Header Ads

Formalisme Agama

Lakukanlah Ibadahmu yang Sejati !

  Beberapa waktu lalu, para imam Keuskupan Purwokerto merenungkan bersama tema Formalisme Agama. Tema tersebut kemudian direfleksikan lebih lanjut dalam pertemuan para imam muda Keuskupan Purwokerto. Tema “Formalisme Agama” itu akan digulirkan sebagai fokus reksa pastoral Keuskupan Purwokerto tahun 2008/2009. Secara pribadi, saya tertarik merefleksikan tema ini. Mengapa saya tertarik?

    Jika bicara tentang formalisme agama, spontan muncul gambaran tentang orang-orang Farisi dan ahli-ahli taurat. Ada banyak referensi dalam PB yang mendukung reaksi spontan saya itu. Referensi yang paling kuat adalah kata-kata Yesus sendiri : “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran”[1]. Selain itu, saya juga ingat kisah pembersihan Bait Allah oleh Yesus[2]. Rasa saya, Yesus mau mengkritik agama Yahudi waktu itu yang sangat institusionalistik dan formalistik.

   Namun ketika saya merenungkan lebih lanjut, saya mempertanyakan kembali reaksi spontan saya itu. Saya kutipkan kata-kata seorang Teolog : “Yesus mewartakan Kerajaan Allah, tapi yang muncul malah Gereja.” Kita bisa membuat berbagai argumentasi apologetis terhadap pernyataan itu. Namun, jujur saja, ada secercah kebenaran di dalamnya, tidak seluruhnya memang. Pernyataan itu mau menyentil bahwa kata-kata Yesus pada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat juga ditujukan pada kita saat ini. Kata-kata Yesus itu juga masih relevan bagi hidup orang di zaman ini.

     Ketika bermenung lebih dalam lagi, saya kembali bertanya-tanya : sedemikian burukkah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat??? Sedemikian tak berharganyakah hukum taurat dan hukum-hukum lain yang menyertainya??? Padahal, para murid perdana dan Paulus juga tidak meninggalkan seluruhnya adat kebiasaan Yahudi dan hukum tauratnya ![3]

    Permenungan hal-hal itu begitu menarik bagiku, karena juga sangat terkait dengan salah satu aktivitas harianku di pagi hari : ekaristi dan doa harian. Jangan-jangan aku termasuk “kuburan yang dilabur putih” yang disebut Yesus sebagai kaum munafik. Bukan masalah saya tersinggung dikatakan munafik, tapi masalahnya : apakah yang selama ini saya anggap (dan ditanamkan) sebagai hal yang luhur dan mulia merupakan topeng-topeng kemunafikan ? Kalau iya, sia-sialah usaha saya selama ini untuk bangun pagi, sia-sialah usaha saya menafikan kemungkinan-kemungkinan lain yang membentang di hadapan pilihan saya.

     Kegelisahan ini merupakan bentuk kecintaanku pada kebenaran. Khan, mencintai kebenaran berarti harus selalu mempertanyakan kebenaran itu sendiri. Sebab, seperti kata seorang penyair, “Kebenaran itu seperti cecak : ketika berhasil kita pegang, yang kita pegang hanyalah ekornya yang menggelepas-gelepar. Cecak itu sendiri lari entah ke mana.”

     Karena itu, saya mencoba merefleksikan kembali point-point di atas secara lebih mendetil. Permenungan akan saya mulai dari penjernihan istilah dan lingkup pembahasan, supaya jelas apa yang dimaksud dengan formalisme agama. Permenungan akan dilanjutkan dengan penjernihan berdasarkan perspektif biblis : dari hukum taurat-10 perintah Allah-nilai yang diperjuangkan Yudaisme dan fraksi-fraksinya, kritik para nabi, serta apa yang dikritik-dibongkar-dibaharui oleh Yesus. Setelah itu, sebagai proposal visi hidup selanjutnya, saya mencoba merefleksikan usulan Paulus pada jemaat di Roma : “persembahkanlah tubuhmu ... itulah ibadahmu yang sejati.” Menutup permenungan, saya mencoba melihat lagi makna dasar dan penghayatan ekaristi.

Penjernihan istilah dan lingkup pembahasan

a. ‘Formalisme agama’ atau ‘formalisme iman’ ?

     Agama dan iman berbeda namun tak terpisahkan. Maka, supaya tidak tumpang tindih dan malah menjadi tidak jelas, harus diklarifikasi terlebih dahulu manakah yang mau menjadi ruang lingkup pembahasan. Klarifikasi berikut ini menggunakan perspektif pemahaman umum.

     Secara umum, iman disebut sebagai sikap batin, keyakinan, dan sikap dasar manusia dalam berhubungan dengan Allah yang maha tinggi. Sedangkan Agama secara praktis merupakan sebuah sistem tertentu, atau serangkaian sistem, di mana doktrin, mithe, ritual, sentimen, institusi dan unsur-unsur pokok lainnya saling terhubungkan. Dengan demikian, agama memiliki aspek-aspek yang sangat kompleks : doktrin, mithe, ajaran etis dan sosial, ibadat, institusi sosial, serta pengalaman batin dan sentimen keagamaan. Dimensi-dimensi agama ini juga terungkapkan dalam berbagai bangunan, seni, musik dan bentuk sikap para pengikutnya.[4]

     Deskripsi di atas memang tidak terlalu lengkap. Namun kurang lebih menjelaskan apa yang dimaksud dengan agama dalam perbandingannya dengan iman. Maka, dalam pembicaraan tentang formalisme agama, ruang lingkup yang digagas meliputi aspek intern dan ekstern agama. Aspek intern antara lain terungkapkan dalam sistem kelembagaan, doktrin, ritual/ibadat, dan lainnya yang berkaitan dengan itu. Aspek ekstern antara lain terungkapkan dalam tindakan dan sikap dalam peri-hidup di tengah masyarakat seluas dunia yang begitu kompleks.

b. ‘Formalisme agama’ atau ‘ritualisme agama’ ?

     Melihat aspek-aspek agama yang dideskripsikan di atas, maka jelaslah ruang lingkup yang digagas dengan ungkapan formalisme. Dalam hal ini, formalisme tidak dipersempit menjadi sekedar ritualisme. Ritualisme hanyalah salah satu aspek, atau mungkin lebih tepatnya disebut sebagai akibat, dari formalisme. Ritualisme adalah pelaksanaan hidup beragama yang lebih mengutamakan upacara-upacara (ritual) keagamaan saja tanpa memperhatikan hubungannya dengan hidup sehari-hari. Sedangkan formalisme adalah kompleksitas pelaksanaan hidup beragama yang secara ekstrim menekankan patokan doktrin yang sudah digariskan dan lebih mengutamakan pelaksanaan ungkapan-ungkapan eksternal keagamaan tanpa sungguh memahami dan menghayati maknanya.

     Dari uraian klarifikatif di atas, secara singkat, formalisme agama adalah penghayatan hidup beragama yang tertutup, eksklusif, tidak kritis, dan tanpa makna. Ritualisme agama adalah salah satu aspek dan efek dari formalisme agama. Setelah menjadi jelas apa yang dimaksud dengan formalisme agama, saya bisa memulai dengan lebih jernih refleksi atas tema tersebut. Saya akan memulainya dengan semangat dasar yang dihidupi dalam Yudaisme dan fraksi-fraksinya.

Nilai apa yang diperjuangkan Yudaisme dan Fraksi-fraksinya ?

    Ada dua tema yang mau saya refleksikan terkait dengan nilai dasar yang diperjuangkan Yudaisme : relasi perjanjian dan relasi kekudusan.

a. Relasi Perjanjian

     Perjanjian Allah dengan Israel terungkapkan dalam perjanjian Sinai yang ditemukan dalam Kel 19-24. Kisah yang mengikuti, Kel 25-31, relatif berisi kumpulan terakhir hukum dan aturan-aturan ibadat.[5] Sedangkan kitab Ulangan mengkerangkakannya dalam tiga pembicaraan Musa. Kisah Perjanjian Sinai dan hukum-hukum yang mengikutinya secara umum terdiri dari tiga unsur : (1) tindakan Yahwe; (2) tanggapan Israel; dan (3) kewajiban Israel.[6]

a.1 Tindakan Yahwe

    Bangsa Israel dianugerahi Yahwe kehidupan baru yang tak terbayangkan sebelumnya: pembebasan dari perbudakan di Mesir, pertolongan ketika menghadapi krisis bangsa, dituntun melalui padang gurun di bawah kepemimpinan Musa. Hal ini diungkapkan dengan gambaran sayap rajawali sebagai sebuah simbol perlindungan Allah bagi umatNya di padang gurun (Kel 19:4; Ul 32:11-14). Ketika berada di gunung Sinai, mereka mendapatkan pengalaman baru akan Yahwe : penampakan Allah yang mempesonakan (Kel 19:16-18). Pilihan Allah atas Israel adalah inisiatif Allah sendiri. Pilihan itu tidak didasarkan pada kebesaran maupun status moral Israel (Ul 7:4; 9:4–6), namun semata-mata karena kasih Yahwe yang begitu besar (Ul 7:6–8).

a.2 Tanggapan Israel

     Israel mengakui pemeliharaan khusus Yahwe pada mereka maka bersedia mengesahkan perjanjian. Perayaan penetapan ini digambarkan dalam Kel 24 di mana diadakan dua ritual penting : (a) ritual darah (Kel 24:6-8); dan (b) ritual perjamuan (Kel 24:11). Karena kehidupan manusia melekat pada darahnya (Im 7:11), berbagi darah berarti berbagi kehidupan, menjadi satu keluarga. Berbagi makanan juga mengungkapkan keberadaan dalam satu keluarga dan berbagi satu kehidupan (Mzm 41:10). Berbagi makan adalah bentuk yang umum dari penetapan perjanjian (Kej 26:30; 31:46.54). Maka, kedua ritual tersebut mengungkapkan makna dasar perjanjian : relasi kehidupan dan syalom antara Israel dan Allah. Perjanjian tersebut tidak hanya dibuat dengan leluhur mereka namun juga dengan semua dari mereka “hari ini” (Ul 5:1–3; 26:16–18). Maka, berulangkali Israel disebut “mendengar” atau “mengingat” perjanjian ini (Ul 5:1; 6:4; 4:9, 23; 5:15).

a.3 Kewajiban

     Perjanjian meliputi juga kewajiban. Namun kewajiban perjanjian bukanlah suatu hal yang dijatuhkan dari luar. Kewajiban perjanjian mengalir dari sifat dasar perjanjian itu sendiri, yaitu relasi dan kehidupan yang baru. Relasi yang baru berarti juga kehidupan yang baru. Dalam kehidupan baru itu, mengalirlah sikap perilaku hidup yang baru. Dalam konteks bangsa Israel, kehidupan baru itu dinyatakan dalam dua lingkup yang saling terkait. Lingkup pertama adalah relasi vertikal dengan Yahwe. Sekarang Israel menjadi milik Yahwe, maka mereka harus hidup sesuai dengan martabat sebagai umat dan milik khusus Yahwe (Kel 19:4-6). Karena itu, kewajiban pertama Israel adalah menyembah hanya pada Yahwe (Kel 20:2-3; Ul 6:4-5). Dengan demikian, dosa pertama dan mendasar melawan perjanjian adalah pemujaan berhala. Lingkup kedua kehidupan baru itu mencakup relasi horisontal dengan sesama. Iman kepada Yahwe mengalir ke dalam semua lingkup kehidupan, misal perhatian pada orang miskin, tertindas, dan orang asing (Ul 15:1-18), keadilan dalam sistem hukum (Ul 16:18-20) dan juga perekonomian (Ul 25:13-16). Aturan-aturan itu bahkan diperluas pada pemeliharaan lingkungan alam (Ul 20:19-20). Sejumlah besar hukum yang ditampilkan Pentateukh diberikan pada Musa di gunung Sinai (misal, 10 perintah dan hukum perjanjian [Kel 20-23]; hukum kekudusan [Im17-26]) adalah spesifikasi di masa selanjutnya atas kedua lingkup dasar perjanjian tersebut.

b. Relasi kekudusan

     Bentuk relasi ini terungkapkan dalam Kitab Imamat. Kunci utama Kitab imamat : Allah adalah kudus, maka umatNya juga harus kudus, artinya dengan sepenuhnya menyembah Allah. Maka, Ia menetapkan aturan hukum dan ibadat dengan tujuan untuk membentuk mereka sebagai umat yang terpisahkan dari dosa dan hanya menyembahNya. Kekudusan itu pun harus dijaga dalam keseluruhan hidup, termasuk dalam aktivitas sehari-hari keseharian dan juga dalam hidup bermasyarakat.

Apa yang dikritik dan ‘dibongkar’ oleh Yesus

     Melihat inti relasi perjanjian dan relasi kekudusan, saya bertanya-tanya : apa tho yang dikritik Yesus, khan itu semua baik adanya? Ya, memang baik. Tapi coba lihat tradisi kenabian yang mengkritik praksis hidup bangsa Israel dalam menghayati dan memperjuangkannya. Misalnya, Amos (Am 5:18–27) dan Hosea (Hos 5:8–7:1). Kiranya tradisi kenabian inilah yang diteruskan oleh Yesus. Yesus mengkritik praksis hidup yang terkonsentrasi pada aturan dan institusi. Hal inilah yang menyuburkan kemunafikan dan melupakan inti religiositasnya : relasi perjanjian dan relasi kekudusan dengan Allah yang mengalir dalam relasi hidup dengan sesama dan alam semesta. Lalu, apa kekhasan Yesus dibandingkan dengan tradisi kenabian Israel yang mendahuluinya? Dengan keseluruhan hidupNya, yang nampak jelas dalam sengsara, wafat dan kebangkitanNya, Yesus membongkar dan memperbaharui relasi manusia dengan Allah, sesama, dan alam semestanya. Inilah kekhasan Yesus. Visi Kerajaan Allah yang menjadi inti pewartaan Yesus mau mengatakan hal itu.

Lakukanlah ibadahmu yang sejati[7]

     Dalam pengguliran tema formalisme agama, saya kira yang perlu dipromosikan adalah cara hidup menggereja yang baru (secara spesifik untuk para imam, untuk diriku juga, yang perlu diperjuangkan kiranya adalah cara hidup imamat yang baru). Hidup seperti apakah itu? St. Paulus-lah yang akan menjelaskannya.

    Paulus mengatakan : “persembahkanlah tubuhmu … itulah ibadahmu yang sejati.”[8] Di sini, Paulus menggunakan bahasa teknis ritual sebagai kiasan yang digandengkan dengan kata tubuh. Yang mau ditekankan dalam penggunaan kata ‘tubuh’ bukanlah sekedar menunjuk pada organ tubuh ataupun kepribadian manusia. Paulus mau menunjuk pada manusia dalam relasi konkretnya dengan sesama dan alam semestanya. Sebab, berkat kebertubuhannyalah manusia dapat berelasi dengan sesama dan alam semestanya. ‘Persembahan tubuh’ dalam Paulus tidak diperlawankan dengan ‘persembahan batin’. Namun, ‘persembahan tubuh’ adalah perwujudan secara fisik “persembahan’ tiap pribadi dalam realitas konkret kehidupannya sehari-hari. Sebab, setiap pribadi manusia adalah bagian dari dunia dan juga berada di tengah dunia. Maka, ‘persembahan’ pada Allah bukan lagi persembahan binatang ataupun burung di Bait Allah, namun komitmen hidup sehari-hari yang dihidupi dalam relasi dan keterbatasan kita di dunia ini. Batas-batas ritual kultis dilampaui : dari praktik-praktik tindakan ritual menuju kehidupan sehari-hari dan ditransformasikan dalam ungkapan-ungkapan yang tak berhubungan dengan ritual, yaitu dalam karya dan relasi harian kita.

    Frase ‘ibadah yang sejati’ sebenarnya dalam bahasa inggris adalah ‘spiritual worship’ atau ‘reasonable religion’ untuk menerjemahkan frase Yunani ‘λογικήν λατρίαν’ (: logikein latreian). Kata λογικήν yang berasal dari kata λογικός (: logikos) merupakan ungkapan favorit dalam alam pikir filsafat Yunani, khususnya Stoa, yang berarti ‘mempunyai akal budi, rasional’. Ungkapan itu tepatnya dikenakan pada manusia untuk membedakannya dengan binatang dan sekaligus menghubungkannya dengan Allah. Dalam sudut pandang ini, ‘ibadah yang sejati’ tidak hanya ibadah yang dilakukan dengan penuh pengertian akal budi. Namun, ibadah yang sejati adalah ibadah yang diungkapkan dalam realitas kebertubuhan dari hidup manusia sehari-hari sebagai bagian dari dunia dan hidup di tengah dunia. Gagasan Paulus ini mau mengukuhkan gagasannya tentang hidup berjemaat secara baru yang ditandai dengan saling memberikan diri. Paulus juga menekankan bahwa persembahan semacam ini harus mempunyai ungkapan-ungkapan nyata (fisik) supaya tidak jatuh dalam dualisme ataupun kesalehan yang lepas dari konteks dunianya.

Ekaristi : menjadi roti yang dipecah-pecah dan dibagikan bagi dunia

     Menutup refleksi, saya mencoba melihat lagi penghayatan ekaristi. Mengapa ekaristi? Sebab banyak kali dikatakan dan ditekankan : “Ekaristi adalah sumber dan puncak seluruh liturgi (SC 10) dan juga seluruh hidup Gereja (LG 11)”. Apalagi dalam pandangan umum, ekaristi adalah A Magic Moment! Saya ada dalam arus yang lain. Bagi saya, ekaristi tidaklah menenteramkan, namun menggelisahkan. Maka, hidup yang ekaristis adalah hidup yang penuh kegelisahan. Gelisah : bagaimana karya keselamatan Allah yang dirayakan dalam Ekaristi mau dihadirkan dalam hidup dan relasiku dengan dan di tengah dunia. Berikut adalah kerangka gagasannya.

      Perayaan Ekaristi menghadirkan misteri kasih Allah (Yoh 3:16-17) bagi umat beriman sepanjang zaman. Kasih Allah itu tidak bisa kita kuasai sendiri namun harus dibagikan pada semua orang. Dengan demikian, Ekaristi bukan hanya sumber dan puncak kehidupan Gereja, namun juga perutusannya : “Gereja ekaristis yang otentik adalah gereja misioner”.[9] Berkaitan dengan itu, dalam Sacramentum Caritatis, Paus Benediktus XVI mengatakan bahwa “Ekaristi merupakan misteri iman yang harus diwartakan pada dunia”.[10] Kata-kata Tuhan Yesus “Roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” (Yoh 6:51) menyatakan belarasaNya yang mendalam pada semua orang, terutama mereka yang menderita, tersingkir dan pendosa[11]. Perayaan Ekaristi menghadirkan secara sakramental pemberian diri Kristus bagi kita dan bagi dunia. Dengan demikian, bersama dengan Tuhan Yesus, dalam Ekaristi umat beriman dipanggil untuk “menjadi roti yang dipecah-pecah dan dibagikan bagi dunia”. Dalam hal ini, beberapa hal disoroti oleh Paus Benediktus :

a. Persatuan dengan Kristus dalam Ekaristi juga membawa kebaruan pada relasi sosial kita.

b. Di tengah arus globalisasi yang makin memperlebar jurang kaya dan miskin, Sang Makanan Kebenaran mendorong kita untuk melawan situasi tidak manusiawi dan memberi kekuatan baru untuk tanpa kenal lelah memperjuangkan peradaban cinta kasih.

c. Misteri Ekaristi memberi inspirasi dan dorongan supaya kita berani bekerja di tengah dunia untuk membawa pembaruan relasi yang bersumberkan pada kasih Allah yang tiada habisnya. Secara khusus, kaum awam dipanggil untuk mewujudkan tanggung jawab sosial politisnya.

d. Spiritualitas Ekaristi mencakup pentingnya pengaruh pada tata sosial. Maka orang Kristen, dengan pujian syukur dalam Perayaan Ekaristi, harus menyadari bahwa mereka juga harus melakukannya atas nama seluruh ciptaan.

Dimas Danang A.W.


[1] Mat 23:27-28

[2] Yoh 2:13-17

[3] Para murid masih ke Bait Allah (Kis 2:48); Paulus masih ke Bait Allah untuk mempersembahkan korban (Kis 21:26)

[4] Lih. Berbagai entri tentang Religion dan Faith dalam Encyclopaedia Britannica

[5] G.W. Coats, Moses: Heroic Man, Man of God, 130

[6] George E. Mendenhall - Gary A. Herion, “Covenant”, 1183 - 1187

[7] Sumber telaah ini : James D.G. Dunn, Word Biblical Commentary, Volume 38b: Romans 9-16, Dallas, Texas: Word Books, 1998

[8] Bdk. Rom 12:1-2

[9] Benediktus XVI, Sacramentum Caritatis, artikel 84

[10] Benediktus XVI, Sacramentum Caritatis, artikel 88-92

[11] Bdk Mat 20:34; Mrk 6:34; Luk 19:41

No comments