itu tidak menandakan adanya kekosongan atau ketimpangan antara apa yang diwartakan dengan apa yang dilakukan ketika misi pertama itu berlangsung. Kesan yang ditampakkan menjadi sangat baik. Filipus seperti layaknya Nabi, dan juga seperti Yesus yang pernah datang ke Samaria untuk mewartakan kedatangan penyelamatan dari Tuhan.

Filipus mewartakan sabda dengan corak berbeda bagi orang-orang di tempat yang berbeda pula. Sebuah tahapan baru dari misi Kristiani juga disimbolkan dengan sebuah tanda baru pula : pengusiran roh–roh jahat (ayat 7) yang mana pelayanan misi menunjukkan kebesaran kerajaan Allah (bdk Luk 11: 14-26). Orang-orang Samaria bergembira atas pengalaman keselamatan Allah yang mereka rasakan dari misi Filipus. Hal itu juga sebuah langkah awal yang tercatat dalam Kejadian dan juga sebagai simbol lain bagi kedatangan Sabda di suatu tempat yang baru. Filipus berhasil menumbangkan rasa permusuhan antara orang-orang Samaria dan orang-orang Yahudi pada umumnya. Dalam cerita pembelaan Stephanus di dalam perikop sebelumnya, ditunjukkan adanya makam para Bapa Bangsa Israel di Sikhem (Kis 7:16). Sikhem adalah salah satu daerah Samaria. Hal itu mau menunjukkan bahwa suku yang hilang, yaitu Samaria, adalah bagian dari Israel.

Ayat 14-17

Alur cerita menjadi semakin mendalam ketika datang rasul-rasul dari Yerusalem yaitu Petrus dan Yohanes. Mereka datang untuk mewakili otoritas keagamaan di Yerusalem yang mendengar bahwa di tanah Samaria telah tersebar sabda Allah. Hal tersebut dapat ditangkap suatu pemahaman akan solidaritas yang ditunjukkan oleh Petrus dan Yohanes dalam melanjutkan misi Filipus.

Ungkapan kepemimpinan mereka dalam suatu tugas perutusan di dalam Gereja berbeda dengan ungkapan dalam praktek kekeluargaan. Petrus dan Yohanes membagikan Roh Kudus kepada mereka yag percaya sehingga mendapat kekuatan spiritual. Hal itu dianalogikan dengan pembagian harta milik mereka kepada saudara-sauudara yang membutuhkan (bdk Kis 4: 32-35). Orang-orang Samaria yang percaya itu belum dibaptis dibaptis dengan Roh Kudus walaupun mereka baru saja dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Dalam Kis 2: 38-41 diceritakan bahwa baptisan nama Yesus digunakan guna mengampuni dosa sehingga orang-orang siap menerima karunia Roh Kudus. Kita dapat juga mengambil kesimpulan dari janji Yesus yang akan memberikan Roh Kudus bagi orang-orang yang percaya kepadaNya (Kis 1: 4-5). Tujuan dari perutusan misi di tanah Samaria secara lebih tepat adalah membentuk suatu komunitas religius yang dapat saling membagikan harta milik mereka dalam ukuran yang tepat. Di samping itu juga menumbuhkan kegiatan doa, tolong menolong antara yang satu dengan yang lain. Hal itu pada dasarnya hendak menutup kembali suatu celah yang terbuka antara orang-orang bertradisi Yunani dan bertradisi Yahudi agar dapat berada dalam suatu komunitas yang saling meneguhkan.

Mzm 66:1-3a,4-5,6-7a,16,20

 

1 Bersorak-sorailah bagi Allah, hai seluruh bumi, 2 mazmurkanlah kemuliaan nama-Nya, muliakanlah Dia dengan puji-pujian! 3 Katakanlah kepada Allah: "Betapa dahsyatnya segala pekerjaan-Mu; oleh sebab kekuatan-Mu yang besar musuh-Mu tunduk menjilat kepada-Mu.

4 Seluruh bumi sujud menyembah kepada-Mu, dan bermazmur bagi-Mu, memazmurkan nama-Mu." 5 Pergilah dan lihatlah pekerjaan-pekerjaan Allah; Ia dahsyat dalam perbuatan-Nya terhadap manusia:

6 Ia mengubah laut menjadi tanah kering, dan orang-orang itu berjalan kaki menyeberangi sungai. Oleh sebab itu kita bersukacita karena Dia, 7 yang memerintah dengan perkasa untuk selama-lamanya, yang mata-Nya mengawasi    bangsa-bangsa. Pemberontak-pemberontak tidak dapat  meninggikan diri.

16 Marilah, dengarlah, hai kamu sekalian yang takut akan Allah, aku hendak menceritakan apa yang dilakukan-Nya terhadap diriku.

20 Terpujilah Allah, yang tidak menolak doaku dan tidak menjauhkan kasih setia-Nya dari padaku.

Pertanggung-jawaban akan pengharapan yang ada pada kita

1Ptr 3:15-18

 

15 Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, 16 dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu. 17 Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat. 18 Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh.

Dalam perikop ini, penulis surat 1 Petrus mencoba menuliskan mengenai jalan tradisi Kristiani yang mana terkadang menderita karena dosa guna melakukan kebaikan, takut kepada Kristus dan selalu membawa Kristus di dalam hati mereka (orang-orang Kristiani). Pembelaan iman orang-orang Kristiani ditunjukkan dengan setia kepada iman walaupun banyak orang yang memfitnah dan mencaci maki. Perhitungan mereka seperti yang telah diwartakan oleh Kristus adalah perhitungan yang nantinya pada hari penghakiman akan diberikan oleh Kristus sendiri. Pembelaan yang ditekankan itu selalu bersifat untuk setiap orang Kristiani dan selalu digunakan dalam waktu kapanpun juga. Dalam 1 Ptr ini terungkap juga keseluruhan dari iman Kristiani yang dapat simpulkan dengan kata harapan. Kelemahlembutan dan rasa hormat di antara sesama yang ditunjukkan oleh orang Kristiani kepada orang-orang di luar iman mereka hendak menunjukkan mengenai cara hidup orang beriman Kristiani itu sendiri. Kekhasan orang Kristiani yang lain adalah seruan mereka yang hanya ditujukkan kepada satu Allah (monoteisme) dan bukannya kepada dewa-dewa yang lain. Hal yang menjadi tekanan dalam perikop ini adalah bagaimana iman Kristiani itu hendak ditunjukkan di tengah orang-orang yang kadang kala banyak menghina atau mencaci maki orang-orang Kristiani itu sendiri.

Salam,

Atur Pepadhang Gusti

(diedit dan disusun kembali oleh Dimas Danang A.W.)


[1] Dalam konteks pluralitas agama dan budaya, hal ini bisa diimplementasikan secara meluas (ekstern) maupun menyempit (intern), namun jangan salah satu saja.

No comments