Header Ads

Refleksi Biblis - Kristologis Spiritualitas Kerajaan Allah

Yesus Kristus Mewartakan Kerajaan Allah

Refleksi Kristologis atas daya hidup Imam Diosesan Purwokerto

Oleh : Dimas Danang AW, Bagyo P., Handi S.

Paper ini dibuat dalam rangka salah satu tugas mata kuliah Kristologi FTW, USD

Outline :

 

* Pengantar

Orang Banyumas bilang bahwa Imam Diosesan itu laire sekang umat, gedhéné sekang umat, golé berjuang bareng umat (lahir dari umat, besar dari umat dan berjuang bersama umat).[1] Semboyan itu menunjukkan bahwa Imam Diosesan mempunyai keterikatan pada umat Allah, secara konkret umat Allah keuskupannya masing-masing. Inilah yang menjadi konteks real dari daya hidup imam diosesan, khususnya Imam Diosesan Purwokerto. Daya hidup yang harus terus menerus dibangun ini menjadi tema bahasan kami.

1. Spiritualitas Imam Diosesan Purwokerto

a. Spiritualitas Khas Imam Diosesan : sosial – struktual – lokal [2]

Imam Diosesan adalah tulang punggung Gereja Partikular untuk menjadi kokoh, makin mengakar dalam budaya setempat, dan tidak berpenampilan asing di tengah masyarakat. Karena itu, imam diosesan mempunyai kekhususan spiritualitas. Dasar spiritualitas adalah sikap batin bersatu dengan Yesus Kristus dalam Roh Kudus. Dasar itu terwujudkan dalam tata laksana kehidupan sehari-hari. Kalau spiritualitas itu adalah daya hidup yang berdasar pada kesatuan jiwa dengan Yesus Kristus dan gerak itu tergulir pada tatanan kegiatan sehari-hari yang bersangkutan dengan ruang dan waktu, maka ada kekhususan spiritualitas imam diosesan.

Dasar dan tata laksana kehidupan itu dapat muncul dari pengalaman rohani seseorang yang dapat diteladan oleh orang lain secara keseluruhan maupun sebagian. Inilah yang disebut sebagai spiritualitas personal, misal Ignatius. Namun, disamping itu, ada juga spiritualitas sosial-struktural-lokal. Inilah yang disebut sebagai spiritualitas hidupnya keuskupan. Keuskupan sebagai Gereja partikular (lokal) adalah paguyuban (sosial) umat beriman pada suatu daerah tertentu dengan kondisi sosial, sejarah dan budaya tersendiri yang berada dalam kesatuannya (struktural) dengan seluruh umat beriman sedunia. Maka, spiritualitas yang dihidupi secara khas oleh imam diosesan adalah spiritualitas sosial-lokal-struktural.

Dalam paham spiritualitas macam itu, para imam diosesan dengan kegiatannya menangani tugas pewartaan, pengudusan dan kepemimpinan berlingkup wilayah yang disebut Keuskupan, secara hirarkis bergerak dalam kesatuan dengan uskup dan dalam kebersamaan penggembalaannya bersama dengan para imam serta umat keuskupan. Kesatuannya dengan Allah tergulir dalam pengabdiannya pada Gereja Keuskupan. Hidup mistiknya adalah mistik kegiatan Keuskupan. Dengan demikian, kehidupan yang menyangkut cipta, rasa, dan karsanya bersangkutan dengan keuskupan. Bahan doa meditasi dan kontemplasi adalah kehadiran Tuhan dalam alam kehidupan Keuskupan. Di hadapan Tuhan, mereka selalu mensyukuri apa yang terjadi di Keuskupan serta mengusahakan pertobatan atas kelemahan dan dosa keuskupannya.

b. Visi – Misi dan Gambaran Global Keuskupan Purwokerto

Spiritualitas imam diosesan adalah sosial-kulural-lokal. Kalau lebih ditajamkan, daya hidup imam diosesan adalah gerak Keuskupan sendiri. Maka, pengenalan secara mendalam geografi dan gerak langkah Keuskupan harus sungguh dikuasai oleh seorang imam diosesan. Dengan mempersembahkan diri sepenuhnya untuk Tuhan, imam diosesan adalah imam yang jiwa-raganya untuk keuskupan, hidup dan mati untuk keuskupan. Maka, hidup seorang imam diosesan bersangkut paut dengan visi-misi Keuskupan.

Keuskupan Purwokerto adalah persekutuan umat beriman dengan wilayah eks Karesidenan Banyumas, Pekalongan, dan Kedu sebelah barat berlatar belakang budaya Jawa Bagelenan, Banyumasan dan Pesisiran, dengan jumlah penduduk 14 juta orang dan umat Katolik 0,60 % nya (77.000), terdiri dari jemaat Tionghoa (bermata pencaharian pedagang dan pengusaha) dan Jawa (pegawai negeri dan sejumlah kecil petani).[3] Dalam kondisi situasi sosio-budaya-geografis-religius yang melingkupinya, umat Katolik Keuskupan Purwokerto menyebut identitas ”jati diri” sekarang dan cita-citanya yaitu Gereja Kerajaan Allah. Lebih lengkapnya :

”Keuskupan Purwokerto adalah persekutuan umat beriman Katolik, yang dalam kesatuannya dengan Gereja Katolik sedunia, khususnya Indonesia, dan dalam kerja sama dengan umat setempat yang berkeyakinan lain, terpanggil untuk memperjuangkan dan menghayati nilai-nilai luhur kemanusiaan sambil mempelopori berdirinya Kerajaan Allah.”[4]

c. Pergulatan Imam Diosesan Purwokerto : mewujudkan Kerajaan Allah

Pemikiran dasar yang telah dikemukakan di atas ternyata juga menjadi pembicaraan hangat di antara para imam diosesan Purwokerto empat tahun terakhir. Hal ini terungkap dalam Evaluasi Unio Purwokerto, Selasa, 14 Desember 2004.[5] Dikatakan bahwa gerak kebersamaan paguyuban presbiterial Imam Diosesan dalam kurun waktu akhir-akhir ini dirasa makin menukik pada pemaknaan imamat diosesan. Pemaknaan ini bergulir sejak direnungkannya Citra Imam Diosesan Purwokerto, buah guliran Munas UNIO September 2002 sejauh dikontekstualisasikan dengan lingkup Keuskupan Purwokerto. Dilanjutkan dengan melihat Citra Gembala yang murah hati, akuntabel, kredibel, pendoa dan berkolegialitas serta memiliki gaya hidup yang selaras dengan panggilannya (tahun 2003).

Pemaknaan tersebut makin mengarah pada harapan agar imam diosesan Purwokerto makin berkiprah secara lebih nyata pada karya Keuskupan. Melalui obrolan, gendhu-gendhu rasa (sharing), diskusi dan silaturahmi (konveniat), perjalanan pemaknaan itu digulirkan pada tahun 2004. Dimulai dengan pemetaan karya Keuskupan : peluang dan tantangan, lalu disusul dengan pengolahan-pengolahan konflik maupun sharing geliat reaktualisasi ketrampilan mengelola jemaat, menangani dewan Paroki, dsb serta dimantapkan dengan hasil angket umat tentang imam diosesan, seluruh perjalanan tahun 2004 dibawa pada suasana refleksi.

Dalam perjalanan sebelumnya, harapan untuk menjadikan tahun 2004 sebagai tahun refleksi (tahun nglelimbang) keprojoan didasarkan pada kerinduan untuk ikut memandirikan Keuskupan. Dengan jumlah imam diosesan yang makin berkembang (33 imam), tahun 2004 menjadi saat untuk melihat kembali seberapa jauh-mendalam-lebar-panjang karya imam diosesan. Merumuskan kembali karya imam diosesan untuk periode mendatang merupakan hal yang relevan dan berarti (relevan dan significant). Refleksi dan reposisi keberadaan imam diosesan Purwokerto akan meng-up to date-kan karya. Boleh dibilang, yang terus menerus dicari dan ditegaskan adalah visi-misi keprojoan. Perjalanan Unio Purwokerto selama tahun 2004 sendiri diisi dengan refleksi kiprah imam diosesan dari Bapa Uskup, pengelolaan konflik secara konstruktif, panggilan misioner imam diosesan, sharing pengalaman kursus dan studi, konveniat, rekreasi bersama, correptio dan promotio, retret serta evaluasi akhir tahun.

Pergulatan para Imam Diosesan Purwokerto sampai tahun 2004 menampakkan keinginan, harapan dan cita-cita untuk makin terlibat dalam karya Keuskupan sekaligus juga membangun kolegialitas di antara para imam diosesan sendiri. Hal ini merupakan perkembangan yang sangat baik. Namun, kiranya keinginan, harapan dan cita-cita ini perlu diperdalam lagi sehingga bukan sekedar keterlibatan ’moral’ belaka namun sungguh mengalir dari persatuan dengan Yesus Kristus dalam Roh Kudus. Lalu, Yesus macam apa yang bisa dihidupi oleh Imam Diosesan Purwokerto? Mengingat bahwa ’jati diri’ dan cita-cita Keuskupan Purwokerto adalah GEREJA KERAJAAN ALLAH, maka kiranya Imam Diosesan Purwokerto harus mulai ’menggumuli’ Yesus Kristus yang mewartakan Kerajaan Allah. Sehingga, akhirnya pengalaman akan Allah dalam Yesus Kristus Sang pewarta Kerajaan Allah-lah yang mendasari gerak keterlibatan Imam Diosesan Purwokerto pada karya Keuskupan. Untuk sampai pada point-point pokok yang bisa dihidupi oleh Imam Diosesan Purwokerto dari Yesus Sang Pewarta Kerajaan Allah, kami mau mendalami terlebih dahulu Yesus Kristus dan Kerajaan Allah.

2. Yesus Kristus dan Kerajaan Allah

Keuskupan Purwokerto beridentitas dan bercita-cita sebagai Gereja Kerajaan Allah. Maka, yang harus menjadi daya hidup Imam Diosesan Purwokerto adalah persatuan dengan Allah. Karena orang Kristiani mengimani bahwa Yesus Kristus adalah kehadiran Allah, maka pengalaman akan Allah perlu dibangun di dalam Yesus Kristus sendiri yang pokok pewartaannya adalah Kerajaan Allah. Pewartaan Yesus Kristus tentang Kerajaan Allah berlandaskan pada pengalaman pribadinya akan Allah. Yesus Kristus berbicara mengenai Allah sebagaimana dialamiNya sendiri : Allah yang mencintai manusia, menawarkan damai, menggembirakan hati orang, dan meminta kasih.[6]

a. Yesus Kristus Mewartakan Kerajaan Allah[7]

Datum paling historis tentang kehidupan Yesus adalah simbol yang mendominasi keseluruhan pewartaanNya, suatu realitas yang memberi makna pada semua aktivitasnya: Kerajaan Allah. Injil-injil sinoptik merangkum pewartaan dan kesaksian Yesus itu dengan kalimat yang singkat namun padat : ”Waktunya telah genap, Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mrk 1:15; Mat 4:17; Luk 4:43). Yesus mewartakan Kerajaan Allah, bukan dirinya sendiri, meskipun dalam pengajarannya Ia menampilkan diri sebagai yang menghadirkan (Luk 17:20-21), yang mewahyukan (Mrk 4:11-12; Mat 11:25-26), sebagai pelopor (Mat 11:12), sebagai sarana (Mat 12:28), sebagai pengantara (Mrk 2:18-19) dan sebagai pemabata (Mat 11:5) Kerajaan Allah. Kerajaan Allah juga merupakan isi dari tindakan-tindakan simbolik Yesus yang membentuk sebagian besar karya pelayanannya. Dalam kesatuannya dengan orang-orang yang tersingkir, Yesus menghidupi Kerajaan Allah dan menghadirkan secara nyata kasih Allah yang tanpa syarat bagi para pendosa.

Jon Sobrino membawa kita melalui pendekatan tahap demi tahap pada keprihatinan yang terdalam dari Yesus. Pertama-tama dia menerangkan bahwa Yesus bukanlah yang pokok bagi diriNya sendiri. Kedua, yang pokok bagi Yesus tidak hanya Allah. Kapan saja Yesus menunjuk Allah, Dia tidak berbicara mengenai realitas yang dari dirinya sendiri dapat diketahui atau dipakai sebagai kriteria penilaian. Ada sesuatu yang lain yang ”memediasikan” kemutlakan Allah dan apa yang diidentifikasikan dengan kemutlakan ilahi ini. Ketiga, pokok perhatian Yesus juga bukan ”Gereja atau Kerajaan Surga”. Namun, akhirnya Sobrino mengatakan kepada kita, ”Yang utama bagi Yesus ialah Kerajaan Allah”, yaitu Allah dalam relasiNya dengan sejarah ini.[8]

b. Apa itu Kerajaan Allah ?

Kerajaan Allah adalah pokok pewartaan dan juga kekhususan Yesus. Arti kata Kerajaan Allah secara harafiah ialah ”Allah meraja” atau ”Allah menyatakan diri sebagai Raja”, yang dimaksud : Allah sudah dekat, untuk menyampaikan pertolonganNya.[9] Pewartaan Kerajaan Allah adalah pewartaan turun tangannya Allah guna menyelamatkan manusia. Maka, Kerajaan Allah pertama-tama berarti bahwa Allah harus diakui sebagai yang maha tinggi. Selanjutnya, Kerajaan Allah juga berarti damai dan sejahtera bagi manusia. Dan itu bukan janji melulu, melainkan kenyataan sekarang. Inisiatif akan hal ini datangnya dari Allah. Yesus sendiri meyakini bahwa dalam diriNya Allah sudah berkarya. Pewartaan Yesus adalah tawaran Allah bagi orang-orang yang percaya pada Allah. Manusia harus menjawab tawaran Allah itu dengan iman. Bagi orang yang percaya, Kerajaan Allah berarti hidup dalam kesatuan dengan Allah. Kiranya dari situ juga harus dimengerti sabda Yesus bahwa Kerajaan itu dekat : Allah itu dekat pada orang yang percaya, khususnya pada Yesus. Ia menyebut Allah sebagai BapaNya dan berani menyerahkan sepenuhnya diri kepadaNya. Dalam diri Yesus sendiri, Kerajaan Allah sudah menjadi kenyataan hidup. Allah hadir penuh kuasa di dalam Yesus.[10]

Kerajaan Allah berarti daya kekuatan Allah di antara manusia. Maka, Kerajaan Allah pertama-tama berarti pembebasan bagi orang miskin (lih. Luk 6:20-26par). Orang kaya tidak dikecualikan. Namun juga bagi orang miskin, Kerajaan Allah tidak datang otomatis, perlu melepaskan segala-galanya dan membagikannya pada orang lain. Yesus memperjuangkan keadilan sosial dan sangat menghargai orang-orang yang sederhana (orang miskin, para pendosa publik, anak kecil, juga perempuan dalam masyarakat waktu itu). Ia juga melawan penjajah. Yesus menyatakan kehadiran Kerajaan Allah dengan pelayanan dan menuntut yang sama dari para pengikutnya.[11]

Lalu, apa artinya berpusat atau terlibat pada Kerajaan Allah? Yesus tidak pernah memberikan definisi Kerajaan Allah. Maka, arti Kerajaan Allah harus dieksplorasi dan ditatapkan kembali pada sejarah dan budaya yang melingkungi manusia. Akan tetapi, di tengah kedalaman dan kekayaannya, harus disadari salah satu ciri pokok Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus Kristus, yaitu bahwa Kerajaan Allah dimaksudkan sebagai realitas duniawi. Dengan visi Kerajaan Allah, dalam mengalami bahwa Kerajaan Allah itu sedang hadir melalui diriNya, Yesus mengarahkan tindakanNya untuk perbaikan, kesejahteraan, hidup yang lebih penuh bagi orang-orang sekitarnya, terutama bagi mereka yang menderita.[12]

3. Imam Diosesan Purwokerto Mewartakan Kerajaan Allah

Keberadaan imam Diosesan Keuskupan Purwokerto sejak Mgr. Sunarka mulai diperhatikan dan makin dikembangkan. Hal ini makin nampak dari perbandingan perhitungan statistik bahwa selama 25 tahun Mgr. PS. Hardjasoemarta, MSC menggembalakan umat di Keuskupan Purwokerto (1974-1999), imam diosesan tidak berkembang dari segi kuantitas. Kebijakan-kebijakan pastoral yang dibuat pada masa itu tidak menampakkan usaha pengembangan panggilan imam diosesan. Pada awal penggembalaan beliau, hanya ada 2 imam diosesan. Pada akhir masa penggembalaannya, imam diosesan berjumlah 10 imam. Selama masa penggembalaannya ada 4 imam diosesan yang meninggalkan imamatnya, 1 imam diosesan yang mengundurkan diri dari Keuskupan Purwokerto dan 2 imam diosesan yang meninggal.

Mgr. J. Sunarka dalam salah satu pertemuan Unio mengatakan bahwa salah satu ciri kemandirian Gereja Partikular ialah tersedianya tenaga pastoral yang mencukupi kualitas dan kuantitas untuk menangani karya penggembalaannya dan masih mampu menyumbangkan tenaga pastoral ke tempat lain yang memerlukannya. Maka pada dasarnya, imam diosesan adalah kekuatan pokok Gereja Partikular. Merekalah yang pertama-tama menjadi andalan Keuskupan. Mereka itulah imam yang mati hidupnya untuk Keuskupan. Melihat realitas personalia para imam tarekat/konggregasi, Keuskupan Purwokerto melihat adanya peluang besar bagi pemberdayaan imam diosesan. Dan mengingat pertumbuhanan jumlah umat setiap tahun, maka imam diosesan perlu berkembang baik dalam hal kualitas maupun kuantitas demi tepat sasaran dan efektivitas pelayanan pastoral teritorial dan kategorial.

Pengembangan adalah proses terus menerus. Maka, Imam harus selalu mengusahakan dirinya berkembang menjadi Imam yang beriman mendalam, berwawasan luas, berketrampilan dalam penanganan pastoral, berkepribadian utuh, dan bersemangat kolegialitas. Dan menurut kami, kualitas-kualitas itu perlu dikembangkan dengan mengalir dari persatuan dengan Yesus Kristus dalam Roh Kudus. Yesus Kristus yang macam apa? Selaras dengan ‘jati diri’ dan cita-cita Keuskupan Purwokerto, kami menjawab : Yesus Kristus yang mewartakan Kerajaan Allah. Aspek-aspek yang bisa dihidupi secara konkret oleh Imam Diosesan Purwokerto perlu digali lebih lanjut dengan menggali warta gembira Kerajaan Allah. Sebab, Kerajaan Allah dimaksudkan Yesus Kristus sebagai realitas duniawi. Yesus Kristus menjadikan Kerajaan Allah sebagai kenyataan hidup dengan pembebasan bagi orang miskin, memperjuangkan keadilan (dan keutuhan ciptaan), menghargai orang-orang kecil dan sederhana, melawan penjajah serta melayani. Intinya, Yesus mengarahkan tindakanNya untuk perbaikan, kesejahteraan, hidup yang lebih penuh bagi orang-orang sekitarnya, terutama bagi mereka yang menderita. Semua aspek dari perjumpaan dengan Allah dalam Yesus Kristus inilah yang akhirnya akan mengalir dalam keterlibatan Imam Diosesan Purwokerto pada karya Keuskupan. ***

KEPUSTAKAAN

Buku :

1. Fuellenbach, J., The Kingdom of God, The Message of Jesus Today, Maryknoll, New York, 1995

2. Jacobs, T., Immanuel, Kanisius, Yogyakarta, 2000

3. Knitter, P., Menggugat Arogansi Kekristenan (terj.: M. Purwatma), Kanisius, Yogyakarta, 2005

4. Vorgrimler, H., Trintitas (terj.: Tom Jacobs), Kanisius, Yogyakarta, 2005

Majalah :

1. Dwiantoro, Pr, “Di Mana Diosesmu di Situ Hatimu”, dalam Rohani, No. 02, Tahun ke-51, Februari 2004,

2. Sunarka, J., “Ada Apa dengan Imam Diosesan?”, dalam Salus Edisi 37, Th XIII, Mei – Juli 2005

Tulisan – tulisan lain :

1. Paper – paper dalam Seminar tentang “Kerajaan Allah : Kabar Gembira Yesus untuk Masa Kini” bersama Rm. YB. Prasetyantha, MSF. Seminar ini memakai bahan acuan utama dari John Fuellenbach, The Kingdom of God, The Message of Jesus Today, Maryknoll, New York,1995

2. Joker, Projo Purwokerto, “Teh Manis Pak Kurnia Karunia Panggilan, Sharing perjalanan Peregrinasi para frater TOR St. Agustinus, Tegal, 14 – 21 Januari 2005

3. Bahan Evaluasi Perjalanan UNIO Purwokerto tahun 2004

4. Beberapa data disarikan dari hasil penelitian Stefanus Heriyanto yang dituangkannya dalam penulisan Skripsi


[1] Dwiantoro, Pr, Di Mana Diosesmu di Situ Hatimu, dalam Rohani, No. 02, Tahun ke-51, Februari 2004, 27 – 30

[2] Bagian ini disarikan dari tulisan Mgr. J. Sunarka, SJ, Ada Apa dengan Imam Diosesan?, dalam Salus Edisi 37, Th XIII, Mei – Juli 2005, 3

[3] Mgr. J. Sunarka, SJ, Ada Apa dengan Imam Diosesan?, 4

[4] Dikutip dari Joker, Projo Purwokerto, “The Manis Pak Kurnia Karunia Panggilan, Sharing perjalanan Peregrinasi 14 – 21 Januari 2005

[5] Kami mengambil patokan tahun 2004 karena waktu itu kami yang sedang menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral ikut berdinamika bersama para imam diosesan Purwokerto.

[6] H. Vorgrimler, Trinitas, Kanisius, Yogyakarta, 2005, 77

[7] Sebagian besar bagian ini diambil dari Seminar tentang “Kerajaan Allah : Kabar Gembira Yesus untuk Masa Kini” bersama Rm. YB. Prasetyantha, MSF. Seminar ini memakai bahan acuan utama dari John Fuellenbach, The Kingdom of God, The Message of Jesus Today, (New York: Maryknoll, 1995)

[8] Paul Knitter, Menggugat Arogansi Kekristenan (terj.: M. Purwatma), Kanisius, Yogyakarta, 2005, 177-178

[9] Tom Jacobs, Immanuel, Kanisius, Yogyakarta, 2000, 58

[10] Tom Jacobs, Immanuel, 60

[11] Tom Jacobs, Immanuel, 63 – 64

[12] Paul Knitter, Menggugat Arogansi Kekristenan, 179

No comments