Header Ads

Definisi Kerajaan Allah

DEFINISI KERAJAAN ALLAH

Oleh : Herry Nugroho & Dimas Danang A. W.

Paper ini dibuat dalam Kuliah Seminar "Kerajaan Allah : Kabar Gembira Yesus untuk masa kini", FTW, USD. Acuan utama : J. Fuellenbach, The Kingdom of God, The Message of Jesus Today, Maryknoll, New York, 1995

Outline

 

*Pengantar*

Yesus tidak pernah mendefinisikan Kerajaan Allah. Ia menggambarkan Kerajaan Allah dalam perumpamaan dan kiasan (lih Mat 13 dan Mrk 4) dan dalam konsep seperti kehidupan, kemuliaan, kegembiraan, dan terang. Kerajaan Allah bukan hanya inti pewartaan injil sinoptik, namun juga inti seluruh Perjanjian Baru. Deskripsi biblis terbaik soal Kerajaan Allah diberikan oleh Paulus, ”Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran (= keadilan), damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” (Rm 14:17). Ketiga karakter ini merupakan nilai fundamental Kerajaan Allah. Dalam gagasan rabinik, Kerajaan Allah hanya dipahami secara spiritual meskipun juga ada nuansa eskatologis. Namun, dalam pewartaan Yesus, secara tegas dinyatakan bahwa Kerajaan Allah juga menjadi realitas saat ini (lih Mat 25). Maka, secara ringkas Kerajaan Allah dirumuskan sebagai keadilan, damai sejahtera, dan suka cita dalam Roh Kudus. Ini bukan sekedar soal perasaan atau emosi, melainkan juga kenyataan yang harus diterapkan di dunia ini.

A. KEADILAN

Keadilan dalam konsep biblis diterjemahkan sebagai relasi yang benar (mis. Kej 18:19). Relasi ini meliputi empat arah: pada Allah, pada orang lain, pada sesama baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari masyarakat, dan pada seluruh ciptaan. Maka, “berbuat adil” pertama-tama berarti menghormati setiap relasi, yakni: dengan keluarga, klan, negeri, dunia, dan alam semesta. Ukuran ada tidaknya keadilan dalam masyarakat adalah tegaknya komitmen terhadap sesama dan penghargaan terhadap hak setiap anggota masyarakat.

1. Keadilan dan Ibadat

Isu keadilan dalam Perjanjian Lama seringkali dikaitkan dengan ibadat yang benar. Ibadat yang menyenangkan hati Allah adalah ibadat yang utuh, relasi yang benar dengan Allah yang berpengaruh secara umum pada relasi sosialnya. Kebaktian pada Allah merupakan kebohongan kalau mengabaikan relasi esensial antara kebaktian dan keadilan. Hubungan antara pengetahuan akan Yahweh dan bertindak adil ini diungkapkan dalam teks yang terkenal dalam Yer 22:16. Allah tidak bisa ditipu dengan pengorbanan dan ibadat. Keadilan bagi sesama adalah tanggung jawab pokok manusia, bahkan lebih utama daripada kewajiban beribadat (bdk Mzm 99:4).

2. Keadilan sebagai Anugerah Allah

Keadilan adalah sebuah anugerah yang secara manusiawi tidak bisa kita mengerti. Dengan membuka diri dan berusaha memahami Allah, kita menjadi adil: “Ia mengadili perkara orang sengsara dan orang miskin dengan adil. Bukankah itu namanya mengenal Aku? Demikianlah firman TUHAN” (Yer 22:16). Dalam Kej 25:19-33:20, terdapat contoh konkret soal keadilan dan ketidakadilan. Nama Yakub berarti curang. Setelah bergulat dengan Yahweh, Yakub diberi nama baru: Israel (bdk Kej 32:28) yang berarti "Allah memenangkan" (Kej 33:1-17). Secara konkret pula, Allah menganugerahi manusia dunia dengan segala kekayaan alamnya. Anugerah ini tidak untuk dihancurkan. Hendaknya, anugerah ini dikelola dalam rangka relasi dengan Allah sehingga alam terjaga.

3. Keadilan dalam Perjanjian Baru

Dalam Perjanjian Baru, konsep keadilan dihubungkan dengan tema Kerajaan Allah sejauh keadilan menunjuk pada relasi yang benar. Seluruh karya Yesus ditujukan bagi pembangungan kembali relasi itu. Yesus memahami perutusan-Nya dalam kaitan dengan keadilan. Ia sangat sensitif dan tidak toleran terhadap berbagai bentuk ketidakadilan dalam bidang religius, moral, sosial, kultural, rasial, nasional, atau pun seksual. Perutusan Gereja secara fundamental dihubungkan dengan nilai penegakan keadilan Kerajaan Allah dalam berbagai bidang.

Teologi Dogmatik menjelaskan Allah Tritunggal sebagai kesempurnaan sikap saling memberi: Bapa memberikan diri secara total pada Sang Putra, dan Sang Putra dalam peranan-Nya memberikan kembali diri-Nya sendiri secara total kepada Bapa. Roh Kudus menghubungkan kasih antara Bapa dan Putra sehingga terwujud “relasi yang benar”. Relasi yang benar inilah Kerajaan Allah. Semua ciptaan dapat ambil bagian dalam kemuliaan Allah dengan mewujudkan relasi yang benar dengan Allah, diri sendiri, sesama, dan alam semesta.

4. Keadilan dan Keutuhan Ciptaan

Isu keadilan juga meliputi ekologi. Biang krisis ekologis adalah pandangan “mekanistis” terhadap proses kerja dunia di satu sisi dan secara “organik” di sisi lain. Keduanya terkait dengan krisis lingkungan hidup pada zaman ini. Bila pandangan mekanistis menjadikan alam sebagai korban, pandangan organik cenderung menjadikan manusia sebagai korban alam. Untuk menyeimbangkannya, kita memerlukan suatu kosmologi baru: visi baru atas proses dunia dan ciptaan yang saling kooperatif dan komplementatif. Berikut ini beberapa insight bahwa ekologi dan Kerajaan Allah sangat penting bagi dunia ini.

a. Ekologi memandang dunia ini dalam perspektif jangka panjang.

b. Tumbuh penghormatan manusia terhadap alam dan kesadaran sebagai bagian dari organisme kehidupan yang utuh.

c. Manusia hidup di atas tanah dalam lingkungan hidup yang seimbang, harmonis, dan saling tergantung.

d. Dunia dan seluruh sumber dayanya terbatas.

e. Setiap tingkah laku manusia mempunyai konsekwensi ekologis.

Dunia ini ada dalam rencana pokok Allah. Oleh karena itu, pencarian keseimbangan ekologis alam semesta sesungguhnya adalah inti pokok Kerajaan Allah. Karena itu, seluruh tata hidup kita harus diatur dalam kesadaran akan keterbatasan dan kerapuhan ekosistem serta seriusnya isu lingkungan hidup. Perlu dicari cara untuk memelihara dan melindungi lingkungan hidup.

B. DAMAI

1. Damai dalam Perjanjian Lama (PL)

Damai dalam Kitab Suci seringkali dikaitkan dengan kata shalom. Pada dasarnya, shalom mengacu pada keutuhan, kesehatan total, kemakmuran total. Arti kata itu meliputi seluruh berkat Allah bagi bangsa terjanji. Masyarakat yang dipenuhi oleh shalom, dipenuhi oleh keselarasan dan kesempatan berkembang bagi setiap orang.

Sejumlah besar perikop PL menunjuk shalom sebagai suatu relasi dan bukannya keadaan. Relasi semacam itu terjadi antar bangsa atau pun antar individu. Jika dalam dunia Yunani-Romawi, damai lebih menunjuk pada kondisi tiadanya peperangan. Dalam alam pikir Ibrani, kebalikan dari shalom bukanlah perang tetapi ketidakadilan.

Teks PL yang mengungkapkan makna shalom dengan sangat baik adalah Mikkha 4:3-4 dan Yes 2:4. Kedua nabi memimpikan apa yang akan terjadi ketika Allah datang membawa Kerajaan-Nya ke dunia ini dan ketika orang-orang mau membiarkan realitas ini masuk ke dalam hidup mereka. Mikkha 4:3-4 mempresentasikan penglihatan tentang apa yang akan terjadi ketika bangsa-bangsa menyerahkan diri pada Kerajaan Allah. Ada dua perubahan mendasar yang akan berlangsung pada individu dan bangsa-bangsa itu: (1) tidak ada lagi perang, bahkan tidak ada lagi latihan perang dan industri perang, dan (2) kembalinya bangsa itu pada gaya hidup sederhana dan penuh damai, termasuk juga berkembangnya relasi interpersonal. Damai yang diimpikan di sini menuntut pergeseran prioritas di mana ketamakan akan berakhir, penghisapan akan berhenti, dan tata sosial yang baru mengambil alih seluruhnya. Nubuat nabi ini bisa dianggap sangat utopis. Namun, jika mencermatinya, dengan mudah, kita dapat menemukan dua godaan besar manusia pada zaman ini: mentalitas perang dan konsumtif.

Yes 65:20-23 mempresentasikan penglihatan tentang apa yang akan terjadi ketika damai Kerajaan Allah diberi kesempatan merajai bumi ini. Hal ini disebut sebagai agenda Yesaya. Sasarannya jelas dan spesifik: Tidak akan ada lagi bayi yang hanya hidup beberapa hari atau orang tua yang tidak mencapai umur suntuk ... Mereka akan mendirikan rumah-rumah dan mendiaminya juga; mereka akan menanami kebun-kebun anggur dan memakan buahnya juga. Penglihatan ini dengan jelas mengungkapkan rencana dan harapan Allah bagi komunitas manusia. Yang paling mengejutkan dari penglihatan ini adalah keterkaitannya dengan masa kini. Penglihatan ini bukanlah soal surga atau dunia yang akan datang tetapi soal sejarah manusia, soal kini dan di sini.

2. Damai dalam Perjanjian Baru (PB)

Dalam PB, damai (eirene) digunakan dalam lima cara yang berbeda: (1) Tiadanya peperangan atau kekacauan; (2) Relasi yang benar dengan Allah atau dengan Kristus; (3) Relasi yang benar antar manusia; (4) keadaan individual yang tenang atau tentram; dan (5) Bagian dari rumusan salam. Menurut Injil, damai berarti keutuhan fisik, sosial, dan rohani. Ketika Yesus berkata pada perempuan yang mengalami pendarahan, “Pergilah dengan selamat!” Ia menunjukkan bahwa perempuan itu telah terintegrasikan kembali secara penuh ke dalam masyarakat. Yesus menegur mereka yang telah mengasingkannya, dan Ia memulihkannya kembali ke dalam masyarakat.

Dimensi vertikal dari damai adalah relasi yang benar dengan Allah. Dimensi ini sangat dekat dengan keselarasan dan rekonsiliasi (Rom 5:1; Kis 10:36). Maka secara positif, hidup dalam damai berarti hidup dalam keselarasan, dan secara negatif, berarti menghindari tindakan apa pun yang bisa menyebabkan ketidakselarasan atau pertikaian (Mrk 9:50; 2Kor 13:11; Kol 3:15). Yohanes menghubungkan shalom dengan sengsara dan kematian Yesus. Shalom yang diperoleh melalui penderitaan dan kematian Yesus adalah hadiah terbesar dari Tuhan yang bangkit bagi para murid. “Damai sejahtera kutinggalkan bagi kamu; damai sejahteraku Kuberikan kepadamu” (14:27). ”Semuanya itu kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku“ (16:33). Inilah rekonsiliasi dunia dengan Allah, kedamaian eskatologis yang dibawa oleh Yesus bagi dunia ini (20:19,21,26). Oleh karena itu, apa pun juga yang menyangkut soal Kerajaan Allah berhubungan juga dengan kedamaian.

Damai berarti keutuhan, rekonsiliasi, keselarasan yang muncul dari otentisitas empat relasi dasar kita: dengan diri kita sendiri, sesama, alam, dan Allah. Inilah kepenuhan akhir dan hadiah terbesar di akhir zaman. Tidak hanya ketiadaan peperangan, namun juga kepenuhan kehidupan.

C. SUKACITA

Makna dasar dari sukacita dalam Kitab Suci berhubungan dengan kenyamanan fisik dan hidup sejahtera. Kata yang muncul 133 kali dalam PB itu kebanyakan mengacu pada sukacita yang menyangkut pemenuhan eskatologis di zaman akhir, yaitu Kerajaan Allah yang kehadirannya dialami sekarang. Sukacita juga menjadi refren dalam kisah perumpamaan. Misalnya, dalam hubungannya dengan penemuan harta yang hilang (Luk 15), harta yang terpendam di ladang (Mat 13:44-45). Maka dari itu, dalam makna biblis sukacita berarti kehidupan. Ini adalah ungkapan kepenuhan, kehidupan, dan cinta. Kerajaan Allah adalah perkara berlimpahnya kehidupan dan cinta.

Secara konkret, suka cita berarti orang-orang saling memberi ruang untuk berkembang dan menjadi kreatif menurut kemampuan dan talentanya masing-masing. Karena meliputi seluruh aspek eksistensi manusia, hal ini menunjuk pada “permasalahan hak asasi manusia”. Semua ciptaan mempunyai hak yang telah dianugerahkan Allah pada kita untuk hidup di dunia ini.

D. KEADILAN, DAMAI, DAN SUKACITA DALAM ROH KUDUS

Frase dalam Roh Kudus di atas menunjuk pada ketiga karakteristik pokok kerajaan Allah: keadilan, damai, dan suka cita. Kerajaan di atas bumi sekarang ini adalah antisipasi atas langit yang baru dan bumi yang baru, buah cipta Roh Kudus. Kerajaan yang akan datang itu dapat dialami dan dikenali sebagai kerajaan yang hadir dan berkarya sekarang ini di tengah-tengah dunia kita.

Ketiga karakteristik pokok menurut Edward Schillebeeck berikut ini menentukan semua deskripsi teologis tentang Kerajaan.

1. Kerajaan Allah adalah kehadiran Allah yang menyelamatkan, aktif dan memberi harapan.

2. Kerajaan Allah adalah suatu dunia baru di mana penderitaan dihapuskan.

3. Kerajaan Allah adalah suatu perubahan baru (metanoia) dari relasi manusia dengan Allah

E. KERAJAAN ALLAH DI INDONESIA

Deskripsi Kerajaan Allah di atas berguna bagi kita untuk “menghadirkan Kerajaan Allah” di Indonesia. Kerajaan Allah di Indonesia berarti menjalankan hidup harian berdasarkan nilai-nilai Kerajaan Allah: keadilan, damai sejahtera, dan suka cita. Dengan dasar nilai-nilai Kerajaan Allah, Bangsa Indonesia secara konkret menghidupi nilai-nilai rohani, moral, etika, kesusilaan, kemanusiaan, keadilan, perdamaian, dan nilai-nilai kebudayaan universal manusia. Kalau Gereja Indonesia mau berjuang bagi bangsanya demi Kerajaan Allah, nilai-nilai itulah yang harus diperjuangkan.

1. Situasi Indonesia

Indonesia dilanda krisis multidimensi sehingga warga negaranya berada dalam situasi yang serba sulit dan berat. Dibutuhkan orang-orang dari berbagai kalangan yang peka terhadap situasi krisis yang terjadi. Mereka diharapkan membuahkan usaha kreatif untuk bangkit dari situasi krisis demi masa depan yang lebih baik.

a. Ruang publik tuna adab

Negara Republik Indonesia sebagai ruang publik telah kehilangan keadabannya. Ketunaadaban ini disebabkan oleh ketidakseimbangan peran tiga poros kekuatan di dalamnya, yaitu: masyarakat, negara, dan pasar. Kepercayaan dan penghargaan satu sama lain dalam masyarakat dirusak oleh komunalisme yang bersifat eksklusif negatif. Semua orang yang berada di luar kelompoknya adalah musuh. Negara yang memiliki badan-badan publik tidak dapat menata hidup bersama dan menyelenggarakan kesejahteraan umum. Badan-badan itu justru ditumpangi berbagai kepentingan yang merugikan kepentingan umum. Pasar tidak lagi netral karena lebih memenangkan kepentingan pemodal besar dalam persaingan sehingga semakin menekan kalangan ekonomi lemah.

Globalisasi memiskinkan masyarakat. Manusia dipandang sebagai alat dan penikmat produksi. Martabat manusia semakin diabaikan oleh adanya sekularisasi. Manusia hanya dipandang sebagai insan otonom yang tidak memiliki ketergantungan pada Yang Ilahi. Dengan demikian, “tuhan” mereka dengan mudah diganti dengan uang dan produk-produk buatan manusia sendiri.

b. Korupsi, kekerasan, kerusakan alam

Sejak tahun 1970-an, Indonesia telah mengalami kebocoran uang negara sebesar 30%. Sejak saat itu pula, tindak korupsi menjadi insting orang Indonesia. Tindak korupsi ini merajalela dan semakin terang-terangan sampai menjangkiti setiap sektor pelayanan publik bahkan setiap bagian keuangan Indonesia. Tidak ada pelayanan tanpa suap. Insting korupsi ini membawa kecenderungan tindak kekerasan untuk memenuhi keinginan pribadi. Tidak jarang, korban jiwa berjatuhan karena kekerasan yang berasal dari keinginan yang tidak terpenuhi oleh keterbatasan diri, misalnya: perampokan, pemerkosaan, pencurian, dan lain-lain. Kerusakan mentalitas bangsa ini dilengkapi oleh perusakan lingkungan demi meraih keuntungan sebesar-besarnya dengan modal yang terbatas bahkan nol.

2. Yang bisa dibuat oleh Gereja

Gereja Katolik sebagai bagian dari Bangsa Indonesia harus turut bertanggung jawab atas krisis multidimensi ini. Dengan ide-ide kreatif, kita mengusahakan tindakan konkret demi terwujudnya Kerajaan Allah di Indonesia untuk bangkit dari keterpurukan. Sedapat mungkin tindakan konkret kita membuat orang-orang di sekitar kita merasakan kedamaian, keadilan, dan suka cita. Sesuai dengan fungsi dan peran kita masing-masing, kita terlibat aktif dalam membangun habitus baru yang anti korupsi, anti kekerasan, dan cinta lingkungan hidup.

Roh Allah tidak merusak daya-daya kodrati yang diciptakan-Nya, tetapi menyempurnakannya. Bila kita membuka diri pada bimbingan Roh Kudus, akal budi, kepekaan hati nurani, dan kehendak kita dapat diperteguh untuk mengendalikan insting menjadi kekuatan yang menghidupkan, mengembangkan, mempersatukan, dan mengembalikan keutuhan. Dengan demikian, nilai-nilai Kerajaan Allah menjiwai insting kita yang baru, yaitu: relasi yang benar dengan Allah, diri sendiri, sesama, dan alam semesta. Martabat manusia diposisikan pada kehormatannya dan keutuhan alam terjaga.

3. Yang bisa kita buat

Sebagai bagian dari Gereja Indonesia, kita hendaknya terlibat dalam membangun habitus baru yang menjiwai instingnya dengan nilai-nilai Kerajaan Allah. Tidak jauh dan besar yang perlu kita lakukan untuk mengambil peran dalam kebangkitan bangsa ini. Kita cukup memperlakukan orang-orang yang kita jumpai sehari-hari secara adil dengan menghormati hak-haknya. Dengan penghargaan itu, orang-orang yang berada di sekitar kita merasakan damai dan suka cita. Kita berharap dengan multi flying effect, gerakan kita menular secara meluas karena orang-orang yang kita perlakukan dengan adil mungkin melakukan hal serupa bagi orang lain lagi di sekitarnya dan seterusnya sehingga damai dan suka cita pun dirasakan secara meluas.

No comments